
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...AKU EMANG KESAL DENGAN KEPEKAAN KAMU. TAPI, KAMU TERLALU LUCU. JADI, AKU GAK BISA MARAH LAMA-LAMA SAMA KAMU, KARENA KAMU LUCU....
...《♡HANA HILMI♡》...
" Iya, mereka baik banget. Mereka sering bantuin saya. " Ucap Bu Laila.
Aku tersenyum menatap anak-anak.
Sayang banget aku sama mereka.
Ku lihat anak perempuannya pak ustadz. Dia tengah menatap Fadli, malu-malu.
Apa dia suka sama Fadli? Susah amat punya suami ganteng dan pintar.
《~》
Pagi ini aku dan Fadli mau mencari kerjaan. Kami akan mengendarai motor sendiri-sendiri. Aku buka pagar rumah. Lalu aku dan Fadli mulai mengeluarkan motor kami. Setelahnya ku tutup pagar kembali.
" Mbak, Hana! " Panggil seseorang.
Saat aku hendak menekan gas, ada seseorang yang memanggil ku. Aku pun mengurungkan niat. Fadli masih menunggu ku.
Aku menatap orang yang memanggilku.
Mas Furqon? Ada apa?
Ternyata Furqon anak pak ustadz yang memanggil ku.
" Iya, mas Furqon? Ada apa? " Tanya ku to the poin
Aku memanggilnya mas karena sebagai tanda hormat dan formal.
" Umi. Umi meminta saya mengundang mbak ke pengajian beliau, setelah ba'da ashar. Mbak bersedia datang kan? " Undang mas Furqon.
" Insya allah, mas. Lihat nanti saja. " Jawab ku.
Furqon pun mengangguk paham.
Setelahnya aku dan Fadli mulai berangkat.
...-♡-...
Bismillah. Semoga kali ini aku di terima. Gak di tolak lagi.
Aku melangkahkan kaki ku memasuki salah satu toko. Ku temui pemilik toko itu.
" Permisi pak. Apa lowongan di sini masih ada? " Tanya ku.
" Ah, sudah mbak. Sudah ada yang menempati lowongan tersebut mbak. Maaf mbak. " Jawab pemilik toko itu.
Aku tersenyum formal. Lalu berpamitan. Setelahnya aku keluar dari toko itu.
" Gimana? " Tanya Fadli.
" Belum rejeki. " Jawab ku, sambil tersenyum.
" Ya udah, kita pulang dulu aja. Kita sudah banyak mencari lowongan. Besok lagi. Lagian nanti kamu mau ke acara pengajian Bu Laila kan? " Instruksi Fadli.
Aku hanya mengangguk pasrah.
Sudah banyak tempat yang telah aku dan Fadli datangi. Namun, tak ada satu pun yang dapat.
Ya udah lah, Emang cari kerjaan itu susah. Apalagi aku hanya punya ijazah SMA. Sabar aja. Kalau udah rezekinya pasti dapat.
Huft~
" Kita beli makanan buat anak-anak dulu ya mas. " Pinta ku.
Fadli mengangguk.
Kami langsung membeli nasi untuk anak-anak. Setelahnya kami pergi ke anak-anak untuk memberikan nasinya. Aku langsung pulang. Karena aku sudah terlalu capek banget dan mau siap-siap ke acara pengajian.
" Fad. Aku berangkat dulu, ya? " Izin ku.
Fadli mengangguk.
" Hati-hati. " Pesan Fadli.
Aku mengangguk.
Ku ambil tangan Fadli, lalu ku cium tangannya.
...-♡-...
" Sudah dapat tempat yang mau kamu lamar? " Tanya Fadli, tiba-tiba.
Aku mendongakan kepalaku menatap Fadli.
" Sudah, beberapa. Tapi, masih belum selesai. Kamu udah kan? " Ucap ku.
" Sudah. " Jawab Fadli.
Aku mengangguk.
