
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...KEBERSAMAAN KITA, DAPAT MENENTRAMKAN HATI MASING-MASING YANG TERLIBAT DALAM HUBUNGAN SUCI INI....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Ih~ kok gitu sih calon ayang embeb ku. Aku gak mau lepasin kamu. titik. " Tolak Cerli.
Fadli menarik tangannya dari Cerli. Membuat tubuh Cerli terhuyung ke belakang. Untuk saja teman-teman Ceeli langsung menolong Cerli, sehingga Cerli tak sempat merasakan malunya ketika ia berdekatan dengan rumput taman.
Fadli langsung pergi begitu saja. Meninggalkan teman-temannya dan keributan yang tengah ia perbuat.
《~》
" Mampus dah tuh. " Cela Septi.
" Sep, gak boleh ngomong gitu. " Peringat ku.
" Biarin. Gedek aku lihat cewek itu. " Kesal Septi.
" Ya allah, Sep. Istighfar. Lihat diri kamu. Kamu mencoba mencari celah untuk mencela Cerli. Namun, kamu tak sadar. Bila kamu memiliki banyak celah untuk dapat mencela diri kamu sendiri. " Ingatkan ku.
" Astaghfirullah. Hamba khliaf, ya allah. Maafin hamba, ya allah. " Sesal Septi.
Aku tersenyum sekilas.
" Aku pergi dulu, ya. Aku ada urusan sebentar. " Pamit ku.
Cahya dan Septi mengangguk.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas Septi dan Cahya.
Aku beranjak dari tempat ku. Aku hendak ke musholla kampus menghampiri Fadli. Aku yakin Fadli pasti ke musholla bila marah, kesal, gundah, dan sedih.
...-♡-...
Aku menatap punggung Fadli yang tengah mengaji. Aku tak langsung menghampiri Fadli. Aku mengambil wudhu terlebih dahulu. Dan, mengenakan mukenah yang di siap kan musholla ini. Tak lupa membawa al-qur'an beserta meja Qur'an. Setelahnya aku menghampiri Fadli.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh akhi. " Salam ku, sambil tersenyum kepada Fadli.
Fadli tersentak dengan kehadiran ku.
Fadli menyudahi bacaannya.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas Fadli.
" Sendiri aja akhi? Kalau sendiri bisa ngaji bersama gak? Pahalanya semakin besar loh. " Goda ku.
Fadli tersenyum menatap ku.
" Pahala bila ngaji berdua dengan istri. Tapi, kalau ngajii berdua dengan yang bukan mahramnya malah jadi dosa. Ukhti ini siapa ya? Istri saya atau cewek yang bukan mahram saya? " Balas Fadli, menggoda ku.
Aku dan Fadli terkekeh sejenak.
Untung saja musholla ini tidak ada orang. Eh, entah bahagia atau sedih ya? Bukan kah musholla ini terlihat sangat jarang dihampiri oleh orang-orang. Sungguh sangat miris sekali hari ini. Musholla adalah tempat ibadah. Terlihat sekali bila orang-orang kini sangat jarang sekali beribadah kepada rabbnya.
" Oh, iya saya lupa. Istri saya kan lagi marah sama saya. Gak mungkin dong kalau istri saya. Berarti ukhti cewek yang bukan mahram saya. Kalau gitu saya tidak dapat menerima tawaran ukhti. Takut saya khilaf ke ukhti, yang bikin kita berdua berdosa. " Lanjut Fadli.
" Oh, lagi berantem sama istrinya akhi? Kalau gitu akhi kok tahan sama istrinya akhi? " Canda ku.
Kaya lagi main sinetron aja nih.
Aku mendudukan diri ku di depan Fadli. Sehingga memudahkan kami berdua mengaji bersama.
" Bukan berantem ukhti. Lebih tepatnya karena saya yang kurang peka ke istri saya. Dan, ini salah saya ukhti. Tak ada alasan buat saya meninggalkan istri solehah saya, barang setitik pun. Harusnya saya yang harusnya bertanya mengapa istri saya tetap bertahan dengan saya. " Jawab Fadli.
" Mungkin istri akhi berfikiran sama seperti akhi. Tak ada alasan barang setitik pun yang dapat membuat istri akhi meninggalkan akhi. " Jelas ku.
