HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 24



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...KU LAKUKAN SEMUA INI UNTUK MENEMANI HARI KOSONG MU TANPA AKU. SEMOGA KAMU DAPAT MENGERTI DIRI KU NANTI....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Fadli dan Hana memasuki toko itu. Fadli dan Hana merasa sangat kagum dengan toko ini. Pasalnya toko ini menjual berbagai kebutuhan, koleksi, souvenir DLL yang bertema islam.


" Masya allah. Kenapa aku baru tahu tempat ini? Sungguh sangat menenangkan, apalagi dengan murotal ayat Al-Qur'an terdengar sangat jelas di sini. Sungguh indah ciptaan mu, ya allah. " Batin Fadli dan Hana.


Hana berjalan berkeliling, yang di ikuti Fadli di belakangnya. Hati Hana bergetar saat melihat-lihat. Sungguh ini sangat indah dan tenang untuk Hana dan fadli. Hati mereka tiba-tiba menghangat hanya melihat hiasan yang bertema islam ini.


《~》


(AUTHOR POV OFF)


(HANA HILMI POV ON)


Ku sentuh dua hiasan. Hiasan itu berbentuk pigura yang mempunyai tulisan arab 'Allah.' dan 'muhammad.'. Ku tatap lekat-lekat pigura itu. Hingga beberapa saat.


Aku menoleh menghadap Fadli.


" Kita beli ini, ya? Kita kan gak punya hiasan sama sekali buat di rumah. Oke? " Pinta ku.


Fadli menghembuskan nafas pasrah.


" Aku ngikut kamu aja. Kalau kamu mau beli, aku bakal ijinin kamu. " Jawab Fadli.


Aku mengangguk mengerti.


Aku berjalan ke arah keranjang. Ku ambil satu keranjang. Lalu kembali ketempat ku tadi. Ku masukan pigura tadi. Setelahnya aku berkeliling lagi.


Netra mataku melihat sebuah pigura yang cukup besar, bertulisan surah Al-Qur'an.


" Aku mau yang itu. Ya? " Izin ku.


Fadli mengangguk.


Aku meminta salah satu pegawai toko ini untuk mengambilkan satu pigura tersebut.


" Terima kasih, mas. " Syukur ku.


" Iya, mbak. " Jawab pegawai toko itu.


Aku kembali berkeliling.


Langkah ku kembali terhenti. Aku melihat sebuah tanaman palsu. Ternyata di sini bukan hanya menjual tentang islam. Mereka juga menjual tanaman palsu.


" Boleh gak? " Tanya ku.


" Boleh-boleh aja. Tapi, harus inget uang buat bayar itu. " Peringat Fadli.


Aku terkekeh pelan.


Ku ambil beberapa pot kecil yang berisi bunga palsu. Setelahnya ku letakkan di keranjang. Pas untuk di letakkan di ruangan-ruangan rumah. Agar ruangannya terlihat lebih hidup.


" Sini. Aku bawain. " Perintah Fadli, sambil membawa troli belanja.


Aku mengangguk.


Kenapa gak dari tadi sih suami ku? Kan aku capek bawa keranjang berat-berat. Sabar-sabar.


Ku letakkan barang-barang yang ada di keranjang menuju ke troli. Troli itu di dorong oleh Fadli, mengikuti ku di depannya. Aku kembali berkeliling.


DEG.


Aku melihat sebuah cadar. Ku langkah kan kaki ku menuju tempat cadar. Ku ambil satu buah cadar. Ku lihat sekeliling. Cadar ini terletak dekat dengan kerudung. Jadi terdapat kaca di sini. Aku menghampiri kaca itu dengan satu buah cadar yang berwarna hitam itu.


Ku tatap diri ku sejenak. Aku tak menghiraukan keberadaan Fadli kini. Aku mencoba mendekatkan cadar itu ke depan wajah ku. Aku tak terlalu menempelkannya. Karena aku takut akan mengotori cadar ini. Aku hanya mendekatkannya. Aku sedikit termenung menatap diri ku yang tertutup cadar.


" Kamu cocok kalau make itu. " Ucap Fadli.


Aku tersentak, karena Fadli tiba-tiba bicara.


" Makasih. " Ucap ku.


Aku kembalikan cadar itu di tempatnya. Aku melanjutkan langkah ku. Aku berusaha tak merasakan apa-apa. Padahal dalam hati ingin sekali aku menggunakannya. Hati ku sekarang berdetak dengan cepat. Ku gigit bibit bagian dalam ku, pelan.


Aku mengalihkan perasaan ku dengan memilih-milih kurma.


" Kita beli ini ya? Buat di makan di rumah. " Pinta ku.


