HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 20




*KURANG LEBIH YANG DI BUAT HANA, SEPERTI INI. TAPI, BUKAN PERSIS KAYA GINI. INI DI AMBIL DI PINTEREST.


...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...APA PUN MASALAHNYA DALAM RUMAH TANGGA. YAKINLAH ITU SEBAGAI PENGHARMONIS DALAM SUATU RUMAH TANGGA....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


" Apa bangunan ini gak bakal di pakai lagi? Kalau iya aku bawa anak-anak ke sini. " Penasaran ku.


" Gak tahu. " Jawab Fadli.


" Masa kamu bangun rumah di dekat sini, gak cari-cari info di sekeliling rumah kamu sih. " Kesal ku.


Fadli tak merespon.


Huft~


" Udah lah kita pulang aja. " Putus ku.


Aku pun melanjutkan perjalanan ku.


Seharian itu aku terus-menerus memikirkan rumah itu. Aku pengen banget ajak anak-anak kesana buat pindah.


《~》


"Fad, aku kerja dulu, ya? Semangat buat cari kerjanya. " Semangat ku.


Fadli mengangguk.


Ku ambil tangan Fadli, dan ku salimi tangannya. Fadli mengusap kepala ku.


" Hati-hati. Semangat kerjanya ya, istri ku. " Semangatkan Fadli.


Aku terkekeh dengan ucapan Fadli.


Si Fadli suka gombal banget sih. Aku gak pernah di gombalin kaya gini sama lelaki lain. Jadi, aku agak geli mendengarnya.


" Makasih suami ku. " Balas ku.


Sungguh aku kaya anak remaja yang baru pacaran. Lebay, oy. Ntar juga manggil nama lagi.


Fadli terkekeh sejenak.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, mas suami. " Salam ku.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, adek istri. " Balas Fadli.


Aku terkekeh.


Lama-kelamaan aku dan Fadli mulai ngawur.


" Udah ah. Aku pamit dulu. " Akhiri ku.


Fadli tertawa cukup keras.


Aku tak memperdulikannya, aku mulai menjalan kan motor.


...-♡-...


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, bu. Saya sekarang harus ngapain ya, bu? " Ucap ku.


" Eh, sudah datang. Wa'laikumsalam. Besok-besok kaya gini terus ya nak. Kita melayani pembeli, nak. " Balas ibu itu.


Ibu itu adalah salah satu pekerja di butik ini. Beliau bernama Sumiati. Biasa dipanggil 'bu Sumi'. Aku telah berkenalan dengan pegawai butik ini pada saat menunggu baju seragam butik ini.


" Insya allah, bu. " Jawab ku.


Ada dua shift di batik ini. Pertama shift pagi dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore, dan kedua shift malam dari jam 3 sore sampai jam 9 malam Untuk sementara aku di beri shift pagi. Kalau sudah masuk kuliah aku bakal di pindahkan ke shift malam.


Aku tak langsung memulai pekerjaan ku. Karena aku datang jam setengah 8 pagi. Perjalanan dari rumah ke butik ini adalah setengah jam.


...-♡-...


" Kita istirahat dulu, Han. " Seru Bu Sumi.


Aku mengangguk.


" Kita sholat dzuhur dulu. Baru makan siang. " Instruksi Bu Sumi.


Aku kembali mengangguk.


Kami menunaikan sholat dzuhur. Setelah itu Bu Sumi mengajak ku untuk makan siang bersama. Bu Sumi membeli makanan di salah satu pedagang di dekat area Butik. Aku tak memesan makanan di pedagang itu karena aku memakan bekal yang telah ku siap kan. Tapi, aku menumpang duduk di tempat itu.


" Han, kamu punya pacar? " Tanya Bu Sumi.


" Tidak bu. " Jawab ku.


Benarkan? Aku emang gak punya pacar. Tapi, punya suami.


" Bagus kalau gitu. Emang gak usah pacaran. Pacaran ngabisin duit dan waktu. Mending langsung nikah aja. " Nasehat Bu Sumi.


Aku hanya merespon dengan tersenyum.


" Ibu punya kenalan cowok loh. Baik, Ganteng, dan pastinya kaya. Boleh tuh buat kamu. Dia orangnya gak suka lama-lama. Kamu kalau sama dia pasti langsung di nikahi. Mau ibu kenalin? " Tawar Bu Sumi.


" Eh, lealah. Sudah punya suami. Ibu pikir itu saudara kamu. Jadi, ibu ngomongin orang yang ibu kenalin ke kamu, buat jadi suami kamu. Eh, tapi malah sudah jadi istri orang. Maaf loh, nak. " Sesal ibu.


Aku tersenyum sopan.


" Tidak apa-apa, bu. Kan ibu tadi belum tahu. Jadi, ibu gak salah. " Ucap ku.


Bu Sumi hanya tersenyum tak enak.


Ya allah, dosa gak sih buat orang tua malu. Hihihi.


...-♡-...


Aku memasuki rumah.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas Fadli.


Aku menghampiri Fadli yang sedang duduk di sofa. Aku menyalimi Fadli.


" Fad, tolong bantuin aku. Aku memesan sesuatu kemarin-kemarin. Kamu tolong angkatin masuk, dong. Soalnya barangnya lumayan berat. " Pinta ku.


