
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...TAK USAH SERAKAH DENGAN DUNIA INI. KARENA SEJATINYA DUNIA INI ADALAH TEMPAT SEMENTARA. TEMPAT YANG KEKAL ADALAH AKHIRAT....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Jangan gitu, istri ku. Kalau kamu gak masak terus aku makan apa? Di luar kan yang jualan nasi pada saat pagi, jarang. Harus pergi ke pasar dulu, kalau mau beli makan. Nanti aku keburu lemes. Jadi aku mohon kamu masak, ya? " Mohon Fadli.
Aku terkekeh dengan permohonan Fadli.
" Oke, oke. Tapi, ada satu syarat. Kamu jalani hukuman kamu. Atau, kalau kamu gak jalani hukuman kamu, aku gak akan masak. Ngerti! " Tegas ku.
Aku menarik diri ku. Lalu beranjak pergi dari kamar ini.
" Han! Tega banget sih kamu! " Teriak Fadli
Aku terkekeh geli.
《~》
" Gimana, Han? " Tanya Fadli.
" Gak di terima. Mungkin masih belum rezekinya. " Jawab ku.
Aku tersenyum hangat.
Aku telah keluar dari sebuah toko. Tapi, lagi-lagi gak keterima.
" Punggung kamu masih sakit? Maaf ya, aku kemarin keterlaluan. " Sesal ku.
Ternyata Fadli lebih memilih tidur di sofa dari pada gak ku buatin makanan. Sekarang aku tahu kelemahan dia.
" Gak papa. Tapi, jangan kaya kemarin lagi ya? " Mohon Fadli.
Aku terkekeh.
Kami pun kembali mencari kerjaan.
...-♡-...
" Fad! Aku di terima!! " Senang ku.
Padahal aku tadi sudah mau menyerah. Namun, tetap ku paksakan. Ternyata usaha ku tak mengkhianati hasil. Aku di terima di salah satu butik.
Fadli mengusap kepala ku. Aku tersenyum senang karena ucapan Fadli.
" Alhamdulillah, kalau gitu. Kapan masuknya? " Syukur Fadli.
" Besok. Aku juga di kasih seragam. Dan, kamu tahu. Aku diperbolehkan makai kerudung sampai menutup dada. Aku senang banget akan hal itu. Akhirnya ada yang terima aku, meski aku tetap memakai khimar. " Ungkap ku.
Sebenarnya ada beberapa toko yang telah menerima ku. Tapi, aku di suruh memakai kerudung, namun tak boleh sampai dada. Karena katanya biar terlihat lebih rapi. Aku pun akhirnya menolak pekerjaan itu.
Dan, ada juga yang memperbolehkan aku memakai kerudung sampai dada. Tapi, aku di paksa memakai celana ketat, atau bajunya yang ketat. Aku juga lagi-lagi menolaknya. Aku tak ingin mengumbar aurat. Aku yakin akan ada pekerjaan yang tak memaksa ku untuk memakai baju tetapi bertelanjang.
" Syukur kalau gitu. " Syukur Fadli.
" Kita beli in nasi buat anak-anak ya? Dan, ngasih beberapa jajan. Sekalian buat sedekah pekerjaan baru aku. " Pinta ku.
...-♡-...
" Anak-anak. Lihat mbak bawa apa. Mbak bawa jajan juga loh. Bukan nasi aja. " Seru ku.
Anak-anak menghampiri ku dengan wajah gembira.
" Wah, makasih mbak. " Ucap anak-anak.
" Terima kasih, kembali. Ya udah, kalian makan dulu nasinya. Itu jajannya bisa buat nanti malam, kalau pengen nyemil atau lapar. " Tegas ku.
Mereka mengangguk.
Aku melihat mereka memakannya dengan sangat lahap.
Aku ingin sekali memberi tumpangan tempat tinggal kepada anak-anak. Rasanya tak tega melihat mereka menderita seperti ini. Mereka harus siap bila hujan melanda jembatan mereka. Apa lagi pada saat banjir. Tapi, bagaimana lagi, Aku tidak boleh terlalu jauh mencampuri urusan mereka.
Tanpa terasa kelopak mata ku menitikkan buliran air mata.
Tiba-tiba ada seseorang yang menggenggam tangan ku. Ku hadap orang itu.
Fadli.
