
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...AKU TERLALU BINGUNG UNTUK MENGUNGKAPKAN PERASAAN KU. KARENA AKU TAK PERNAH MENGUNGKAPKAN PERASAAN KU. KAMU ORANG YANG PERTAMA KALI. TAPI MAAF, TERLALU MENYAKITKAN PERASAAN KU INI, BAHKAN UNTUK DI DENGAR....
...《♡ CAHYA HW ♡》...
" Gak, memang sekarang kamu bilang begitu. Tapi nantinya? Kita gak akan ada yang tahu. Ini terlalu cepat! Papa juga tidak akan memberikan anaknya begitu cepatnya. Pasti kamu memaksa papa! "
Aku benar-benar di buat kaget olehnya.
" Iya kan?! Jawab! Kamu paksa papa apa?! Jangan berani-berani kamu dengan orang tua ku!! Atau aku yang akan kamu hadapi!! "
Aku melirik Pandu, akhirnya Pandu menarik tangannya dan menunduk dalam-dalam.
Ku gapai pundak Cahya.
" Kita bahas di luar aja ya? Di sini terlalu banyak pasang mata. Gak enak juga dengan pemilik tempat ini. " Ku coba memberikan pengertian kepada Cahya.
Cahya mengangguk.
" Ya udah, aku bayar pesanannya dulu, ya? Kalian duluan aja juga gak papa. "
Fadli dan Cahya mengangguk, tapi tidak dengan Pandu.
Aku pun meninggalkan mereka bertiga, menuju kasir.
Untung saja, sebelum memesan kami telah bersepakat untuk membayar pesanan kami sendiri-sendiri. Dan menyerahkan uang yang akan di bayar langsung kepada ku, pada saat telah selesai memesan.
Bagus sih, tapi yang gak bagus itu si Fadli. Sama aja yang yang bayarin dia itu aku, kan duit suami adalah duit istri. Iya kan?
Aku pun cepat-cepat bayar pesanan kami, setelahnya aku pergi keluar menemui Fadli, cahya dan Pandu. Takut-takut terjadi sesuatu dengan mereka.
Aku sedikit menunduk, terlalu malu untuk mengangkat kepala tinggi-tinggi setelah menjadi pusat perhatian, serta menjadi beberapa bahan ghibahan untuk beberapa orang.
Sesampai diri ku di luar, aku mencari keberadaan mereka yang kini entah kemana.
Dan akhirnya aku menemukan mereka. Aku pun menghampiri mereka. Aku sedikit terkejut dengan tubuh Cahya yang bergetar dan mendekap lututnya, menenggelamkan kepalanya di lutut. Yang di depannya terdapat Pandu yang berlutut, Pandu kembali melayangkan tangannya di udara, tak berani menyentuh tubuh Cahya sedikit pun.
" Kamu pegang ucapan ku, Cahya. Aku tak akan mungkin mengingkari ucapan ku. Aku berjanji akan membiarkan mu pergi menemui orang tua kamu selepas menikah nanti. "
Aku berdiri di samping Fadli. Tak tahu harus melakukan apa?
( HANA HILMI POV OFF )
( AUTHOR POV ON )
Cahya mendongak, menatap sinis Pandu.
" Siapa yang akan percaya dengan omong kosong yang dilontarkan oleh anak muda seperti kita ini? Kita hanya mencoba-coba, lalu menebarkan omong kosong. Dan setelah kita mengetahuinya, kita akan menelan mentah-mentah omong kosong kita. Kita tidak bisa berdiri tegak di janji sakral seperti itu. Kita butuh kesiapan yang lebih. Aku seorang anak muda, aku tahu bagaimana seorang anak muda menebarkan omong kosong yang tidak berguna. Kehidupan yang akan datang akan lebih curam, akan sangat sulit untuk dilewati dengan hanya kata-kata 'aku bisa melewatinya'. Tanpa tahu seperti apa tantangannya. Apalagi seperti kamu seorang lelaki, lelaki yang notabennya menebarkan janji-janji BULLSHIT. " Kecam Cahya.
Tiga orang yang berada di sana seketika trcengng dengan ucapan gadis polos yang ada dihadapannya.
Menurut Cahya, semua yang di lakukan telah benar. Ia tak akan dengan relanya menerima janji-janji kosong, yang akan menyebabkan masa depannya hancur, serta perpisahan dini. Menurutnya pernikahan adalah sekali seumur hidup. Bahkan ia rela mencari dan menunggu hingga menemukan orang yang tepat, meski harus menjadi perawan tua terlebih dahulu. Tapi waktu mencarinya bukan sekarang. Dia belum memiliki persiapan apa pun, bahkan untuk mempelajari makna pernikahan, yang dia pelajari sepanjang umurnya kini adalah persiapan. Ketika ia hendak ulangan dia harus belajar terlebih dahulu untuk persiapan, bahkan hal seperti itu saja harus persiapan, yang hanya sementara dan berlalu. Apalagi ini? Seumur hidupnya.
