I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
IWY-3 EPISODE 2



I WANT YOU PART 3


AXEL AND KEYSA


SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE


Axel Yudhistira


"Siapapun kamu, kalau kamu adalah masalalu pasanganku, aku tidak suka melihatmu."


Brengsek... Aku terus saja mengumpat dalam hati. Orang itu sudah mati, tapi apa yang dilakukannya masih saja tertinggal. Di hadapanku, Keysa duduk dalam balutan rasa sedih dan ketakutan yang nampak jelas. Meracaukan kata kata tak jelas yang mengarah pada penolakan, bahkan ia menepis tanganku saat ku sentuh bahunya. Menepis, seolah sentuhanku begitu menakutkan dan menyakitkan. Tapi aku tak tahan, aku tidak bisa membiarkan wanitaku seperti ini.


Dengan paksa kuraih tubuhnya, membawanya dalam pelukanku, ia histeris dan meronta ronta memintaku untuk melepaskannya. Tapi tidak ku lakukan.


"Aaaaaa, lepas, aku mohon."


Keysa masih berteriak. Untunglah apartemenku di lengkapi peredam suara. Jika tidak penghuni lain pasti akan segera datang, mengira ada tindak kriminal di dalam sini.


"Keysa... Keysa dengar." aku berusaha keras agar ia mendengarku.


"Nggak... Jangan aku mohon."


"Keysa stop dengerin aku dulu."


"Tolong... Tolong jangan lakuin itu sakit. Aku mohon."


Ya Tuhan, dia sama sekali tak mendengarkanku. Apa yang harus ku lakukan. Aku kehabisan akal, sementara ia semakin parah. Maaf, maaf Keysa.


PLAKKK..


Ya Tuhan maafkan aku, sungguh aku tak ingin menyakitinya. Dia wanita yang sangat kucintai, tapi berani beraninya aku malah menamparnya. Keysa terdiam, namun air matanya masih mengalir. Rasa sakitku malah bertambah melihatnya seperti ini. Aku menangkup pipinya dengan kedua tanganku, memaksanya melihat pada orang yang sudah melakukan kdrt di malam pertama.


Tapi aku tak punya pilihan, aku bingung bagaimana cara menyadarkannya. Setidaknya sekarang dia melihatku, dia bisa berani melihatku meski masih ada sinar mata tak percaya di sana.


"Maafkan aku Key. Maaf, aku sungguh sungguh minta maaf. Tapi aku nggak tahu gimana caranya nenangin kamu."


Dia tak menjawab tapi masih melihat ke arahku.


"Lihat aku, aku Axel. Aku suami kamu, orang yang nggak akan mungkin bisa untuk nyakitin kamu. Kamu ngerti kan. Kamu juga tahu kan? Aku yakin kamu paham."


Keysa masih menangis, tapi perlahan lahan ia mengangguk. Membuatku sedikit bisa bernafas. Aku melepaskan pipinya, beralih dengan membawanya ke dalam pelukku lagi. Kali ini ia diam. Tidak melakukan perlawanan. Aku terus saja menciumi puncak kepalanya. Berharap rasa takutnya segera mereda melewatkan malam dalam rasa khawatir dan bimbang.


_________


Aku membayangkan, saat tanganku begitu ringan menampar wajahnya yang cantik. Membuat pipinya merah, bahkan nyaris membiru. Meski pada akhirnya hanya itu yang bisa kulakukan untuk membuatnya lebih tenang, tetap saja tidak bisa menutupi kenyataan aku menyakitinya. Lantas apa bedanya aku dengan si brengsek itu, si brengsek yang sudah merenggut Keysa.


Merenggut dalam artian, Keysa tak bisa seperti dulu, seperti saat pertama kami bertemu lalu berpisah, atau seperti saat kami bertemu lagi dan semoga tak terpisahkan lagi. Hanya ada kesedihan dan trauma mendalam, yang ternyata ku bangkitkan dalam pernikahan ini. Ya Tuhan, apa aku salah? Aku malah menambah mimpi buruknya. Bukan membahagiakannya, aku malah melakukan keegoisan. Tanpa bertanya, apa ia telah siap setelah menghadapi begitu banyak problem di luar nalar.


