
I WANT YOU PART 3
AXEL AND KEYSA
SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE
Semua mata, tertuju padamu. Eh maksudku, semua mata mengarah padaku. Entah apa yang ada di pikiran mereka bertiga saat ini. Keysa melotot hampir keluar saat apa yang kukatakan berhasil membuat seisi rumah syok.
"Axel...."
Tatapan mata Keysa sendu. Aku tahu dia keberatan. Tapi tak ada pilihan. Semua orang memiliki tabiat baik dan buruk, dan aku sangat tahu tabiat buruk apa yang di miliki Mamaku. Dia bisa melakukan berbagai macam cara untuk memisahkanku dengan Keysa. Tapi jika mendengar ada keturunannya di dalam rahim Keysa, aku sangat yakin Mama tidak akan bisa berbuat apa apa.
"Axel, lo lagi bercanda?"
Oke jadi Bang Dirga juga nggak percaya. Itu wajar, aku bahkan tak percaya dengan apa yang kukatakan. Tentu saja, bagaimana bisa Keysa mengandung anakku, jika menyentuhnya saja bisa membuatnya berteriak histeris. Tapi Keysa milikku, setelah bertahun tahun, tak akan ku biarkan apapun merenggutnya dariku.
"Gue nggak pernah seserius ini Bang."
Kurasakan Keysa meremas tanganku kuat kuat. Aku menatap ke arahnya, semoga ia mengerti maksud tatapanku. Semoga ia mengerti bahwa aku hanya ingin tetap bersamanya.
"Mama selalu bilang kalau Axel harus bisa jadi pria dewasa yang bertanggung jawab. Harus berani ambil resiko meski tanpa keluarga ini setelah Axel memutuskan untuk pergi. Dan sekarang Axel sedang mencoba melakukan semuanya. Axel mau bertanggung jawab dan mengambil resiko apapun."
Bang Dirga membuang muka tak ingin menatapku. Sedangkan Mama hanya memijat keningnya, mungkin merasa pusing dan penat. Saat ia menelpon di supermarket, awalnya Mama ingin membicarakan perjodohanku dengan orang lain. Mengingat aku dan Rania batal bertunangan. Tentu saja itu mustahil, karena itu sekalian saja ku bawa Keysa juga. Mama pasti tidak menyangka aku membawa Keysa kesini, bahkan sebagai istri.
Tapi aku tidak ingin menjadi Bang Dirga, aku ingin punya jalan hidupku sendiri.
"Tapi bukan begini caranya. Kamu harusnya bilang kalau kamu punya pilihan sendiri. Bukan menghamilinya dulu dan baru dikenalkan."
Ya, bagaimana aku harus bilang kalau aku menikah dengan Keysa tanpa pertimbangan setelah memergoki kekasihnya bertanggung jawab atas masa depan wanita lain. Akan semakin kecil peluangku mendapat restunya.
"Sekarang gimana Mama harus bicara sama Papa kamu? Dia pasti kecewa dan marah. Kenapa kamu sama Dirga itu berbeda? Dirga nggak pernah bikin masalah. Lihat dia, dia nggak pernah bikin Mama pusing."
Ini salah satu yang membuatku benci. Lagi dan lagi soal aku dan Bang Dirga.
Aku seperti anak yang tidak diinginkan. Dan Bang Dirga? Seperti biasa. Dia pasti merasa bangga menjadi kesayangan keluargaku. Aku tidak berani berdebat. Melihat usia Mama yang tidak muda lagi, membuatku harus berfikir ulang, memilah kata kata yang tepat.
"Axel juga hebat kok Tante."
Wajahku yang tertunduk, berpaling ke arah suara wanita yang sejak tadi hanya bisa diam. Keysa menatap tajam ke arah Mama dan Bang Dirga. Aku menggerakan bibir, berusaha mengatakan "Keysa jangan" selirih mungkin. Tapi sepertinya dia tak berniat menghiraukan aku.
"Tante, Axel adalah orang baik, dia dewasa dan sangat bertanggung jawab. Kalau dia memilih untuk pergi bukan karena nggak sayang drngan keluarga ini. Tapi itu karena Axel punya tekad yang kuat, dia punya tujuan untuk jadi sukses dari keringatnya sendiri. Tante nggak tahu kan betapa suksesnya dia sekarang."
Ya Tuhan, apa yang Keysa lakukan bagaimana kalau Mama sampai salah paham.
Terdengar suara cibiran Bang Dirga. Aku sangat berharap Keysa akan diam saja membiarkanku bicara. Tapi sepertinya aku salah.
