I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
IWY-3 EPISODE 12



I WANT YOU PART 3


AXEL AND KEYSA


SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE


Saat Rindu mulai menerpa.


Hati bicara tak seiras dengan logika.


Raga terdiam, sedang batin berkelana.


Untukmu yang kini jauh disana


Ku titip salam dari sepasang mata


Yang menunggu untuk kembali memantulkan cerminan nyata akan hadirmu.


Keysa Nadira Putri.


"Keysa!" Aku menoleh ke samping, saat seruan namaku terdengar. Dengan tangan yang digenggam erat, ia menarik ku mengikuti langkahnya yang begitu cepat.


"Ri.. Rio. Tunggu dulu lepas!"


Sia-sia. Dia tidak mendengarku, dan malah semakin cepat melangkah, menuju mobil berwarna hitam yang ku kenal. Mobil yang saat itu menjadi saksi bahwa sepertinya aku akan mendapat masalah baru. Setelah membuka pintu, dipaksanya aku masuk, lalu dengan tergesa gesa Rio melajukan mobilnya.


"Kamu udah gila?" tanyaku kesal. Yang ditanya, hanya cengengesan tanpa arti. Membuatku ingin meremas remas kepalanya jika mampu. Sayangnya tidak. Aku masih sayang nyawa, untuk tidak menggganggunya saat mengemudi.


"Aku nggak bisa nunggu lagi. Ini udah seminggu dan kamu nggak hubungin aku juga."


"Bukannya kamu bilang nggak mau maksa? Itu artinya aku punya pilihan. Dan pilihanku ya menjauh dari kamu."


"Ohhh, ayolah B**abe, aku tahu pasti kamu bohong."


Aku memijat kening, berusaha meredakan kepalaku yang pening, ditambah jantung yang berdebar dan hati yang ketakutan. Bagaimana tidak, baru saja aku makan siang dengan Axel, tiba tiba saja aku sudah berada di mobil pria yang sepertinya mulai tak waras. Saat itu aku masih beruntung tak ada yang menyadari saat keluar dari Caffe bersama Rio. Tapi sekarang aku jadi agak takut, bagaimana kalau aku tak seberuntung saat itu. Bagaimana kalau sebenarnya ada karyawan yang tak sengaja melihatku lalu laporan pada Axel? Astaga terlalu banyak kata bagaimana di dalam otakku saat ini.


Jadi tadi setelah makan siang dengan Axel, aku pulang lebih dulu. Axel masih ada urusan di Caffe dan juga harus mengecek beberapa keluhan di bengkel. Dia bersikeras untuk mengantarku pulang dulu, tapi aku juga bersikeras untuk pulang sendiri naik taxi, karena kasihan. Aku takut dia kelelahan. Dan mengenai rencanaku nanti malam, tentu aku harus mempersiapkan lebih awal. Ini pertama kalinya aku akan ya ... Pokoknya sudahlah.


Alhasil aku berjalan beberapa meter dari caffe untuk mencari taxi karena merasa risih, dengan pandangan beberapa karyawan, saat aku berdiri di pinggir jalan. Juga pelanggan Martabak Pak Kumis yang berjibun banyaknya di sebrang caffe. Aku seperti di serang ribuan tatapan aneh, karena tak ada siapapun di samping kanan dan kiriku.


Tapi dunia memang sedang jahat padaku. Rio tiba tiba saja datang, tanpa rencana, tanpa di undang, tanpa keinginan. Membawaku pergi begitu saja, seolah tak ada pilihan lain dan seolah aku miliknya. Padahal ini sudah jelas sangat salah.


Nomor yang diberikannya seminggu lalu juga memang sengaja ku biarkan. Kenapa? Jika menyangkut perasaan, aku sudah pasti akan terus mengikutinya kemanapun, berada dengan orang yang kita cintai adalah salah satu keinginan terbesarku. Tapi ini tentang masa depan yang berbeda, keinginanku tak lagi sama. Aku sudah menikah, begitupun dia. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk Axel, saat ini dan seterusnya.


"Kamu mau bawa aku kemana? Tolong turunin aku lah Ri." mohonku pada Rio.


"Kita makan sebentar ya. Aku laper."


Aku sudah tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia tidak akan mendengarku. Sepanjang jalan aku hanya diam. Tak ingin bertanya apalagi ngobrol, aku hanya melihat ke arah jendela mobil. Cukup lama kami menempuh perjalanan, sampai aku menyadari sesuatu. Ini ... ini kan jalan ke rumahku. Rumah lamaku. Aku rindu rumah ini tapi juga membenci tempat ini. Setelah ia menghentikan mobil dan memarkirnya di rumahku barulah aku mulai tak tahan untuk tidak bicara.


"Kamu ngapain sih bawa aku kesini?"


"Aku udah bilang. Aku laper, aku mau makan. Aku udah beli makanannya. Kita makan disini. Kaya dulu."


"Rumah di kunci, aku nggak ada kuncinya."


"Tapi aku ada."


"Hah? Dapet darimana?"


"Di dunia ini orang aja kembarannya ada 7, apalagi cuma kunci. Aku janji akan anterin kamu pulang. Tapi setelah makan ya."


Aku diam sejenak. Kok dia tahu aku minta pulang?


"Kenapa? kaget? udah jangan bengong. Ayo masuk."


Mau tidak mau, aku ikut juga. Ya sudahlah, toh aku juga sudah lama tidak kesini. Aku rindu, tak ada yang berubah. Hanya rumput yang semakin tinggi, ditambah ilalang liar yg mulai muncul di beberapa bagian, selebihnya semua masih sama.


Rio menarikku ke dapur. Dan lagi lagi aku hanya bagai kerbau dicocok hidung mengikuti setiap langkahnya, yang juga tak melepaskan tangannya dari lenganku.


"Aku siapin makan dulu ya. Kamu tunggu sebentar."


"Tapi aku udah makan Ri," tolakku perlahan. Tapi dia malah melirik ke arahku, tatapannya tajam. Tak seperti Rio yang ku kenal.


"Ku bilang makan ya makan!"


Tak ada teriakan sama sekali. Hanya saja nada suara dan pandangan matanya berbeda. Aku seperti dibawa kembali ke masa lalu. Dimana Rio masih ....


"Do you remember?"


"Eh?"


"Aku pernah ngancurin dapur kamu. Saat itu, aku cuma mau bikin nasi goreng, tapi ternyata malah ku goreng semua isi dapurmu."


Aku ingat. Tapi aku enggan bersuara saat ini.


"Kayanya, aku beruntung. Aku cowok pertama yang pernah kamu ijinin nginep disini."


"Rio ... Udahlah. Itu masa lalu. Selesain semua ini dan cepet anter aku pulang."


Aku mulai tidak sabar. Ingat kan? Aku ini lemah soal perasaan, akan lebih baik jika aku meminimalisir kontak dengan Rio sebisa mungkin. Tapi lagi lagi percuma. Ia tidak mendengarkanku.


"Kita maen kucing kucingan sama pacarku, seolah kita adalah pasangan selingkuh yang lagi sembunyi."


"Saat itu nggak ada ikatan apapun, tapi kita bahagia. Kenapa kita nggak kembali kaya dulu. Jadi Keysa dan Rio yang nggak ada ikatan tapi tetap bersama, tetap bahagia."


"Kenapa kamu diem aja. Jawab Key!"


Oh tidak, aku mulai merasakan firasat buruk.


_________


Thanks banget buat waktu dan yang udah setia baca I want You. kalian the best. Jangan lupa like, comment dan vote nya ya. terima kasih.