
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...PADA MASIH KECIL SEORANG PEREMPUAN MENCARI SURGA DI KEDUA ORANG TUANYA. SETELAH MENIKAH BERGANTILAH JALAN MENUJU SURGA, MENJADI KEPADA SUAMI. KETIKA PEREMPUAN MEMILIKI SEORANG ANAK, SURGA BERGANTI. SURGA BERADA DI DALAM DIRI SEORANG PEREMPUAN UNTUK ANAK-ANAKNYA. ITULAH RANGKAIAN YANG SANGAT MENAKJUBKAN DARI ALLAH UNTUK MEMULIAKAN SEORANG PEREMPUAN....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Aku harap kamu fikirin lebih lanjut lagi. Tak semudah itu sebuah pernikahan. Apalagi kedua pihak yang belum siap. Karena semua pernikahan bukan lah akhir dari perjuangan. Sebuah pernikahan adalah perjuangan baru yang berbeda dari perjuangan semasa masih lajang. Perjuangan pernikahan lebih menguras diri kita. Jangan pernah buat pernikahan sebagai coba-coba atau pun main-main. " Nasehat Fadli.
Bahasa Fadli kaya sudah benar-benar tahu makan sebuah pernikahan. Hehehe. Padahal baru menjadi suami beberapa bulan yang lalu. Tapi, bisa bicara seperti itu.
《~》
Aku dan Fadli memasuki rumah. Kami berdua sama-sama masih belum menyangka apa yang di ucapkan Pandu. Aku dan Fadli membersihkan diri masing-masing.
Aku melihat Fadli rebahan lemas di ranjang. Aku menghampiri Fadli. Dan, duduk di ranjang.
" Kamu kenapa? " Khawatir ku.
Fadli terlihat sangat pucat.
Tiba-tiba Fadli meletakkan kepalanya di paha ku.
" Ka-kamu ngapain? " Kaget ku.
Fadli menutupi matanya dengan lengannya.
" Aku mau kaya gini dulu. Hanya sebentar. " Jawab Fadli.
" Ha? " Cengo ku.
" Bisa tolong usap kepala ku? " Pinta Fadli, sembari membuka matanya dan menatap ku.
Aku mengangguk menurut.
Baru saja aku menyentuh permukaan kepala Fadli, aku merasakan kulit Fadli sangat panas.
" Kamu sakit? " Khawatir ku.
Aku mencoba memastikan kembali. Hasilnya pun sama saja. Fadli tak menjawab apa pun.
" Kamu demam, ya? Apa karena kemarin? Kamu sakit karena kekurangan tidur? Kalau gitu maaf ya. Aku gak tahu ngambek aku berakibat kaya gini buat kamu. " Sesal ku.
Fadli memeluk perut ku dengan posisi masih rebahan di paha ku. Fadli menenggelamkan wajahnya di perut ku. Ku usap kepala Fadli lembut.
" Tolong jangan kaya kemarin lagi. Aku gak mau kamu terus menerus marah sama aku. Tolong jangan marah lagi sama aku. " Mohon Fadli.
Ya allah, segitunya Fadli sama aku. Bahkan kemarahan ku membuat dia seperti ini. Aku semakin merasa bersalah.
" Maaf. " Cicit ku.
Beberapa saat hening menyelimuti diri ku dan Fadli.
" Hari ini kita ijin dulu ya? " Pinta ku.
" Tidak usah. Aku harus masuk. Hari libur ku di gunakan untuk mengantar kamu check up. Aku tidak dapat libur lagi. Kalau aku libur lagi, aku tidak dapat bonusan. Padahal kita sangat membutuhkan itu untuk kelahiran bayi kita nanti. " Tolak Fadli.
" Gak papa. Kamu lagi sakit. Atau gini aja. Aku gak usah libur kerja. Kamu aja yang libur. Biar salah satu dari kita masih bisa mendapatkan bonusan. " Tengah ku.
Fadli menggeleng.
" Percuma. Aku sendiri di sini tanpa kamu juga tidak dapat berefek apa pun untuk ku. Mungkin aja tubuh ini di buat keringat dikit, sakit ku bisa perlahan sembuh. " Kekeuh Fadli.
" Fad. Ayo dong. Kamu lagi sakit. Aku dan kamu libur kerja aja ya? Kalau kamu pingsan, terus siapa yang bayar rumah sakit kamu. Kita sembuhin dulu sakit kamu. Baru kita kerja lagi. " Bujuk ku.
Fadli tak menjawab apa pun.
" Kamu ijin ke restoran melewati HP aja. Aku juga ijin lewat HP. Setelahnya kamu rebahan yang bener dulu. Terus pakai selimut. Kalau masih dingin aku ambilin jaket. Nanti aku kompres kamu. " Intruksi ku.
Fadli bangkit dari kasur. Ia mengambil hp ku dan hp dia yang berada di atas laci sebelah ranjang. Lalu Fadli memberikan hp ku ke aku.
Aku mengetikkan pesan ke butik. Bahwa aku ijin libur hari ini. Setelahnya aku membantu Fadli merebahkan diri. Ku selimuti badan Fadli.
" Masih dingin? " Pastikan ku.
Fadli mengangguk.
