
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...PERBUATAN ZINA DAPAT MERUGIKAN BANYAK PIHAK. JADI JAHUKAN LAH ZINA BILA TAK INGIN MEMBUAT BANYAK PIHAK MERUGI...
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
Aku menundukkan kepala ku.
" Maaf. Karena sudah mencaci dan melukai kamu tadi. " Cicit ku.
Fadli mengusap kepala ku, pelan.
" Aku memang pantas mendapatkannya. Dan, maaf telah membuat kamu hancur tak tersisa. " Sesal Fadli.
Aku tak menjawabnya.
《~》
" Kita memesan kamar satu aja ya? Biar hemat. Kan kita gak tahu mau sampai kapan disini. " Izin Fadli.
Aku hanya mengangguk patuh.
Aku tak peduli bila harus berbagi ranjang dengan Fadli atau tidak. Yang terpenting aku bisa istirahat sekarang. Aku terlalu lelah fisik maupun batin. Aku butuh untuk menenangkan fikiran dengan cara istirahat sejenak.
Fadli membawa ku ke kamar yang telah dia pesan. Fadli memesan kamar biasa. Namun, menurutku ini sangat mewah. Karena aku belum pernah menginap di hotel-hotel manapun. Kalau lagi berpergian semalaman dengan abi dan umi, pasti aku menginap di rumah orang yang di kenali. Atau di mobil yang telah di sewa. Katanya sih biar hemat. Toh, pasti hanya dibuat istirahat bukan ajang pamer harta.
" Aku ke toilet dulu ya? " Izin ku.
Fadli mengangguk.
Aku memasuki toilet yang ada di kamar ini.
Kalau seandainya aku sedang bukan dalam kondisi terpuruk, pasti aku akan kegirangan mengelilingi kamar ini. Namun, karena kondisi ku yang terpuruk aku tetap tak menikmati ini.
Ku lihat diri ku di cermin.
Apakah diri ku masih pantas di sebut dengan wanita baik-baik? Aku telah kotor. Dalam semalam saja aku telah membuat dosa yang sangat besar. Rasanya semua amal ibadah ku tak sebanding dengan dosa yang telah ku perbuat selama hidup ku.
Air mata ku kembali luruh. Membuat isakan yang sangat terdengar jelas. Aku tak kuat lagi menahan agar tidak menangis.
Maafin aku ya allah. Ampuni hamba yang telah berdosa ini, ya allah. Ampuni, ya allah. Astaghfirullah hal adzim.
Aku kembali luruh di lantai.
Aku menangisi diri ku sendiri. Aku bodoh. Tak bisa membedakan mana teman yang baik dan mana teman yang buruk. Aku bodoh.
Aku pukul-pukul kaki ku.
Kenapa kamu bodoh sih, Hilmi? Dia itu teman yang buruk buat kamu. Dan, kenapa kamu datang di pesta itu. Itu pesta yang sangat buruk.
Kalau seandainya aku tidak datang ke acara itu, pasti semunya akan baik-baik saja.
Akhh~
Akhh~
Akhh~
Histeris ku.
( Hana Hilmi Pov Off )
( Author pov on )
Tak ada yang mengetahui bahwa bukan hanya Hilmi yang terpuruk. Ada seseorang lagi, yang sama-sama terpuruk. Namun, ia berusaha agar tak menunjukkannya pada wanitanya. Ialah Fadli Firdaus.
Tapi, manusia mana yang tak akan menangis bila sebuah musibah menghujani dirinya? Fadli tetaplah seorang manusia biasa yang tak bisa setegar manusia istimewa. Setegar-tegarnya Fadli, tetaplah Fadli bisa terpuruk juga.
Ia hanya dapat berdiam diri di depan kamar mandi yang telah di masuki sang kekasih. Menyenderkan kepalanya disana, Mendengarkan sang kekasih menangis histeris di dalam sana. Yang malah membuatnya terus menerus menitikkan air mata.
Tak pernah terbayang dalam hidupnya, akan menghancurkan anak orang. Dan, ia yakin bahwa bukan hanya dirinya dan Hilmi yang menanggungnya. Pasti akan ada banyak orang yang tersakiti dalam masalah ini.
