HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 22



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...DEKATILAH AKHIRAT. BERSAHABAT LAH DENGAN AMAL IBADAH DAB TEMAN SOLEH-SOLEHAH. AGAR KITA TAK MERUGI HIDUP DI DUNIA....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


TOK TOK TOK


" Han! Kenapa kamu lama banget sih di toilet? Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Han!? " Panik Fadli.


DEG


Ya allah.


《~》


Ku hapus air mata ku. Di lanjutkan dengan membersihkan muka ku, agar tak terlihat sembab.


" I-iya. Se-sebentar lagi aku selesai kok. " Jawab ku.


" Tapi kamu kenapa Han? Kamu baik-baik saja kan? " Tanya Fadli.


" Ehem. I-ya Fad. "


Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi. Dan, terlihat wajah Fadli yang sangat panik. Fadli menghampiri ku dan megenggam kedua lengan ku.


" Kamu kenapa, Han? Kamu gak papa kan? Kenapa tiba-tiba ke toilet? " Tanya Fadli, beruntun.


Aku menggeleng singkat.


" Aku gak papa. " Jawab ku, parau.


" Apanya yang gak papa!? Kamu sampai lemes kaya gini?? Kamu sebenarnya kenapa? " Tak percaya Fadli.


Ku lepas genggaman fadli.


" Aku sudah bilang aku gak papa. " Ucap ku.


Aku pergi berlalu begitu saja meninggalkan Fadli yang masih kebingungan. Aku masuk ke kamar. Aku mengganti pakaian ku dengan pakaian kerja. Lalu kembali ke dapur. Fadli masih terlihat khawatir. Namun, kelihatannya ia tak berani bertanya lagi.


Aku memakan beberapa suap dengan sangat ku paksa. Aku menahan agar tak memuntahkan makanannya. Sekali-kali aku melirik Fadli.


" Kamu kenapa lirik-lirik? Aku emang ganteng. Tapi gak usah dilirik terus. Kamu juga bisa lihat aku seterusnya. Jadi liriknya jangan kaya gitu. Gak bakal ada yang ngambil. " Gurau Fadli.


Aku tahu Fadli sedang bergurau. Tapi aku sedikit sedih karena ucapan Fadli. Aku tak tahu Fadli akan tetap mengatakan seperti itu setelah aku tiada atau tidak. Apa Fadli masih setia kepada ku meski aku telah tiada. Aku juga sebenarnya tak boleh egois. Fadli butuh penerus, butuh seorang pendamping untuk dia sampai akhir hayat. Namun, kenyataan itu sangat menyakitkan untuk ku. Aku tak ingin di madu. Tapi bagaimana lagi. Aku tak bisa egois.


" Kalau aku enggak ada di sisi kamu, apa kamu masih setia untuk aku? Apa kamu gak akan di ambil oleh siapa pun? " Tanya ku.


Ku lihat sesaat Fadli terpaku dengan ucapan ku.


" Kamu kenapa bicara seperti itu? " Balas Fadli.


" Kan gak ada yang jamin kamu akan terus setia dengan ku. Dan, gak ada yang menjamin kamu gak akan diambil orang. Jadi tolong jangan bergurau seperti itu. Kamu gak akan tahu kedepannya seperti apa. " Pinta ku.


Aku melanjutkan makan ku. Setelahnya aku membersihkannya. Dan, ku ambil bekal ku.


" Kamu bisa kan buat bersih in ini sendiri? " Tanya ku.


Fadli mengangguk.


" Aku pergi dulu. Aku sudah siapin bekal kamu. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Pamit ku, dengan menyalimi tangan Fadli.


Aku langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Fadli.


Air mata ku luruh begitu saja meski telah ku tahan.


Sangat sakit bila menyadari suami kita akan di miliki orang lain setelah kita tiada. Aku tak yakin bila Fadli akan menikah lagi atau tidak setelah aku meninggal nanti. Tapi masih banyak kemungkinannya.


...-♡-...


