
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...BERJUANGLAH SELALU. TAK USAH DIPIKIRKAN HASILNYA. KARENA HANYA TUHANLAH YANG MENGETAHUI HASIL YANG TERBAIK DARI PERJUANGAN KITA. TUGAS KITA HANYA BERJUANG-BERJUANG DAN BERJUANG....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Terserah kamu. Tapi, aku mohon jangan tinggalin aku sendiri. Kalian gak boleh pergi ninggalin aku. Gak boleh. " Tegas Fadli.
Fadli berjalan keluar dari kamar.
Fadli. Ini adalah cobaan buat kita bertiga. Kita harus bertahan. Kita harus menjaga salah satu dari kita. Kita tak boleh goyah. Kita tak boleh gagal. Dan, saatnya aku menunjukan kekuatan ku. Kekuatan seorang ibu. Kita akan baik-baik saja. Semoga.
《~》
Aku langsung diperbolehkan pulang. Aku tak jadi menginap di sana. Aku hanya di minta menghabiskan infus terlebih dahulu. Sekarang aku tengah dalam perjalanan pulang.
" Aku mau ke anak-anak. " Pinta ku.
Fadli tak merespon apa-apa. Namun, Fadli tetap membawa ku ke anak-anak.
Aku turun dari mobil. Aku menghampiri anak-anak. Aku melihat anak-anak tengah menenangkan Gabriella yang tengah menangis.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku dan Fadli.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas mereka.
" Mbak! " Seru Gebriella.
Gabriella menghampiri ku, lalu memeluk ku. Yang ku balas dengan hal serupa.
" Ada apa? Kenapa Gabriella nangis? " Tanya ku, lembut.
" Mbak... Hiks. Gabriella sedih. Papa gak sayang sama Gabriella. Hiks. " Ungkap Gabriella.
Aku mengusap punggung Gabriella.
" Kata siapa papa Gabriella gak sayang Gabriella? " Tanya ku.
" Papa sendiri yang bilang. Kata papa, kelahiran Gabriella adalah penyebab kematian mama. Hiks. Terus papa bilang bahwa papa benci dengan Gabriella. Hiks. Gabriella sedih mbak. Papa gak pernah bisa sayang dengan Gabriella. Hiks. " Ucap Gabriella.
DEG
Gabriella semakin terisak dalam tangisannya.
Astaghfirullah hal adzim.
Aku menatap Fadli sekilas.
Apa akan seperti ini bayi ku nanti? Enggak kan? Gak mungkin. Bila memang iya, maafin bunda ya nak. Bila bunda tidak bisa melindungi mu dari kebencian ayah kamu. Maafin bunda nak. Tapi, mama akan berusaha agar kamu tak seperti mbak Gabriella. Kita berjuang bersama ya, nak. Jangan pernah menyerah.
Huft~
" Gabriella sayang. Kalau papa kamu bilang gitu, harusnya kamu buat papa kamu tidak membenci kamu lagi. Buat papa kamu menjadi sayang sama kamu. " Tenangkan ku.
" Dan, inget. Mungkin saja selama ini papa kamu masih sedih karena kepergian mama kamu. Lagian gak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Kamu harusnya hibur papa kamu. Biar papa kamu ikhlas akan kepergian mama kamu. " Lanjut ku.
Gabriella menghentikan tangisnya.
" Kenapa hanya papa? Gabriella juga sedih. Bahkan Gabriella gak pernah ketemu sekali pun dengan mama. Tapi, apa? papa bahkan gak pernah sekali pun nenangin Gabriella. Ini gak adil buat Gabriella. " Tak terima Gabriella.
DEG
Ya allah, hamba harus menjawab apa? Hamba bingung mau menjawab apa.
" Eh, Ga- " Ucapan ku terpotong oleh omongan Fadli.
DEG
Kenapa jadi inget umi dan abi? Aku seperti tertampar oleh ucapan Fadli. Umi, abi maafin aku. Tak seharusnya aku meninggalkan begitu saja umi dan abi. Pasti abi dan umi malu banget atas kejadian itu. Mungkin saja abi dan umi tak punya niatan mengusir aku. Hanya meminta diri ku menjauh. Agar tak ikut merasakan derita yang mereka alami.
Astaghfirullah hal adzim.
Gabriella mengangguk.
" Gabriella. " Panggil seseorang.
Kami menoleh menatap orang tersebut. Terdapat seorang lelaki. Ia sangat mirip dengan Gabriella.
" Maafin papa ya, nak. Papa tadi emosi. Papa belum bisa berfikir jernih. Kita pulang ya, nak. Maaf papa jarang menemani kamu. " Sesal orang itu.