Cukup lama Fadli dan Hilmi seperti itu. Meluapkan semua rasa sesak yang menghampiri mereka. Mereka pun mulai satu persatu membersihkan diri.
" Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. " Ucap Hilmi, Setelah Fadli keluar dari dalam toilet.
Fadli menghampiri Hilmi yang tengah menatap kosong dirinya. Fadli mendudukan dirinya di samping sang kekasih.
" Ada apa? " To the poin Fadli.
" Apa yang sebenarnya telah terjadi pada kamu? Sampai-sampai kamu masuk kedalam kamar itu, malam itu. " Tanya Hilmi.
Fadli diam beberapa saat, untuk menguatkan dirinya. Agar siap mengingat kejadian kelam itu, dan menceritakannya pada sang kekasih.
Fadli menceritakan semua yang telah terjadi pada malam itu, pada sang kekasih. Tak ia tambahi dan kurangi sedikit pun. Sang kekasih hanya mendengarkan tanpa minat menimpali sedikit pun.
" Ternyata memang benar. Semua kejadian ini disebabkan oleh Putri. Emang aku salah apa sih sama dia? Sampai dia sekejam ini sama aku. " Ucap Hilmi.
Hilmi pun mulai menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Dengan air mata yang tak kuasa ia tahan, karena mengingat kejadian itu. Membuat sang kekasih diam tak bersuara. Tak tahu apa yang harus dilakukan Fadli untuk menenangkan Hilmi.
" Kamu tahu dimana rumah Erlangga atau Putri? Aku pengen ketemu sama mereka. " Putus Hilmi. Setelah menghapus air matanya, kasar.
" Iya. Nanti kita temui mereka. Kita istirahat dulu. " Tegas Fadli.
Hilmi hanya menuruti ucapan Fadli. Hilmi tak dapat membantah lagi. Karena ia memang butuh tidur sejenak. Merilekskan pikirannya
Hilmi pun bangkit dari tempatnya menuju ranjang. Dia tak peduli sang kekasih akan tidur dimana. Meski harus tidur sekasur dengannya. Dia tak akan protes. Toh, dia sama Fadli sudah menikah.
Fadli menatap lekat Hilmi yang sudah tertidur. Ia masih memiliki rasa bersalah yang amat besar pada Hilmi. Ia pun mulai memutuskan mengikuti Hilmi untuk pergi ke alam mimpi, dengan Fadli yang memutuskan tidur di sofa.
...-♡-...
" Di depan situ rumahnya Erlangga. Aku tak tahu rumahnya Putri. " Ucap Fadli, sambil melihat sebuah rumah yang cukup besar di depan sana.
Hilmi mengangguk.
Fadli dan Hilmi berjalan menuju rumah itu. Dengan Emosi yang mulai naik.
" Pak, tolong panggil pemilik rumah ini. Yang bernama Erlangga. " Pinta Hilmi, kepada satpam rumah itu.
" Nona dan tuan, siapa ya? Ada urusan apa dengan den Angga? " Tanya satpam itu.
" Saya mohon panggil kan Erlangga pak. Saya memiliki urusan privasi dengan Erlangga. " Pinta Hilmi, sekali lagi.
" Tidak bisa non. Bila non nya tidak memiliki janji temu dengan aden, saya tidak dapat mengijinkan enon. " Tolak satpam itu.
Hilmi yang tengah emosi ini pun mulai tak peduli dengan omongan pak satpam rumah ini.
" Erlangga!!! Keluar lo!!! Pengecut banget lo, jadi orang!!! Erlangga!!!! Keluar!!! " Teriak Hilmi.
" Aduh non. Tolong jangan teriak-teriak di sini. Malu kalau di lihat tetangga lain. Enon gak boleh teriak-teriak disini, non. " Sentak satpam.
Hilmi tak menghiraukan pak satpam itu. Dia masih kembali teriak-teriak.
" Aduh!! Ada apa sih ini!? " Kesal seorang wanita paruh baya yang keluar dari rumah itu.
Hilmi pun menghentikan aksinya tadi.
" Apakah tante ini adalah ibunya Erlangga? " Tanya Hilmi memastikan.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^EHEM. APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA YA? AUTHOR JADI PENASARAN. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^