" Han? Kenapa gak di makan. Jangan dilihatin aja makanannya. Bentar lagi jam istirahat selesai. " Nasehat Bu Sumi.


" Ah, i-iya bu. " Ucap ku.


Aku memakan makanan ku dengan secepat kilat. Lalu kembali bekerja. Aku berusaha untuk konsen agar tak mengecewakan pelanggan butik. Aku tak boleh membawa masalah rumah ke kerjaan. Namun, meski aku berusaha konsentrasi aku tetap saja sering melakukan kesalahan. Untung saja kesalahan ku tak terlalu fatal, masih bisa dibenerin. Dan, lagi bu bos ku juga tak terlalu jahat.


Aku masih beruntung untuk saat ini. Tapi aku tak mau seperti ini lagi. Aku telah diberikan amanah, aku pun harus bertanggung jawab dalam amanah itu.


...-♡-...


Ku lihat sekeliling. Tak ada orang di rumah. Memang jam kerja Fadli sama kaya aku kalau sudah masuk kuliah. Jadi sekarang dia telah berangkat.


Aku terduduk lemas di sofa. Ku lepas tas ku. Ku tutup muka ku, karena air mata ku luruh begitu saja.


Ya allah. Astaghfirullah hal adzim.


Tak terbayang apa yang terjadi setelah aku tiada. Tak terbayang seperti apa yang terjadi di alam kubur nanti. Sepedih apa diri ku di dalam sana. Aku takut. Sangat takut. Akhlak ku masih belum bagus. Aku masih memiliki dosa dan tanggung jawab.


Ya allah, aku masih belum berguna. Aku masih banyak tanggung jawab yang harus ku tanggung. Aku takut merasakan pedihnya azab mu di dalam kubur. Aku takut, ya allah. Ampuni hamba, ya allah.


Astaghfirullah hal adzim.


Tiba-tiba aku merasakan mual yang amat sangat. Aku langsung lari ke toilet. Aku muntah kembali. Lalu, ku bersih kan bekas muntahan ku. Setelahnya membersihkan diri ku.


Aku keluar toilet menuju kamar. Aku sangat lemas. Aku sudah tak bertenaga. Pusing melanda ku kini. Dengan tubuh lemas aku sempat tidak bisa menahan tubuhku saat berjalan.


Ku rebahkan diri ku di kasur. Ku tatap langit-langit kamar dengan butiran-butiran air mata yang terus-menerus mengalir.


Ya allah, apa separah itu penyakit ku. Sampai-sampai aku selemas ini.


Aku termenung sesaat.


Sekarang aku harus bagaimana?


Aku bangkit dari tempat tidur ku menuju kamar mandi, aku ingin mengambil wudhu. Setelahnya aku mengambil Al-Qur'an. Lalu ku duduk setengah tidurkan tubuhku di atas ranjang. Aku masih sangat lemas. Ku mulai membaca ayat demi ayat. Lembar demi lembar.


Sungguh hanya amal ibadah yang dapat membantu kita di alam kubur nanti. Bukan harta. Bukan pasangan. Bukan duniawi yang sering kita kejar. Hanya lah amal ibadah. Amal ibadah akan menemani kita selamanya. Amal ibadah yang akan membantu kita saat kita di siksa di alam kubur. Bukan yang ada di dunia yang membantu kita nanti di alam kubur. Malah semua yang ada di dunia akan ada yang memberatkan kita di alam kubur.


Astaghfirullah.


Terkadang setelah kita merasakan akan meninggal, kita akan dengan cepat-cepat melakukan amal ibadah, tersedu-sedu meminta ampunan. Sedangkan saat kita tak merasakannya kita akan terus menerus menjauhi tuhan dan malah mencoba menggapai dunia yang terus menerus tak bisa kita gapai.


Hati ku mulai tenang. Aku merasa tak terlalu sakit lagi. Memang sangat mustajab untuk meringankan rasa sakit atau menyembuhkan penyakit.


Sampai malam aku terus mengaji dan berdzikir, tak lupa juga mengerjakan sholat.


