
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...PERNIKAHAN BUKANLAH AKHIR DARI SEGALANYA. PERNIKAHAN ADALAH AWAL DARI BABAK BARU. AKHIR DARI BABAK INI ADALAH PERPISAHAN. ENTAH ITU PERPISAHAN KARENA TAK KESESUAIAN ATAU PERPISAHAN KARENA MANUSIA MEMANG PADA AKHIRNYA AKAN BERPULANG MENINGGALKAN SEGALA SESUATU DI DUNIA INI. DAN, BILA INGIN MELEWATI BABAK INI HARUS LAH BERJUANG BERSAMA ANTARA KEDUA BELAH PIHAK YANG PEMERAN UTAMA DALAM BABAK INI....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
Ya allah. Perbuatan zina ku sudah tak dapat di ampuni dan di maafkan lagi. Padahal aku dari dulu mencoba menjaga harta ku dengan selalu menutup nya. Tapi, mengapa aku berada dalam situasi ini, ya allah?
Aku tak mengingin kan perbuatan zina itu, ya allah. Bukan aku yang mengendalikan diriku pada saat itu. Aku di sini hanyalah korban yang tak berdaya. Aku tidak bisa meminta keadilan pada diri ku.
Meski memang benar Putri adalah salah satu orang yang mengakibat kan kejadian ini. Dan, bila ia di hukum mati pun, tetap saja harta satu-satunya milik ku telah di renggut habis. Aku tak bisa mendapatkan nya lagi.
《~》
Fadli menghentikan mobil di salah satu tempat makan biasa.
" Ayo. " Panggil Fadli, dengan suara tegasnya.
Aku membuyarkan lamunan ku. Dan, menatap sekeliling. Aku mengernyit kan kening ku.
" Kenapa? Pengen yang mewah? " Sinis Fadli.
Aku menolehkan kepala ku ke arah Fadli. Lalu, menggeleng.
" Ngapain kita kesini? " Tanya ku, bingung.
" Kerja. Ya, makan lah. Apalagi kalau bukan makan? Kita dari tadi malam belum makan apa pun. Dan, tak mungkin kita membahas masalah kita dengan perut kosong. Kita makan dulu, agar kita lebih jernih lagi dalam berfikir. " Jelas Fadli, panjang lebar.
Aku pun langsung mengikuti langkah Fadli yang memasuki tempat makan itu. Aku dan Fadli duduk berdampingan.
" Mau makan apa? " Tanya Fadli.
Aku menoleh kan kepala ku menatap macam-macam makanan yang di taruh rapi di salah satu meja makan, untuk memudahkan para pelanggan mengetahui menu di tempat makan ini.
" Terserah. " Jawab ku, malas.
Aku benar-benar tak nafsu makan.
" Jangan buat aku tambah pusing, memikirkan jawaban kamu. " Tegas Fadli.
Dih~ Apaan sih. Tinggal pesanin. Apa susahnya sih?
" Kan aku bilang terserah. Jadi kamu bebas mau mesenin aku apa. " Jelas ku.
" Tinggal milih. Apa susah nya? " Sarkas Fadli.
Aku menarik nafas, dalam-dalam. Untuk merendam emosi ku, yang ingin membara.
Lalu aku cepat-cepat memesan makanan yang menurut ku lumayan enak dan kenyang. Beberapa saat kemudian pesanan ku dan Fadli datang. Kami melahap nya tanpa berbicara apa pun. Karena kami sama-sama sering melamun, jangka waktu melahap pesanan kami semakin lama.
Setelah usai mengisi perut aku dan Fadli kembali melanjut kan perjalanan, yang entah mau dibawa kemana oleh Fadli. Dengan sebelumnya Fadli membayar biaya pesanan ku dan Fadli. Aku tak peduli bila Fadli membayar kan pesanan ku. Ya, karena uang Fadli juga milik ku. Kan aku istrinya.
" Ke hotel. " Jawab Fadli.
Aku terkejut dengan jawaban Fadli.
" Ngapain kesana? Kamu jangan macam-macam, ya. " Peringat ku.
" Emang aku mau ngapain kamu? Lagian kita mau kemana lagi? Gak mungkin aku bawa kamu ke rumah ku. " Balas Fadli.
" Ya, mungkin aja kamu mau aneh-aneh. Lagian kamu takut bawa aku ke orang tua kamu? Cowok apaan kamu? Sudah merusak anak orang, gak mau nemuin anak orang ke orang tuanya sendiri. " Sinis ku.
