HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 14



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...YAKINLAH ADA SEORANG YANG LEBIH TIDAK BERUNTUNG DARI KITA DAN LEBIH TEGAR DARI PADA KITA. JANGAN MAU KALAH SAMA MEREKA. KITA HARUS LEBIH TEGAR DAN KUAT....


...STAY STRONG FOR YOURSELF....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


" Terus kamu? Kamu kan lumayan lah. Kenapa gak daftar. Pasti bisa lah buat dapat beasiswa. Kamu kan pasti gak bakal biarin keberuntungan begitu saja. " Sarkas Fadli, setelah beberapa saat.


" Ya, karena aku salah tandain tanggal. Jadi, deh aku gak bisa ikut daftar. " Cicit ku, jujur.


Huft~


" Jadi, intinya sudah kalah sebelum berjuang. " Ejek Fadli.


Aku cemberut karena ejekan Fadli.


《~》


" Ini rumahnya. " Tunjuk Fadli.


Fadli menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang cukup sederhana. Bisa di bilang rumah ini lebih besar dari pada rumah ku. Tapi, lebih kecil dari pada rumah mewah lainnya. Karena rumah ini sederhana dan cukup luas, bukan rumah mewah-mewah yang ada di tv-tv.


" Kok besar? Pasti kamu belinya mahal. Kan kita bisa cari yang lebih kecil. Uangnya kan lumayan. " Protes ku.


" Rumah ini aku bangun bukan aku beli. Ini sudah aku bangun dari masa aku masih kelas 2 SMA. Aku yang membuat sketsa rumah ini, dahulu. Dan, rumah ini dibangun oleh kenalan orang tua ku. Jadi biaya pembangunannya lebih murah. " Jelas Fadli.


Huft~


Sudahlah. Aku juga bisa apa? Toh, sudah terjadi. Ikhlaskan saja uang suami mu itu Han.


" Ku buka dulu pagarnya. Mana kunci gembok pagarnya? " Izin ku.


Fadli mengangguk. Lalu mengambil sebuah kunci dan memberikannya padaku. Aku langsung keluar dari mobil dan membuka pagarnya, untuk mengakses mobilnya masuk. Setelah mobil masuk aku langsung menutupnya.


Aku menghampiri Fadli yang telah keluar dari dalam mobil. Ku buka pintu rumah ini.


" Bismillah. " Ucap ku dan Fadli, saat ingin melangkahkan kaki memasuki rumah ini.


Ku lihat rumah ini sudah tersedia perabotan-perabotan. Tidak ada penghias apa pun untuk lebih menghidupkan rumah ini. Rumah ini sangat berdebu. Untung saja perabotan-perabotan di rumah ini di tutupi dengan kain, debu tak mengenai perabotan.


" Sudah di buat selamatan? " Tanya ku.


Fadli menggeleng.


Fadli berjalan, menuju sakelar ruang tengah dan menekannya. Lampu ruangan ini pun menyala.


" Aku kedalam dulu. Mau nyalain lampunya. " Izin Fadli.


Aku mengangguk.


Aku mencari kemoceng di ruangan ini. Akhirnya menemukannya. Lalu aku mulai membersihkan rumah ini, di bantu Fadli. Kami hanya membersihkan rumah ini tanpa berbicara lagi. Kami takut tenaga kami semakin terkuras habis bila banyak berbicara.


...-♡-...


{6 Jam Kemudian}


Huft~


Akhirnya selesai juga membersihkan beberapa ruangan. Tinggal membersihkan beberapa ruang lagi dan outdoor. Lalu, membuang beberapa sampah dari debu-debu, pasir kotoran dari rumah ini, beberapa perabotan yang sudah lapuk tak terawat, dan tumbuhan yang layu.


Aku membersihkan diri ku di toilet kamar. Sedangkan Fadli membersihkan dirinya di toilet lainnya. Setelah itu ku rebahkan diri ku di atas kasur.


Sungguh aku sangat capek. Karena perjalanan yang cukup menempuh waktu banyak. Di tambah bersih-bersih tadi. Rasanya tulang ku semua telah patah. Memang terlalu dramatis. Namun, itu adanya.


Ku lihat Fadli memasuki kamar. Lalu duduk di pinggiran ranjang. Karena kamar ini tidak memiliki tempat untuk sofa kamar. Aku pun mendudukan diri ku.


" Kamu langsung balik? Atau istirahat dulu? " Pastikan ku.


" Langsung aja. Biar cepat selesai. Karena sebentar lagi kita akan masuk kuliah. " Jawab Fadli.


" Emang gak capek? " Tanya ku.


" Enggak. " Jawabnya, lagi.


" Terus kita kapan mau selamatan rumah? " Tanya ku, lagi.


" Setelah aku pulang aja. Kamu bisa kan bersihin sisanya? Kalau gak bisa jangan di paksa. Tunggu aku pulang saja. " Khawatir Fadli.


" Insya allah, bisa. Ya udah. Mending berangkat sekarang. Keburu malam nanti. " Suruh ku.


