HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 33



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...SUATU HUBUNGAN AKAN LEBIH BERHARGA DAN MAHAL NILAINYA BILA DI DALAMNYA DI TUJUKAN KEPADA ALLAH SWT....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Air mata ku menetes.


" Kita berjuang bersama ya, nak. Tegur bunda bila bunda melakukan kesalahan, agar bunda tak melakukan itu lagi. Tegur bunda bila bunda tak dapat berjuang lagi, agar bunda bisa kembali berjuang lagi. Tegur bunda bila bunda semakin jauh dari allah SWT. " Pinta ku.


" Maafin bunda, bila bunda tak dapat kuat lagi. Bunda akan berusaha melahirkan mu, nak. Meski harus nyawa yang menjadi taruhannya. Yang kuat, nak. Kita mulai bersama dengan mengucap 'bismillah' " Lanjut ku.


《~》


Aku keluar dari kamar ku. Ingin membuat sarapan. Dari tadi malam, sama sekali aku tidak bertemu Fadli. Fadli masih tidur di musholla. Langkah ku berhenti ketika mendengar salam.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam Fadli.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas ku.


Aku menghampiri Fadli. Ku salimi tanggannya. Lalu kembali melangkah menuju dapur. Namun, langkah ku terhenti ketika Fadli menggenggam tangan ku. Aku pun refleks membalikkan diri ku menatap Fadli.


" Kenapa? " Tanya ku.


" Mulai sekarang kamu jangan bekerja. " Ucap Fadli.


Aku termenung sesaat.


Setelahnya menggeleng.


" Enggak bisa. Kita butuh biaya banyak untuk kelahiran bayi kita. Kita gak tahu apa yang akan terjadi saat itu. " Tolak ku.


Aku melepas genggaman Fadli. Setelahnya melanjutkan jalan lagi.


" Tapi, kalau kamu kecapek-an resikonya kamu dan bayi kita tidak bisa bertahan. " Ucap Fadli.


Langkah ku lagi-lagi terhenti. Namun, kini aku tak membalikkan diri menghadap Fadli.


" Insya allah, aku bisa. " Kekeuh ku.


" Kita bisa pakai uang pemberian orang tua ku. Kalau masih belum cukup, biar aku mencari pinjaman. Yang penting kamu jangan kecapekkan. " Yakinkan Fadli.


" Kalau kita masih bisa menanggung, kenapa tidak menggunakannya? Dari pada harus terlilit hutang kepada orang. Yang belum tentu bisa kita bayar. " Ucap ku.


" Dan, kenapa harus mengambil uang dari orang tua? Kita aja belum memberikan bakti kita kepada orang tua. Kalau kita minjam, masih adakah rasa malu dalam diri kita? " Sarkas ku.


Aku melanjutkan langkah ku.


...-♡-...


Aku dalam perjalanan pulang menuju rumah. Ku hentikan motor ku saat aku melihat Kanza di depan rumah ku. Lalu aku melanjutkan perjalanan ku.


" Assalamu'alaikum Warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas Kanza.


" Ada apa Kanza? " Tanya ku to the poin.


" Saya di minta umi untuk mengundang mbak ke acara pengajian umi. " Jawab Kanza.


Aku mengangguk paham.


" Ya. Tolong sampaikan ke beliau, insya allah saya datang. " Pinta ku.


Kanza mengangguk.


" Iya mbak. Dan.. abi mengundang mas Fadli ke acara pengajian abi. " Lanjut Kanza, dengan sangat hati-hati.


Aku kembali mengangguk.


" Nanti akan saya sampaikan ke Fadli. Tapi, datang atau tidaknya saya tidak tahu. " Ucap ku.


" Ya udah, kalau gitu mbak. Saya pamit pulang dulu mbak. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Pamit Kanza.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabaratokatuh. " Balas ku.


Kanza langsung pergi dari hadapan ku.


Kenapa wanita secantik, sebaik, dan semuslimah Kanza malah Fadli tolak? Kenapa dia milih aku? Yang jelas-jelas bukan wanita yang sebaik Kanza.


Aku memasuki rumah.


...-♡-...


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, mbak Hana!! " Panggil seseorang.