" Barang apa? " Tanya Fadli, sambil bangkit dari duduknya.


" Gak tahu aku, namanya. " Jawab ku.


Aku mengikuti Fadli menuju motor ku. Fadli mengangkat barang itu. Dan, membawanya masuk. Fadli membawanya di dekat sofa ruang tamu, agar aku dapat membukanya sambil duduk di sofa ruang tamu.


Fadli duduk di sofa. Aku langsung membersihkan tubuhku. Setelahnya kembali ke ruang tamu, dengan beberapa alat-alat yang di butuhkan untuk membuka barang itu yang tertutup oleh kerdus. Ku dudukan diri ku di sofa, bersebelahan dengan Fadli.


Aku mulai membukanya.


" Ini tuh kaya pigura. Tapi, ini bukan pigura foto. " Ucap ku.


Akhirnya aku selesai membukanya.


" Ha? Apa ini? Ini duit? " Tanya Fadli beruntun.


Aku mengangguk.


Pigura itu adalah mahar yang di berikan Fadli untuk Hana.


" Iya. Ini mahar kamu. Aku pernah lihat tetangga ku, maharnya di buat kaya gini. Katanya sih untuk di simpen. Dan, ada yang pernah bilang uang mahar gak boleh di pakai. jadi, aku buat kaya gini. " Jelas ku.


Fadli tersenyum pada ku. Yang ku balas dengan senyuman juga.


" Meski pernikahan kita di lakukan karena tragedi. Tapi, aku pengen pernikahan kita di ridhoi oleh Allah SWT. Aku akan mengusahakan untuk membuat masa kelam kita menjadi pelajaran yang indah untuk kita. Dengan membuat ini salah satunya. " Ungkap ku.


Fadli memeluk ku.


" Maaf karena tidak memberikan kamu yang terbaik untuk pernikahan kita. Sampai-sampai kamu sendiri yang membuatnya. Padahal seharusnya aku yang membuatnya untuk mu. " Bisik Fadli.


Aku tersenyum mendengarnya.


Ku usap lembut punggung Fadli.


" Gak papa. Di saat itu aku maupun kamu masih belum siap. Jadi, ini bukan salah kamu. Semua terjadi dengan sangat cepat. Lagian kamu sudah kasih mahar paling indah di dunia ini. Dengan waktu sesingkat itu. Mahar surah Ar-rahman. Terima kasih telah memberikan mahar itu, untuk ku." Balas ku.


Fadli mengeratkan pelukannya kepada ku.


" Terima kasih telah menerima ku apa adanya. " Cicit Fadli.


" Terima kasih juga karena mau bertanggung jawab. " Ucap ku.


Fadli mengusap kepala ku.


Beberapa menit aku dan Fadli tetap seperti itu.


Aku tak tahu bagaimana caranya aku seperti ini. Yang ku tahu Fadli adalah imam ku. Setelah aku bertemu anak-anak, aku menyadari sesusuatu. Yaitu tak seharusnya aku terus-menerus terpuruk dalam lingkaran kesedihan itu.


Kalau di tanya ' Apakah kamu masih sedih? ' Kan ku jawab Iya. Aku masih bersedih dari kejadian itu. Mungkin aku akan terus-menerus sedih. Tapi, bukan karena Fadli. Namun, karena diri ku. Perbuatan ku membuat kedua orang tua ku dihukum oleh Allah SWT.


Ku tarik diri ku.


" Gimana tadi? " Tanya ku.


Fadli mengusap masih kepala ku.


" Alhamdulillah, dapet. " Jawab Fadli.


" Kerjaannya apa? Berat gak? Kalau berat jangan di terima. Nanti kamu kenapa-napa. " Khawatir ku.


" Enggak kok. Cuma jadi pelayan di salah satu restoran. " Tenang kan Fadli.


" Bener? " Pastikan ku.


" Iya, istri ku yang cantik. " Yakin kan Fadli.


Aku tersenyum mendengarnya.


" Alhamdulillah, kalau gitu. Selamat ya suami ku. " Syukur ku.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^BUAT KALIAN DAN AUTHOR YANG MASIH MELAKUKAN ZINA, LANGSUNG JAUHILAH. MEMINTA AMPUNAN UNTUK DIRI SENDIRI DAN ORANG TUA KEPADA ALLAH SWT. KARENA BILA KALIAN MELAKUKAN ZINA, DI AKHIRAT ORANG TUA KALIAN DI SIKSA KARENA PERBUATAN KALIAN. SATU KATA BUAT ORANG YANG LAGI MENCOBA UNTUK MENJAUHI ZINA 'SEMANGAT'. TAK AYAL AUTHOR TERKADANG TERHASUT UNTUK MELAKUKAN ZINA. KARENA SEMUA MANUSIA BIASA LADANGNYA DOSA PASTI PERNAH MELAKUKAN ZINA. TAPI SEMOGA AJA AUTHOR DAPAT MENJAUHI SEJAUH-JAUHNYA PERBUATAN ZINA. BEGITU PUN DENGAN KALIAN. AAMIIN. JADI, SEMANGAT BUAT KITA. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^