HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 30



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...PADA SAATNYA KITA AKAN DI BERIKAN SESUATU YANG PASTI TIDAK DAPAT KITA PILIH. PILIHAN YANG RUMIT, YANG TENTU SAJA SEMUA PILIHAN ITU MEMILIKI EFEK BURUK....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


" Bila tetap ingin di lanjutkan, dapat menyebabkan beberapa efek buruk terhadap sang ibu maupun buah hati. Dari beberapa penyakit berbahaya. Sampai menyebabkan sang ibu maupun buah hati meninggal. " Jelas dokter.


DEG


SKAKMAT.


Benar dugaan ku. Aku seperti di sebuah tebing. Bila maju akan tenggelam. Bila mundur akan tertangkap musuh. Semuanya dapat menyebabkan sesuatu keburukan terhadap diri ku.


《~》


Lahaula wala kuwata illa billah.


" Saya menyarankan nona Hana di kuret. Agar tak menjadi lebih buruk lagi. Selagi sang bayi masih berbentuk gumpalan darah. Tapi, semuanya ada di tangan tuan dan nona. " Saran kan dokter.


Mata ku mulai memerah.


" Saya fikir kan dulu dok. " Pinta ku.


Dokter mengangguk.


Dokter memberikan beberapa berkas kepada ku. Lalu memanggil suster yang tengah mengobati Hana. Aku pergi keluar dari ruangan dokter. Karena Hana masih di obati. Sebelumnya aku mengucap kan " Saya permisi dulu, dok. ". Yang di balas anggukan.


Ku duduki kursi yang ada di lorong rumah sakit. Aku menyender kan diri ku di dinding. Ku tutup mata ku.


Air mata ku mulai menetes dari pelupuk mata ku. Ku tutup mata ku dengan lengan.


Ya allah, berikan petunjuk untuk hamba. Hamba tak tahu apa yang terbaik untuk diri hamba maupun keluarga hamba. Tuntun hamba selalu ya allah. Hamba takut mengambil jalan yang salah untuk hamba maupun keluarga hamba. Kuat kan hamba dan keluarga hamba nanti setelah apapun yang akan kami pilih.


Setelah fikiran ku mulai tenang, Aku mulai memperbaiki penampilan ku yang berantakan. Sebelum Hana datang.


Hana menghampiri ku dengan bantuan suster. Hana terlihat lebih baik. Aku menghampirinya. Aku mengambil tugas suster untuk membantu Hana berjalan.


Aku membawa Hana menuju mobil. Membiarkan Hana menatap ku penuh tanya. Aku membantu Hana duduk di kursi sebelah pengemudi. Lalu aku menuju tempat kursi pengemudi.


Aku mengendarai mobil.


" Fad, Kasih tahu aku apa yang dokter bicarakan. " Pinta Hana.


Aku tak menghiraukan permintaan Hana. Aku hanya mencengkeram setir mobil. Menyalurkan rasa sesak ke cengkeraman ku. Ku ucap kan dzikir agar merilekskan hati ku.


" Fad. Jawab dong. pliss. " Mohon Hana.


Hana terus menerus meminta penjelasan kepada ku. Namun, selalu tak ku hiraukan.


" Fad. Apa separah itu penyakit ku? Sampai-sampai kamu gak mau ngasih tahu aku? " Frustasi Hana.


Hana memalingkan mukanya dari ku. Hana menatap kaca di sebelahnya. Aku tahu dia tengah menangis. Begitu pun dengan ku. Aku menangis dalam dingin ku.


Sesampaimya dirumah, aku langsung memasuki rumah. Tak menghiraukan Hana. Aku menuju musholla. Ku kunci pintu musholla. Tubuh ku luruh seketika. Aku menutupi muka ku. Aku menangis di dalam ke sendirian ku.


Ya allah, Aku harus bagaimana? Aku tak mau kehilangan istri maupun anak ku, ya allah. Aku tak dapat memilih salah satu dari mereka berdua. Mereka orang yang sangat berharga dalam hidup ku. Aku tak bisa, ya allah. Tak bisa. Ya allah, ini sangat berat buat hamba. Pilihan ini sangat sulit untuk hamba.


Satu sisi aku tak ingin kehilangan istri ku. Dan, sisi lainnya tak ingin kehilangan anak ku. Kenapa waktu itu harus terjadi. Seandainya waktu itu tak terjadi, Hana tidak akan menderita seperti ini. Dan, bayi tak akan hadir di antara diriku dan Hana.


