
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...DI DUNIA INI TAK ADA LAGI YANG HARUS DI KEJAR KECUALI RIDHO ALLAH. BILA ALLAH TELAH RIDHO DENGAN KITA SEMUA YANG KITA INGINKAN TERGAPAI. SEPERTI JANNAHNYA....
...WALLAHUALAM BISSAWAB....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Gimana tadi? " Tanya ku.
Fadli mengusap masih kepala ku.
" Allhamdulillah, dapet. " Jawab Fadli.
" Kerjaannya apa? Berat gak? Kalau berat jangan di terima. Nanti kamu kenapa-napa. " Khawatir ku.
" Enggak kok. Cuma jadi pelayan di salah satu restoran. " Tenang kan Fadli.
" Bener? " Pastikan ku.
" Iya, istri ku yang cantik. " Yakin kan Fadli.
Aku tersenyum mendengarnya.
" Alhamdulillah, kalau gitu. Selamat ya suami ku. " Syukur ku.
《~》
Ku tutup Al-Qur'an yang telah ku baca barusan. Aku termenung sesaat.
Hakikat pernikahan ku dan Fadli ini apa? Kita berdua bahkan tidak pernah melakukan sesuatu untuk menuju ke jannahnya bersama. Seperti mengaji bersama, menghafal Qur'an bersama, Sholat bersama.
Aku bahkan tak pernah sekalipun menunjukan hafalan ku atau bacaan ngaji ku kepada Fadli. Fadli selalu sholat di masjid, kalau tidak sholat sendiri tanpa menungguku. Aku hanya mendengarkan dia mengaji pada saat akad nikah ku dengan Fadli. Hanya sekali. Setelah itu tidak ada lagi.
Bukan kah seharusnya pernikahan di lakukan bersama untuk menuju jannahnya. Bukan sendiri-sendiri seperti ini. Memang aku dan Fadli mulai menerima keberadaan masing-masing dan menghargai keberadaan masing-masing. Dan, tak jarang melindungi salah satu dari kita.
Tapi, bukan ini arti sebuah pernikahan. Masih banyak lagi. Meski aku dan Fadli melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa pernikahan ini telah kami terima, tetap saja kami masih memiliki jarak. Kita dekat, bisa di bilang sangat dekat. Namun, terasa sangat teramat jauh.
Pernikahan adalah ibadah. Ibadah yang harus di lakukan secara bersama-sama. Aku hanya ingin kita berdua bersama-sama mengejar jannah nya, tak lebih. Setidaknya hanya untuk mengaji bersama meski hanya beberapa menit. Mungkin saja dengan perbuatan sekecil itu aku dan Fadli mendapatkan ridho allah.
Di dunia ini yang harus dikejar adalah ridho allah, tak ada lainnya. Percuma hidup abadi bila tak setitik pun mendapatkan ridho allah, semuanya akan sia-sia. Oleh karena itu aku menginginkan ridho allah dalam pernikahan ku. Tanpanya pernikahan ini bukanlah apa-apa.
Apa dalam hati kami, kami tak membenci salah satu dari kami maupun keadaan yang terjadi. Tapi, kami membenci kerelaan kami. Karena kerelaan kami, kami tersakiti. Kami masih belum ikhlas dalam takdir allah. Kami terlalu mencintai jalan kehidupan sebelum jalan kehidupan ini. Kami terlalu serakah.
Astaghfirullah hal adzim.
Kembali tersadar telah melakukan kesalahan membuat ku bergetar. Lagi-lagi aku menumpuk dosa ku. Bahkan belum lama ini aku melakukan dosa besar, mengapa setiap hari aku menimbun dosa. Semakin banyak dosa ku.
Memang mengucapkan sangat mudah. Menginginkan sesuatu sangat mudah. Tapi, melakukan dan menjalaninya sangat teramat besar. Aku mengucapkan akan membuat pernikahan ini menjadi indah meski di awali sesuatu yang buruk. Aku menginginkan akan keindahan dan keharmonisan dalam pernikahan ini. Tapi, melakukan dan menjalani seperti yang telah ku ucapkan dan ku pinta sangat lah sulit.
Apalagi aku dan Fadli sama-sama tipikal orang yang memendam dan egois. Akan sangat sulit untuk ku dan Fadli membuat pernikahan ini menjadi indah.
Aku hanya manusia biasa. Yang sangat sering berbuat dosa. Manusia yang sangat bodoh akan hakikat kehidupan. Manusia yang memiliki mata sehat, namun buta. Aku tak dapat melihat arah yang benar tanpa bantuan dari pemilik jalan kehidupan. Aku tak dapat melihat kebaikannya, sehingga aku sering kali menjauh darinya yang jelas-jelas memberikan nikmat pada ku.
