HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 29



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...TAK ADA YANG LEBIH BAIK, DIJATUHKAN LANGSUNG ATAU DI BUAT NAIK KE ANGAN-ANGAN LALU DI JATUHKAN BEGITU SAJA....


...DUA-DUANYA SAMA-SAMA MENYAKITKAN....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Maafkan aku Hana. Aku baru-baru ini tahu penderitaan mu. Aku terlalu tidak peka dengan kamu. Aku terlalu cuek dengan kamu, Han. Aku sangat menyesal Hana.


Banyak sekali rasa yang berkecamuk di dalam hati ku. Banyak masalah dalam fikiran ku.


Sudah hilang masa remaja ku dulu. Masa diri ku yang masih senang-senang. Aku harus lebih dewasa lagi. Dan, pastinya untuk rumah tangga ku.


《~》


Ku buka pagar rumah. Lalu ku masukan motor ku ke dalam. Setelahnya ku tutup kembali pagar rumah. Aku melihat Hana yang sedang melamun. Aku menghampiri Hana.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku.


Hana tersentak.


" A-ah. Wa-walaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas Hana.


Hana menyalimi tangan ku. Aku langsung masuk ke dalam. Ku bersihkan tubuh ku. Aku kembali keluar ke tempat Hana. Hana masih saja diam. Tak ada niatan dari ku maupun Hana berbicara.


Aku suami macam apa, sih? Bahkan istri sendiri menderita malah tidak tahu. Maaf Hana. Aku merasa belum menjadi suami yang terbaik untuk kamu.


" Ayo kita ke rumah sakit. " Ucap ku.


Hana menatap ku kaget.


Entah darimana aku mendapatkan ide seperti itu.


" Aku mohon. " Pinta ku.


Aku menatap Hana. Hana memalingkan kepalanya dari ku.


" Gak bisa. Aku takut. " Tolak Hana.


" Terus kamu biarin penyakit kamu gitu aja. Kamu takut kan. Tapi, bagaimana dengan ku. Aku takut di tinggal istri ku. Bila penyakit kamu tak segera di tangani. " Tak terima ku.


" Aku masuk dulu. Aku pengen tidur duluan. " Pamit Hana.


Hana beranjak dari tempatnya. Hana masuk ke dalam rumah.


Ya allah. Berikan hamba dan istri hamba jalan keluar, ya allah. Hamba tak tahu apakah ini benar atau tidak.


Aku tahu Hana merasa takut. Pasti Hana takut untuk menjalani pengobatannya seperti dahulu. Aku tahu. Tapi, aku takut kehilangannya. Aku tak ingin Hana pergi.


Akhh~


Aku menjambak rambut ku sendiri.


Aku harus gimana, ya allah.


...-♡-...


" Hari ini kita libur. Ayo kita ke rumah sakit. " Ajak ku.


Hana menghentikan kegiatannya yaitu mencuci piring.


" Aku sibuk hari ini. Aku masih ada cucian. " Tolak Hana.


" Bisa di lakukan nanti setelah pulang dari rumah sakit. " Kekeuh ku.


" Eng- " Ucapan Hana terpotong.


Hana pergi menuju kamar mandi dengan tangan yang mendekap mulutnya. Aku sangat khawatir dengan kondisi Hana. Aku pun mengikutinya.


Namun, Hana langsung mengunci pintunya. Aku mendengar Hana muntah.


" Han. Hana!! Buka Han!! Kita pergi ke rumah sakit ya? Han!! " Mohon ku.


Aku mengetuk pintu kamar mandi lumayan keras. Aku terus-menerus meminta Hana untuk ke rumah sakit. Aku menghentikan ucapan ku ketika Hana membuka pintu kamar mandi. Hana terlihat sangat pucat. Dan, ada satu hal yang tak ku sadari dari dulu. Tubuh Hana sangat kurus. Kelihatannya berat badan Hana semakin turun. Mata Hana memerah menatap ku


" Ayo, kita ke rumah sakit. " Ajak Hana.


Aku mengangguk.


Aku membawa tubuh Hana yang sangat lemas menuju kamar. Setelahnya ku tinggal Hana keluar kamar. Membiarkan dia siap-siap sebentar.


Setelah Hana keluar dari kamar aku masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


...-♡-...


Aku terus merapalkan doa di dalam hati. Aku ingin perkiraan Hana bukan lah kenyataan. Hana tak boleh pergi selamanya. Aku memiliki banyak kesalahan padanya. Aku masih belum menjadi suami yang baik untuk Hana.


