
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...NGAMBEK, CEMBURU, BERTENGKAR, BERBEDA PENDAPAT. ITU ADALAH BUMBU PENYEDAP DALAM RUMAH TANGGA. SEHINGGA BILA DIKOMBINASIKAN TERCIPTA SESUATU YANG SANGAT INDAH DAN KENANGAN YANG TAK TERLUPAKAN....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Iya, kata papa juga gitu. Kita gak boleh terlalu deket-deket sama yang bukan mahramnya. " Setuju Cahya.
" Tumben pinter. " Sinis Septi.
" Sep, gak boleh bilang gitu. Gitu-gitu, Cahya adalah temen kita. " Peringat ku.
Septi hanya cengengesan, bukannya menyesali atau meminta maaf ke Cahya.
《~》
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam Fadli yang baru saja sampai dari kampus.
Kami sampai ke rumah barengan. Pasti Fadli mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas ku.
Aku mencium tangan Fadli.
Aku tak langsung menutup pagar. Membiarkan Fadli memasukan sepeda motornya terlebih dahulu. Setelahnya ku tutup pagar rumah.
Aku menghampiri Fadli, yang tengah memarkirkan sepeda motornya di garansi.
" Kamu ngendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi? Punya nyawa berapa kamu? Sampai-sampai memakai kecepatan tinggi? " sindir ku.
Fadli terkekeh dengan ucapan ku.
" Aduh, istri ku lagi marah ya? Atau khawatir? Kalau khawatir berarti cinta dong sama aku. Sampai-sampai gak mau aku kenapa-kenapa. " Goda Fadli.
Wah~ Fadli ini. Lagi di omelin sama istri, bukannya minta maaf dan gak ngulangin lagi, malah godain istrinya.
" Ih~ Kamu ini. Aku serius. " Kesal ku.
" Haduh, haduh. Ternyata istri ku lagi serius. Aku juga serius kok. " Goda Fadli.
Ku pukul pelan lengan Fadli.
" Kamu ini. " Ngambek ku.
" Iya-iya sayang. Gak lagi deh. Tapi, gak tahu lagi ya. Takutnya aku khilaf. Hehe. " Menyerah Fadli.
" Gitu dong. " Senang ku.
" Kamu tadi kenapa? Apa ada yang sakit? " Tanya Fadli, yang mulai serius.
" Ya gitu deh. Lemes dikit. Tapi, udah gak papa kok. Kamu tenang aja. " Jawab ku.
" Jangan serius-serius gitu dong mukanya. Aku gak papa kok. " Tenangkan ku.
Aku mengusap muka Fadli, dengan senyuman. Fadli membalasnya dengan senyuman nya.
" Semoga allah selalu memberikan yang terbaik buat hubungan kita. " Pinta Fadli.
" Aamiin. " Aamiin kan ku.
Fadli mengusap perut ku.
" Assalamu'alaikum, nak. sehat-sehat di perut bunda ya nak. Jangan buat bunda mu kesakitan nak. Bantu bunda mu berjuang ya nak. " Ucap Fadli, seraya mendekat ke arah perut ku.
Ku usap kepala Fadli lembut.
" Wa'alaikumussalam, ayah. Aku akan perjuangin yah. " Jawab ku, sambil menirukan suara bayi.
Fadli menatap ku dengan tersenyum. Yang ku balas dengan hal serupa.
" Yang kuat ya istri ku, ibu dari anak-anak ku. " Ucap Fadli.
" Doain ya suami ku. " Pinta ku.
...-♡-...
Aku melihat Cahya bersama pria paruh baya di sebelahnya. masuk ke dalam butik yang dimana aku bekerja.
" Loh, Hana! " Kaget Cahya.
Aku menghampiri Cahya dan pria paruh baya itu yang ku yakini papanya Cahya. Karena Cahya mirip dengan pria itu.
" Pa! Ini sahabat Cahya. Namanya Hana, pa. " Perkenalkan Cahya ke papanya.
" Salam kenal, om. Saya sahabatnya Cahya. " Salam ku.
" Oh, ini sahabat kamu. Kamu tahu Hana, Cahya sering banget ceritain kamu dan Septi. Katanya kalian sahabat pertama dan paling baik di dunia ini menurut Cahya. " Ucap papanya Cahya.
Aku tersenyum.
" Kamu kok di sini, Han? " Tanya Cahya.
" Iya, aku kerja di sini. " Jawab ku.
" Oh, iya. Sampai lupa melayani kamu. Ada yang bisa aku layani nona, tuan. " Formal ku.
" Ih~ Hana. Jangan formal gitu dong. Biasa aja, oke? " Pinta Cahya.
" Maaf nona. Ini tanggung jawab saya. Saya harus melayani nona dan tuan tanpa melihat kedekatan diantara kita. " Tolak ku.
Cahya cemberut mendengarnya.
" Sudah lah Cahya. Yang di katakan Hana benar. Dia adalah seorang pegawai di sini. Hana telah di berikan tanggung jawab. Hana harus memenuhi tanggung jawab itu. Kamu sebagai teman harusnya membantu Hana menjalan kan tanggung jawab yang dititipkan ke Hana. Jangan malah membuatnya lalai akan tangung jawab nya. " Nasehat papa Cahya ke Cahya.
" Ya udah deh. " Pasrah Cahya.
Aku pun melayani Cahya dan papanya dengan selayaknya seorang penjual kepada pembelinya.
...-♡-...
