
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...KEBAIKAN KALIAN LAH YANG MEMBUAT RASA SAYANG INI PADA KALIAN. RASANYA AKU INGIN TERUS MELIHAT KALIAN BAHAGIA. APAKAH INI RASANYA MENJADI ORANG TUA?...
...《♡HANA HILMI♡》...
Ku tarik diri ku kebelakang, untuk melepaskan pelukan
Aku tersenyum kecut. Ku gigit bibir bagian dalam ku, pelan.
" Dahulu kita tak saling kenal. Namun, kini kita saling mengenal. Dahulu kita tak memikirkan masalah apa pun. Namun, kini kita harus memikirkan segalanya. Dahulu kita tak memiliki tanggung jawab berat. Kini kita memilikinya. Tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah ini. Dunia bisa dengan cepat berubah dalam sekejap mata. " Ucap ku.
《~》
Aku tengah memanaskan makanan untuk makan malam. Lalu menatanya dia atas meja makan. Fadli duduk di kursi meja makan. Dan, disusul dengan ku. Aku mendudukan diri ku di sebelah Fadli. Ku sendokan nasi untuk piring Fadli.
" Segini cukup? " Tanya ku, memastikan.
Fadli mengangguk.
Aku kembali menyendokan nasi untuk ku.
...-♡-...
Selesai makan aku membersihkan piring ku dan piring Fadli. Lalu menghampiri Fadli yang berada di kamar.
Kulihat Fadli sedang bersantai di pinggiran ranjang memainkan hpnya.
" Kamu mau tidur di sini? " Tanya ku.
Fadli mendongak menatap ku.
Emang setelah aku menikah dengan Fadli tak pernah sekali pun tidur seranjang dengan dia.
" Terserah kamu. " Balas Fadli.
" Ya kalau mau tidur di sini gak papa. Tapi, kalau gak mau, ya gak papa. " Ucap ku.
" Kalau aku tidur di sini emang gak papa? Kamu gak keberatan? " Pastikan Fadli.
" Gak papa, kok. " Jawab ku, jelas padat singkat
" Ya udah. Aku tidur di sini aja. " Pilih Fadli.
Aku mengangguk.
Aku merebahkan diri ku di sebelah Fadli. Di susul dengan Fadli.
Aneh banget. Kenapa jadi risi, ya? Tau ah, gelap. Mending tidur aja.
" Fad. Kapan kita selamatan? Terus kita kapan cari kerja? " Tanya ku, tiba-tiba.
" Selamatannya besok aja. Kamu bisa kan? " Jawab Fadli.
Aku mengangguk. Sambil mengucapkan kata " Iya. "
" Kita cari kerjanya sehari setelah selamatan aja. " Ucap Fadli.
Aku kembali mengangguk mengerti.
" Terus di luar itu motornya siapa? " Tanya ku, lagi.
" Sepeda kita. Buat kalau mau keluar atau kemana. Lagian kalau kita kerja, kita butuh kendaraan. Gak mungkin kan kita bawa mobil. " Jawab Fadli.
" Kan bisa satu aja, nanti kamu kan bisa goncengin aku. Kalau dua harus bayarin bensin dan biaya servisnya dobel. Terus pasti harganya mahal, kalau beli dua motor. " Omel ku.
" Ya allah, Hana. Itu aku gak beli. Motor ninja itu punya ku dari SMA. Dan, motor yang satunya itu juga milik aku. Tapi, aku gak pernah pake. Jadi, aku gak beli sama sekali. Itu udah dari dulu. " Jelaskan Fadli.
Aku hanya cemberut mendengarnya.
" Betewe, nanti kita di kampus kaya gimana? Apa kita tetap jadi suami istri. Atau pura-pura gak kenal? " Tanya ku, hati-hati.
Sesaat aku san Fadli terdiam.
" Menurut kamu gimana? " Respon Fadli.
Aku kembali terdiam.
Aku gak tahu. Banyak kekhawatiran di benak ku.
Aku menggeleng, Sambil mengucapkan kalimat" Aku gak tahu. ".
Kami terdiam cukup lama. Larut dalam fikiran masing-masing.
" Kita biasa aja. Kayak gak ada apa-apa. Nanti kalau ada yang nanya hubungan kita, kita tinggal jawab sejujurnya. " Putus Fadli.
" Terus nanti aku berangkat sendiri atu diantar kamu? " Tanya ku.
" Kita sendiri-sendiri aja. Kita kan beda jurusan. Takutnya jam kelas kita berbeda. " Ucap Fadli.
Aku hanya mengangguk.
...-♡-...