Fadli mengangguk.


" Ini. Harus hemat. Kamu bawa seterusnya aja." Serah kan Fadli, setelah mengeluarkan beberapa uang rupiah dan kartu yang ku yakini adalah kartu tabungannya.


Aku mengambilnya. Lalu mengangguk.


" Mana uang buat aku? " Pinta Fadli.


" Emang kamu gak ada uang lagi? " Kepo ku.


" Masa? " Tak percaya ku.


" Beneran Hana. " Serius Fadli.


Aku pun mengambil beberapa uang rupiah.


" Harus hemat. " Pesan ku.


" Ini sih hematnya kebangetan. " Kesal Fadli.


Aku memutar bola mataku, tak peduli. Lalu, aku mengantar Fadli keluar.


" Kira-kira kamu berapa hari? " Penasaran ku.


" Gak tahu. " Jawabnya.


Aku hanya manggut-manggut.


" Aku minta nomer kamu. Takutnya ada apa-apa. " Pinta ku.


Aku baru ingat kalau aku gak punya NO Fadli. Aku masuk ke dalam rumah dan mengambil hp ku. Lalu keluar kembali. Aku menyimpan NO Fadli, setelah Fadli mengucapkan NOnya. Setelahnya Fadli juga meminta NO hp ku, dan menyimpannya di hp nya.


" Ya udah, aku berangkat dulu. " Akhiri Fadli.


Aku mengangguk.


Aku mengambil tangannya dan mencium tangannya. Fadli membalasnya dengan mengusap kepala ku. Setelahnya ku buka pagar , Fadli langsung mengeluarkan mobil.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam Fadli,


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Hati-hati. Nanti kabari kalau sudah sampai. " Pesan ku.


Fadli mengangguk.


Mobil yang dikendarai Fadli mulai bergerak meninggalkan rumah ini. Setelahnya aku mulai masuk kedalam rumah. Tak lupa menutup pagar dan pintu.


...-♡-...


{KEESOKAN HARINYA}


Aku keluar dari rumah, hendak membeli beberapa kebutuhan di pasar. Tapi, aku tidak tahu pasarnya dimana. Aku pun mencoba mencari dan bertanya-tanya ke orang-orang. Sekalian kenalan sama orang sini.


Jalan ku terhenti saat aku melihat gerombolan anak di bawah jembatan. Aku pun memutuskan menemui mereka.


" Permisi, adek-adek. Apa kalian tahu arah pasar dari sini? " Tanya ku.


Mereka menghadap diri ku.


" Masih jauh lagi, mbak. Mau kita antar, sekalian kita mau ngamen di pasar. " Tawar salah satu gerombolan anak itu, yang tertua.


Ya allah.


Aku melihat nyata bahwa ada seseorang yang lebih kurang beruntung dari pada aku.


" Boleh. Kalau gak ngerepotin. " Setuju ku.


" Enggak ngerepotin kok, mbak. " Ucap salah satu anak lainnya.


Aku tersenyum.


Akhirnya aku kembali tersenyum.


Lalu mereka langsung mengantarkan diri ku ke pasar.


" Kalau boleh tahu kalian namanya siapa? " Tanya ku.


Mereka pun satu-persatu memperkenalkan diri. Mereka ber-7. 3 laki-laki dan 4 perempuan. Yang laki-laki bernama Reza, Ikmal, dan Kenzo. Yang perempuan bernama Lina, Akila, Sinta, Gabriella.


Hari itu pun aku mulai berkenalan dengan mereka. Berkenalan dengan orang-orang yang sangat hebat dan muda dari pada aku. Pertemuan ku dengan mereka, membuat ku kembali belajar tentang kehidupan.


Baru beberapa menit yang lalu, aku dan mereka sudah sangat akrab. Aku membuat makanan lebih dan ku bagi-bagikan kepada mereka. Meski harus di tinggal dengan suami aku tetap bahagia. Karena kehadiran mereka.


Mereka sangat humble, cute, dan ramah. Mereka sangat baik pada ku. Mereka tak neko-neko.


{SEMINGGU KEMUDIAN}


Aku berjalan untuk pulang kerumah. Karena tadi aku habis menemui anak-anak( Reza, Ikmal, dan Kenzo, Lina, Akila, Sinta, Gabriella. ). Rutinitas ku selama seminggu ini adalah ibadah, membersihkan rumah, dan menemui anak-anak.


Aku memanggil mereka dengan sebutan anak-anak. Aku senang sekali di buatnya. Karena mereka mengijinkan nya. Aku telah menganggap mereka seperti adik aku sendiri. Aku menyayangi mereka.


Aku memperlambat langkah ku, karena melihat dua mobil yang ku yakini salah satunya adalah milik Fadli dan dua motor terparkir di depan rumah ku.


Ada apa ini? Kok ada dua motor dan satu mobil lagi?


Aku tak dapat melihat siapa saja orangnya. Karena terhalang dengan mobil dan motor.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^HAYO, KIRA-KIRA APA YA? JADI KEPO AUTHOR. HEHEHE. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^