Aku mulai kembali dengan kegiatan ku. Yaitu mencari tempat yang mau ku lamar di koran. Membiarkan Fadli yang masih berdiri menatap ku di tempatnya. Tak juga Fadli duduk di sebelah ku.
" Kelihatannya Furqon suka sama kamu. " Ucap Fadli.
Aku mengerutkan kening.
" Terus? Kalau suka ya gak papa. Aku gak berhak ngatur-ngatur dia. Lagian kan itu hanya suka. Bukan cinta. " Santai ku.
Fadli menarik lengan ku.
" Kalau dia cinta sama kamu gimana? " Sinis Fadli.
Aku menatap Fadli tak percaya.
" Ha? Ya gak gimana-gimana. Gak ada yang bisa ngatur perasaan. Lagian aku biasa aja sama Furqon. Kamu itu yang gak biasa. Sampai-sampai anak perempuan pak ustadz suka sama kamu. " Sinis ku.
" Kok jadi bahas anak perempuannya pak ustadz sih? Kita lagi bahas kamu sama Furqon loh. Jangan ngehindarin topik dong. " Kesal Fadli.
" Dih, siapa yang menghindari topik. Aku gak ngehindar ya. Orang aku sama Furqon gak ada hubungan apa-apa. " Tak terima ku.
" Pokoknya kamu jangan dekat-dekat dengan Furqon. " Putus Fadli.
" Ha? Apaan. Mana ada aku deket-deket dengan Furqon. Kamu cemburu ya? Ngaku deh? Bilang aja kalau cemburu. " Tuding ku.
" Enggak. Dari mana aku cemburu. Kamu itu yang cemburu. Pake bahas anak perempuannya pak ustadz. " Tuduh Fadli.
Apaan sih? ngeselin banget si Fadli.
" Enggak, yah. Angger nuduh aja. " Tak terima ku.
" Lah, tadi apa? Apa tadi bukan nuduh. " Ingatkan Fadli.
" Terserah deh. Lagian aku gak cemburu sama anaknya pak ustadz. Aku hanya jagain suami ku aja. Biar gak di gondol kucing garong. " Bela ku.
" Sama. Aku bukannya cemburu. Tapi, jagain istri biar gak jadi kucing garong. " Sarkas Fadli.
Ih~ Ngeselin banget sih Fadli.
Ku ambil bantalan sofa. Lalu memukul Fadli dengan bantal.
" Ahkk!! Ampun-ampun. " Ampun Fadli.
" Gak mau. Kamu kok nyebelin, sih? Istri sendiri di bilang kucing garong. " Tolak ku.
" Aduh!! aduh!! Enggak. Tadi aku bilang masih mau. Jadi aku jagain. " Jelaskan Fadli.
" Owh. Maksud kamu aku bisa jadi kucing garong? Ih~ ngeselin banget sih kamu. " Kesal ku.
Aku menghentikan kegiatan ku tadi. Ku dekap tangan ku.
Astaghfirullah hal adzim.
Ngeselin!!!
" Hey, maaf kalau aku salah. " Sesal Fadli.
Fadli beranjak dari tempatnya, menuju hadapan ku. Dia berlutut disana. Dan, mengusap lembut kepala ku.
" Maaf ya istri ku. Jangan marah lagi, ya. " Ucap Fadli.
" Gak ada yang marah. " Sinis ku.
" Oke. " Jawab Fadli.
Ha? Gak peka banget sih. Ih~ cuma gitu aja ngehibur nya. Au ah kesel aku.
" Ih~ Kok kamu ngeselin sih. " Marah ku.
Huft~
Susah ngomong sama orang enggak peka.
" Au ah. " Akhir ku.
Aku mengambil koran dan berjalan menuju kamar.
" Loh? Aku salah apa lagi? Han!! Hey! " Ucap Fadli, serba salah.
Fadli mengikuti ku dari belakang, mencoba menggapai lengan ku. Tapi, aku semakin berjalan cepat. Lalu saat sudah masuk kamar, aku cepat-cepat menutup pintu. Agar Fadli tidak masuk.
" Tidur di luar!! " Teriak ku.