{KEESOKAN HARINYA}
" Anak- anak kalian bisa datang ke acara selamatan rumah mbak, kan? Lumayan makanan gratis. Hehehe. " Ajak ku.
" Iya mbak. Insya allah. " Jawab Reza.
" Kalau mbak butuh tenaga. Kami siap bantu kok. Biar mbak gak kualahan. Nanti kita gak minta bayaran kok mbak. Kami bakal bantu dengan ikhlas. " Tawar Akila.
Anak-anak lainnya mengangguk.
Aku meliriki Fadli. Yang hanya di respon dengan anggukan. Aku tersenyum senang.
" Boleh. Sekarang ke rumah mbak yuk. " Setuju ku.
Aku, Fadli, dan anak-anak jalan menuju rumah ku. Sesampainya di rumah aku dan anak-anak langsung menyiapkan semua yang di butuhkan nanti. Yang perempuan bantu aku masak, ada juga beberapa yang pergi ke pasar buat beli bahan yang kurang dan jajan-jajanan buat acaranya.
Sedangkan yang laki-laki memindahkan perabotan-perabotan, agar ruangan tengah dapat menampung tamu-tamu nanti. Lalu beberapa lelaki berkeliling untuk mengatakan bahwa kami tengah mengundang warga sekitar untuk menghadiri acara nanti malam dan mengundang ustadz di kampung ini.
...-♡-...
{ MALAMNYA}
Aku dan Fadli tengah bersalam-salaman dengan warga lain yang datang ke acara selamatan rumah ini.
Aku menghampiri gerombolan ibu-ibu, saat acaranya hendak mulai.
" Wah, akhirnya rumah ini ada yang huni. Sudah bertahun-tahun gak di huni. Saya sempat kaget ada orang yang keluar masuk rumah ini. Tapi, saya coba berfikir positif. Dan, ternyata perkiraan saya benar. Mbak nya sama mas nya yang nempatin. " Ucap istri pak ustadz, yang bernama Laila.
Aku tersenyum ramah dengan ucapan bu laila.
" Iya saya juga. Mbaknya sama masnya itu nikah muda ya? " Tanya salah satu warga sini.
Aku mengangguk.
" Iya bu. Alhamdulillah, di kasih Jodohnya cepet. " Jawab ku.
" Iya. Bener itu. Gak kayak itu. Anaknya.. " Gosip ibu-ibu.
Aku hanya merespon dengan tersenyum ramah.
Mulai deh gosipnya. Ibu-ibu ini kok suka banget sih makan daging bangkai saudaranya sendiri.
Huft~
" Ya allah, ibu-ibu. Gak baik bicarakan orang. Dosa ibu-ibu. Ibu-ibu kan tahu dosanya seperti apa. " Nasehat bu Laila.
" Astagfirullah, bu. Maaf. Emang kadang mulut ini suka gosip. Kalau sudah gosip malah gak bisa di stopin. Untung bu Laila ingetin. " Sesal ibu tadi.
Bu Laila hanya menggeleng.
Acara pun di mulai.
Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar.
" Mbak. Mereka ini kan anak-anak di bawah jembatan itu kan? " Tanya bu Laila.
Aku hanya mengangguk.
" Baik banget ya mbak ini. Sudah mau ngundang mereka. " Puji bu Laila.
Aku tersenyum.
Kini di rumah ini tinggal pak ustadz beserta istrinya dan anaknya. Anak pak ustadz ada dua, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki sebaya dengan ku dan Fadli. Sedangkan adiknya masih SMA kelas 2.
Anak-anak masih belum pulang. Katanya mau bantu aku bersih-bersih. Baik banget sih. Jadi tambah sayang sama anak-anak.
" Enggak bu. Saya tidak sebaik itu. Emang saya saat pindah di sini sangat dekat dengan mereka. Mereka semua baik. Saya pun tak punya alasan buat tidak mengundang mereka. Bahkan mereka mau bantuin saya meski saya gak bayarin mereka. Katanya mereka sukarela buat bantuin saya. Saya sangat terbantu karena mereka. " Jelas ku.
Aku mengusap kepala Lina dan Akila. Lina paling kecil di anatara anak lainnya.
" Iya, mereka baik banget. Mereka sering bantuin saya. " Ucap Bu Laila.
Aku tersenyum menatap anak-anak.
Sayang banget aku sama mereka.
Ku lihat anak perempuannya pak ustadz. Dia tengah menatap Fadli, malu-malu.
Apa dia suka sama Fadli?
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^WADUH, KELIHATANNYA ADA SAINGAN NIH, SI HANA. HAHAHA. KOCAK. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^