
Keringat dingin mengalir pada dahinya, bersamaan dengan rasa sakit yang berpusat di bahunya karena remasan tangan Rio yang masih emosi dan tak juga terlepas. Tapi yang lebih mengkhawatirkannya adalah kenyataan jika ia harus mendekam di dalam penjara. Menghabiskan masa masa bahagianya menjadi seorang narapidana. Membayangkan betapa malunya jika seorang Leana bisa terlibat kasus menjijikan semacam ini.
Ayo cepet. Pikir Lea pikir. Alasan apalagi yang bisa bikin lo selamat.
"Lo nggak bisa lapor polisi.. arrkkhh sakit."
Ucapnya masih diringi selingan rasa sakit.
Rio masih melotot pada Leana. Berusaha menahan keras emosinya, meski hatinya ingin sekali membunuh dan membuat gadis itu merasakan apa yang dialami kekasihnya.
"Kalau lo lapor polisi, akan semakin banyak orang tahu. Dan semakin banyak orang yang tahu, semakin besar kemungkinan berita Keysa akan viral. Dan kalau itu viral, saat Keysa sadar, keysa akan malu lebih malu. Dia bakal merasa nggak punya masa depan. Dan Itu akan menjadi ingatan paling buruk dalam hidupnya."
Tambahnya lagi.
"Lo cuma takut. Lo cuma takut di penjara kan. Jangan khawatir, gue akan tetep laporin...
"Keysa... inget keysa Rio. Dia bisa malu seumur hidup. Dan saat dia tanya siapa yang udah nyebarin berita memalukan ini, gue tinggal jawab itu lo. Dan akhirnya dia juga akan benci sama lo."
Rio mengalihkan pandangannya pada dinding dan melepaskan Leana. Meneleah sejenak, susunan kalimat memuakan yang sebenarnya ada benarnya. Ia menarik tangannya, lalu menghempaskan pukulan keras pada dinding. Sambil berteriak.
"Aarrrkkkkhhhhh"
Ia memukulnya berkali kali hingga tangannya terluka dan mengalirkan darah.Leana yang tengah memegangu bahunya beralih menahan tangan Rio yang masih juga belum berhenti memukul dinding di sebelahnya. Ada rasa iba bercampur takut.
"Udah cukup Rio cukup."
Leana berusaha menghentikan Rio. Namun Rio justru menepis tangan nya. Memandangnya masih dengan rasa risih, marah, jijik dan segala sesuatu yang tak terdengar baik.
"Jangan sentuh gue. Gue jiji sama lo."
Rio berlari meninggalkan Leana menuju kembali ke kamar Keysa.
Leana bisa bernafas sedikit lega. Setidaknya ia masih bisa sedikit bernafas, ya paling tidak hanya untuk saat ini.
"Untung gue mikirnya cepet. Huuuhhh."
Tapi kemungkinan parah lainnya bagaimana jika Keysa sadar. Dan saat dia tahu semuanya. Maka habislah sudah. Jika Keysa ingin melaporkan perbuatannya maka ia tak akan bisa membuat alasan lagi, tak ada yang bisa menolongnya selain hukum. Tanpa pikir panjang Leana mengikuti Rio, takut kalau kalau terjadi keributan sedangkan Ken masih berada disana.
***
"Lo....." Rio mengangkat tangannya menunjuk pada Ken.
Ken yang terdiam melihat sorot mata kemarahan Rio hanya bisa ikut menatapnya. Bukan karena takut, bukan karena ia tak bisa membalas. Tapi untuk pertama kalinya ia sadar. Ini adalah kesalahan besar. Untuk saat ini, ia juga harus mengerti. Lelaki mana yang tak akan marah melihat kekasihnya terbaring dalam kondisi yang sulit dijelaskan.
"Jangan pernah lo sentuh cewek gua."
Kata kata itu begitu menusuk hati Ken, sejahat apapun hal yang telah ia lakukan. Ia sungguh sungguh sadar bahwa ia tak bisa dengan mudah kehilangan gadis itu.
"Tapi sayang sekali, saya bahkan sudah merasakan bagian yang lain."
Jawaban yang benar benar salah. Ini kesalahannya, ini tanggung jawabnya. Tapi Ia lebih tak terima jika Rio yang akan mengambil tanggung jawabnya. Ken mengepalkan kembali tangannya. Bersiap untuk kembali memulai perkelahian, dan tentu saja Rio dengan senang hati akan meladeninya. Ia tak terima jika harus menjauh dari Keysa.
Tapi Leana datang ia mencegah tangan Ken, yang sepersekian detik seharusnya akan segera terangkat. Ken melihat ke samping, dan menemukan Leana yang menggeleng gelengkan kepalanya. Mengisyaratkan agar ia menyerah.
"Gue mohon. Jangan ribut lagi. Demi Dia. Demi Keysa. Biarin dia tenang. Kalian pasti pengen dia cepet sadar kan? Jadi biar dia iatriahat."
Seru Leana.
Ya paling tidak, ia sudah berusaha sebisa mungkin, meski kesedihan masih bersarang pada jiwa 3 orang yang menatap Keysa dengan sendu. Kini mereka hanya tinggal berdoa dan berharap keajaiban benar adanya.
***
Sudah hampir kurang lebih 2 minggu. Keysa masih terbaring dalam posisi yang sama dan kamar yang sama. Hanya mengandalkan jarum dan selang infus untuk bertahan hidup. Meski setiap diperiksa detak jantungnya selalu stabil, entah kenapa mungkin alam bawah sadarnya masih belum memperbolehkannya untuk membuka mata. Setiap hari Leana, Ken dan Rio bergantian menemani Keysa. Berusaha membisikkan setiap doa yang selalu terselingi air mata.
Untuk kali ini Rio mengesampingkan egonya. Ia tak lagi menampakan emosinya saat bertemu Ken ataupun Leana. Alasannya simple. Ia hanya menunggu, menunggu hingga Keysa sadar dan menentukan sendiri apa yang akan dilakukannya pada kelakuan bejat mereka. Tapi jangan dikira itu mudah. Andai Keysa tak berada di klinik dalam naungan Ken, Rio ingin sekali sengaja mengerahkan pengawal agar tak ada yang bisa menemui kekasihnya.
Rio bukan tak bisa membawa Keysa pergi, memindahkannya ke rumah sakit lain atau melakukan hal yang lain. Hanya saja, benar apa yang dikatakan Leana tempo hari. Semua terlalu beresiko, setiap prosedur yang akan membuat ia harus menjelaskan apa, kenapa dan dimana, semua hal yang terjadi pada Keysa, ia akan membuat seluruh dunia tahu. Keysa nya dalam bahaya, Keysa nya tengah mengalami pelecehan parah, Keysa nya adalah korban.
Biarlah sekarang gue ngalah. Bukan karena gue kalah. Setelah Keysa sadar, gue akan langsung nikahin dia. Masukin Lea dan si brengsek itu ke dalam penjara. Dan hidup bahagia. Gue akan hapus semua kenangan buruk itu, gue akan bikin Keysa lupa dengan semua ini.
***
Jangan lupa like, comment dan vote nya ya sobat. sekian, terima gajih 😀