
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...KEHADIRAN SALAH SATU DARI KITA ADALAH SALAH SATU KEBIASAAN DALAM HIDUP KITA, KINI....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
Jujur saja. Aku tidak tahu apa itu cinta kepada lawan jenis. Mungkin kagum pernah. Tapi, buat ke tingkat cinta, aku tak mengetahui seperti apa rasanya.
" Do you hate me? And, Can you keep up with me, evermore? ( Apa kamu membenci ku? Dan, bisakah kamu tetap bersama ku, selama-lamanya? ) " Tanya Fadli.
Aku harus jawab apa?
《~》
Aku termenung sejenak.
Ya allah, aku harus menjawab apa? Aku terlalu bodoh akan hal perasaan. Atau, mungkin. Aku terlalu takut di kecewakan dan disakiti. Sehingga diri ku mencoba menekankan perasaan ku.
" I Don't Know. (Aku tidak tahu) " Jawab ku, pelan.
Fadli semakin mengeratkan dekapannya.
" I'm sorry, Hana. I'm sorry. (Maafkan aku, Hana. Maafkan aku. )" Senduh Fadli.
Air mataku terjatuh begitu saja.
Ya allah, maafkan hamba. Hamba belum bisa ikhlas dan ridho akan takdir mu, ya allah. Hamba selalu berputar-putar dalam kesedihan hamba. Hamba tak pernah sekali pun mencoba untuk keluar dari kesedihan hamba.
" Kamu tidak salah, suami ku. Semua itu hanyalah kecelakaan. Aku.. Ha-hanya perlu waktu untuk menerima semuanya. " Tenangkan ku.
" Maafin aku, Hana. Aku belum menjadi suami yang baik untuk kamu. Jadi, tolong jangan pergi sebelum aku menjadi suami yang baik untuk mu. Jangan tinggal kan aku. " Pinta Fadli.
Fadli semakin terisak.
Aku memang tak mengeluarkan isakan. Namun, air mata ku terus menerus jatuh. Seperti ada aliran yang membuatku merasakan penderitaan Fadli.
Maafin aku Fadli. Aku fikir hanya aku yang menderita di sini. Aku fikir hanya aku yang dirugikan di sini. Tanpa tersadar ada orang lain yang merasakannya.
" Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku takut di tinggal kan kamu? Sebelumnya kamu adalah orang asing untuk ku. Namun, kini kamu orang yang paling ku takuti bila kamu pergi. Aku takut, Hana. Aku takut, Hana. " Racau Fadli.
Aku hanya membalas ucapan Fadli dengan usapan.
" Dulu aku tak kekurangan sama sekali. Dulu aku bisa melakukan semuanya seenak ku. Hiks. Dan, sekarang aku kekurangan. Bahkan istri ku harus menaruh kan nyawanya demi ke ekonomian kami. Hiks. " Racau Fadli.
" Sstt. Jangan bilang begitu. Ini adalah ujian kita. Dunia aja hanya sementara. Apa lagi isinya. Ujian kita pasti akan berlalu. Lagian aku juga harus keluar. Kalau berdiam diri terus-menerus dalam rumah, Tak akan baik untuk tubuh ku. " Tenangkan ku.
Aku semakin mendekap tubuh Fadli.
...-♡-...
(BEBERAPA BULAN KEMUDIAN)
Hari ini adalah hari pertama ku masuk kuliah. Aku memakai baju yang cukup longgar. Karena perut bucin ku mulai nampak. Aku juga tidak dapat bernafas bila harus memakai baju yang tidak longgar.
Aku dan Fadli tidak berangkat bersama. Jurusan ku dan Fadli pun berbeda. Tapi, kami satu kampus. Mungkin bila aku dan Fadli bertemu kami tak akan saling menyapa.
Sebenarnya aku cukup sedih. Biasanya, waktu pertama kali aku masuk sekolah pasti aku di beri wejangan dan doa restu kedua orang tua. Namun kini, mana ada sama sekali. Bahkan mendengar suaranya pun tidak ada.
Aku memasuki kelas, dengan sebelumnya membaca ' bismillah. '.
Huft~
Jantungku berdegup dengan kencang.
Aku melihat seisi kelas ku. Aku memilih duduk di bangku yang cukup depan. Setelahnya, aku menunggu dosen datang dengan membuka Hp ku. Aku melihat Fadli mengechat ku.
' Gimana kelas mu? ' Chat Fadli.
