HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 16



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...UMUR TAK DAPAT MENENTUKAN SEBERAPA BANYAK PENGALAMAN SESEORANG. NAMUN, SEBERAPA BANYAK KEJADIAN DAN PENGALAMAN YANG TELAH MEREKA RASAKAN....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Aku mengusap kepalanya, pelan. Dia hanya tersenyum senang.


Jangan sedih terus ya istri ku. Kamu lebih cocok untuk selalu tersenyum seperti ini. Imut.


" Betewe, kamu tadi kenapa? Apa sebau itu parfum ku dulu? Perasaan ku biasa aja deh. " Penasaran ku.


" Gak tahu kenapa. Tapi, aku gak suka bau kamu tadi. " Jawab Hana


Ah~ sudah lah. Mungkin hidung Hana lagi sensitif.


《~》


(FADLI FIRDAUS POV OFF)


(HANA HILMI POV ON)


" Ini anak-anak yang sering aku temui. Pada saat kamu pergi aku sering banget ke sini. Iya kan? " Cerita ku.


" Iya mas. Mbak Hana sering banget ke sini. Dan, pastinya suka bagi makanan. Hehehe. " Seru Gabriella.


Aku mengusap kepala Gabriella.


Fadli tersenyum lalu mengangguk.


Tadi sehabis beli parfum, aku minta Fadli mengantar ku kesini.


" Maaf ya Fad. Aku gak ijin dulu ke kamu saat mau keluar. " Sesal ku.


" Iya, gak papa. Tapi, jangan di ulangi lagi. " Ucap Fadli.


Aku tersenyum kecil sebagai tanggapannya.


Aku menatap anak-anak.


" Kalian udah makan? " Tanya ku.


" Sudah kok, mbak. " Jawab Reza.


Aku tersenyum mendengarnya.


" Syukur alhamdulillah kalau gitu. " Syukur ku.


Aku mulai memperkenalkan anak-anak ke Fadli. Aku dan Fadli cukup lama di sini.


" Non, Gabri. Tolong ikut kami pulang, non. " Seru seseorang.


Aku menghadap nya.


" Enggak sus. Aku pengen di sini aja. Aku gak mau pulang. Papa jahat! " Tolak Gabriella.


Aku mengerutkan kening ku.


" Non, tolong ikut bersama kami. Ini perintah tuan besar. Atau- " Pinta orang itu.


" Stop. Iya, aku ikut. " Putus Gabriella.


Gabriella di bawa oleh wanita itu, menuju sebuah mobil.


" Loh, Gabriella? Itu? " Bingung ku.


Ada apa dengan Gabriella. Kenapa dia ikut begitu saja dengan wanita itu? Gabriella kan orang yang cukup pemberani untuk menolak permintaan orang.


" Itu suster nya Gabriella, mbak. Gabriella berbeda dengan kami. Gabriella adalah anak orang kaya yang mau berteman dengan anak-anak pinggir jalan seperti kami. " Jelaskan Reza.


Aku terdiam.


Anak orang kaya? Dan tadi dia bilang kalau papanya jahat. Apa hubungan dia dan-


" Apa hubungan Gabriella dengan orang tuanya buruk? " Tanya ku.


" Iya mbak. Gabriella sangat membenci papanya. Karena papanya tak menghiraukannya sama sekali dari dia masih bayi sampai sekarang. Dia tak pernah sedikit pun mendapatkan kasih sayang dari papanya. " Jawab Sinta.


" Meninggal mbak. Pada saat dia di lahirkan di dunia ini. " Jawab Sinta.


DEG


" inalilahi wainalilahi rojiun. " Ucap ku dan Fadli.


Ternyata aku bertemu dengan anak-anak yang hebat. Aku tak tahu kisah mereka satu-satu. Yang ku tahu adalah mereka segerombolan anak-anak yang ceria di bawah jembatan. Ternyata di balik keceriaan mereka, mereka memiliki penderitaan yang hanya mereka sendiri yang ketahui dan tuhan.


Kasihan sekali Gabriella. Dia bahkan tak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua. Aku saja yang lagi buruk hubungannya dengan orang tua sangat sedih. Tapi, setidaknya aku pernah merasakan kasih sayang orang tua. Hebat sekali Gabriella. Dia dapat tersenyum seceria itu meski dia merasakan kekosongan dalam hatinya.


Ku tatap anak-anak. Aku masih ingat dengan jelas keceriaan mereka. Tapi, aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dari keceriaan itu.


Aku mengusap lembut kepala mereka.


