
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...AKU TAK TAHU. AKU ADALAH SEORANG YANG BUTA CINTA. AKU HANYA MENGETAHUI KAGUM. SELEBIHNYA AKU TAK TAHU....
...《♡HANA HILMI♡》...
" Maaf. Aku terlalu takut di tinggalkan. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Ajak aku bila kamu ingin pergi kemana pun. Dan, bertemu siapa pun. " Lagi-lagi Fadli hanya mengucapkan kalimat ambigu.
" Kamu jangan ambigu, deh. Aku bukan penulis maupun pengarang. Aku tak tahu apa yang kamu katakan. Rangkaian kata kamu membuat ku bingung. Katakan lebih jelas. Agar tak terjadi kesalah pahaman. " Pinta ku.
" Kita sholat witir berjamaah, yuk. Ayo kita lebih mendekat lagi dengan allah SWT. " Ajak Fadli.
DEG
《~》
Jantung ku berdegup dengan kencang.
Fadli mau sholat berjamaah dengan ku? Bukannya dia selama ini tidak pernah mengajak sholat berjamaah? Kenapa sekarang jadi begini?
Aduh bang~ neng di giniin lama-lama neng ambyar bang.
Aku mengangguk.
" Ak-aku mau siapin barang yang di buat sholat. Ka-kamu ambil wudhu dulu. " Gugup ku.
Aku langsung melepas dekapan Fadli, lalu pergi menuju kamar. Di kamar aku tidak langsung melakukan yang apa aku ucap kan. Aku berdiri dengan menyentuh dada ku. Aku mencoba menetralisir degup jantung ku.
Huft~
Abang nih, eneng jadi baper kan.
Oke.. Jadi aku harus gimana? Nyiapin apa dulu? Kok jadi bingung ya? Padahal cuma sholat berjamaah. Dimana otak kepintaran ku? Kenapa aku jadi bingung sendiri?
Tenang-tenang-tenang. Sekarang konsen dulu. Aku mengambil mukena dan sajadah ku. Aku termenung sejenak.
Terus baju koko dan sarungnya Fadli gimana? Sebelumnya kan aku tidak pernah menyiapkan baju untuk Fadli. Jadi harus gimana, sekarang? Ah, sudah lah. Ambil terserah aja.
Aku mengambil random baju koko dan sarung Fadli. Lalu mengambil sajadah yang sering digunakan Fadli. Aku menaruh mukena dan pakaian yang akan di kenakan Fadli di kasur. Selanjutnya menghampar sajadah.
Aku melangkah kan kaki menuju kamar mandi, ingin mengambil wudhu. Selepasnya aku kembali. Aku melihat Fadli tengah menunggu ku. Fadli tersenyum menatap ku. Aku pun membalasnya dengan hal sama. Aku memakai mukenah ku.
" Ayo! Siap? " Pastikan Fadli.
Aku mengangguk.
Kami pun melakukan sholat witir berjamaah.
...-♡-...
Aku mengakhiri sholat ku dengan salam. Setelah itu, aku dan Fadli dzikir yang di pimpin Fadli. Ada desiran aneh dalam diri ku. Rasa hangat, nyaman, tenang, dll. Ini suatu hal baru untuk ku. Tak ku sangka, seperti ini rasanya sholat berjamaah dengan pacar halal. Masya allah.
Sehabis dzikir Fadli memberikan Al-Qur'an kepada ku. Aku yang tahu maksud Fadli pun menerimanya. Memang sebelum tidur aku berusaha membiasakan dengan sholat witir, lalu di lanjutkan membaca surah. Dan, pastinya itu surah Al-mulk dan 2 ayat terakhir Al-Baqarrah.
" Kita baca bersama. " Intruksi Fadli.
Aku mengangguk.
Kami bersama-sama membaca surah yang berada dalam kitab suci tersebut. Sejak awal aku telah mengakui suara Fadli saat membaca kitab suci sangat merdu dan indah. Sejak Fadli membacakan surah Ar-Rahman kepada ku sebagai mahar untuk ku. Rasanya aku sedikit insecure terhadap Fadli. Tak di sangka seorang Fadli yang dulu ku yakini tak ada minat membawa bekal untuk akhirat, ternyata seorang yang sangat berakhlak mulia.
Mungkin saja hafalan Fadli lebih banyak dari pada aku. Aku malu, ya rabb. Aku fikir hanya diri ku lah yang mulia di sekolahan ku dulu. Ternyata masih ada yang lebih mulia dari pada aku. Tanpa ku rasa, aku telah menanamkan kesombongan dalam diri ku. Terima kasih, ya allah. Engkau telah memberi hidayah untuk hamba. Agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Aku tersentak akan perbuatan Fadli.
