
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...JANGAN ADA SEORANG PUN YANG MENDEKATI ATAU MENCOBA ZINA, BARANG SEJENTIK PUN. KARENA ZINA AKAN MENGUNDANG KEBURUKAN KEPADA DIRI KITA SENDIRI....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
⚠️TERDAPAT KATA-KATA KASAR DALAM PART INI⚠️
Aku sangat terkejut karena melihat seseorang.
" Pu- Eh! " Kagetnya.
" Fadli!! " Ucapnya lagi.
Ceklek.
Aku mendengar seseorang yang telah mengunci kamar ini.
Entah dorongan dari mana aku mendekatinya. Dan-
Dan, aku tak tahu apalagi yang terjadi. Mungkin aku akan sangat kaget setelah ini.
《~》
(FADLI FIRDAUS POV OFF)
(HANA HILMI POV ON)
Aku terbangun dari tidur ku, karena aku sedikit terusik dengan keributan di sekelilingku. Yang pertama kali ku lihat adalah seorang lelaki yang ku kenali. Fadli Firdaus.
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ini. Dan-
DEG
Astaghfirullah hal adzim.
Astaghfirullah hal adzim.
Astaghfirullah hal adzim.
Aku telah melakukan zina besar. Sesuatu yang sangat di larang allah.
Aku langsung bangkit dari posisi ku tadi. Tapi-
" Akhh!! " Teriak ku.
Teriak ku telah mengusik orang yang ada samping ku.
Aku merasakan sesuatu yang sangat amat menyakitkan. Rasanya aku ingin menangis.
Ku lihat sekeliling. Banyak orang. Aku cepat-cepat menutup aurat ku dengan selimut.
" Astagfirullah. Anak jaman sekarang emang sudah terlalu bebas. Lebih baik kalian bersihkan tubuh kalian dan temui kami di ruang tengah. Jangan coba-coba lari. Karena semua orang tengah berada di sini. " Instruksi dari salah satu orang.
" Shit! " Umpat Fadli.
Aku mulai terisak dalam tangis ku.
Fadli menatap ku.
" Sorry. " Sesal Fadli.
Aku semakin terisak dengan kenyataan itu.
...-♡-...
Aku menuruni tangga rumah ini dengan perlahan dengan di bantu oleh salah satu wanita tua.
Ku lihat semua orang menatap ku hina. Dan, ada satu orang menatap dengan tatapan menyesal.
Aku di bantu oleh wanita tua itu untuk duduk di salah satu kursi di sana.
" Tolong panggil wali kalian. Menghadap kami. " Tegas salah satu orang tadi, yang ku yakini adalah RW di kampung sini.
DEG
Aku kembali mengingat ucapan yang dikatakan umi.
" Tapi, ada satu syarat. Kamu harus jaga diri kamu baik-baik. Jangan melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Ngerti? " Ucap umi.
Tes.
Air mata ku kembali luruh. Aku kembali terisak dalam kesedihan ku.
" To-tolong jangan libatkan orang tua saya. Sa-saya tak ingin orang tua saya terlibat akan masalah ini. " Mohon ku.
" Seperti apa pun kamu memohon. Hukum tetap lah hukum. " Tegas RW itu.
Aku menangis terisak.
Ya allah. Maafkan hamba, ya allah.
Umi, abi.. maafin aku. Aku tak punya niat untuk melakukan ini. Bahkan aku tak menginginkan ini.
Aku telah membuat abi dan umi kecewa. Umi dan abi bahkan sampai tidak bisa makan demi membiayai sekolah ku. Dan, sekarang aku dengan tidak tahu malunya mempermalukan mereka. Mencoreng muka mereka.
Aku telah membuat orang tua ku mendapatkan hukuman dari allah karena perbuatan ku.
Aku melihat orang yang telah membuat ku seperti ini. Tak sepenuhnya melihatnya. Karena aku tahu bahwa menatap seorang lelaki yang bukan mahram ku adalah termasuk zina mata.
" Ini barang-barang kamu. " Beri salah satu ibu-ibu di sini.
Aku menerima barang yang di berikan ibu itu.
" Terima kasih bu. " Ucap ku.
Ibu itu mengangguk.
Tangan ku bergetar hebat saat ingin mengambil Hp ku di tas ku.
Jantung ku berpacu dengan cepat.
Ku cari no. umi. Dan, ku hubungi no. tersebut, dengan tangan bergetar.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, nak. Kamu dari mana saja, Hil? Kenapa kamu tidak bisa umi hubungi, Hil? Dari kemarin umi dan abi mengkhawatirkan mu, Hil. " Cerocos umi.
Aku menutup kelopak mataku, membuat air mata ku berguguran. Dan, ku gigit bibir bagian dalam ku.