" Oh, gitu ya ukhti. Ukhti tahu istri saya itu sangat cantik, manis, solehah, pokoknya ciri-ciri bidadari surga saya. " Puji Fadli.
Waduh, di bilangin gitu malah jadi meleleh hati ku.
" Ah, udah lah. Gak usah kaya gitu-gitu lagi. Malu tahu. Kalau ada yang denger gimana? " Putus ku.
" Gak papa dong. Emang yang saya katakan itu kenyataan. Harusnya yang tersipu malu itu istri saya. Bukan ukhti. " Goda Fadli.
Haduh, Fadli buat aku malu aja. Rasanya diterbangin ke awang-awang.
" Ih~ Fadli. Udahan dong. Kapan kita ngajinya nih? Bentar lagi aku ada kelas tahu. " Kesal ku.
Fadli mengusap kepala ku sekilas. Lalu, tersenyum kepada ku.
Aku mengangguk.
Kami berdua mengaji bersama sampai aku pamit terlebih dahulu karena ada kelas.
...-♡-...
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku, kepada Cahya dan Septi.
Lalu, aku mendudukan diri ku di kursi ku.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. "Balas Septi dan Cahya.
" Kamu dari mana aja, Han? Lama banget. " Tanya Septi.
" Ada urusan sebentar tadi. " Jawab ku.
Setelahnya dosen datang memulai ajarannya.
...-♡-...
" Ngeselin banget dah tuh dosen. Bikin kepala ku gak bisa istirahat barang sedetik pun. " Omel Septi, di tengah-tengah makannya.
Karena tugas yang di berikan dosen ke Septi.
" Sabar aja lah, Sep. Mungkin aja dosen kita lebih baik dari pada dosen lainnya. Kita kan gak tahu. " Tenangkan ku.
" Kamu sih enak. Kamu pinter. Tugas kamu juga tidak terlalu berat. Lah, aku. Aku udah biasa aja dalam akademik. Eh, malah di kasih tugas berat plus bejibun. " Curhat Septi.
" Woy, kalau kamu gak pinter, mana bisa kamu masuk kampus ini. Kampus yang terkenal di indonesia, atas pencapaian banyak murid yang menjadi sukses selepas keluar dari kampus ini. " Senggah ku.
Septi hanya cemberut.
" Dan lagi, menurut aku. Tugas yang paling berat plus bejibun itu Hana. " Ucap Cahya.
Septi menatap sinis Cahya.
" Kenapa sih, kamu ikut nimbrung kalau aku lagi terpojokan? Kalau aku lagi pengen ngolok orang dan meminta bantuan ke kamu, kamu malah lemot. Tapi, kalau aku terpojokan malah kamu langsung nyambung sama mereka. " Kesal Septi, ke Cahya.
" Biarin. Wle. " Olok Cahya.
Aku melihat Septi yang sangat kesal sama Cahya.
" Udah-udah. Kok malah berantem. Mending tuh makan, dah. " Tengah ku.
Septi tak memperdulikan ucapan ku. Septi menyalurkan amarahnya dengan memakan makanan dengan sangat cepat
Huft~
" Pelan-pelan, Sep. Nanti tersedak, loh. " Peringat ku.
Benar kan. Septi pun tersedak makanannya sendiri.
Aku cepat-cepat memberikan minuman ke Septi. Septi langsung meminum minuman yang ku berikan, hingga tandas.
" Makanya kalau makan itu pelan-pelan. Jadi tersedak kan. " Ingatkan ku.
Septi cemberut. Lalu, Septi mengangguk, lemas.
-♡-
Aku hendak menuju parkiran motor ku. Aku tak bersama teman-teman ku. Karena Septi masih ada urusan di kampus. Sedangkan Cahya memang setiap mau pulang kampus, dia selalu di jemput papanya menggunakan mobil.
" Hana!! " Panggil seseorang.
Aku berbalik melihat orang itu.
Pandu?
" Iya? " Tanya ku.
" Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Bisa ngomong sebentar? " Pinta Pandu.
Ada apa sih?
" Di sini aja, gak bisa? " Tanya ku, lagi.
" Enggak, Han. Ini terlalu rame. kita cari tempat yang lebih sepi tapi masih dilewati orang-orang. " Jawab Pandu.
Kenapa sih ni anak satu?
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^NGAPAIN SIH PANDU? JADI PENASARAN, DEH. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^