The best thing 'bout tonight's that we're not fighting Could it be that we have been this way before? I know you don't think that I am trying I know you're wearing thin down to the core


Lamunan ku buyar mendengar Lirik lagu Fall for you dari Secondhand Serenade. Aku hafal betul, itu adalah nada dering ponsel milik Keysa. Pandanganku mengarah pada ponsel di atas meja ruang tengah. Mungkin sebenarnya bukan ruang tengah juga ya. Apartementku cukup terbuka, tak ada dinding atau sekat pemisah antara ruang tamu, ruang tengah dan dapur. Satu satunya privasi disini hanya 2buah kamar, yg salah satunya kini jadi milikku dan Keysa. Dan jangan lupakan pintu kaca besar pemisah balkon, tempatku berdiri sekarang. Saat aku dan Keysa memiliki anak anak kecil yang lucu, tentu saja aku akan memboyongnya pindah, ke rumah yang lebih besar. Anak heh? Siapa yang sedang coba ku bohongi. Baru pemanasan saja dia sudah histeris, bagaimana jika kami sampai ke tahap yang...?


Aku meraih ponsel Keysa yang masih menyala. Dan nama Rio Setiadi tertera disana. Membuatku mendengus kesal. Untuk apa dia menelpon wanita yang sudah beristri. Masih terlalu Siang untuk memulai pertengkaran. Jadi ku biarkan ponselnya terus menyala, kubiarkan panggilan itu bertahan, menunggu agar dia menyerah. Tapi rupanya malah aku yg menyerah.


Ayolah, meski Rio pernah menjadi sahabatku, dia adalah mantan kekasih dari istriku. Aku pernah membaca sesuatu yang berisi sebuah Logika, siapapun kamu, kalau kamu adalah masalalu pasanganku, aku tidak suka melihatmu.


Entah dari mana logika nvawur itu datang. Tapi yang jelas, aku merasakannya sekarang. Ku blokir nomornya. Untunglah Keysa tak menggunakan pasword di ponselnya. Memudahkanku untuk menjelajahi benda ini.


Hatiku memanas melihat semua hal di dalam sana. Foto foto Keysa dan Rio, semua isi chat. Panggilan masuk dan keluar. Segalanya, aku menyesal membuka privasi Keysa, karena isinya menyesakkan. Tapi dia istriku sekarang.


"Axel..."


Hampir saja ku jatuhkan ponselnya mendengar suara si pemilik memanggil, aku terlalu serius sampai tak sadar dia ada di depanku. Matanya masih sembab dan terlihat bengkak, pasti efek menangis semalaman. Pandanganku terfokus pada pipi kirinya, yang telah mengecap rasa panas dari tamparanku. Apa dia baik baik saja?


"Itu hp ku kan? Kamu liat apa?"


Tanpa sempat menjawab, Ia sudah merebut ponselnya. Dari ekspresinya, sudah nampak jelas, ada rasa tak suka yang tersirat.


"Kamu hapus semua yg ada di hp ku?"


"Nggak semua. Hanya beberapa kenangan buruk yang nggak seharusnya kamu ingat."


"Tapi Rio bukan kenangan buruk. Dia sahabatku."


" BULSHIT..."


Untuk pertama kalinya aku berteriak pada Keysa. Tapi batas kesabaranku kian memuncak. Kenapa setelah pernikahan semua malah terasa lebih sulit.


"Kamu ingin aku diem aja, setelah tahu justru foto pria lain yang ada di ponsel istriku. Aku nggak sebaik itu Key. I can't pretend that I'm alright."


Siapa yang akan menyangkalnya. Kami para pria juga ingin dihargai, bukan selalu menjadi pihak yang mengejar. Cukup logis kan menurutku?


__________


Terima kasih atas waktunya. Tolong sertakan like, vote dan comment sebagai bentuk dukungan, agar author semangat. :)