Aku yang tengah menonton pun, langsung mematikan TV. Aku pergi keluar rumah. Aku melihat Furqon ada di luar pagar.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa ya, mas? " Balas ku.


" Ah, ini mbak. Saya di minta abi dan umi memberikan ini. " Jawab Furqon


Fadli menyerah kan sebuah bungkusan kepada ku. Aku pun hanya dapat menerimanya.


" Ini apa ya, mas? " Bingung ku.


" Ini seragam untuk acara pengajian abi dan umi, mbak. " Jawab Furqon.


" Owh. Emang harus memakai seragam ya, mas? " Tanya ku.


" Iya mbak. Sebenarnya ini seragam buat yang terdekat aja mbak. Karena mbak dan mas Fadli sudah di anggap anak sendiri oleh umi dan abi. Jadi umi dan abi meminta saya untuk memberikan ini. " Jelaskan Furqon.


Aku mengangguk mengerti.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam seseorang.


Aku tersentak.


Ternyata Fadli telah pulang.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas ku da Furqon.


" Ya udah mbak, mas. Karena saya sudah menyampaikan amanah abi dan umi, saya pamit pulang terlebih dahulu. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Pamit Furqon.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas ku dan Fadli.


Fadli memasukan motornya ke dalam garansi setelah tak melihat keberadaan Furqon. Aku menghampiri Fadli. Lalu ku salimi tangan Fadli.


" Ngapain dia kesini? Mau pedekate? " Sinis Fadli.


" Iya, mau pedekate. " Bohong ku.


Aku melihat Fadli mengeraskan rahangnya.


" Ya tentu enggak lah. Ngapain aku pedekate? Lagian Furqon tahu kalau aku udah punya suami. " Kesal ku.


" Udah lah, gak usah di bahas. Kamu mau makan? Udah sholat isya kan? " Tanya ku.


" Udah sholat. Tapi, belum makan. " Jawab Fadli.


" Ya udah, aku siapin makanan buat kamu. " Akhiri ku.


Aku dan Fadli memasuki rumah. Tapi, tujuan kita berbeda. Aku di dapur, Fadli di kamar. Aku mulai menghangatkan makanan. Lalu ku tata di meja.


Fadli memasuki dapur. Dan, duduk di tempatnya. Aku mengambilkan nasi buat Fadli. Ku serahkan piring yang berisi nasi itu ke Fadli. Fadli langsung mengambil makanan yang sekiranya ia ingin makan.


Aku hanya menemani Fadli makan. Karena aku sudah makan. Tak ada percakapan apa pun diantara ku dan Fadli. Setelah Fadli selesai makan, aku langsung membersihkan piring Fadli. Dan, menyimpan makanan yang masih layak untuk di makan esok hari.


Aku masih sedikit bingung, kenapa Fadli masih aja di dapur. Aku pun tak menghirukannya. Aku memutuskan pergi menuju kamar. Langkah ku terhenti ketika merasakan Fadli mendekap ku dari belakang. Aku tak membalas dekapan Fadli.


" Jangan pergi. Aku gak mau kamu pergi. " Ambigu Fadli.


" Aku hanya mau ke kamar. Lagian emangnya aku menjauh dari kamu? Kamu yang menjauh dari ku. Bukan aku. " Jawab ku.


Beberapa detik kami tak mengubah posisi kami.


" Maaf. Aku terlalu takut di tinggalkan. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Ajak aku bila kamu ingin pergi kemana pun. Dan, bertemu siapa pun. " Lagi-lagi Fadli hanya mengucapkan kalimat ambigu.


" Kamu jangan ambigu, deh. Aku bukan penulis maupun pengarang. Aku tak tahu apa yang kamu katakan. Rangkaian kata kamu membuat ku bingung. Katakan lebih jelas. Agar tak terjadi kesalah pahaman. " Pinta ku.


" Kita sholat witir berjamaah, yuk. Ayo kita lebih mendekat lagi dengan allah SWT. " Ajak Fadli.


DEG


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^TIDAK BAIK ANAK KECIL SEPERTI AUTHOR INI MEMBACA KEUWUAN MEREKA BERDUA. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^