Lahaula wala quwata illa billah.
Lahaula wala quwata illa billah.
Lahaula wala quwata illa billah.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Umi.. Aku sedang dalam masalah umi. Bisakah umi dan abi ke sini? Menemui ku. " Ucap ku, mencoba senormal mungkin.
" Ada apa, Hil? Emang kamu habis ngapain, Hil? Dan, umi harus kemana, Hil? " Tanya umi, beruntun.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Dan lagi, Putri membawa ku kamana? Dimana Putri sekarang? Apa mungkin Putri telah merencanakan ini? Kalau emang iya aku salah apa? Sampai-sampai dia sejahat ini sama aku.
" Aku bakal jelasin semuanya nanti umi. Karena masalah yang telah aku lalui sedikit rumit umi. Dan.. " Jawab ku.
Aku melihat sekeliling. Aku ingin mencoba bertanya dimana kah diriku sekarang. Tapi, aku terlalu malu untuk sekadar membuka mulut ku di hadapan mereka. Sungguh aku tak mempunyai muka lagi dihadapan orang-orang yang ada di sini.
" Kasih ke saya, saja. " Pinta Ketua RW itu.
Aku memberikan Hp ku ke pak RW setempat.
Aku mencoba menulikan telinga ku. Aku tak ingin mendengar pak RW menjelaskan permasalahan yang tengah terjadi pada ku. Aku tak ingin melihat atau pun mendengarkan kekecewaan umi dan abi.
Setelah pak RW usai berbincang cukup panjang dengan umi. Beliau mengembalikan Hp ku ke diri ku. Dan, kulihat Fadli yang masih menelpon wali nya.
" Tolong berikan saya ijin untuk menunaikan sholat. Dan, tolong pinjamkan saya mukenah. " Pinta ku.
Pak RW mengangguk.
Aku berdiri dengan bantuan wanita tua tadi. Langkah ku terhenti karena mendengarkan ucapan Pak RW.
" Ternyata kamu masih ingat tuhan. Tapi, kenapa saat melakukan perbuatan itu kamu tak mengingat tuhan mu. Yang jelas-jelas sangat melarangnya. " Sinis Pak RW.
Perih sekali rasanya bila ada seseorang mengingatkan kesalahan nya pada tuhan.
Aku sadar itu. Bisa di bilang sangat sadar. Namun, aku mencoba untuk berdamai. Tapi, orang-orang di sekeliling ku mencoba membuka luka itu kembali.
Aku menitikkan air mata ku. Ku gigit bibir dalam ku.
Sakit. Perih.
...-♡-...
Aku masih membaca dzikir. Aku masih ingin berlama-lama menghadap tuhan ku. Aku telah mengqodho sholat wajib ku dan telah menunaikan sholat taubat.
Aku ingin bertaubat pada allah. Atas dosa-dosa yang ku lakukan. Dan, meminta kedua orang tua ku agar tak dihukum karena perbuatan ku di akhirat nanti.
Aku mencoba menjernihkan fikiran ku dengan mendekatkan diri pada Allah SWT.
" Nak. Wali mu telah datang, nak. " Beri tahu wanita tua tadi.
DEG.
Aku menutup mata ku, buliran-buliran air bening dari mata ku kembali turun.
Lahaula wala quwata illa billah.
Lahaula wala quwata illa billah.
Lahaula wala quwata illa billah.
Aku kembali membuka kelopak mata ku setelah menormalkan degup jantung ku.
" I-iya bu. " Jawab ku.
Aku membereskan alat ibadah ku yang dipinjamkan, dengan perlahan. Karena aku masih merasakan sakit di area tertentu.
Ibu itu membantu ku untuk menuruni tangga rumah itu kembali. Bertepatan dengan ku, Fadli dan beberapa orang memasuki rumah ini. Entah habis kemana mereka.
Semua orang masih ada. Hanya bertambah dengan kehadiran umi, abi, dan satu pria. Yang kuyakini bila pria itu adalah wali Fadli.
DEG.
Aku menatap mata umi. Dari matanya beliau, beliau menyiratkan kekecewaan yang amat terdalam. Aku memperlambat kan langkah ku.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIM. SEMOGA KITA TIDAK MERASAKAN APA YANG DI RASAKAN HILMI. MEMANG SEMUA PERINTAH ALLAH ITU ADALAH YANG TERBAIK UNTUK PARA HAMBA-HAMBANYA. JADI, KITA JANGAN SAMPAI MENDEKATI ZINA BARANG SEJENTIK PUN. APALAGI SEBAGAI COBA-COBA. NAUDZUBILLAH MIN DZALIK DEH, GUYS. OK GITU AJA GUYS. AUTHOR MEMOHON MAAF BILA BANYAK TYPO BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^