
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...BILA ENGKAU TERDAPAT SEBUAH MASALAH MINTA LAH PERLINDUNGAN KEPADA ALLAH SWT. NISCAYA ALLAH AKAN MENOLONG MU, SEPERTI KISAH 7 PEMUDA ASHABUL KAHFI....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Baik kalau begitu. Karena saya dan pengurus lainnya sudah tidak memiliki keperluan lagi di sini. Kami izin pulang ke kediaman kami masing-masing " Izin Pak RW.
Abi dan Fadli mengangguk.
Mereka pun mulai kembali ke kediaman mereka. Kini hanya aku, Fadli, umi, dan abi.
" Kalau bukan karena kejadian itu. Saya pasti tidak akan menyerah kan anak saya ke kamu. Cowok serampangan. " Sinis abi.
《~》
" Saya mohon percayakan saya dengan tanggung jawab atas anak bapak. " Ucap Fadli.
" Berlagak seperti orang yang bertanggung jawab. Padahal bahkan tak berani menghadapkan anak saya ke hadapan orang tuanya. " Sarkas abi.
Fadli hanya diam. Tak menjawab.
" Hilmi!! " Panggil abi.
DEG
Jantung ku mulai berpacu sangat cepat.
" I-iya abi. " Jawab ku gagap.
" Sini kamu! " Suruh abi.
Aku memundurkan diri ku.
Aku takut. Sangat takut.
" Kamu tahukan apa hukuman bagi seorang pezina yang belum menikah. " Peringat abi.
Aku menengguk saliva ku.
" Sebutkan!? " Pinta abi, dengan sangat tegas.
" Ta-tahu abi. Se-seratus ca-cambuk. Dan, di a-asingkan selama sa-satu tahun. " Jawab ku, gagap.
Aku takut. Aku takut di cambuk. Tapi, memang harus aku lakukan.
" Kalau begitu kesini. " Sentak abi.
Aku semakin melangkah mundur.
Karena perbuatan ku itu. Abi melangkah maju, hendak menggapai ku. Namun, tiba-tiba Fadli membawaku ke belakangnya.
" Maaf pak. Kami telah menerima hukuman kami. Dan, hukumannya dari kampung ini. Namun, hukuman di kampung ini telah diringan kan. Jadi, kami tak akan mendapatkan hukuman lainnya. " Sergah Fadli.
" Pintar bicara ya kamu. " Sinis abi.
" Denger Hilmi. Mulai sekarang abi dan umi bukan orang tua kamu lagi. Dan, kamu tidak punya hak untuk pulang ke rumah. " Putus abi, sambil menunjuk diri ku.
DEG
Astaghfirullah hal adzim.
Lebih baik aku menerima cambukan seratus kali dan di asing kan selama setahun. Dari pada harus kehilangan kedua orang tua yang telah berjasa dalam hidup ku.
Air mata ku kembali turun. Kali ini aku terisak.
" Tu-tunggu abi!! Umi!! Aku mau menerima hukuman itu. Tapi, jangan tinggalkan aku sendiri abi, umi!!! " pinta ku.
Aku ingin menggapai abi dan umi. Namun, tubuh ku di tahan Fadli.
" Umi!!! Abi!!! Tunggu mi!! " Histeris ku.
" Lepasin!!! Umi!!! Abi!!! " Teriak ku.
Aku melihat umi dan abi berjalan melewati pintu rumah ini dan hilang dari pintu rumah itu.
" Umi!!! Abi!!! " Panggil ku.
Aku masih mencoba mengejar mereka. Namun, lagi-lagi Fadli menahan ku. Dan membawa tubuh ku ke pelukan nya.
Aku histeris dalam pelukan itu. Ku pukul-pukul dada Fadli. Tak peduli bila ia merasakan sakit.
Sampai sini kah bakti ku berakhir? Apa aku tak bisa membalas perbuatan kedua orang tua ku? Apa aku tidak bisa membuat bangga kedua orang tuaku, selamanya?
Dalam sekejap allah mengambil begitu saja semua orang yang aku sayangi. Sungguh pedih murka mu, ya allah. Dan, sungguh nikmat kebahagian yang engkau berikan untuk hamba-hamba mu, ya allah.
Setelah beberapa menit aku mulai tenang. Mulai dapat mengontrol kan diri ku. Ku dorong Fadli.
PLAK
Aku menampar wajah Fadli.
" Kenapa? Kenapa!? Kamu sudah buat aku benar-benar hancur!! Orang tua ku. Orang tua ku sudah tidak menganggap aku sebagai anaknya!! Itu karena kamu!!! " Marah ku, sambil menunjuk Fadli.
Aku sekarang benar-benar di pengaruhi amarah. Tak tahu mana yang benar dan salah.