Tak pernah sekali pun aku mengajak beribadah bersama. Aku suami seperti apa? Seharusnya sebagai suami, aku membimbing Hana untuk semakin dekat dengan Allah. Bukannya tak memperdulikan seperti ini. Maafin aku Hana.


Aku tahu, kini Hana sangat gugup. Begitu pun dengan ku. Kami hanya dapat berdoa meminta yang terbaik untuk jalan kami.


Aku dan Hana memasuki rumah sakit. Kami pergi ke tempat pendaftaran terlebih dahulu. Setelahnya duduk di salah satu kursi. Hatiku berdetak dengan sangat cepat. Aku takut terjadi sesuatu dengan Hana.


Ya allah. Berikan yang terbaik untuk rumah tangga hamba, ya allah. Lindungi keluarga hamba selalu, ya allah.


Aku dan Hana menunggu cukup lama. Saat nama Hana di panggil, tiba-tiba tingkat kegugupan ku dan Hana meningkat drastis.


Ku lihat Hana lekat. Ku genggam tangan nya. Kami beranjak dari tempat kami, dengan mengucapkan 'Bismillah". Kami memasuki ruang dokter tersebut. Hana di bawa oleh para medis untuk di periksa. Aku hanya dapat menunggu sendiri di sini.


Wahai istri ku yang tercinta. Semoga engkau kuat dengan semua percobaan hidup mu. Wahai istri ku yang solehah. Maafkan suami mu ini. Selama ini tak pernah mengajak diri mu mendekat kepada allah. Doa yang terbaik untuk kamu, wahai istri ku. Doa ku selalu menyertai mu, istri ku.


Bila ini memang benar. Semoga kita dapat melewatinya. Dan, semoga kita tak goyah dalam beribadah. Semoga ini yang terbaik dalam hidup kita.


Aku cukup lama menunggu para medis keluar. Degub jantung ku berpacu dengan cepat, saat dokter yang memeriksa Hana menghadap ku. Aku masih belum siap menerima kenyataan buruknya.


Dokter itu melihat beberapa berkas sebelum berucap.


" Saya berbicara dengan siapanya nona Hana? " Tanya dokter.


" Sa-saya suaminya dok. " Jawab ku, gugup.


" Baik. " Balas dokter.


" Jadi di sini saya memiliki dua kabar. Kabar buruk dan kabar baik. Tuan memilih yang mana untuk saya sampaikan terlebih dahulu? " Ucap dokter.


Aku mengerutkan kening.


Kabar baik?


Apa?


" Kabar baik terlebih dahulu, dok. " Pilih ku.


" Baik. Nona Hana tengah mengandung. Dan, terdeteksi usia bayinya adalah satu bulan. " Ucap dokter.


DEG


Hamil?


Satu bulan?


Dari kejadian itu?


Cuma sekali doang emang bisa?


Subur sekali?


Kelihatannya aku tahu apa kabar buruknya. Karena aku bukan lah orang yang bodoh.


Huft~


Aku takut mendengar kenyataan lainnya. Aku memang senang bila Hana mengandung. Mungkin bisa di bilang sangat bahagia. Tapi, masih ada kenyataan buruk lainnya. Aku tak siap mendengarnya.


Aku mengepalkan tangan ku.


" Dan, kabar buruknya- " Ucap dokter terhenti.


Dokter menatapku sekilas.


" Nona Hana mengandung di usia muda. Terlebih beliau sempat di operasi. Kandung nya sangat berbahaya bila di lanjut kan sampai melahirkan. Kandungan nona Hana sangat rentan. " Lanjut dokter.


DEG


Dokter nya menghembuskan nafas, berat.


" Bila tetap ingin di lanjutkan, dapat menyebabkan beberapa efek buruk terhadap sang ibu maupun buah hati. Dari beberapa penyakit berbahaya. Sampai menyebabkan sang ibu maupun buah hati meninggal. " Jelas dokter.


DEG


SKAKMAT.


Benar dugaan ku. Aku seperti di sebuah tebing. Bila maju akan tenggelam. Bila mundur akan tertangkap musuh. Semuanya dapat menyebabkan sesuatu keburukan terhadap diri ku.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^YA ALLAH, DARI PART INI AUTHOR MENEMUKAN PELAJARAN BARU. HUFT~ GAK BAYANGIN SEPERTI APA PERASAAN FADLI. PASTI HANCUR BANGET. POKOKNYA AUTHOR PENGEN YANG TERBAIK UNTUK MEREKA. EH, TAPI TADI FADLI BATIN BAHWA DIA MENCINTAI ISTRINYA. YANG MANA ISTRINYA ADALAH HANA. UWOW. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^