HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 38



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...KALI INI MEMANG KITA SEPERTI TAK SALING MENGENAL MASING-MASING. NAMUN, NANTI KITA AKAN SALING MENGETAHUI MASING-MASING....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Sesampainya di sana. Aku langsung memuntahkan isi perut ku. Setelahnya aku cepat-cepat membersihkan bekas muntahan ku. Ku lihat diri ku. Aku terlihat sangat pucat.


Air mata ku, menetes begitu saja.


Ku remas tangan ku. Sebagai penyalur kesakitan ku. Setelah aku menormalkan diri ku, aku cepat-cepat menghapus air mata ku.


Aku mengambil bedak di dalam tas ku. Ku pakaikan bedak ku ke wajah ku. Lalu, ku taruh kembali bedak ku ke dalam tas. Ku lihat wajah ku di cermin. Terlihat lebih baik dari sebelumnya. Meski bibir ku masih pucat.


《~》


Aku keluar dari toilet. Aku sedikit tersentak, karena Fadli ternyata di luar toilet. Aku terus melanjutkan jalan ku.


" Tunggu! " Seru Fadli.


Aku menghentikan langkah ku.


" Kamu gak papa? " Tanya Fadli.


" Gak papa. Aku mau pulang. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Balas ku.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Jawab Fadli.


Aku melanjutkan langkah ku. Aku melihat Septi dan Cahya. Aku pun menghampiri mereka.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Jawab Septi dan Cahya.


" Kalian ngapain di sini? Mau ke toilet? " Tanya ku.


" Enggak. Kita ke sini karena nih anak. " Jawab Septi, dan menuding Cahya.


Aku mengerutkan dahi.


" Ih~ Biasa dong Sep. Jadi gini Hana. Kamu belum bayar makanan kamu. Kita gak bisa bayarin makanan kamu. " Jelasin Cahya.


" Astaghfirullah, lupa. Maaf ya. " Sadar ku.


Aku menyerahkan dua lembar uang ke Cahya.


" Tapi, bisa kalian bayarin dulu kan? Kan kita teman. Nanti, pasti aku bayar kok. Jadi, kalian gak usah nyariin aku kaya gitu. " Sinis ku.


" Denger Cahya. " Sindir Septi.


" Ih~ Ya enggak lah. Kata papa, ' Gak ada harga atas temen. ' masa mentang-mentang temen minta di bayarin? " Tak setuju Cahya.


" Au ah. " Kesal ku.


" Hai." Seru seseorang, yang tiba-tiba menghampiri kami.


Kami bertiga cukup kaget akan kehadiran orang itu yang tiba-tiba. Orang itu adalah salah satu teman Fadli, yang juga cukup populer. Namanya Evan.


" Masya allah, malaikat datang. " Cengo Septi.


Ku cubit lengan Septi, bertujuan untuk menyadarkannya.


" Aww!! " Sentak Septi, yang tak ku pedulikan.


" Iya? " Dingin ku.


" Kalian pada lihat Fadli, gak? Gua dari tadi kagak lihat dia. " Tanya Evan.


" Enggak. " Jawab ku, Septi dan Cahya barengan.


" Ya ampun, tuh anak ngeselin banget. Bikin susah temennya aja. " Kesal Evan.


" Lo ngapain di sini? Mau godain cewek? Dan, lo ngapain nyebut nama gua. Lo ghibahin gua, ya?" Tanya Fadli, tiba-tiba.


Aku, Septi, Cahya dan Evan tersentak. Ya allah, beberapa saat ini kok aku terus-menerus kaget-kagetan. Untung jantung ku gak copot.


" Eh, malaikat datang lagi. " Cengo Septi, lagi.


Aku kembali menyubit lengan Septi.


" Sakit Hana! " Marah Septi.


" Eh, Fadli. Ya gak lah. Mana ada yang berani ghibahin lo. Apa lagi hina lo. Gak mungkin itu, mah. " Bohong Evan.


" Bohong! Evan bohong. " Seru Cahya tiba-tiba.


" Iya, tadi dia ngomong bahwa kamu ngeselin dan kamu nyusahin teman. " Adu Septi.


" Sejak kapan nyusahin lo? Bahkan tugas lo aja masih minta bantuan gua. " Sinis Fadli.