"Ya, dia salah. Dan dia mengakuinya. Maka dari itu sekarang dia disini menegaskan kalau dia adalah laki laki dan dia akan bertanggung jawab atas segalanya. Tante, maafkan saya tante. Maafkan Axel juga. Saya mohon, jangan mempersulit jalan kami untuk memperbaiki kesalahan. Restui niat kami untuk menjadi manusia yang lebih baik."
Ini, apa aku tidak salah dengar. Keysa bahkan ragu saat kami akan menikah. Tapi sekarang dia bahkan mau memohon agak kaget juga aku di buatnya. Keysa melepaskan tanganku, lalu turun ke lantai ia bertumpu pada lutut, di hadapan Mamaku, membuat Bang Dirga melotot, dan membuat Mamaku kaget juga sepertinya.
"Ka..., kamu"
"Tante, tolong restui saya dan Axel ya tante. Saya mencintai anak tante. Dan ada calon cucu tante di dalam sini yang membutuhkan Neneknya."
Ya Tuhan, apa yang Keysa katakan ini apakah benar, dia bersimpuh di hadapan orang tuaku, memohon restu padanya. Aku dengan gaya sok ingin terlihat dewasa, justru tak bisa berbuat apa apa. Aku merasa terharu, ekspresi Keysa seolah ia benar benar mengatakanya dari hati. Ah, masa bodo. Istriku ada disana, bagaimana mungkin aku diam. Perlahan aku ikut turun. Mensejajarkan tubuhku di samping Keysa. Merengkuh tangannya, Ya Tuhan. Aku tidak peduli dengan semua kebohongan ini.
Menyaksikan Keysa berusaha keras untuk bertahan denganku, jauh lebih berharga dari apapun.
"Mah... Tolong Axel ya Ma. Axel Mohon."
Aku dan Keysa sama sama menunduk, melihat ke arah sepasang kaki Mama yang tiba tiba saja bergerak lalu berdiri, mendekat ke arahku. Aku siap jika Mama ternyata marah, aku siap jika Mama akan mencoret namaku dari daftar keluarga, aku juga siap kalau Mama akan memukulku atau menghajarku kalau perlu. Setidaknya aku sudah berusaha. Tapi nyatanya Tuhan memang adil, Ia tidak membuat usahaku sia sia. Mamah menyentuh puncak kepala ku dan Keysa.
"Berdiri!" pintanya.
Aku dan Keysa berdiri berbarengan. Sudah lama aku tidak melihat wajah Mama sedekat ini. Wajah seorang wanita yang telah melahirkanku, guratan garis keriput yang tersamarkan oleh make up, menjadi saksi betapa sulitnya membesarkan dua orang anak laki laki, apalagi anak yang menyusahkan seperti ku.
"Mama nggak membenarkan apa yang kamu lakukan. Kamu tetap salah Axel. Tapi seperti kata menantu Mama, Mama tidak akan mempersulit orang yang ingin berubah lebih baik."
Terkejut dengan apa yang dikatakan Mama. Aku melongo mendengarnya. Mama mengakui Keysa sebagai menantunya.
"Mama tidak akan membantu kamu keluar dari kemarahan dan kekecewaan Papa setelah dia tahu nanti. Itu adalah salah satu hukuman, yang sama sekali tidak sepadan dengan kelakuan kamu. Tapi untuk Mama pribadi, Mama nggak ingin cucu Mama lahir tanpa Ayah. Jadi...
"Jadi gimana Ma?"
"Jadi gimana Tante?"
"Mama merestui kalian."
Hah, apa? Aku hampir tidak percaya. Mama merestuiku dan Keysa. Ini serius? Dan ini berkat semua perkataan Keysa. Bang Dirga nampak kesal, ia berbalik dan berjalan entah kemana. Aku tidak peduli, Pokoknya saat ini aku sangat bahagia. Ku raih tubuh Mama dan memeluknya dengan erat. Mengucapkan beribu ribu terimakasih, dan di balas dengan beribu ribu peringatan agar aku tidak melakukan kesalahan lagi. Memperingatkan bahwa Papa belum tahu apapun, dan aku harus bisa meyakinkan Papa.
Terserah, tidak ada yang bisa mengganggu kebahagiaanku saat ini. Sekarang aku hanya perlu mewujudkan kebohongan ini menjadi nyata. Aku harus sesegera mungkin menghamili Keysa. Eh maksudku bekerja keras membuat Keysa hamil, sebelum kami ketahuan.
__________
Terima kasih atas waktunya. Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote dan comentnya. Babang Rio ku pending dulu ya. Biar Axel sama Keysa bahagia dulu. :*