
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...BAGAIMANA PUN JUGA, MANUSIA AKAN BERADA DI JALAN TAKDIRNYA MASING-MASING. MESKI TELAH MERANCANG UNTUK LARI DARI JALAN YANG AKAN DI TAPAKI UNTUK TAKDIRNYA. MUNGKIN MEMANG AKAN BERBELOK SEDIKIT, NAMUN PADA AKHIRNYA AKAN TETAP BERADA DI JALANNYA. HANYA DIRUBAH BEBERAPA SENTI SEDIKIT JALAN YANG AKAN DI TAPAKI....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Wih~ Istriku pengen menyenangkan suaminya ternyata. Aku selalu senang kok kamu disisi ku. Senang banget. Bahkan salah satu kesenangan ku, yaitu kamu. Keberadaan kamu. Semua hal tentang kamu. Pokoknya kamu kesenangan aku. " Goda Fadli.
Tiba-tiba aku menjadi malu sendiri. Bisa dibilang salting. Hehehe.
" Ih~ gombal terus. Udah ah, jangan gombal terus. Malu tahu, akunya. " Ungkap ku.
Aku menyembunyikan muka ku ke dada Fadli. Membiarkan Fadli tertawa keras karena perbuatan ku.
Aku menatap sekitar, kini aku tengah berada bersama 3 orang. Wajah mereka menunjukan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang sangat sumringah, ada yang menunjukkan kebingungan yang amat terdalam, ada yang bersedih, dan ada juga yang cuek bebek, dll.
Kini aku tengah berada di salah satu restoran? Atau kafe ya? Pokoknya tempat-tempat seperti itu. Di sebelah ku terdapat seorang gadis cantik, tentunya dengan kepolosannya. Gadis itu menunjukan raut wajah bingung yang teramat mendalam.
Dan didepan ku terdapat Fadli dengan seorang pria lainnya di sampingnya. Fadli menunjukan wajah cuek bebeknya, dan pria di sebelahnya menunjukan raut girangnya. Pria di sebelah Fadli menunduk, dengan sekali-kali mencuru pandang kepada gadis cantik di depannya, yang tepatnya disampingku.
Kami berempat duduk di salah satu meja tempat ini. Disini cukup ramai dengan orang-orang yang pastinya memiliki sebuah masa lalu, entah itu bahagia atau malahan sedih?
" Ekhem. " Dehem ku.
Aku mencoba mencairkan suasana canggung yang menyelimuti meja ini. Maklum saja, kami ber-empat sudah dari beberapa menit yang lalu berada di tempat ini, tidak ada yang mengeluarkan satu kata atau pun dua kata sama sekali. Membuat suasana canggung semakin membelenggu meja ini.
Ku lirik Fadli sejenak, lalu berganti kepada pria yang berada di samping Fadli.
" Terus gimana, lagi? Cuma gini aja? Aku bingung mau ngapain. Aku gak ngerti masalah gini-ginian. " Frustasi ku.
" Emm, aku juga gak tahu. " Jawab pria itu dengan cengengesannya yang amat sangat tengil di mata ku.
" Dih, gimana sih? Kemarin udah nyuru-nyuru. Terus katanya sudah searching, dan bakal ngasih tahu proses-prosesnya. Lah sekarang malah bilang gak tahu. Gak bisa dipercaya banget sih! "
Aku menatap kesal orang itu, yang tak lain adalah Pandu. Pandu hanya membalas dengan cengengesannya. Pandu menggaruk tengkuk lehernya yang sebenarnya tak gatal.
Aku menatap tajam kearah Pandu. Pandu benar-benar membuat ku kesal.
" Ya udah, searching lagi aja. Cari tahu harus ngelakuin apa. "
Pandu mengangguk. Pandu menuruti apa yang ku suruh.
Cukup lama aku menunggu Pandu. Mungkin aku terlalu sabar untuk menunggu. Bahkan aku hampir menunggu Pandu selama satu jam. Bayangkan SATU JAM! Itu bukanlah waktu yang sebentar, Ia benar-benar membuat ku geram.
" Lama banget sih!! "
Pandu mendongak menatap ku namun tak sepenuhnya seperti diri ku.
" Gak nemu. Katanya sih perkenalan atau langsung mulai aja. Gak dikasih sampai spesifik. "
Aku memberenggut kesal.
" Emm, sebelumnya maaf menyela. Tapi sebenarnya ada acara apa? Perasaan saya, saya tidak mendapatkan informasi tentang acara apa pun. " Sela gadis disebelah ku.
Aku mengalihkan pandangan ku ke sebelah. Begitu pun dengan Fadli dan Pandu, menatap gadis itu.