" E-eh, sorry Dli. Tadi gua kesel aja. Lagian lo juga. Katanya ke toilet, tapi lama banget. Tahu gak. Cewek fanatik yang suka sama lo, dari tadi gangguin gue dan lainnya. Nanyain keberadaan lo. " Jelasin Evan.


Kok jadi kesel, ya?


" Tuh, anak pengen ngasiin ini ke elo. " Jawab Evan.


Evan menyerahkan surat ke Fadli. Namun, belum saja Fadli mengangkat tangan, Septi terlebih dahulu mengambil surat itu.


" Eh, apaain sih lo!! Jadi orang lancang banget. " Kesal Evan.


" Biarin. Gak boleh ada yang ngasih surat buat para haluan gua. Dan, haluan gua salah satunya adalah Fadli. " Ucap Septi.


Aku hanya menggeleng akan tingkah Septi.


" Gua akan buang surat ini. Dan, jangan ada yang berani ngambil surat ini. " Peringat Septi.


Septi yang hendak beranjak, cepat-cepat ku ambil surat itu dari dia. Septi pun menatap ku kesal.


" Mau apa? Berani? " Ancam ku.


Septi menghentakan kaki lalu cemberut.


" Gak sopan banget sih. Paling enggak kasih tahu kek isinya ke Fadli. Jangan angger buang aja. Takutnya ada yang penting. " Ucap ku.


Aku membuka surat itu.


" Aku bacain. Habis aku bacain ini, kamu bisa buang ini. Ngerti? Tapi, kalau sih Fadli ngijinin. " Intruksi ku.


" Halo, calon im- Skip. Kamu mau enggak dateng ke acara pesta aku? " Baca ku.


Sengaja aku mengskip bacaan surat itu, hanya membaca intinya dari surat itu. Males banget bacain embel-embelan atau gomabalan cewek lain ke suami ku sendiri.


" Gua ijinin tuh surat, Septi buang. " Ucap Fadli.


" Eh, bege. Gua capek-capek nyariin lo. Cuma karena ngasih tuh surat ke lo. Lo malah seenaknya buang. Gua gak mau tahu, lo harus contekin gua sekali. " Kesal Evan.


Fadli menatap Evan tajam.


" Eh, gak jadi deh. " Takut Evan.


Aku menyerah kan surat itu ke Septi.


" Nih. Lain kali kalau mau buang barang orang, ijin dulu. Jangan angger buang aja. " Sarkas ku.


Septi meresponnya dengan cengengesan.


" Ya, maap. Tadi khilaf. " Bela Septi.


Aku memutar bola mata ku, malas.


" Kalian bahas apa sih? Aku bingung. " Tanya Cahya.


" Hadeh! " Frustasi ku dan Septi.


" Bahas makan malam. " Jawab Septi, asal.


" Ha? Terus jadi mau makan apa? " Bingung Cahya.


" Udah ah. Lo masih kecil gak usah tahu urusan orang gede. " Ucap Septi.


Cahya hanya mengangguk polos.


" Emang temen kalian yang satu itu, bloon? " Bisik Evan, yang masih terdengar oleh siapa pun.


" Siapa? " Tanya Cahya.


Aku, Septi dan Fadli menatap Evan tajam.


" Bukan siapa-siapa. " Jawab ku.


" Ya udah kami pamit dulu. " Pamit ku.


" Ih~ Kok pulang sih. Han, kamu kan tahu aku pengen banget ngomong sama haluan ku. Jadi, tunggu sebentar lagi. Ya? Pliss. " Tawar Septi, dengan berbisik kepada ku


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku, yang di ikuti oleh Septi dan Cahya.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas Fadli.


" Wa'alaikum salam. " Balas Evan.


Aku, Septi, dan Cahya pergi dari situ. Kami berjalan menuju parkiran.


" Jangan berlama-lama bersama pria ajnabi. Takutnya menimbulkan fitnah atau menimbulkan sesuatu yang buruk lainnya. " Peringat ku di tengah jalan.


Septi hanya cemberut akan perkataan ku.


" Iya, kata papa juga gitu. Kita gak boleh terlalu deket-deket sama yang bukan mahramnya. " Setuju Cahya.


" Tumben pinter. " Sinis Septi.


" Sep, gak boleh bilang gitu. Gitu-gitu, Cahya adalah temen kita. " Peringat ku.


Septi hanya cengengesan, bukannya menyesali atau meminta maaf ke Cahya.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^YA ALLAH, SEPTI. HALU TEROS~ MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^