Aku menunggu jemputan Fadli. Karena tadi aku berangkat kerja bersama Fadli. Aku masih kepikiran dengan Cahya.
Maafin aku Cahya. Semoga kamu ngertiin aku.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam Fadli, setelah berada di depan ku.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas ku.
Aku mencium tangan Fadli.
" Kamu pasti nunggu lama. Maaf lama jemput nya. Soalnya resto lagi rame tadi. " Sesal Fadli.
" Gak papa. Aku juga tadi ada yang nemenin. Karena ada salah satu pegawai yang belum pulang tadi. " Tenangkan ku.
Fadli mengangguk.
Aku menaiki sepeda motor. Untung saja tadi aku dan Fadli memakai sepeda ku bukan sepeda Fadli. Kalau enggak, pasti aku kesusahan buat naiknya. Apa lagi perut ku yang mulai membuncit.
Fadli menjalankan sepeda motor dengan aku yang diboncengi Fadli.
" Han. " Panggil Fadli.
Aku pun mendekatkan diri ku ke Fadli. Dan, mencondongkan kepala ku ke Fadli.
" Iya? " Respon ku.
" Kita kapan check up, lagi? Kalau gak salah kandungan kamu sudah mau ke trimester tengah ya? " Ucap Fadli.
" Belum lah, Fad. Kita aja baru check beberapa hari yang lalu. Kamu segitu pengen nya ya, lihat anak kita? " Goda ku.
" Iya. Dan, juga aku mau lihat kondisi kamu. Aku gak mau tubuh kamu ngedrop. " Dingin Fadli.
DEG
Ya allah.
" Doa in aja Fad. " Cicit ku, yang pastinya masih terdengar oleh Fadli.
Beberapa saat aku dan Fadli tak berbicara apa pun.
" Fad, aku ngidam sayur sop. Tapi, aku masak sayur asem. Gimana dong? " Ungkap ku.
" Ya udah kita buat aja. Terus kita makan bareng-bareng sama anak-anak. Kita gak usah beliin nasi buat mereka. Pakai masakan kamu aja. " Saran Fadli.
" Tapi.. aku belum beli sayur-sayur buat sop. " Frustasi ku.
" Ya, besok aja kalau gitu. Pasar jam segini udah pada tutup semua. Kamu sabar aja. Kita besok buat sop banyak. " Tenang kan Fadli.
" Tapi-tapi kan aku mau sekarang. " Rengek ku.
" Fad, aku mau makan malam ini. Aku gak mau nunggu besok. " Manja ku.
" Ya udah gini aja. Kita beli nasi di salah satu warteg yang masih buka ya? Mungkin wartegnya jualan sayur sop. " Pecahkan Fadli.
Aku menopangkan kepala ku ke bahu Fadli. Lalu, mengangguk.
...-♡-...
" Tuh makan. Makan yang banyak. Kalian butuh nutrisi. " Perintah Fadli.
Aku menatap Fadli senang. Ketika melihat nasi dan lauk. Pastinya dengan sayur sop.
" Makacih. " Ucap ku, di imut-imut kan.
Aku dan Fadli langsung melahap makanan itu. Kami makan di satu piring. Sejak kejadian Fadli meminta untuk sholat berjamaah untuk pertama kalinya, ia meminta untuk makan bersama di satu piring. Mencontoh perbuatan Rasulullah kepada istri beliau.
Tapi, kami tidak minum di satu gelas. Kami masih terlalu malu untuk itu. Mungkin kami akan minum satu gelas ketika kami hanya memiliki satu gelas saja.
" Et, itu lauk nya mau di makan? " Cegah ku,saat Fadli hendak menyuap kan salah satu lauk yang dari tadi tak ku sentuh karena aku ingin menikmatinya setelah makan.
" Iya? Emang kenapa? " Bingung Fadli.
" Ih~ Itu aku sisain buat nanti. Itu lauk nya udah aku jauhin dari kita. Biar gak di ambil. Eh, malah kamu mau makan tuh lauk. " Kesal ku.
" Bilang dong dari tadi. Nih, buat kamu. " Kesal Fadli, sambil menyerahkan lauk itu kepada diri ku.
" Kok aku di salahin? Kamu yang gak peka. " Marah ku.
Aku mengambil paksa lauk itu.
" Lah, kok malah bahas peka? Sejak kapan makan harus menggunakan kepekaan. Kalau make kepekaan berarti aku gak bakal tega makan lauk ini. Lauk ini kan makhluk hidup. Pasti kalau di hancurkan di gigi malah kesakitan. " Tak setuju Fadli.
" Au ah. Kok jadi malah bahas nih lauk. Kalau kamu mau makan nih lauk makan aja. Sekalian makan punya aku. Aku udahan. " Akhiri ku.
Aku beranjak dari tempat ku. Aku mencuci tangan ku di westafel dapur.
Aku menghampiri Fadli.
" Aku udah gak mood makan lagi. Dan, sekalian di cuci in tuh piring. Besok jangan harap di masakin, kalau aku masih ngambek. Ngerti. " Peringat ku.
Aku langsung meninggalkan Fadli begitu saja menuju kamar. Entah kenapa aku sudah tidak mood makan lagi. Dan, aku kali ini sangat-sangat kesal sama Fadli.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^WADUH, BUMIL LAGI MAU BERUBAH MENJADI MACAN NIH. SIAP-SIAP FADLI HARUS SERBAH SABAR DAN MENGALAH. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^