
Halo para pembaca yang baik dan kece abis. Axel dan Keysa akan hadir lagi nih. Adakah yang kangen sama mereka? jelas ada lah, salah satunya aku. Jadi sebelum ku mulai kisah Axel dan Keysa bagian ketiga, yuk ku perkenalkan dengan dua tokoh utama yang akan muncul.
1. Keysa Nadira Putri.
2. Axel Yudisthira****
*Nah Gimana menurut kalian? cocok nggak. Kalau menurutku ya cocok banget lah. Tapi setiap orang punya imajinasi masing masing ya.
Visual tokoh lainnya menyusul ya. Tunggu mereka keluar dulu. Tanpa berlama lama lagi. Yuk baca I Want You bagian ketiga. Jangan lupa tinggalkan coment, vote dan like nya. Terima kasih.
__________
I WANT YOU PART 3
AXEL AND KEYSA
SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE
Keysa Nadira Putri
"Kita dilahirkan kepala dulu, bukan kaki. Sederhana sih, tapi seolah mengandung filosopi kalau kita diajarkan untuk berpikir dulu sebelum melangkah."
Jadi disinilah aku sekarang. Memandangi langit Jakarta yang tertutup polusi dari balkon apartement lantai 20. Mengenang tentang apa yang terjadi beberapa jam lalu.
Saya terima nikah dan kawinnya Keysa Nadira Putri binti Danang Maulana dengan Mas Kawin tersebut dibayar Tunai.
Satu kalimat yang terngiang jelas. Sangat sederhana, tapi memiliki arti tegas bahwa aku kini bukan Keysa yang dulu. Aku sudah memiliki pemilik yang akan bertanggung jawab atas segalanya, atas kebahagian dan kesedihan, baik lahir dan batinku.
Aku terkekeh kecil, mendapati kenyataan pria yang paling kuhindari justru menjadi suamiku sekarang. Setelah pernikahan ku, Axel langsung membawaku ke apartement nya. Tempat yang sangat jauh dari rumahku meski sama sama masih berada di Jakarta. Dia tidak memberikan aku waktu untuk berbenah di rumah atau membawa barang barang. Dia juga tidak memberi tahu alasannya saat aku bertanya. Dia hanya bilang
"Aku udah siapin semua yang kamu butuhkan. Kalau ada yang kurang kita bisa belanja besok. Tapi untuk sebulan ini aku minta kamu jangan dulu kembali ke rumah ya. Kamu ikut aku. Mengikuti keinginan suami, salah satu pahala kan."
Lantas aku menurutinya. Dan benar saja. Dia sudah menyiapkan segalanya. Baiklah mungkin sekitar 90persen. Tapi itu harusnya lebih dari cukup. Saat aku membuka lemari kamarnya. Ah tidak, sekarang itu adalah lemari kamar kami. Semua pakaian yang ku butuhkan ada didalamnya, dan dia hapal betul seleraku. Tak hanya itu, ia bahkan tahu merek sabun mandi dengan harum kesukaanku, parfum yang kugunakan, scincare yang ada di kamarku, dia tahu segalanya. Agak tersentuh hatiku, saat mengetahui ia begitu menyiapkan segalanya hanya demi membuatku nyaman.
Aku agak tersentak kaget, merasakan pergerakan di sekitar perutku. Mungkin terlalu serius melamun membuatku tak sadar kapan Axel datang dan berdiri di belakangku melingkarkan tangannya di sekitar perut, lalu menjadikan kepalaku sebagai tumpuan dagunya. Aroma maskulin dan sabun tercium segar. Kurasa selesai mandi dia langsung kesini. Karena aku merasakan tangannya dingin.
"Kamu nyaman nggak disini?"
Nyaman? Sebenarnya definisi nyaman itu seperti apa ya? Lagipula, aku belum sampai 24 jam berada disini.
"Aku belom bisa jawab. Karena aku nggak tahu jawabannya. Kamu juga nggak jawab pertanyaanku tadi. Kenapa kamu langsung bawa aku kesini, kenapa nggak biarkan aku ke rumah dulu untuk menyiapkan segalanya."
Axel menarik nafas panjang sebelum menjawabku.
"Kita dilahirkan kepala dulu, bukan kaki. Sederhana sih, tapi seolah mengandung filosopi kalau kita diajarkan untuk berpikir dulu sebelum melangkah."
Masih belum mengerti dengan apa maksudnya, aku hanya diam. Lalu dia melanjutkan lagi perkataannya.
"Sebelum kamu kesini, aku memikirkan dulu bagaimana baiknya, bagaimana akibatnya, konsekuensinya pokoknya segalanya. Kalau ku biarkan kita kesana dulu aku nggak yakin, kalau aku bisa bawa kamu pergi. Meski statusmu adalah istriku sekarang."
"Kok kamu yakin?"