Aku menghapus air mata ku.
" Mbak. Jangan uwu-uwuan di sini. Kasihani lah kami para jomblowan dan jomblowati. " Sindir Gabriella.
Aku terkekeh.
Gabriella terkekeh dengan jawaban ku.
Ku lihat Lina.
" Wah, kerudung kamu bagus, Lin. Kamu gimanain tuh kerudung. Sampai bisa sebagus itu? " Penasaran ku.
Anak-anak perempuan di sini, semuanya berkerudung. Itulah salah satu nilai plus buat mereka. Meski mereka kekurangan, tapi mereka tetap menyisihkan uang mereka demi menutupi aurat mereka.
" Hihihi. Makasih, mbak. Ini aku jahit sendiri. Bagus kan mbak? " Jawab Lina.
Aku mengangguk.
" Iya, bagus banget. " Balas ku.
" Kamu belajar dari mana, Lin? Sampai bagus kaya gitu. " Tanya Gabriella.
Ku lihat Lina dan Reza murung. Lina dan Reza bersaudara.
" Dari mama, mbak. " Cicit Lina.
DEG
Aku tahu bahwa Lina dan Reza sudah tidak memiliki kedua orang tua.
" Eh, maaf Lin. Aku gak tahu soal itu. Aku jadi ingetin kamu sama mama kamu. " Sesal Gabriella.
" Gak papa kok, mbak. Lina cuci tangan dulu ya mbak mas. " Ucap Lina.
Lina beranjak dari tempatnya. Menuju toilet yang telah di buat oleh orang-orang sebelum anak-anak. Toilet itu tak terlalu jauh dari tempat mereka.
" Maaf mas Reza. Aku benar-benar gak tahu soal itu. " Sesal Gabriella.
Reza hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
Ya allah, kasihan sekali mereka.
Astaghfirullah hal adzim.
Aku harus sering-sering bersyukur.
...-♡-...
Aku dan Fadli sekarang dalam perjalanan pulang.
Air nata ku luruh. Tapi, Fadli tak dapat melihatnya. Karena aku tertutup oleh helm.
Lagi dan lagi aku merasa sangat kurang bersyukur. Masih banyak macam-macam manusia di dunia ini. Dan, juga banyak macam-macam masalah di dunia ini. Tak seharusnya aku begini. Aku terlalu serakah dengan nikmat dunia.
Aku merasa seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa di depan anak yang lebih kecil dariku. Aku masih terlalu manja. Di kasih sedikit masalah malah sudah ngeluh duluan.
Aku menghentikan motor ku yang otomatis Fadli juga berhenti. Aku menghapus air mataku sebelum Fadli menatapku.
Ku alihkan pandangan ku kepada sebuah bangunan yang sudah tak di tempati. Bangunan itu memiliki tanah luas di sekelilingnya. Ku pikir bangunan itu masih layak di pakai. Lumayan buat tempat tinggal anak-anak.
Aku sering melewati bangunan ini. Tapi, aku tak pernah berhenti untuk melihat bangunan ini sedetail ini.
" Ada apa, Han? " Tanya Fadli.
Aku alihkan kembali pandangan ku ke Fadli.
" Bangunan ini bisa banget buat tempat tinggal anak-anak. Mungkin lebih baik dari pada di bawah jembatan. " Ungkap ku.
Fadli mengangguk mengerti.
" Apa bangunan ini gak bakal di pakai lagi? Kalau iya aku bawa anak-anak ke sini. " Penasaran ku.
" Gak tahu. " Jawab Fadli.
" Masa kamu bangun rumah di dekat sini, gak cari-cari info di sekeliling rumah kamu sih. " Kesal ku.
Fadli tak merespon.
Huft~
" Udah lah kita pulang aja. " Putus ku.
Aku pun melanjutkan perjalanan ku.
Seharian itu aku terus-menerus memikirkan rumah itu. Aku pengen banget ajak anak-anak kesana buat pindah.
Tapi, aku tak tahu apakah anak-anak akan mau. Aku juga belum terlalu mengenal mereka. Belum tahu kisah mereka, sepenuhnya. Aku tak berani menanyakannya kepada mereka. Itu akan membuat mereka teringat kembali dengan masa kelam mereka. Menurutku senyuman mereka terlalu berharga.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^NOPE LAH UNTUK PART INI. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^