...-♡-...


(HANA HILMI POV OFF)


(FADLI FIRDAUS POV ON)


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku, sembari memasuki kamar.


Hana tertidur dengan Al-Qur'an yang masih ia genggam dan mukena yang masih ia kenakan. Ku rasa dia ketiduran saat membaca Al-Qur'an.


Aku langsung membersihkan diri dan mengambil wudhu. Lalu, mengambil Al-Qur'an yang di pegang Hana dengan sangat hati-hati. Agar tak membangunkan Hana dan tak menyentuh kulit Hana. Karena wudhu ku akan batal bila menyentuh kulitnya, aku pun tak dapat menyentuh kitab suci ini.


Setelah itu menaruh Al-Qur'an ke tempatnya. Aku kembali menghadap Hana, melepas mukena yang masih ia kenakan. Ku lipat mukenanya dan menyimpannya.


Aku dengan hati-hati membaringkan tubuh Hana yang duduk setengah tidur itu. Selanjutnya ku baringkan tubuh ku di sebelah Hana. Ku tatap wajah Hana lamat-lamat. Untung tadi Hana ku baring kan menghadap diri ku, jadi aku bisa melihat wajahnya dengan leluasa.


Ku usap pipi Hana, pelan.


Ada apa dengan kamu Han? Kenapa kamu sangat aneh? Aku tak tahu seperti apa diri mu sebenarnya. Karena sebelumnya memang aku tak kenal dirimu. Bahkan aku tak tahu bahwa kamu bersekolah dengan diri ku. Aku tak tahu ada seorang wanita yang berkerudung di sekolah. Tapi, tiba-tiba kamu datang ke kehidupan ku.


Aku memang tak menjamin akan setia pada mu atau tidak. Karena aku tak tahu seperti apa takdir Allah nanti. Tapi aku akan menghargai kamu, Memuliakan mu. Aku akan mencoba tidak mendua kan mu selama rumah tangga kita. Seperti rasulullah yang tak menduakan istrinya sayyidina khadijah semasa pernikahannya. Seperti Ali yang tak pernah menduakan anak rasulullah Fatimah.


Kamu adalah wanita mulia yang ku kotori. Maaf kan diri ku Hana. Rasa bersalah ku mendominasi diri ku. Aku tak dapat mengaji bersama mu, sholat bersama mu. Maafkan diri ku yang bejat ini, karena telah memasuki kehidupan mu.


Jangan terus menangis. Kamu tak pantas untuk di sakiti. Jangan menyembunyikan sesuatu kepada diri ku. Senyum lah, seperti kamu menatap anak-anak. Aku lebih suka melihat senyum mu dari pada air mata mu. Mungkin sudah lama aku membenci air mata mu. Aku benci bila ada air mata keluar dari kelopak mata mu.


Aku akan menebus kesalahan ku dengan memuliakan diri mu. Kamu wanita yang akan melahirkan generasi-generasi selanjutnya dari ku. Kamu wanita hebat yang terus tabah. Aku kagum pada mu, wahai istri ku. Terima kasih telah hadir dalam kehidupan ku. Kamu harta yang paling berharga dalam pelayaran ku mencari harta karun.


" Semoga rahmat dan ridho allah selalu bersama mu. Semoga diri mu selalu berada di jalan allah. Semoga kamu akan selalu kuat dan tabah dalam takdir allah. Semoga rumah tangga kita akan baik-baik saja meski kita masih terlalu awam dalam hal ini. Aamiin. " Doa ku.


Ku tiup ubun-ubun Hana yang tertutup khimar. Ku cium kening Hana. Aku tertidur setelah menatap Hana, mengagumi ciptaannya.


Sungguh istri ku sangat masya allah.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^HADEH~ KENAPA SIH SI FADLI MASIH UWU-UWU SAMA SI HANA? MEREKA KAN LAGI ADA MASALAH. TAPI KOK MASIH AJA SO SWEET. AUTHOR KAN JADI IRI. ASTAGHFIRULLAH. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^