Aku merebahkan diri ku diatas kasur, dan kembali mencari kerjaan di koran.
...-♡-...
Aku ingin mengambil minum di dapur. Tadi, lupa untuk mengambil air minum sebelum tidur. Aku melewati sofa.
Kok gak ada Fadli? Dimana dia? Wah, gak bisa dibiarkan.
Aku menaruh ceret di meja ruang tamu. Aku mencari sekeliling rumah.
Disini juga gak ada? Kemana dia?
Aku mencoba mencari di kamar satunya lagi.
Bismillah.
Saat ku buka pintunya, terlihat jelas Fadli sedang tidur dengan sangat nyaman. Fadli tidur di kasur lipat. Aku mendekati Fadli, dengan cepat.
" Ya allah. Di suruh tidur di luar malah tidur di sini! Kalau gini sih sama aja. Sama aja kamu kayak tidur di kamar kita. " Teriak ku.
Aku berlutut. Dan, ku tepuk-tepuk pipi Fadli.
" Bangun, bangun, woy!! " Perintah ku.
Fadli terusik dari tidurnya. Fadli menatapku bertanya.
" Kamu ini!! Di suruh tidur di luar, malah tidur di sini. Maksud aku itu tidur di sofa. Bukan tidur di sini! " Sentak ku.
" Kan sama aja, Han. " Ucap Fadli, serak. Khas bangun tidur.
" Ya beda lah, Fadli Firdaus! Di sofa kamu gak akan bisa selonjoran. Di sini kamu bisa. Di sana juga pasti badan kamu langsung capek-capek besoknya. Dan, aku hukum kamu dengan itu. " Jelas ku.
" Ya allah, Han. Jahat banget kamu ama suami sendiri. Emang aku salah apa sih, istri ku yang cantik. " Ucap Fadli.
DEG
Ya allah, kenapa jadi pengen gak marah. Ah, gak boleh. Fadli harus di hukum, biar peka dikit. Gak boleh terpengaruh gombalan buaya dia.
" Banyak. Banyak banget. Dari kamu yang marah-marah gak jelas, padahal aku gak ada hubungan apa-apa sama cowok lain. Terus kamu ngatai kucing garong. Dan, yang paling parah itu, kamu yang gak peka! " Sinis ku.
" Ya allah, Istri ku. Maaf ya buat masalah aku marah-marah gak jelas dan ngatain kamu kucing garong. Tapi, kalau masalah gak peka, emang aku gak peka apa? " Bela Fadli.
Aku cubit perut Fadli.
" Ih~ sudah salah malah bela diri. Kamu itu gak peka! Au ah. Nanti kalau makan beli di luar aja. Aku gak mau masak. " Ancam ku.
Aku ingin beranjak dari tempat ku, Fadli menarik lengan ku. Lalu membawa tubuhku ke dekapan dia.
" Jangan gitu, istri ku. Kalau kamu gak masak terus aku makan apa? Di luar kan yang jualan nasi pada saat pagi, jarang. Harus pergi ke pasar dulu, kalau mau beli makan. Nanti aku keburu lemes. Jadi aku mohon kamu masak, ya? " Mohon Fadli.
Aku terkekeh dengan permohonan Fadli.
Aku kayaknya gak bisa marah lebih lama lagi sama nih cowok.
" Oke, oke. Tapi, ada satu syarat. Kamu jalani hukuman kamu. Atau, kalau kamu gak jalani hukuman kamu, aku gak akan masak. Ngerti! " Tegas ku.
Aku menarik diri ku. Lalu beranjak pergi dari kamar ini.
" Han! Tega banget sih kamu! " Teriak Fadli
Aku terkekeh geli.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^KIYUT. ADUH AUTHOR BAPER DENGAN PEMERAN KARANGAN AUTHOR SENDIRI. YA ALLAH, SISAKAN SATU COWOK YANG KAYAK FADLI, BUAT AUTHOR. HEHEHE. ROMANTIS BANGET SIH, SI FADLI. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^