HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 5



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...TAK ADA SATU PUN ANAK YANG MENYAYANGI ORANG TUANYA RELA MEMBUAT KEDUA ORANG TUANYA KECEWA. SEMUA ANAK YANG MENYAYANGI ORANG TUANYA AKAN SANGAT BERUSAHA KERAS UNTUK MEMBUAT ORANG TUANYA BANGGA PADA MEREKA....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Ibu itu membantu ku untuk menuruni tangga rumah itu kembali. Bertepatan dengan ku, Fadli dan beberapa orang memasuki rumah ini. Entah habis kemana mereka.


Semua orang masih ada. Hanya bertambah dengan kehadiran umi, abi, dan satu pria. Yang kuyakini bila pria itu adalah wali Fadli.


DEG.


Aku menatap mata umi. Dari matanya beliau, beliau menyiratkan kekecewaan yang amat terdalam. Aku memperlambat kan langkah ku.


《~》


Aku takut apa yang akan terjadi setelah ini.


Afwan umi, abi.


Ya allah, astaghfirullah hal adzim.


Umi mendekati ku.


Aku menghentikan langkah ku.


" Um- " Panggil ku.


Plak.


Aku menyentuh pipi ku yang terkena tamparan umi.


Sungguh sakit rasanya bila kita telah mengecewakan orang yang kita sayangi dengan seperti ini. Aku wajib mendapat kan ini. Perbuatan ku tak bisa ditolelir.


Aku menundukkan kepalaku dengan masih memegang bekas tamparan umi.


" Sejak kapan umi ngajarin kamu kayak gini!!? Kamu dari dulu umi didik agama!! Tapi, sekarang kamu malah melakukan sesuatu yang di larang allah SWT!!! Kamu telah berzina Hilmi!!! " Histeris umi.


Aku mendengar umi terisak. Sakit sekali rasanya mendengar wanita malaikat yang telah melahirkan kita di dunia menangis kecewa karena kita.


Aku rasa umi ingin melayangkan satu tamparan lagi ke pipi ku. Namun, dengan cepat ibu-ibu menahan pergelangan umi. Agar tak menampar ku lagi.


Air mata ku terus keluar dari kelopak mataku. Aku menangis tanpa isakkan. Aku tak ingin lemah dihadapan kedua orang tua ku. Karena aku di didik untuk menjadi wanita yang kuat.


" Kamu tahu, Umi benar-benar kecewa sama kamu, Hilmi. " Ucap umi.


DEG


Allahu akbar.


Lahaula wala quwata illa billah.


Astaghfurullah hal adzim.


Aku semakin menundukkan kepala ku.


Baru beberapa jam yang lalu aku masih mendengar nada ucapan sayang dari umi. Namun, sekarang aku telah mengubah nada ucapan itu menjadi nada kekecewaan yang amat-terdalam


Maaf kan aku, umi.


" Mohon ibu tenang dahulu. Mari kita cari jalan keluar dari masalah ini, dengan kepala dingin." Tengah Pak RW.


" Saya minta nak Fadli dan nak Hilmi duduk di antara para walinya. " Pinta Pak RW.


Ibu itu membantu ku duduk diantara umi dan abi. Sungguh duduk di antara kedua orang tua setelah melakukan perbuatan tercela adalah hal paling menakutkan dalam hidup seorang anak.


Aku hanya dapat menunduk, dan menghapus air mata ku.


Pak RW sedikit mengucapkan kalimat pembuka.


" Jadi karena kesalahan yang telah di lakukan nak Fadli dan nak Hilmi sangat fatal. Dan, dilakukan di kampung kami. Jadi, penentuan hukumannya ada di tangan kami. " Jelas Pak RW.


Pak RW diam sejenak.


" Dan, karena kami takut anak-anak ini akan melakukan hal yang lebih dari ini. Kami memutuskan untuk menikahkan mereka. " Putus Pak RW.


Aku mendongak.


Aku tak setuju. Tapi, emang itulah yang harus kulakukan. Tapi-


Akhh


Aku benci situasi ini. Aku tak dapat memilih. Aku hanya dapat menjadi boneka yang akan dapat di kendali kan.


" Saya setuju. " Setuju abi.


DEG


Semudah itukah abi menyerahkan tanggung jawabnya pada lelaki yang tak pernah ia kenal? Apa aku telah semurah itu? Sampai aku tidak bisa berkehendak pada diri ku?


" Baiklah. Dan, bagaimana dengan pihak lelaki? " Lanjut Pak RW.


Beberapa saat kemudian aku mendengar walinya Fadli mengatakan-


" Ya, kami setuju. Tapi, saya memohon maaf bila orang tua tuan Fadli tidak dapat hadir. Karena mereka tengah sibuk. Dan, mereka menitipkan tuan Fadli pada saya. Jadi, saya yang akan menjadi wali tuan Fadli, disini." Jawab wali Fadli.