Kriet~
Aku sedikit terlonjak dari lamunan ku.
" Assalamu'alaikum waromatullahi wabarokatuh. " Salam Fadli.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas ku.
Aku beres-bereskan alat ibadah ku. Lalu menghampiri Fadli. Ku salimi tangan Fadli. Ku ambil sajadah Fadli dan menaruhnya di tempatnya
Aku langsung pergi ke dapur. Aku memasak makanan yang cukup banyak untuk sekalian makan malam dan makanan yang akan di bagikan ke anak-anak.
Setelah selesai masak aku langsung menata makan ke atas meja makan. Aku juga mulai menyiapkan bekal ku dan Fadli untuk kerja nanti, dan membungkuskan nasi untuk anak-anak.
Semuanya telah selesai, aku pun pergi ke kamar untuk memanggil Fadli.
" Fad. Mau makan sekarang? " Tanya ku.
Ini masih pagi banget untuk sarapan makan berat. Tapi kan ini negara Indonesia tercinta. Gak akan bisa di bilang makan kalau gak makan nasi yang notebennya makanan berat. Menurut ku kalau tidak di beri makan berat untuk memulai hari, kita akan lemes seharian bila hanya di beri makanan ringan, hehehe.
" Iya. " Jawab Fadli.
" Ya udah, ayo! Makanannya sudah aku siapkan. " Seru ku.
Fadli mengangguk.
Aku dan Fadli bersama-sama pergi ke meja makan. Aku menyendokan nasi untuk Fadli dan diri ku. Lalu, membiarkan Fadli mengambil berapa banyak lauk. Dan, aku mengambil lauk untuk diri ku sendiri.
Baru mau mengunyah makanan, aku merasa mual. Aku langsung lari ke toilet. Membuat Fadli bingung. Ku muntahkan semua makanan ku. Setelahnya ku bersihkan bekas muntahan ku itu.
Ada apa dengan diri ku. Sudah dua kali aku muntah-muntah. Tubuhku tak selemas itu untuk bisa muntah-muntah. Apa penyakit ku kambuh lagi? Tapi kan penyakit ku sudah lama tidak kambuh. Aku juga gak tahu kalau salah satu gejala yang di timbulkan oleh penyakit ku adalah muntah.
Apa ini sebagai tanda-tanda bahwa penyakit ku selama ini tak sembuh meski cukup lama aku tak merasakan gejala-gejala yang ku alami dulu. Tapi penyakit ku semakin mengganas.
Astaghfirullah.
Ya allah.
Ku dekap mulut ku, erat. Ku geleng kepala ku, kuat-kuat.
Enggak, enggak mungkin! Ta-tapi bagaimana bila penyakit ku muncul lagi dengan sangat ganas pada diri ku.
Ku topang diri ku dengan westafel yang ku pegang erat agar tak terjatuh.
Air mata ku luruh seketika.
Bagaimana ini? Aku belum meminta ampunan kepada ibu dan ayah. Aku belum membahagiakan orang-orang terdekat ku. Aku masih banyak melakukan dosa. Aku belum dapat menebus dosa-dosa ku. Aku telah menyakiti banyak orang tanpa ku sadari. A-aku belum punya bekal yang sempurna untuk di bawah pulang.
Astaghfirullah hal adzim.
Aku belum berbakti kepada suami ku. Aku belum melakukan perbuatan untuk menggembirakan suami ku. Aku belum memberikan sosok pengisi hari suami ku setelah aku tiada. Aku baru menikah. Tak mungkin meninggalkan suami ku begitu saja. Suami ku masih terlalu muda untuk di jadikan seorang duda.
Ya allah, bagaimana ini? Aku harus apa, ya allah. Aku masih banyak urusan yang belum selesai di dunia ini.
TOK TOK TOK
" Han! Kenapa kamu lama banget sih di toilet? Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Han!? " Panik Fadli.
DEG
Ya allah.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^TAK DAPAT DI PUNGKIRI BILA MASALAH AKAN DATANG KEMBALI KEPADA HIDUP KITA. ANGGAP SAJA SEMUA MASALAH YANG DATANG SEBAGAI PELANCAR KENDARAAN KITA MENUJU JANNAHNYA YANG SANGAT SULIT UNTUK DI GAPAI. LAKUKAN SEMUANYA DENGAN IKHLAS KARENA KEHIDUPAN INI HANYA SEMENTARA. MASALAH PUN HANYA SEMENTARA. WALLAHUALAM BISSAWAB. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^