
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...PERNAHKAH KITA BERTANYA 'DI SEBUAH HASIL, PENDERITAAN SEPERTI APAKAH YANG TERJADI DARI HASIL ITU?'....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Biarin. Mangkanya jangan buat temen sendiri malu. " Tak peduli Septi.
Aku memutar mataku, malas.
Huft~
" Terserah dah. " Tak peduli ku.
Aku dan Septi melanjutkan jalan kami. Menuju parkir.
《~》
Aku sekarang berada di kelas. Membaca buku. Yang di temani oleh Septi.
" Ha-hai. " Ucap seseorang tiba-tiba.
Aku dan Septi menatap orang tersebut, dengan tanda tanya. Orang tersebut bergender wanita. Dan, juga memakai jilbab. Dia adalah salah satu teman ku di kelas ini. Dia sangat pendiam dan menyendiri. Aku dan Septi tak pernah sekali pun berbicara dengan cewek itu.
" Iya? " Respon ku.
Muka cewek itu memerah.
" E-eh, Ka-kata papa, aku udah besar. Udah kuliah. Dan, aku harus punya teman. Ja-jadi kita temenan ya? " Gugup cewek itu.
" Ha? " Cengang ku dan Septi.
" Kata papa, aku harus punya teman baik. Dan, menurut ku kalian orang baik. Jadi aku mau temenan sama kalian. " Ucap cewek itu.
Ini aku lagi ngomong sama anak SD? Mana ada yang ngajak temenan kayak gini, selain anak-anak SD/Kecil.
" O-owh. Bo-boleh. Ayo kita temenan. " Setuju ku, dengan sedikit tercengang.
Aku pikir cewek itu pendiam, terus cool. Ternyata dia polos banget.
" Makasih. Kata mama kalau mau temenan harus nyebutin nama. Nama aku Cahya. " Perkenalkan Cahya.
" O-owh. A-aku Septi. " Ucap Septi.
" Hai, aku Hana. " Ucap ku.
Beneran, aku berasa jadi anak kecil lagi.
" Sekarang kita temenan. Eh, salah. Bukan temenan. Tapi, sahabatan. Oke? " Putus Cahya.
Aku dan Septi terkekeh canggung.
" Oke. " Setuju ku dan Septi.
Tiba-tiba saja Cahya menarik ku dan Septi. Cahya memeluk ku dan Septi. Dan, tiba-tiba Cahya menangis.-
" Makasih ya, sahabat Cahya. Hiks. Maaf bila Cahya ngajak temenan nya kaya gitu. Cahya gak tahu cara berkenalan seperti anak-anak seusia Cahya. Dan, baru kali ini Cahya punya teman sekaligus sahabat. Hiks. " Ucap Cahya.
Aku dan Septi tersenyum akan ucapan Cahya. Aku dan Septi membalas dekapan Cahya.
" Iya. Udah jangan nangis lagi. Nanti air matanya habis kalau nangis terus. " Ucap ku.
Menurutku Cahya adalah anak yang baik. Dia hanya tak tahu caranya berkenalan. Maklum saja, mungkin ini kali pertama Cahya punya temen.
Cahya menghapus air matanya. Lalu, kami bertiga melepas pelukan kami.
" Jangan nangis lagi ya Cahya? Kita kan sahabat. Dan, sahabat enggak akan mau sahabatnya menangis. " Ucap Septi.
Cahya mengangguk lucu.
" Mulai sekarang, detik ini, kira bersahabat. Dan, mari bersama-sama membawa persahabatan kita sampai ke jannah. Gimana? " Putus ku.
" Ayo!! Bersama-sama. " Seru Cahya.
" Sahabat till jannah! " Seru Septi.
Ya allah, semoga teman-teman hamba kini bisa menjadi sahabat till jannah. Aamiin ya rabb.
" Han, mau makan apa? Biar aku dan Cahya yang beli. Kamu jaga meja. " Intruksi Septi.
" Terserah. Aku ngikut aja. " Jawab ku.
" Ya udah, aku dan Cahya beli dulu. " Pamit Septi.
Lalu, Septi dan Cahya membeli makanan dan minuman.
Huft~
Mereka juga teman-teman pertama ku, yang sudah sekian lama aku tidak mempunyai teman di SMA. Aku berharap tidak ada yang menyakiti sahabatnya. Seperti Putri. Jujur saja ada keraguan di dalam diri ku berteman dengan mereka. Aku takut akan tersakiti.