Cahya hanya ingin memiliki keluarga seperti mama-papanya. Cahya tak ingin salah memilih, menentukan pasangan hidup. Cahya akan selalu mencontoh orang-orang panutan serta kesayangannya, bahkan mempunyai mimpi karena orang yang ia sayangi itu.
Entah seperti apa rasa menyakitkan yang ada di hati Pandu kini. Pandu hanya bisa menutup mata dan menghembuskan nafas kasar, menahan rasa sakit yang tak ia ketahui ini.
seburuk itu aku di fikiran kamu? " Ucapan Pandu yang sedikit tercekat.
Sedari tadi Fadli hanya diam saja, menunjukan raut wajah cuek bebeknya hingga kini. Ia tahu semua ini akan terjadi. Entah setelah atau sebelum menikah. Karena itu Fadli mencoba tidak menanggapinya. Fadli telah merasakan ini, saat dahulu Fadli menolak mentah-mentah pernikahannya meski berusaha ia tutupi dengan beribu kebisuannya. Fadli saat itu belum siap. Oleh karena itu, Fadli meminta kerja samanya dengan Hana, untuk belajar sambil berperang dengan kebiasaan dahulunya sebelum menikah.
Pandu menatap tak percaya Cahya. Begitu pun dengan Hana.
Hana sangat tersentak dengan kelakuan Cahya baru-baru ini. Cahya terlihat bukan seperti Cahya yang polos dahulu, yang akan mengangguk mengikuti ucapan orang-orang disekitarnya. Sisi yang amat sangat nihil untuk ditunjukan seorang Cahya
Entah kenapa, ada rasa yang sesak yang tiba-tiba datang menghampiri Hana setelah mendengar ucapan Pandu, barusan.
Bukan itu maksud Cahya, ia hanya mengatakan 'lelaki' yang merujuk kepada gender lelaki, yang pasti memiliki banyak orang. Bukan untuk Pandu seorang. Memang benar kan orang yang bergender lelaki dicap menebarkan janji-janji palsu? Bukan kah selama ini itu yang dia dengar dari banyak orang? Banyak janji palsu yang terlontar dari mulut beberapa lelaki yang hidup di dunia ini.
Cahya hanya ingin menyampaikan ketidaksiapannya. Apa mungkin Cahya salah memilah kata-kata untuk menyampaikan isi hatinya? Kalau memang benar, berarti Pandu tengah salah paham dengannya.
Jujur saja, ini baru pertama kalinya ia mengungkapkan sedalam ini perasaannya kepada orang selain mama dan papanya. Ia sedikit kelimpungan harus mengungkapkan seperti apa, tapi hanya satu yang ia ketahui. Cahya ingin mengungkapkan perasaannya sebelum hak memilih padangan hidup di cabut darinya.
Cahya menggeleng.
Pandu yang melihatnya pun tersenyum kecut.
" Lalu apa kalau bukan itu? "
DEG
Jantung Cahya berdetak dengan cepat-cepat, seperti ingin lepas dari tempatnya.
" Bu-bukan gitu. Caca gak pernah berfikir seperti itu kesiapa pun. " Jawab Cahya, cepat.
" Kelihatannya Cahya butuh waktu untuk menenangkan fikirandan hatinya terlebih dahulu, Pan. Beri Cahya waktu, lalu kita bisa membahas kelanjutan hubungan ini. Tapi, bukan sekarang. " Ucap Hana, mencoba menstabilkan keadaan.
Hana fikir, Cahya hanya sedikit terkejut, dan melakukan tindakan seperti itu tanpa berfikir terlebih dahulu. Terlebih Pandu dan Cahya masih dalam proses ta'aruf. Meski tak berjalan semestinya. Belum ada ikatan apa pun untuk Cahya maupun Pandu. Bila hubungan itu putus, ya sudah lah. Toh status mereka masih sama. Yaitu *JOMBLO*, bukannya janda maupun duda atau pun gagal nikah. Mereka kan masih belum merencanakan kapan nikahan mereka.
Pandu mengangguk.
" Maybe.. " Lirih Pandu.
Pandu pun meninggalkan Hana, Fadli dan Cahya, dengan sebelumnya mengucapkan salam terlebih dahulu.
Hana menghampiri Cahya yang masih meringkuk. Di bawanya tubuh Cahya kedekapannya.
" Pelan-pelan dulu. Coba difikir dengan kepala dingin. Di fikirkan terlebih dahulu. Jangan terburu-buru. Sekuat-kuatnya kita, kita butuh istirahat. "
" Kita pulang yuk? "
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^**BENER GAK SIH, TENTANG CAP YANG DI BERIKAN KEPADA LELAKI BAHWA SUKA MENEBAR JANJI-JANJI PALSU? MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS**.^^^
^^^**ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH**.^^^
^^^**SALAM SAYANG DARI AUTHOR**.^^^
^^^**☆♡☆**^^^