
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...TAK TAHU KENAPA. TAPI, AKU MULAI TERBIASA AKAN KEHADIRAN MU DISISI KU....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
Aku memperlambat langkah ku, karena melihat dua mobil yang ku yakini salah satunya adalah milik Fadli dan dua motor terparkir di depan rumah ku.
Ada apa ini? Kok ada dua motor dan satu mobil lagi?
Aku tak dapat melihat siapa saja orangnya. Karena terhalang dengan mobil dan motor.
《~》
Aku mengintip di balik mobil.
Fadli dan tiga pria lainnya yang salah satunya adalah pria yang menjadi wali Fadli saat itu.
" Mau sampai kapan sembunyi di situ? " Sindir Fadli.
DEG
Ya allah, malu banget. Kok Fadli tahu sih aku sedang bersembunyi.
Aku mulai keluar dari persembunyian ku. Aku menghampiri mereka.
" Eh, em. Assalamu'alaikumu warohmatullahi wabarokatu. Sudah lama di sini? " Gugup ku.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Jawab mereka.
" Hmm. Bukain dulu pintunya. " Ucap Fadli.
Aku mengangguk.
Aku langsung membuka pagar. Satu mobil dan dua sepada mereka masukan. Dan, satu mobil lainnya di biarkan.
" Saya pamit pulang,tuan. " Izin pria yang waktu itu.
Aku mengerutkan kening.
Fadli mengangguk.
" Eh, gak masuk dulu? Paling enggak minum dulu. Saya buat kan minuman dulu ya? " Cegah ku, saat para pria yang tak ku kenali itu hendak beranjak dari tempatnya.
" Tidak usah, nona. Kami pamit pulang dahulu, nona. Permisi. " Tolak pria waktu itu.
Aku hanya mengangguk pasrah.
Para pria yang tak ku kenali itu masuk ke mobil yang di biarkan tadi. Mobil itu membawa mereka pergi.
Aku mendekati Fadli.
" Mereka siapa? Dan, itu ap- " Tanya ku, terhenti.
Tiba-tiba aku ingin muntah karena menghirup aroma tubuh Fadli. Tak tahu kenapa.
" Bu-buka!! " Perintah ku, dengan menahan agar tidak muntah.
Aku memberikan kunci rumah kepada Fadli.
" A-ah. Iya. " Bingung Fadli.
Fadli membuka pintunya.
Dengan cepat aku menuju ke kamar mandi untuk tamu, di ikuti Fadli.
" Kamu kenapa? " Bingung Fadli.
Aku mengangkat tangan ku, sebagai tanda 'jangan dekat-dekat'. Lalu menutup pintu kamar mandi.
Aku memuntahkan makanan yang telah ku makan tadi di westafel yang ada di kamar mandi. Aku membersihkan mulut ku dan muntahan ku tadi dengan air. Lalu mengeringkannya dengan handuk yang telah ku siapkan untuk kamar mandi ini.
Aku keluar dari kamar mandi, dengan tubuh yang sangat lemas.
Aku melihat Fadli yang kebingungan. Sepertinya ia ingin menghampiri ku, Tapi tidak bisa karena telah ku larang.
" Kamu kenapa sih? " Penasaran Fadli.
" Kamu make parfum apa sih? Bau banget. " Kesal ku.
Entah kenapa aku sangat tak suka dengan bau badan Fadli.
" Parfum yang biasa aku pakai. Aku juga gak bau. Lagian aku gak pake parfum banyak, dan aku juga sudah mandi. Aku wangi. Kamu aneh. Teman-teman ku aja biasa aja sama bau badan aku. " Tak terima Fadli.
Fadli terus-menerus mencoba menghirup aroma badannya. Mencoba mencari penyebab apa yang buat aku muntah.
" Teman kamu aja. Namanya teman pasti gak akan mau menyakiti hati kamu. Bau kamu itu gak enak banget. Mending kamu mandi, tapi sehabis itu jangan pakai parfum kamu. " Suruh ku.
Aku mendorong tubuh Fadli memasuki kamar mandi Dengan menjauhkan kepala ku, agar tak mencium bau badan Fadli.
" Ngapain sih. Tadi aku udah mandi. Aku gak mau mandi lagi. " Tolak Fadli.
" Udah mandi aja, sih. Tinggal mandi aja. Susah banget. " Paksa ku.
Akhirnya Fadli mau memasuki kamar mandi dan mulai mandi kembali.
...-♡-...
" Ngapain kamu di depan kamar mandi. Mau ngintip ya? " Kaget Fadli, setelah selesai mandi dan melihat ku.
Tidak ku sangka Fadli mau menuruti permintaan ku tadi. Fadli hanya memakai jubah mandi.