Aku tidak mau. Aku masih terlalu dini. Masih terlalu kecil untuk menjadi seorang istri.


Aku menggeleng.


Tapi, itu tak berpengaruh pada keputusan ini. Aku telah kehilangan hak untuk memilih disini.


" Baiklah. Tidak masalah. yang terpenting sang wanita memiliki wali aslinya. Dan, karena mereka masih terlalu kecil. Jadi, mereka hanya di nikah kan secara sirih. " Jelas Pak RW.


Beberapa saat kemudian.


" Apa mahar kamu? " Tanya abi, tegas.


" seperangkat alat sholat, uang sebanyak satu juta. dan surah Ar-rahman. " Jawab Fadli, yakin.


Aku hanya pasrah akan semua ini. Aku akan menyerahkan diriku pada allah SWT.


Entah dari mana Fadli menyiapkan semua itu. Aku tak peduli. Aku yakin dia dapat mendapatkannya dengan mudah karena dia adalah salah satu orang yang berlebih. Tapi, ada satu yang membuatku terkejut. Surah Ar-Rahman?


Emang dia hafal surah Ar-Rahman.


Dia kan orang yang berlebih. Pasti dia akan lebih sering bersenang-senang dengan harta yang ia miliki dari pada menghafal Al-Qur'an.


Entahlah. Aku tak peduli. Yang paling diprioritaskan saat ini adalah 'apa yang terjadi setelah ini?'


...-♡-...


" Sah. " Seru semua orang yang ada di sini.


Tak tahu kenapa waktu secepat itu. Bahkan dengan hitungan menit aku berubah. Menyandang status baru dan tanggung jawab baru.


Tes.


Air mata ku menetes tapi tak ada isakan sama sekali.


" Alhamdulillah. " Seru semua orang, kecuali aku dan Fadli.


Pak penghulu itu membacakan sebuah doa, aku tak tahu doa apa. Yang di amin kan oleh semua orang yang berada di sini.


" Silahkan nak Hilmi cium tangan nak Fadli. Sebagai tanda hormat. " Instruksi penghulu itu.


" Ehem. " Dehem umi.


Dehem umi telah membuyarkan lamunan ku.


Aku menatap tangan Fadli. Ku ambil tangan Fadli. Lalu ku cium, sebagai tanda hormat. Dengan tangan yang bergetar saat menyentuh tangan Fadli.


Sungguh ini pertama kalinya aku menyentuh tangan seseorang lelaki selain ayah, pada saat aku telah dewasa. Bukan anak-anak lagi. Dan, pastinya saat aku sadar 100%


Fadli membalasnya dengan mencium kening ku. Dan sebelumnya meniup ubun-ubun ku yang tertutup khimar, dengan bacaan yang telah di baca Fadli.


Ada beberapa orang yang mulai kembali ke kediaman mereka masing-masing. Dengan, sebelumnya berjanji akan merahasiakan kejadian ini. Tak boleh membahasnya kepada siapa pun. Selain orang-orang yang ada di sini.


Sekarang tinggal beberapa pengurus kampung sini dan pemilik rumah ini.


" Kalau boleh tahu. Kalian bagaimana bisa berada di rumah ini? " Tanya Pak RW.


" Saya tidak tahu pak. " Jawab Fadli.


Aku tidak menjawab sekata-dua kata pun. Aku masih terlalu terkejut.


" Apa kalian mikir saat melakukan perbuatan bejat itu? Kalian telah bikin banyak orang tak ingin menyewa ini. Terus saya harus mau apain rumah ini kalau tidak ada yang mau menyewa. " Marah, sang pemilik rumah.


" Mohon maaf, bu. Mari bahas itu dengan saya di luar. " Jawab wali Fadli.


Ibu itu pun menuruti permintaan sang wali fadli.


" Baik kalau begitu. Karena saya dan pengurus lainnya sudah tidak memiliki keperluan lagi di sini. Kami izin pulang ke kediaman kami masing-masing " Izin Pak RW.


Abi dan Fadli mengangguk.


Mereka pun mulai kembali ke kediaman mereka. Kini hanya aku, Fadli, umi, dan abi.


" Kalau bukan karena kejadian itu. Saya pasti tidak akan menyerah kan anak saya ke kamu. Cowok serampangan. " Sinis abi.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^SUDAH LAH GUYS. BILA KALIAN MASIH MELAKUKAN ZINA LEBIH BAIK KALIAN TINGGALKAN ITU SEKARANG JUGA. SEBELUM KALIAN MENDAPATKAN MURKA ALLAH SWT. DAN, SEGARA LAH MEMINTA TAUBATAN. OK GITU AJA YA GUYS. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI. MOHON MAAF BILA BANYAK TYPO YANG BERTEBARAN. MAKLUM AUTHOR BELUM REVISI INI CERITA.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^