Haduh, bang suami. Masa ngechatnya cuma gitu doang.
' Ya kaya kelas kuliahan. " Balas ku.
Aku sedikit terkekeh dengan jawaban ku dan balasan Fadli.
" Hai! Boleh kenalan, gak? " Tanya seseorang.
Aku menoleh ke samping. Ada seseorang wanita cantik yang berhijab.
" Boleh. Aku Hana. Kamu? " Balas ku.
" Aku Septi. Salken ya. Semoga kita bisa temenan. " Ucapnya riang.
" Aamiin. " Jawab ku.
Septi duduk di bangku sebelah bangku ku.
" Oh, iya. Tahu gak, kayanya di kampus kita ada cowok ganteng~ banget. Kita ke kesana yuk. Lihat cowok-cowok. Lumayan buat cuci mata. " Ucap Septi.
" Gak ah. Aku disini. Takut zina mata. Hehe. " Tolak ku.
Ngapain lihat cowok ganteng, Aku kan juga punya cowok ganteng. Dan, sholeh. Idaman wanita. Hehehe.
" Ih~ Gak papa. Sekalian kita keliling. Biar kita tahu, siapa aja anak-anak kampus kita. Kenalan dikit, gak papa kali. Kalau enggak mau kenalan, paling tidak temenin aku kek. " Bujuk Septi.
Huft~
" Ya udah. Tapi, jangan lama-lama. " Setuju ku.
Ku lihat Septi tersenyum ceria. Septi sangat lucu.
Septi menarik ku dan membawa ku ke suatu tempat. Tempat ini lumayan banyak orang berkerumun. Septi membawa ku, menerobos kerumunan orang tersebut. Dan, ternyata membawa ku ke sebuah kelas.
Hadeh, ibu hamil kalau diginiin bisa sesek. Untung aku kuat. Jadi gak terlalu merasa sesak.
" Lihat tuh, Han. " Tunjuk Septi.
Aku melihat segerombolan pria. Iya, sih pria yang ada di segerombolan itu ganteng-ganteng. Tapi, salah satu dari pria tampan tadi itu Fadli. Kalau Fadli setiap hari ketemu. Bahkan bangun tidur udah ada tuh muka Fadli.
Gagal deh buat cuci mata, ups.
" Terus yang megang hp itu paling tampan. Nikmat mana lagi yang telah ku dustakan. " Ucap Septi, kegirangan.
Aku memutar mata malas.
Ya, iya lah. Yang megang hp kan Fadli. Mana ada sih cewek yang suka cowoknya di puji-puji cewek lain. Dan, lagi kenapa banyak banget, orang yang di sini? Cewek semua, lagi. Ati-ati mbak. Zina mata. (Lah, Hana juga. Tadi pengen lihat cowok ganteng kan? Gak takut zina mata, Han? )
Fadli tak mengetahui keberadaan ku. Karena ia terlalu fokus ke Hpnya. Entah apa yang ia lihat.
" Terus? Aku harus bilang wow gitu. " Sinis ku.
" Ih~ Hana. Lihat deh. Masa ciptaan tuhan seindah itu, kamu gak bereaksi apa pun. " Kesal Septi.
Benar juga. Waktu pertama kali berpapasan dengan Fadli pun, rasanya jantung ku mau copot. Tapi, berhubung sudah sering ketemu Fadli, aku pun sudah terbiasa. Gak separah waktu ketemu Fadli dulu, waktu SMA. Hehehe.
" Au ah. Aku pergi dulu. Bye. Bentar lagi kelas kita masuk. " Akhiri ku.
Aku mencoba keluar dari kerumunan cewek-cewek yang ada di sana. Namun, tak berhasil. Sedangkan Septi kesal sendiri.
" Kalian ngapain di sini? Bubar-bubar. " Ucap Dosen yang baru datang.
Semua orang pun menatap pak dosen tersebut.
Waduh~
Semuanya pun pada bubar. Huft~ Akhirnya bisa kembali juga ke kelas. Dan, pastinya tidak berdesak-desakan. Kalau tidak, aku yang lagi hamil bakal kesakitan.
Lagian tadi Fadli lihat apa sih? Serius amat. Sampai-sampai istrinya datang dia gak tahu.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^UDAH MASUK KULAIAH AJA SI HANA DAN SI FADLI. BERARTI SUDAH MAU KE SOMETHING-SOMETHING. HEHEHE. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^