" Ha? " Bingung Fadli.
" Mana parfum kamu? " Tanya ku, lagi.
" Ada di mobil. " Jawab Fadli.
Aku mengambil koper Fadli yang ada di mobil. Lalu membawanya ke kamar. Tak peduli bila kopernya berat. Aku membuka koper nya dan mencari parfum Fadli. Fadli hanya menatap ku heran.
Setelah menemukannya, aku langsung menuju tempat sampah kamar. Ku buang parfum itu ke sana.
" Loh? Kok? " Kaget Fadli.
Aku menghadap Fadli.
" Mulai sekarang kamu jangan pakai parfum itu. Aku gak suka. Ayo, kita beli parfum baru buat kamu. Aku bakal pilih buat kamu. Dan, kamu hanya boleh pake parfum yang ku pilihkan. " Perintah ku.
" Kamu siap-siap sekarang. Aku tunggu. " Instruksi ku.
Aku meninggalkan kamar, membuat Fadli kebingungan sendiri.
...-♡-...
Aku melihat deretan parfum yang di jual.
" Minta sampel nya dong, mas. " Pinta ku.
Mas itu mengangguk.
Lalu menyerahkan beberapa kertas aroma kepada ku. Aku menghirup bau kertas aroma itu. Dengan sekali-kali ingin mual.
Aku menaruh beberapa sampel aroma itu. Aku masih memegang tiga kertas aroma, dan menghirupnya kembali untuk memilih mana yang ingin ku pilih. Aku menaruh satu kertas aroma.
" Dua ini, mas. " Pinta ku.
Aku menyerahkan kertas aroma yang kupilih. Setelahnya menyerah kan kertas aroma yang ku taruh tadi.
" Baik, mbak. Tunggu sebentar ya, mbak. " Ucap mas penjual parfum.
Aku mengangguk.
Aku menunggu beberapa saat, lalu parfum yang ku inginkan pun datang. Kemudian aku membayarnya. Setelah itu aku masuk ke dalam mobil.
Aku menghadap Fadli yang dari tadi menunggu diri ku di dalam mobil.
(Hana Hilmi Pov Off)
(Fadli Firdaus Pov On)
" Kamu pakai parfum ini aja. Aku sengaja beli dua aroma biar bisa di buat ganti-gantian. " Jelas Hana.
Hana menyerah kan parfum yang ia beli kepada ku. Aku membuka parfum itu dan menghirup nya.
Tidak buruk. Segar.
" Gimana? Suka? " Penasaran Hana.
Aku menatap Hana.
" Hmm. " Jawab ku.
Hana tersenyum gembira.
DEG
Aku seketika terpana akan senyuman Hana. Baru kali ini aku melihat senyum Hana.
" Kamu kenapa? Kok diem aja. Kamu gak suka parfumnya? " Khawatir Hana.
Aku sedikit tersentak.
Aku menggeleng.
" Enggak. Aku suka, kok. " Tenangkan ku.
" Ya udah. Kalau gitu pake. " Perintah Hana.
Aku memakai sedikit parfum dari salah satu parfum yang di belikan Hana.
" Yey~ Lain kali kamu pakai parfum ini aja. Baunya enak. Jangan pakai parfum lainnya. " Seru Hana, gembira.
Kelihatannya dia sangat gembira, membuat ku tersenyum menatapnya.
" Thanks. " Ucap ku.
Hana mengangguk.
Lucu sekali istri ku ini. Gemes banget. Hahaha. Masya allah banget sih, Istri solehah ku.
Aku mengusap kepalanya, pelan. Dia hanya tersenyum senang.
Jangan sedih terus ya istri ku. Kamu lebih cocok untuk selalu tersenyum seperti ini. Imut.
" Betewe, kamu tadi kenapa? Apa sebau itu parfum ku dulu? Perasaan ku biasa aja deh. " Penasaran ku.
" Gak tahu kenapa. Tapi, aku gak suka bau kamu tadi. " Jawab Hana
Ah~ sudah lah. Mungkin hidung Hana lagi sensitif.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^CIE, CIE. SI HANA SAMA SI FADLI. UWUW BANGET TAU. BIKIN AUTHOR YANG JOMBLO INI JADI PENGEN. UPS. BERCANDA KOK GUYS. AUTHOR TEH MASIH KECIL. MASIH SEKOLAH. JADI GAK BOLEH MIKIR COWOK DULU. TUGAS SEKOLAH UDAH NUMPUK. CAPEK KALAU PUNYA COWOK. HEHEHE. JANGAN PACARAN YA GUYS. MENDING JOMBLO SAMPAI HALAL. OK. AUTHOR JUGA KOK. HEHEHE. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^