Aku gak boleh seudzon. Aku harus berhusnudzon.
Aku menundukkan pandangan ku. Lalu, menatap perut ku. Usia kandungan ku kini adalah 3 bulan lebih beberapa hari. Berarti waktu kelahirannya sebentar lagi. Dan, waktu itu aku harus sekuat tenaga menjaga diri ku dan bayi ku. Mungkin bisa saja aku akan gugur di perang dengan penyakit ku.
Ya allah, hamba takut. Setelah hamba tiada, hamba sama sekali tak mendapatkan ridho orang tua, hamba. Entah seperti apa akhirat hamba bila tiada restu orang tua hamba.
Nak, kurang beberapa bulan lagi kita akan mendapatkan hasil dari perjuangan kita nak.
" Han! " Seru Septi.
Aku tersentak.
Aku menatap Septi penuh tanya.
" Ngelamun aja. Ini bantuin, kek. Berat tahu. Kasian Cahya masih nunggu di sana. " Kesal Septi.
Aku melihat tangan Septi penuh dengan pesanan Septi.
" Sabar. " Kesal ku.
Aku membantu Septi menata pesanan yang di beli. Septi langsung menghampiri Cahya. Setelahnya Septi kembali dan membawakan sisa pesanan kami, di bantu Cahya. Kami memakan pesanan kami dengan hening.
Waktu beberapa suapan makanan, aku merasa sangat mual. Namun, ku tahan. Aku tak mau ada yang curiga akan kehamilan ku. Takut-takut aku dikelurkan dari kampus.
Aku cepat-cepat mengambil minyak kayu putih dalam tas ku. Ku oleskan minyak kayu putih ke tubuh ku. Aku kembali memaksa diri ku untuk memakan makanan ku.
Seharusnya makanan dapat membuat tubuh menjadi lebih bugar dan bersemangat. Tapi, tidak untuk ku. Aku merasa bertambah lemas dengan makanan ku ini. Di tambah pusing yang teramat sangat.
" Kamu kenapa sih, Han? Perasaan, kamu sering banget make minyak kayu putih kalau kita lagi makan. Apa kamu sakit? Tapi, kok sering banget? " Tanya Septi, yang telah menghabiskan makanan dan minumannya.
Cahya hanya menatap ku dan Septi, bingung.
" E-eh, gak papa kok. Emang tubuh aku lagi kurang fit. " Alibi ku.
Septi mengangguk mengerti.
" Septi. Kamu tahu dari mana kalau Hana lagi kurang enak badan. " Bingung Cahya.
" Ya tahu aja. Kamu gak usah tahu. Itu rahasia. Rahasia gak boleh di kasih tahu. Oke? " Jawab Septi.
Cahya mengangguk polos.
Aku sedikit terkekeh dengan interaksi Septi dan Cahya. Antara Septi orang yang ceria. Dan, Cahya yang super duper polos.
" Lah, gitu pinter. " Ucap Septi.
Cahya hanya menatap Septi polos.
Aku melanjutkan melahap makanan ku, hingga tandas. Rasanya aku tidak kuat lagi. Aku mau ke toilet.
" A-aku pamit duluan, ya. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Pamit ku.
Aku langsung beranjak dari tempat ku, tanpa menunggu jawaban Septi dan Cahya. Aku berjalan cepat menuju toilet. Di tengah jalan aku bertemu Fadli. Namun, tak ku hiraukan. Aku terus melangkah.
Sesampainya di sana. Aku langsung memuntahkan isi perut ku. Setelahnya aku cepat-cepat membersihkan bekas muntahan ku. Ku lihat diri ku. Aku terlihat sangat pucat.
Air mata ku, menetes begitu saja.
Ku remas tangan ku. Sebagai penyalur kesakitan ku. Setelah aku menormalkan diri ku, aku cepat-cepat menghapus air mata ku.
Aku mengambil bedak di dalam tas ku. Ku pakaikan bedak ku ke wajah ku. Lalu, ku taruh kembali bedak ku ke dalam tas. Ku lihat wajah ku di cermin. Terlihat lebih baik dari sebelumnya. Meski bibir ku masih pucat.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^GAK SEGAMPANG ITU PERJUANGAN IBU. PASTI BANYAK PERJUANGAN LEBIH BESAR LAGI DARI ITU. SETELAH MENGETAHUI ITU, MASIHKAH KITA DURHAKA KEPADA ORANG TUA? MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^