HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 31



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...JANGAN PERNAH ADA ORANG YANG MERAGUKAN KEKUATAN SEORANG IBU. BAHKAN SEORANG IBU RELA TERSAKITI DEMI KELUARGANYA....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Tak ada ekspresi yang di tunjukan Fadli.


" Ini perintah suami kamu. " Tegas Fadli.


Setelah mengucapkan itu, Fadli pergi dari kamar. Aku hanya dapat menatap kosong pintu. Ku gigit bibir bagian dalam ku. Sesak, ya allah.


Air mata ku menitik. Namun, langsung ku hapus. Aku bersiap-siap sebentar. Lalu pergi menuju mobil yang sudah menunggu ku dari tadi. Tak ada pembicaraan sama sekali selama perjalanan.


《~》


Aku dan Fadli tengah menunggu antrian ku. Aku dan Fadli larut dalam fikiran masing-masing. Ada satu hal yang baru ku ketahui. Ini lah yang di rasakan Fadli dulu. Saat sikap ku membuat dia kebingungan teramat sangat.


Setelah nama ku di panggil, aku dan Fadli memasuki ruangan dokter. Aku lupa tak melihat unit ruangan ini. Karena tadi Fadli sendiri yang mengisi pendaftaran. Aku tadi terlalu larut dalam fikiran ku. Kini aku mencoba fokus.


Aku di bawa oleh para medis. Aku melakukan beberapa pemeriksaan oleh dokter. Lalu, dokter itu meninggalkan ku. Hanya tinggal diri ku dan suster yang masih menangani ku. Kenapa tadi aku tak menanyakan langsung saja kepada dokternya?


Aku akan menanyakan penyakit ku ke suster. Aku tak mau kehilangan kesempatan lagi.


" Sus. Sebenarnya penyakit saya apa ya? " Tanya ku, to the poin.


Suster menghadap ku.


" Maaf nona. Apa nona belum di beri tahu oleh suami nona? " Tanya suster.


Aku mengangguk.


" Maaf nona, saya tak tahu. Saya tidak dapat mengingat penyakit pasien satu-persatu. Dan, saya masih belum di perlihatkan berkas diagnosa nona. Saya tak dapat mengatakannya kepada nona. Takutnya diagnosa yang saya perkirakan salah. " Sesal suster.


Aku mengangguk, mengerti.


Setelahnya suster meninggalkan ku. Aku tak tahu kenapa setiap aku di sini selalu di beri infus. Dan, setelahnya aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Namun, hanya bertahan beberapa waktu saja. Selanjutnya kembali seperti semula. Apa mungkin infus ini adalah obat energi/nutrisi buat ku. Aku pun di minta menghabiskan infus ini.


Aku sangat penasaran. Aku membawa infus ku. Aku beranjak dari tempat ku. Aku ingin menghampiri dokter dan Fadli. Namun, langkah ku terhenti ketika para medis dan Fadli masuk.


" Mau kemana nona? Ada sesuatu yang ingin di lakukan? Bila iya mari saya bantu. " Tawar suster.


Aku menggeleng.


Aku menatap Fadli. Raut wajah Fadli berubah. Dia sangat dingin. Tapi, karena cukup lama aku tinggal bersama Fadli aku pun mengetahui setiap ekspresi Fadli. Fadli tak hanya dingin, dia seperti menutupi rasa frustasi.


" Enggak ada. " Ucap ku.


Setelahnya aku di minta duduk di kursi roda. Kursi rodanya di dorong menuju kamar. Mungkin kamar pasien. Saat di kamar pasien aku tak melihat Fadli lagi.


Aku di bantu untuk berbaring di ranjang kamar pasien. Dokter memeriksa ku sebentar.


" Tunggu dok. " Cegah ku, saat melihat dokter ingin beranjak dari tempatnya.


" Sebenarnya saya sakit apa dok? Tolong jawab pertanyaan saya. Dan, kenapa saya ada di kamar ini? Terus kenapa saya sendirian di kamar ini? Apa ini kamar satu? " Tanya ku, beruntun.


" Saya hanya dapat menjawab satu pertanyaan nona. Iya, ini adalah kamar satu. Dan, lebih lanjutnya dapat di pertanyakan di suami nona. " Jawab dokter.


Dokter langsung keluar dari kamar ini.


" Sus. Saya yakin suster telah membaca berkas saya. Tolong beri tahu saya sus. " Pinta ku.


Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di sini. Aku merasa akan terjadi sesuatu.


Suster mengangguk.


" Iya nona. Tapi, sebelumnya saya ikut bersedih dengan apa yang terjadi dengan nona. " Buka suster.


" Nona sebentar lagi akan di kuret. Saya mohon nona lebih bersabar lagi. Saya yakin akan ada bayi lagi yang menemani nona dan suami nona. " Jelas kan suster.


DEG


Ok, dari kalimat itu aku tahu apa yang tengah terjadi seluruhnya.


" Terima kasih, sus. " Ucap ku.


Suster mengangguk, lalu pergi meninggalkan ku.


Air mata ku mengalir begitu saja.


Bayi?


Ku sentuh perut ku. Ku usap sebentar. Kenapa aku tak sadar? Kenapa? Kenapa aku harus sadar pada saat aku harus berpisah dengan bayi ku?


Aku menggeleng sesaat.


Tidak. Tidak boleh. Aku pasti bisa. Bayi ku harus tetap lahir di dunia. Tidak boleh. Tidak boleh di kuret. Tidak boleh. Tidak boleh.