Oke, aku menyimpulkan bahwa beliau adalah papanya Gabriella.
" Papa!! " Seru Gabriella.
Gabriella menatap aku sejenak. Aku meresponnya dengan tersenyum lalu mengangguk. Gabriella berlari menuju papanya itu. Gabriella memeluk papanya itu, yang di balas hal serupa. Lalu papa Gabriella menggendong nya.
" Terima kasih buat kalian semua sudah mau nenangin Gabriella. Saya papanya Gabriella. Maaf saya baru pertama kali ke sini. Saya tak pernah menyangka bahwa teman-teman Gabri seperti ini. Saya sempat berfikir bahwa teman-temannya Gabriella nakal. Ternyata saya salah paham. Bahkan kalian telah baik hati menasehati Gabriella agar tidak melakukan kenakalan. Maaf kan saya sekali lagi. " Sesal papanya Gabriella.
Kami mengangguk mengerti.
" Tidak apa-apa, pak. Kami juga tak dapat membuat orang berfikiran baik-baik tentang kami. Yang bapak rasakan adalah wajar. Namun, saya pesan. Temui dulu baru menilai. " Ucap ku.
Papanya Gabriella mengangguk.
" Saya akan mengingat pesan anda. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamu'alaikum. " Pamit papanya Gabriella.
Kami membalas salam papanya Gabriella. Setelahnya papanya Gabriella pergi membawa Gabriella.
" Huft~ Kasian Gabriella. Semoga dia dapat yang terbaik. " Ucap Sinta, yang di balas 'aamiin' oleh kami.
Aku dan Fadli cukup lama di sana.
...-♡-...
Aku menutup Al-Qur'an yang ku baca. Lalu melepas mukenah yang ku kenakan. Ku taruh semuanya di tempatnya. Selanjutnya aku menyalakan murotal Al-Qur'an yang ku dekat kan ke perut ku.
Aku kembali termenung. Bagaimana nasib anak ku setelah ini? Aku takut dia menderita seperti Gabriella. Dan, apa aku sekuat itu untuk mempertahankan anak ku? Aku kan hanya seorang anak dari sepasang suami istri. Aku tak tahu apakah akan sekuat itu.
Apa aku sudah siap dengan kehadiran bayi ini? Apa aku sudah siap menanggung semua resikonya? Aku tak tahu. Aku hanya ingin mempertahankan bayi ini. Tak tahu dari mana rasa itu semua. Tak tahu pergi kemana keberanian ku tadi.
Ya allah, kuat kan hamba menerima takdir yang engkau tetap kan untuk hamba. Hamba tak tahu apakah hamba dapat melewati ini semua. Yang pasti hamba tak akan dapat melewati semua ini tanpa engkau, ya allah. Ya rabb, berikan yang terbaik untuk hamba, suami hamba, dan bayi kami nanti.
Aku tak dapat melakukan hal lain. Selain menyerahkan semua ini kepada sang kholik. Tanpa nya aku tak akan mampu melakukan apa pun.
Ku usap perut ku.
" Nak, bila bunda tak kuat lagi dan bunda harus pergi. Tolong jangan membenci bunda. Dan, bila kamu di salahkan oleh ayah mu. Tolong jangan membenci ayah mu, nak. " Ucap ku.
Air mata ku menetes.
" Kita berjuang bersama ya, nak. Tegur bunda bila bunda melakukan kesalahan, agar bunda tak melakukan itu lagi. Tegur bunda bila bunda tak dapat berjuang lagi, agar bunda bisa kembali berjuang lagi. Tegur bunda bila bunda semakin jauh dari allah SWT. " Pinta ku.
" Maafin bunda, bila bunda tak dapat kuat lagi. bunda akan berusaha melahirkan mu, nak. Meski harus nyawa yang menjadi taruhannya. Yang kuat, nak. Kita mulai bersama dengan mengucap 'bismillah' " Lanjut ku.
Ya allah. Kuat kan hamba dan bayi hamba selalu. Insya allah, hamba akan menerima semua yang telah engkau tetap kan. Hamba serah kan semuanya kepada engkau, ya allah. Hamba serah kan kematian hamba, bayi hamba dan kelahiran bayi hamba kepada mu, ya allah. Hamba tak dapat menentang semua yang engkau tetap kan. Hamba hanya dapat berusaha. Hasilnya hanya lah engkau yang tahu, ya allah.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^YA ALLAH, GINI AMAT PERJUANGAN SEORANG IBU. HUHU. SELAMA HIDUP AUTHOR BELUM PERNAH MEMIKIRKAN BAGAIMANA PENDERITAAN IBU AUTHOR. AUTHOR JADI TERHURA. EH, SALAH. TERHARU. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^