Fadli mencium kening ku?
Maklum saja. Fadli hanya empat kali mencium kening ku. Pertama waktu akad nikah yang pada saat itu aku dan Fadli tengah renggang. Kedua dan ketiga kalinya adalah pada saat pertengkaran ku dengan Fadli yang tentu saja pada saat hubunganku dan Fadli tengah renggang. Dan keempat kalinya adalah sekarang, Pada saat hubungan ku dan Fadli baik-baik saja.
Aku menatap Fadli terkejut.
" Maaf. Maaf, karena telah merusak mu. Maaf, karena membuat kamu berada dalam kondisi saat ini. Kondisi yang dapat merenggut nyawa mu. Maaf, Karena tak pernah mengajak ibadah bersama. Maaf, karena tak pernah membimbing mu. Maaf, tak bisa memberikan mu yang terbaik. " Ungkap Fadli, cepat.
Fadli menunjukan raut penyesalan.
Aku tak dapat mengatakan apa pun kepada Fadli. Aku hanya bisa bungkam menatapnya.
" Maaf, karena tak mengenalkan mu kepada keluarga ku. Maaf, karena hanya memberi mu status istri siri. Maaf, karena tidak dapat membuat mu menyandang gelar istri sah. Dan, maaf karena telah membuat orang tua kamu kecewa kepada kamu. " Sesal Fadli.
Fadli mulai terisak.
DEG
Rasanya aneh melihat Fadli terisak seperti ini. Aku tidak biasa. Biasanya Fadli akan memperlihatkan bahwa ia tengah tegar, kuat. Fadli sangat aneh. Bahkan waktu saat tergenting pun ia tetap menunjukan bahwa ia tidak apa-apa. Apa Fadli semenderita ini sebelumnya? Bahkan dia terlihat sangat lemah. Satu sisi yang sangat jarang Fadli tunjukan padaku.
Aku menangkup dagu Fadli. Ku usap air mata Fadli yang turun membasahi dagu Fadli.
" Hei, suami ku. Dengarkan lah. Semua manusia di dunia tak luput dari dosa. Kita yang hanyalah seorang manusia, hanya dapat meminta petunjuk kepada Allah SWT. Dan, bila kita tersadar akan dosa kita. Cepat-cepat lah kita meminta ampunan kepada Allah. Lalu, mencoba mengerahkan semua kekuatan kita untuk memperbaikinya. Agar kita tak mengulanginya lagi. " Jelas kan ku.
Fadli membawa tubuhku dalam dekapannya. Fadli menopangkan dagunya kepada pundak ku. Aku mengusap kepala Fadli, lembut.
" Aku mau kita berdua dapat beribadah bersama. Meski pun hanya memiliki waktu sedikit. " Pinta Fadli.
" Ayo kita bersama menyiapkan bekal kita nanti. Dan, pastinya aku akan meluangkan waktu untuk kamu. Aku tak tahu kapan kamu pergi dari diri ku. Aku takut akan hal itu. Jadi, aku akan mencari waktu hanya bersama kamu. " Ucap Fadli.
Aku mengangguk.
" I Love You, my Wife. (Aku Cinta Kamu, Istri ku. )" Ucap Fadli.
DEG
DEG
DEG
Jantungku berdegup dengan sangat kencang.
Fadli barusan menyatakan perasaanya kepada ku? Apa iya? Apa mungkin?
" I don't know how I feel about you. But, my love only deserves you. ( aku tidak tahu apa yang kurasakan terhadap mu. Tapi, cinta ku hanya berhak untuk mu. ). " Cicit ku, pelan.
Aku tidak dapat melihat raut wajah Fadli, kini. Karena posisi kami yang masih berdekapan dan Fadli menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ku.
Jujur saja. Aku tidak tahu apa itu cinta kepada lawan jenis. Mungkin kagum pernah. Tapi, buat ke tingkat cinta, aku tak mengetahui seperti apa rasanya.
" Do you hate me? And, Can you keep up with me, evermore? ( Apa kamu membenci ku? Dan, bisakah kamu tetap bersama ku, selama-lamanya? ) " Tanya Fadli.
Aku harus jawab apa?
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^WOY!! DI BILANGIN JANGAN UWU-UWUAN. AUTHOR KAN JADI PENGEN. EH, ASTAGHFIRULLAH. UCAP-UCAP THOR. KAN, JADI KHILAF. KAMU SIH HAN, FAD. HUFT~ MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^