Astaghfirullah.


Aku tahu berandai-andai adalah sesuatu yang di haram kan. Tapi, kenapa aku masih melakukannya? Ya allah. maaf kan hamba yang tidak menerima takdir mu, ya allah.


Aku menghapus air mata ku.


Aku mengambil wudhu dan kembali ke musholla. Aku menunaikan sholat sunnah. Aku meminta petunjuk kepada sang maha kholik. Aku ingin mencurahkan sendu gulana hati ku. Setelahnya seharian itu ku habiskan dengan membaca Al-Qur'an.


...-♡-...


Aku terbangun dari tidur ku. Aku masih di musholla. Semenjak kemarin dari rumah sakit, aku tak pernah menemui Hana. Maupun sebaliknya. Kami tak melihat keberadaan masing-masing. Bahkan kami tak makan bersama. Aku tidak tidur di kamar ku dan Hana.


Aku langsung mengambil wudhu. Lalu melaksanakan sholat tahajud. Selanjutnya aku membersihkan diri ku. Ku lanjutkan dengan berdzikir sampai adzan subuh menggema. Aku bersiap-siap menuju masjid. Saat aku memasuki kamar, Hana tengah di kamar mandi.


Aku pergi menuju masjid. Sesampainya aku mulai sholat berjamaah. Aku tak langsung pulang sehabis sholat. Karena aku tak ingin bertemu dengan Hana. Dan, aku ingin berlama-lama di masjid. Mungkin aku pulang saat Hana berangkat kerja.


...-♡-...


Sudah beberapa hari aku menghindari Hana, begitu pun sebaliknya. Kami jarang sekali berbicara. Aku tahu beberapa hari ini Hana sering menangis. Tapi, dia lebih menghabiskan waktunya bersama robbnya.


Aku tengah merenungkan sesuatu. Seperti beberapa hari yang lalu, aku masih tidur di musholla rumah. Aku tak berani bertemu atau pun berlama-lama bersama Hana. Aku takut Hana tahu penyakitnya. Yang malah membuatnya semakin terpuruk.


Sudah seminggu aku mengetahui penyakit Hana. Aku harus mengambil pilihan. Agar semuanya tak terlambat. Harus. Aku harus memilih.


(FADLI DIRDAUS POV OFF)


(HANA HILMI PON ON)


Seperti hari-hari biasanya aku hanya dapat termenung sendirian di kamar. Palingan aku sholat atau mengaji, sebagi rutinitas lainnya di rumah. Akhir-akhir ini aku semakin sering muntah-muntah, mual, pusing, dan lemas.


Sebenarnya apa penyakit ku ini, ya allah? Ya allah, kenapa Fadli membuatku semakin bertanya-tanya? Apa separah itu penyakit ku, ya allah? Ya allah, Berikan lah hamba keikhlasan atas penyakit yang engkau berikan. Dari sikap suami hamba, hamba tahu bahwa penyakit hamba bukan main-main. Tapi, hamba takut bila hamba seudzon. Karena hamba tak mengetahui kebenarannya dengan jelas.


Banyak kemungkinan yang ku fikir kan. Karena tak tahu kebenarannya. Aku hanya dapat memikirkan kemungkinan saja.


Air mata ku luruh seketika.


" Han. " Seru seseorang.


Aku tersentak seketika.


Aku tak menyadari Fadli masuk kamar. Aku menghapus air mata ku, cepat-cepat. Aku berdehem sebentar. Agar menetralkan suara dan degup jantung ku.


" Iya? " Balas ku.


Fadli tak langsung membalas ku.


" Ayo kita ke rumah sakit lagi. " Ajak Fadli.


DEG


Lagi?


Kemungkinan besar aku benar-benar sakit.


Aku menghadap Fadli.


" Aku gak mau. Sebelum kamu bilang apa penyakit ku. " Tolak ku.


Tak ada ekspresi yang di tunjukan Fadli.


" Ini perintah suami kamu. " Tegas Fadli.


Setelah mengucapkan itu, Fadli pergi dari kamar. Aku hanya dapat menatap kosong pintu. Ku gigit bibir bagian dalam ku. Sesak, ya allah.


Air mata ku menitik. Namun, langsung ku hapus. Aku bersiap-siap sebentar. Lalu pergi menuju mobil yang sudah menunggu ku dari tadi. Tak ada pembicaraan sama sekali selama perjalanan.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^NOPE PART INI. AUTHOR TAK TAHU MAU MENANGGAPI SEPERTI APA. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^