Aku terisak dalam tangisan ku.


Enggak. Aku sudah jadi anak durhaka. Aku tidak mau menjadi ibu yang kejam. Gak lagi. Aku gak mau gagal lagi. Aku harus pertahankan bayi ini. Meski harus nyawa ku sendiri yang menjadi taruhannya.


Aku melihat Fadli memasuki kamar.


Aku dengan tergesa membawa tiang infus. Aku menghampiri Fadli.


" Kenapa!? Kenapa kamu gak ngomong dulu sama aku!? Ini bayi ku juga!! Kamu jahat banget mau bunuh bayi kamu sendiri!! Kamu jahat!!! " Murka ku.


Aku memukul-mukul dada Fadli. Aku juga mendorong tubuh Fadli. Fadli mencoba menggenggam tangan ku yang terus menerus memukulnya.


" Hana!! Bayi kita gak akan mau bila nyawa orang tuanya di ganti nyawanya. Aku juga gak akan mau kamu pergi!! Biarlah bayi kita yang pergi!! Allah lebih sayang bayi kita!! " Jelas Fadli.


Aku melepas tangan ku dari genggaman Fadli.


" Kata siapa!!? Bayi ku masih belum meninggal. Banyak orang di luar sana masih bisa hidup, ibunya dan anaknya meski mereka harus melewati kehamilan seperti ini!! Kamu hanya mempercayai diagnosa dokter saja. Kamu gak percaya kekuatan seorang ibu!! Bahkan darah yang mengucur pada seorang ibu tetap tak dapat menggoyahkan kekuatan seorang ibu. " Tak terima ku.


" Aku tahu itu Hana. Tapi itu terlalu berisiko buat kamu, Han! Aku lebih rela bayi kita gak ada dari pada kamu yang gak ada!! " Marah Fadli.


Mata Fadli mulai memerah.


" Ha? Di luar sana bahkan ada yang cerai karena tak juga di karunia i seorang anak. Dan, kamu. Kamu malah kebalikannya. Kamu itu orang yang beruntung. Karena allah mengkaruniakan bayi di hubungan kita. Kamu tak seharusnya seperti ini. Kamu harusnya mencari bagaimana caranya agar bayi ini dapat selamat di lahirkan di dunia, walaupun sang ibu masih bisa hidup. " Marah ku.


" Hana. Kamu jangan seperti ini. Suatu saat juga kita dapat memiliki anak lagi. Tapi, kamu. Kamu tak dapat di miliki lagi setelah kamu pergi. Tolong ngertiin aku. " Pinta Fadli.


Fadli menitikkan mata.


DEG


Ini kali pertama ku melihatnya menangis. Sebelumnya tak pernah sekali pun.


" Enggak, aku gak mau. Kita sudah menjadi anak durhaka buat kedua orang tua kita. Jangan lagi. Jangan membuat kita menjadi orang tua yang kejam buat bayi kita. " Putus ku.


" Han, aku mohon. " Pinta Fadli.


Aku terduduk lemas di ranjang. Aku memalingkan muka ku.


" Terserah. Kamu pilih kehilangan aku, atau kehilangan aku dan bayi ini? Kalau kamu gak mau mempertahankan bayi ini, biar aku saja yang berusaha sendiri. Tapi, jangan harap aku akan bersama kamu lagi. " Ucap ku.


Fadli berlutut di depan ku. Fadli memeluk kaki ku. Fadli masih saja menangis.


" Aku mohon, Han. Aku gak mau kehilangan kamu. Dunia ku akan benar-benar hancur tanpa kamu. Aku mohon, Han. Lepaskan bayi itu. Bila kamu masih mempertahankannya, kamu akan meninggal Han. Bukan hanya kamu. Bahkan kemungkinan bayi kita juga akan meninggal. Jangan tinggal kan aku sendiri Han. Aku gak mau di tinggal kan kamu. " Mohon Fadli.


Aku menghapus air mata ku.


" Enggak. Insya allah, a-aku dan bayi ini akan selamat. Kita akan hidup di dunia ini. Gak akan ada yang pergi. Aku akan menjaga diriku maupun bayi ini. Kita akan hidup di dunia ini bersama-sama. Bayi ini juga ingin hidup. Bukan hanya kita saja. " Kekeuh ku.


" Aku mohon, Han. Hiks. Aku mohon~ " Mohon Fadli, sekali lagi.


Aku menggeleng, kuat.


Aku akan tetap berdiri di keputusan ku. Aku tak akan goyah. Aku akan mempertahankan bayi ini bagaimana pun keadaan ku nanti.


Fadli kembali berdiri. Fadli langsung cepat-cepat menghapus air matanya.


" Terserah kamu. Tapi, aku mohon jangan tinggalin aku sendiri. Kalian gak boleh pergi ninggalin aku. Gak boleh. " Tegas Fadli.


Fadli berjalan keluar dari kamar.


Fadli. Ini adalah cobaan buat kita bertiga. Kita harus bertahan. Kita harus menjaga salah satu dari kita. Kita tak boleh goyah. Kita tak boleh gagal. Dan, saatnya aku menunjukan kekuatan ku. Kekuatan seorang ibu. Kita akan baik-baik saja. Semoga.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^MOHON MAAF KARENA PART INI AUTHOR BELUM MAXIMAL. AUTHOR NGETIKNYA CEPET-CEPET. DAN, MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^