Aku tersenyum hangat menatap mereka.


" Ya udah. Selagi Gabriella pulang, kita akan habis kan dengan ceria. Lalu menceritakannya pada Gabriella. Agar ia dapat merasakan bahwa kita tetap bahagia. Dia tak akan khawatir bila kita sedih melihatnya menderita. " Semangat ku.


Mereka mengangguk.


Kami kembali bersenda-gurau. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang hilang dari sini. Rasanya sangat kosong.


...-♡-...


Aku menatap kaca mobil di sebelah ku.


Tak dapat terbayang bila aku kembali ke kota asal ku, namun orang tua ku telah tiada. Sehancur apa aku saat itu. Dan saat itu aku menyadari bahwa aku tak akan merasakan kasih sayang orang tua ku lagi untuk selamanya.


Pada saat itu pasti sangat sulit menunjukan senyum seceria Gabriella. Sungguh hebat sekali Gabriella. Sampai-sampai aku terus-menerus merasa bangga padanya.


Anak sekecil itu telah merasakan bagaimana kejamnya dunia. Ingin sekali diri ku berguru padanya. Rasanya umur ku yang jauh lebih tua darinya tak dapat menyaingi penderitaannya.


Aku penasaran. Seperti apakah kisah anak-anak. Kisah mereka sangat menginspirasi ku. Anak sekecil mereka harus dituntut menjadi lebih dewasa lagi. Mereka di hadap kan dengan kekejaman dunia di usia sekecil mereka.


Ku akui pengalaman ku dengan mereka sangat lah berbeda. Pengalaman mereka lebih banyak dari pada aku.


" Kita sudah sampai. " Ucap Fadli.


Aku melihat sekeliling. Ternyata sudah sampai. Aku pun keluar dari mobil. Ku buka pagar rumah. Lalu kembali menutup nya. Ku buka pintu rumah. Lalu masuk ke dalamnya dengan sebelumnya mengucap salam. Tak peduli bila tak akan ada yang membalas. Mungkin saja para malaikat yang masuk ke rumah ini menjawabnya.


Ku biarkan begitu saja pintu terbuka. Aku bersih kan diri ku sebentar. Lalu, menuju ruang tengah. Ku lihat Fadli sudah selesai bersih-bersih, sudah bersantai di sofa menonton film kartun. Aku duduk di sebelah Fadli.


" Kartun nya baru tayang di tv ya? " Tanya ku.


" Hmm. " Dehem Fadli.


Aku dan Fadli menonton kartun itu. Kartunnya sangat seru.


" Fad. Pernah gak sih kamu ngerasa bahwa allah telah terlalu baik pada kita? Namun, kita sering kali melupakannya. " Tanya ku.


Fadli hanya berdehem sebagai jawabannya.


" Dulu aku pernah merasa bahwa aku adalah orang yang paling tak beruntung di dunia ini. Ternyata aku salah. Aku pikir aku masih terlalu muda untuk mendapat masalah sebesar ini. Ternyata lagi-lagi aku salah. Aku telah banyak berprasangka pada takdir allah. " Curhat ku.


Aku menatap Fadli nanar. Namun, Fadli menatap ku dengan tanpa ekspresi.


" Apa tuhan akan memaafkan dosa yang telah ku lakukan? Sedangkan di setiap saatnya tanpa sadar aku berbuat dosa. " Ungkap ku.


Air mata ku luruh begitu saja, tanpa bisa di cegah.


Fadli mendekap ku erat.


Aku menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Ku balas pelukan itu erat.


Beberapa menit kemudian aku mulai tenang.


Ku tarik diri ku kebelakang, untuk melepaskan pelukan


Aku tersenyum kecut. Ku gigit bibir bagian dalam ku, pelan.


" Dahulu kita tak saling kenal. Namun, kini kita saling mengenal. Dahulu kita tak memikirkan masalah apa pun. Namun, kini kita harus memikirkan segalanya. Dahulu kita tak memiliki tanggung jawab berat. Kini kita memilikinya. Tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah ini. Dunia bisa dengan cepat berubah dalam sekejap mata. " Ucap ku.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^SEMUANYA PUNYA CARA MASING-MASING UNTUK MENUTUPI KESEDIHANNYA. SEPERTI SEBUAH TOPENG. TOPENG YANG DI GUNAKAN UNTUK MEMAINKAN DRAMA. IYA, DRAMA HIDUP KITA. DAN, PANGGUNGNYA ADALAH DUNIA INI, DUNIA SANDIWARA. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^