Heh. Sebenarnya aku tak peduli mau di pertemukan dengan orang tua Fadli atau tidak. Tapi, tetap saja, aku telah menjadi menantu di keluarga mereka. Dan, orang tua Fadli kini menjadi orang tua ku juga. Aku harus berbakti pada orang tua Fadli. Namun, bagaimana bisa aku melakukan itu? Kalau seandainya aku tidak tahu orang tua Fadli yang mana. Tak akan bisa. Jadi, mau tak mau aku harus menemui orang tua Fadli.
" Coba kamu fikir. Kalau seandainya aku memberi tahukan kamu ke orang tuaku. Tak ada yang menjamin bahwa aku tak akan di usir seperti kamu. Lagian kita butuh uang cukup banyak untuk rumah tangga kita. " Jelas Fadli.
" Sedangkan aku belum benar-benar mendapatkan pekerjaan tetap dan pasti. Jadi, kita membutuhkan bantuan orang tua ku, untuk ekonomi rumah tangga kita dan masa depan kita. Bila aku di usir dari rumah, kita akan benar-benar kesusahan dari segi ekonomi. Dan, kita tidak bisa melanjutkan pendidikan untuk masa depan kita. Semuanya akan menjadi lebih runyam. " Lanjut Fadli.
Aku terkekeh sinis.
" Ternyata kamu punya pikiran picik juga. " Sinis ku.
" Sebenarnya bukan karena itu saja. Aku takut terjadi sesuatu pada keluarga ku yang sedang sibuk itu. Aku tak mau menambah beban mereka untuk saat ini. Dan, kita masih belum siap tanpa ada wali. Lagian nanti pasti aku akan mengajak mu menemui keluarga ku. Tapi, pada saat yang tepat, dan keadaan sudah mulai mendukung. Namun, bukan sekarang. " Ucap Fadli.
" Sekarang aku hanya dapat bertanggung jawab pada kamu. Dan, menstabilkan keadaan dulu. Yang terpenting sekarang adalah aku telah menikahi kamu. Jadi, aku mohon untuk kita berjuang bersama. Kita masih terlalu awam dan masih terlalu muda dengan pernikahan. Pasti akan banyak rintangan yang terjadi kedepannya. Memang akan sangat sulit untuk dilewati. Tapi, bila kita berikhtiar bersama, selalu meminta perlindungan dan petunjuk dari allah. Insya allah kita akan dapat melewati semua rintangan itu. " Pinta Fadli. Untuk lebih mengerti.
Ku akui semua yang di ucapkan Fadli benar adanya. Fadli telah menimbangkam semua konsekuensinya dari paling terkecil persenannya untuk terjadi. Aku bahkan tak bisa memikirkan sampai sedalam itu. Emang beda, orang yang pintar nya kebangetan sama orang yang pintar nya berstandar.
Memang terlihat picik, Tapi, sebenarnya masih banyak alasan dari semua itu. Aku memahami semua alasan yang tak di ucapkan Fadli. Dari dia takut orang tuanya yang telah susah payah memberi dia kenyamanan kenapa-kenapa. Dan, dari dia takut bila rumah tangga ini hancur karena tidak kesiapan mental dan materi. Yang jelas-jelas allah membenci perceraian. Dll.
Aku mengangguk.
" Bukannya memang pernikahan di lakukan dan di nikmati dengan kedua belah pihak. Jadi, kedua belah pihak itu harus melewati ***** bengek bersama. Dan, aku adalah salah satu dari kedua pihak itu. Aku pun harus berjuang. " Ucap ku, melembut.
Aku menundukkan kepala ku.
" Maaf. Karena sudah mencaci dan melukai kamu tadi. " Cicit ku.
Fadli mengusap kepala ku, pelan.
" Aku memang pantas mendapatkannya. Dan, maaf telah membuat kamu hancur tak tersisa. " Sesal Fadli.
Aku tak menjawabnya.
Aku tak tahu, apakah aku dapat memaafkan Fadli atau tidak. Aku masih belum dapat menerima kenyataan ini. Namun, akan ku usahakan untuk berdamai. Karena bagaimana pun aku juga salah karena tidak dapat menjaga diri baik-baik.
Akan ku usahakan pernikahan dadakan ini menjadi pernikahan karena allah. Aku akan melewatinya karena allah. Insya allah.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^MEMANG AUTHOR AKUI BILA PERNIKAHAN TAK SELALU MULUS. PASTI AKAN BANYAK RINTANGAN. JADI, KALIAN HARUS TEPAT MENEMUKAN PASANGAN DALAM HUBUNGAN INI. TAK BOLEH ASAL-ASALAN. ITULAH SALAH SATU CATATAN BUAT AUTHOR YANG JOMBLO INI DAN PARA JOMBLOWAN-JOMBLOWATI DI LUAR SANA. HEHEHE. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^