Fadli mengangguk.


Huft~


Beberapa saat kemudian giliran ku untuk membayar.


" Apakah sudah ini saja, kak? " Tanya mb. Kasir.


Aku kembali menggigit bibir dalam ku.


Aku sangat bingung.


" Eh, tunggu sebentar mbak. Saya lupa mengambil sesuatu. " Hentikan ku.


Aku berjalan menuju tempat cadar. Ku ambil satu cadar. Lalu kembali ke tempat kasir.


" Maaf menunggu, mbak. Saya juga membeli ini. "


Mb. Kasir itu mengangguk.


" Baik mbak. " Respon mb. kasir.


Setelahnya aku membayar semua pesanan ku. Setelahnya aku keluar dari toko ini menuju parkiran. Fadli yang membawakan barang-barangnya. Aku langsung masuk ke dalam mobil, tanpa membantu Fadli. Hati ku berdetak dengan sangat cepat.


" Kenapa di beli? Bukannya tadi sudah di taruh. " Tanya Fadli, setelah masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil.


" Gak papa. Buat jaga-jaga. Kalau kita mau haji atau umroh, aku bisa pake itu. " Jawab ku, dingin.


Fadli terkekeh.


Fadli mengusap kepala ku dengan tangan kiri nya.


" Bisa aja istri ku ini. " Ledek Fadli.


Aku tak menghiraukan ledekan Fadli. Aku hanya menatap lurus kedepan, sambil meminimalisir sesuatu rasa yang ada di hati ku.


...-♡-...


" Taruh di sini, ya? " Ijin Fadli.


Aku mengangguk.


" Tapi, yang itu geser dikit. " Pinta ku.


Fadli menuruti ucapan ku.


Kami berdua tengah menghiasi tanah kosong yang ada di depan rumah, dengan tanaman.


" Udah? " Pastikan Fadli.


Aku mengangguk.


" Ya udah, kamu masuk aja. Biar sisanya aku yang urus. Kamu ngurus yang di dalam aja. " Perintah Fadli.


Aku mengangguk.


Aku melangkah ke dalam rumah. Aku mengambil barang-barang yang di beli dari toko islam tadi. Tangan ku terhenti sesaat. Aku mengambil cadar yang ku beli tadi.


Aku pergi ke dalam kamar. Aku bercermin di kamar. Ku pakai cadar itu dengan benar. Sesaat aku terpaku dengan penampilan ku. Aku terdiam cukup lama, melihat diri ku yang mengenakan cadar.


Aku tak tahu kapan akan memakai ini. Yang kutahu aku ingin mengenakannya. Tapi kapan?


Huft~


Aku melepaskan cadar ku. Ku letakan cadar itu ketempat yang telah ku sediakan untuk pakaian yang akan ku cuci. Aku berjalan menuju keluar kamar. Aku mengambil tanaman hias. Ku letak kan ke tempat yang sekiranya perlu. Cukup lama aku menata tanaman hias itu.


" Udah? " Tanya ku, setelah melihat Fadli masuk.


Fadli mengangguk.


Fadli berjalan menuju kamar mandi. Aku hanya menatap punggung Fadli yang semakin menjauh.


Aku gak tahu, Fad. Sampai kapan aku ada di sini. Aku harap kamu mulai terbiasa tanpa aku. Aku menata rumah ini agar lebih hidup untuk kamu. Ku harap dengan ini kamu tidak akan sedih terlalu lama. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu.


Aku kembali menata tanaman hias. Setelah selesai menata, aku melihat Fadli keluar dari kamar mandi.


" Buat pigura nya biar aku aja yang letakkan. Kamu tinggal instruksikan ingin di tempatkan kemana pigura nya. " Instruksikan Fadli.


Aku mengangguk pasrah.


Kami berdua menata sisa hiasan. Hiasan bertulisan surah di letakkan di dinding ruang tamu. Dan, yang bertulisan 'allah' dan 'Muhammad' di letakkan ke dalam kamar. Di rumah ini memiliki 3 kamar. Satu kamar ku dan Fadli. Satunya lagi kamar kosong. Dan, sisanya adalah kamar yang sering Fadli gunakan untuk sholat. Aku dan Fadli memutuskan kamar itu di gunakan untuk musholla rumah. Kalau ada tamu bisa sholat di sana.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^KALIAN DI RUMAH PUNYA RUANGAN BUAT MUSHOLLA ATAU ENGGAK? GAK BAYANGIN SIH GUYS, KAYA GIMANA FADLI TAHU KALAU AYNI SAKIT. TAPI, INI AYNI BENER-BENER SAKIT KAN? IDK. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^