Air mata ku luruh kembali.
" Dan, lagi kenapa kamu tahan aku!!? Yang kamu lakuin itu membuat aku benar-benar kehilangan semua!!! Kamu cowok paling brengsek di dunia ini!!! " Sentak ku.
" I hate you, jerk!!! (Aku benci kamu, brengsek!!!)" Umpat ku.
Aku terduduk lemas diatas lantai yang menurut ku lebih dingin dari pada lantai biasanya.
Aku terisak. Dan, cepat-cepat menutupi muka ku dengan tangan ku. Aku tak peduli lagi dengan rasa sakit yang berada di tubuh ku. Sekarang rasa sakit hati ku lebih mendominasi.
Beberapa saat aku merasakan ada seseorang yang menyentuh pundak ku.
" I'm sorry very much, Han. (Saya sangat menyesal, Han.) " Sesal nya.
" Kita pergi dulu. Ini rumah orang. Kita tak bisa berlama-lama disini. Kita bahas nanti masalah ini. " Ucap Fadli, lembut.
Ku dongakkan kepalaku. Ku tatap Fadli lekat.
Jujur saja ini baru pertama kali aku menatap seseorang lelaki selain ayah selekat ini.
" Kamu fikir aku mau ikut kamu? " Sinis ku.
" Jangan harap. " Lanjut ku.
Muka Fadli kembali seperti semula, yaitu dingin.
" Kamu tidak lupa bahwa kamu tidak memiliki apa pun lagi? Dan, kamu tidak lupa bahwa kamu harus mengikuti semua langkah suami kamu? " Ingatkan Fadli.
Aku menggigit bibir bagian dalam.
Rasanya aku ingin berkata kasar lagi. Dan, ku rauk muka itu sampai hancur berkeping-keping. Tapi, sabar-sabar.
' Rasulullah SAW pernah bersabda :
^^^لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ^^^
Artinya : Janganlah engkau marah, maka bagimu surga (HR. Ath-thabrani dalam al-Mu'jamul Ausath no. 2374. Shahih). '
Untung aku sering mengingat hadist itu. Jadi, aku dapat mengendalikan emosi ku.
Huft~
Aku menghapus air mataku, pelan.
" Ayo. " Seru Fadli.
" Tunggu. Aku mau ambil tas ku dulu. " Cegat ku.
Fadli mengangguk. Dan, mulai beranjak dari tempatnya.
Aku mengambil barang-barang ku yang ku taruh di sofa. Lalu, mulai menyusul langkah Fadli untuk keluar dari rumah ini.
Fadli berhenti sejenak, dan membisikkan sesuatu pada wali nya tadi yang tengah berbicara dengan ibu pemilik rumah. Wali itu membalasnya dengan mengangguk.
Fadli membawa ku ke salah satu mobil di luar. Aku duduk di samping kursi pengemudi. Fadli yang mengendarai mobil ini. Mobil pun mulai meninggalkan pekarangan rumah yang telah terkutuk ini, menerobos macet nya lalu lintas. Aku tak tahu akan dibawa kemana oleh Fadli.
Dalam perjalanan aku hanya sibuk dengan lamunan ku. Hingga tak sadar air mata ku terus menerus keluar. Aku rasa dunia kembali tidak adil pada ku.
Kenapa aku harus berurusan dengan salah satu murid sekolah ku? Aku punya salah apa? Padahal aku dulu sangat membatasi kegiatan ku dengan murid-murid di sana.
Ya allah. Perbuatan zina ku sudah tak dapat di ampuni dan di maafkan lagi. Padahal aku dari dulu mencoba menjaga harta ku dengan selalu menutup nya. Tapi, mengapa aku berada dalam situasi ini, ya allah?
Aku tak mengingin kan perbuatan zina itu, ya allah. Bukan aku yang mengendalikan diriku pada saat itu. Aku di sini hanyalah korban yang tak berdaya. Aku tidak bisa meminta keadilan pada diri ku.
Meski memang benar Putri adalah salah satu orang yang mengakibat kan kejadian ini. Dan, bila ia di hukum mati pun, tetap saja harta satu-satunya milik ku telah di renggut habis. Aku tak bisa mendapatkan nya lagi.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^MENURUT AUTHOR SI HILMI MAUPUN SI FADLI TIDAK SALAH. KARENA MEREKA DIJEBAK. TAPI, TETAP SAJA SEHARUSNYA MEREKA MENAHAN HASRAT MEREKA. JADI, MEREKA TETAP SALAH. POKOKNYA GITU DEH. AUTHOR JUGA JADI BINGUNG. OK, AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI. MOHON MAAF BILA BANYA TYPO YANG BERTEBARAN. MAKLUM AUTHOR BELUM REVISI INI CERITA.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^