"Really? Aku harus jelasin itu?"
Aku mengangguk.
"Tahu kan alasan kita menikah. Saat ini hanya aku yang mencintaimu. Tapi kamu, pikiranmu masih berada di tempat lain. Jika kamu kembali kesana, kamu akan mulai berangan angan tentang salahkah, atau benarkah keputusan yang kamu ambil. Kamu akan mengingat setiap detik kenanganmu dengan orang lain, meski ada aku disana. Dan aku nggak siap untuk itu."
"Aku bertekad untuk membuat kenangan baru, tanpa memberi celah kenangan lain untuk masuk di dalamnya. Paling tidak, selama sebulan penuh ini."
Aku sedikit terharu. Merasa sakit dan bersalah. Axel bisa berpikir sejauh itu. Aku tidak menikah dengan orang yang kucintai, tapi aku yakin aku menikah dengan orang yang tepat. Dia mencintaiku, dan orang yang mencintaimu jelas akan berusaha keras untuk membagiakanmu.
Aku tertunduk merasa malu dan bingung. Pantaskah aku berada di sampingnya? Di samping pria yang begitu sempurna dan tahu cara menghargaiku. Saat pikiranku menjelajah sendiri, perlahan aku merasakan jari jarinya mengangkat daguku, membuat tatapan bersalah ku lagi lagi bertemu dengan sorot matanya yang penuh cinta. Jantungku, kian berdebar seiring dengan pergerakan wajahnya yang semakin dekat. Sangat dekat, hingga hembusan nafasnya yang hangat dan beraroma mint menyeruak ke dalam hidungku. Ia diam sesaat, membuatku dirundung gugup dan panik, membuatku sempat berkeinginan meminta lebih, karena jarak tipis yang yang nyaris tak terlihat.
"I want you Key."
Axel berbisik lirih, membuatku kepanasan sendiri.
"Aku ingin mengambil hakku sebagai suami kamu."
Dia bahkan bertanya lebih dulu sebelum melakukannya. Sesuatu yang harusnya tak perlu ditanyakan. Aku terlalu gugup untuk menjawab. Namun aku merasakan, tangannya menyentuh sekitar pinggang, bergerak naik turun disana.
"May I ?"
Aku mengangguk, senyum tipis yang berkembang, terlihat begitu jelas. Membuat kadar ketampanannya yang baru baru ini ku sadari, kian bertambah. Di detik berikutnya, aku sudah merasakan sesuatu yang lembut mendarat tepat di bibirkku. Ia menarikkku, membuat tubuhku semakin merapat, menyingkirkan jarak, membuatku lupa dengan segala kegugupanku.
Tanganku reflek melingkar di lehernya, saat ciumannya semakin dalam dan terasa menuntut. Begitu pula dengan jantungku yang melompat lompat, pertahananku akan runtuh. Lututku mulai melemas. Axel mengalihkan tangannya ke bawah mengangkat tubuhku, menggendongnya, membawa ku ke kamar tanpa melepaskan bibirnya sedikitpun.
Dan brugh...
Ia mendudukanku diatas ranjang. Bersamaan dengan sesuatu yang mendadak mengenjutkanku. Mataku terbuka, namun bibirku masih mengimbangi apa yang dia lakukan, tapi perasaanku aneh. Semua ini seperti membuatku teringat akan sesuatu.
Dengan nafas yang terengah engah, Axel melepaskan tautan kami, beralih pada leherku. Dan jantung ini mulai berdebar tak karuan, berdebar dalam artian lain. Ini tidak benar, aku mulai mengingat sebuah kecelakaan yang membuat sekujur tubuhku mendadak nyeri.
Axel masih terus melakukan tugasnya, dan aku masih berusaha untuk melupakan segalanya. Aku berusaha meresapi setiap titik sentuhan yang dilakukan suamiku.
"Nggak..."
Satu kata yang lirih keluar tanpa sadar dari mulutku.
"Nggak bisa..."
Lalu keluar kata lain.
Aku menghentikan pergerakanku, saat menyadari ketakutanku masih lebih besar dari rasa keinginanku untuk melakukan hal lebih dengan Axel.
"Ngggaakkk... Jangannn."
Ku dorong tubuh Axel dengan sekali sentakan, membuatnya terjatuh ke ranjang. Aku berlari, dan bersandar di tembok, lalu perlahan turun, semakin turun hingga aku terduduk di lantai, sambil memeluk lutut.
"Keysa, kamu kenapa?"
Aku bisa mendengar Axel, dia menghampiriku. Tapi tubuhku menolak. Aku merasakan nyeri saat kedua tangannya berada di pundakku. Reflek ku tepis tangannya. Keringat dingin keluar begitu saja. Aku menangis begitu saja, tanpa tahu bagaimana caranya untuk berhenti. Semua ini....semua ini terlalu menakutkan.