" Ah, kamu belum tahu kita lagi ngapain? " Balas ku.
Gadis itu mengangguk polos.
" Jadi sebenarnya, - " Ku hentikan ucapan ku, ku tatap dua laki-laki yang berada dihadapan ku.
" Jadi sebenarnya kita lagi ngapain sih? Perasaan dari tadi kita gak ngapain-ngapain. Jadi kita sebut apa yang kita lakukan? " Bingung ku.
Kami bertiga saling menukar tatapan, tapi bukan tatapan yang sampai natap banget. Kita bertiga juga bingung. Di bilang nongkrong, rasanya bukan kayak nongkrong. Di bilang *kekel*, gak juga. Di bilang lagi PDKT, tapi kita gak lagi PDKT. Di bilang kenalan juga kita gak lagi kenalan. Terus dari tadi kita ngapain?
" Ehm, mungkin lagi proses ta'aruf tapi gagal. Karena kita gak tahu harus gimana. " Jawab Pandu, asal.
" Siapa yang mau ta'aruf? " Cahya menatap kami bertiga bergantian.
" Kamu mau ta'aruf Han? Sama siapa? Fadli atau Pandu? " Cahya menatap ku sejenak, lalu beralih ke Fadli, dan setelahnya ke pandu. Kemudian kembali menatap ku lagi.
" Eh? Kok jadi aku? "
Mana bisa aku ta'arufan, dengan dalam arti perkenalan kepada kekasih yang akan di nikahi. Aku kan sudah punya suami. Kan gak boleh punya suami dua. Bisa-bisa *digerek* nanti leherku sama Fadli.
" Terus siapa lagi? "
" Ah- itu, yang ta'aruf itu kamu. " Jawab ku, yang sedikit masih dalam mode tercengang dengan kesimpulan yang diambil Cahya tiba-tiba.
Cahya merenggutkan alisnya, bingung.
" Kok jadi aku? "
" Iya kamu sama Pandu. "
Cahya menatap Pandu sekilas lalu menatap ku kembali.
" Bahkan papa mu sudah tahu dengan masalah ini. Papa mu sudah ngijinin Pandu buat ngajak kamu ta'aruf. " Lanjut ku, meyakinkan.
Cahya menatap ku tercengang, lalu kembali menatap kami bertiga bergantian.
" Gak! Kamu bohong! "
Ha?
Aku menatap Cahya bingung.
Reaksi Cahya benar-benar diluar ekspektasi ku, mungkin saja kami bertiga juga.
" Maksud kamu Ca? " Kini Pandu kembali berucap.
Mata Cahya berkaca-kaca.
" Gak mungkin semua ini! Gak! Papa gak bakal secepat itu untuk membuat ku pergi! Aku gak mau pergi ninggalin papa dan mama!! " Cahya beranjak dari duduknya, yang membuat kami bertiga seketika ikut berdiri.
" Kamu gak harus ninggalin papa dan mama kamu, Ca. Kamu bisa mengunjungi mereka kapan pun yang kamu mau, setelah kita menikah. " Pandu mencoba menggapai Cahya, namun ia urungkan, ia tahu bersentuhan dengan yang bukan mahramnya adalah dosa. Sehingga tangan Fadli melayang di tempatnya, tak jadi menggapai Cahya dan tak menarik tangannya juga.
Seketika juga, tempat kami menjadi pusat perhatian.
" Gak, memang sekarang kamu bilang begitu. Tapi nantinya? Kita gak akan ada yang tahu. Ini terlalu cepat! Papa juga tidak akan memberikan anaknya begitu cepatnya. Pasti kamu memaksa papa! "
Aku benar-benar di buat kaget olehnya.
" Iya kan?! Jawab! Kamu paksa papa apa?! Jangan berani-berani kamu dengan orang tua ku!! Atau aku yang akan kamu hadapi!! "
Aku melirik Pandu, akhirnya Pandu menarik tangannya dan menunduk dalam-dalam.
Kasian Pandu, padahal dia hendak berkorban. Berkorban masa mudanya, berkorban dengan keegoisan serta kekalutan akal maupun hatinya. Aku yakin, pasti tak muda bagi Pandu untuk memilih menikah muda. Pasti terdapat kekalutan di dalamnya.
*Memang terkadang apa yang kita rencanakan, tak semulus jalan yang diperkirakan*.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^**SI PANDU GAK LAGI MAU JADI SAD BOY KAN? MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS**.^^^
^^^**ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH**.^^^
^^^**SALAM SAYANG DARI AUTHOR**.^^^
^^^**☆♡☆**^^^