Aku mematikan kipas angin kamar.
" Masih dingin? Atau udah pas? " Pastikan ku.
Fadli mengangguk.
Aku menghembuskan nafas pelan. Ku ambil jaket yang lumayan tebal di lemari. Ku berikan jaket itu ke Fadli. Fadli langsung memakai jaket itu.
" Aku ambil air kompresan dulu ya? Nanti aku balik lagi. Kamu pakai minyak kayu putih ini dulu ya? " Ijin ku, sembari mengambil minyak tersebut di laci.
Fadli mengangguk.
Ku serah kan minyak kayu putih itu ke Fadli.
Aku pergi dari kamar untuk mengambil alat kompres. Setelahnya aku masuk kembali ke kamar. Aku duduk di ranjang sebelah Fadli yang memejamkan mata.
Aku mengambil kain kompresan. Lalu memasukannya ke air kompresan. Ku peras kainnya. Setelahnya aku meletakkan kain itu di kening Fadli.
Ku tatap wajah Fadli lamat-lamat. Tangan ku bergerak mengusap wajah Fadli, perlahan.
Aku merasa Fadli telah tertidur.
" Maafkan aku suami ku. Aku telah berdosa kepada engkau. Maafin aku sudah membuat kamu sakit seperti ini. Aku gak tahu bakalan terjadi kaya gini. Maaf. Maaf. " Sesal ku.
Tes
Air mata ku menetes begitu saja.
Aku mengambil kain itu. Ku celupkan lagi kain itu ke air kompresan. Setelahnya ku peras air kompresan itu. Lalu, ku letakkan ke kening Fadli.
Aku menutup mulut ku, karena tak mau Fadli mendengar isakan ku.
Bagaimana aku masuk surga. Aku telah berdosa kepada orang tua ku. Dan, sekarang malah membuat Fadli seperti ini. Terus aku harus mencari pintu surga dimana lagi?
Aku takut allah murka kepada ku. Karena membuat Fadli seperti ini. Aku takut kesempatan ku masuk surga semakin nihil. Astaghfirullah hal adzim.
Tubuh ku sedikit bergetar.
Ku usap air mata ku.
Ku ambil kain itu dari kening Fadli. Lalu, membasahi kain itu dengan air kompresan. Ku letakkan kembali kain kompresan itu di kening Fadli.
Ku lakukan hal itu cukup lama, berulang kali. Tubuhku juga semakin bergetar. Mungkin saja isakan ku bisa mengganggu tidur Fadli.
" Kamu kenapa? " Tanya Fadli yang terbangun.
Aku memeluk tubuh Fadli. Aku menangis di dada Fadli.
" Maafin aku. Maafin aku. Aku telah berdosa. Aku takut allah murka kepada ku. Aku takut allah menjauh dari ku. Karena aku telah berdosa ke kamu. Terus aku masuk neraka. Soalnya durhaka sama kamu. " Ungkap ku.
Fadli mengusap punggung ku, pelan.
" Hush.. Jangan ngomong kaya gitu. Kamu gak durhaka kok sama aku. Malah kamu sangat berbakti ke suami kamu ini. Lihat. Badan aku mulai mendingan karena kamu. Jadi jangan nangis lagi. Insya allah, allah membuka pintu surga selebar-lebarnya untuk mu. Istri yang sangat berbakti kepada suaminya. " Ucap Fadli, menenangkan.
Aku mendongakan kepala ku. Ku tatap wajah Fadli, penuh harap. Fadli membalas tatapan ku dengan tersenyum.
" Aku memang tidak dapat membenarkan kemarahan kamu. Tapi, kemarahan kamu waktu itu juga karena hormon hamil kamu. Itu sudah hal yang umum untuk para suami bumil. Aku yakin kamu telah menekan rasa kesal kamu. Bahkan diluar sana ada yang lebih parah dari kamu. Jadi, kamu gak usah kepikiran akan hal itu. " Tenangkan Fadli, lembut.
Fadli mengusap air mata ku.
Aku bangkit dari tubuh Fadli.
" Aku beli obat dulu di apotik, ya? Tunggu aku sebentar. " Izin ku.
Fadli mengangguk.
Aku pun langsung beranjak ke luar rumah. Ku beli obat demam di apotik. Setelahnya aku langsung pulang. Tak lupa aku mengambil air putih. Lalu, aku menghampiri Fadli di kamar.
" Nih, minum obat dulu. " Ucap ku, sambil menyerah kan obat demam ke Fadli dan air putih.
Fadli meminum obat demam. Setelahnya Fadli menyerahkan gelas bekas air putih kepada ku. Aku meletakkan gelas itu di atas leci.
Dret drett drettt~
Tiba-tiba Hp Fadli berbunyi, bertanda telfon masuk. Aku pun beranjak mengambil Hp Fadli. Ku lihat siapa yang menelfon Fadli. Handphone Fadli menunjukan sebuah nama 'mama'.
DEG
Mama? Aku harus gimana? Mama Fadli video call Fadli.
Aku menatap Fadli.
Terlihat Fadli menutupi matanya dengan lengannya.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^NOPE BUAT PART INI. AUTHOR JOMBLO. JADI NOPE. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^