
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...MEMANG PERNIKAHAN SANGAT DIANJURKAN BILA TELAH MENDAPATKAN DAN MENEMUKAN PASANGAN YANG TELAH DI FIKIR TEPAT. NAMUN, PERSIAPKAN SEMUA TERLEBIH DUHULU SEBELUM MENIKAH. DARI MENTAL, EKONOMI FINANSIAL, KEADAAN, DLL. JANGAN ASAL-ASALAN DALAM MELAKSANAKAN SEBUAH PERNIKAHAN. KARENA PERNIKAHAN SANGAT MEMBUTUHKAN SEBUAH KESIAPAN LEBIH DARI SEBUAH KESIAPAN BIASANYA....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Iya? " Tanya ku.
" Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Bisa ngomong sebentar? " Pinta Pandu.
" Di sini aja, gak bisa? " Tanya ku, lagi.
" Enggak, Han. Ini terlalu rame. kita cari tempat yang lebih sepi tapi masih dilewati orang-orang. " Jawab Pandu.
《~》
Aku melihat Fadli yang menatap ku horor.
" Eh, sebentar. " Pinta ku.
Aku menghampiri Fadli.
" Kamu ikut aku bentar. " Pinta ku, ke Fadli.
Aku dan Fadli menghampiri Pandu.
" Aku mau ke tempat yang lebih sepi. Tapi, harus bersama Fadli. " Syarat ku.
" Ha? Ngapain sama dia? Ada kepentingan apa aku sama dia? Aku hanya butuh sama kamu. Kamu ada hubungan apa sama dia, sih? Sampai dia ikut nimbrung ke sini. " Bingung Pandu.
" Mau gak? Kalau gak mau ya gak usah. " Dingin ku.
Pandu menghembuskan nafas pasrah.
Akhirnya Pandu menyetujuinya dengan mengangguk.
...-♡-...
" Jadi? " Tanya ku, to the poin.
Aku, Fadli, dan Pandu tengah berada di taman. Pastinya aku berbeda kursi dengan Pandu dan Fadli. Pandu dan Fadli satu kursi.
" Em, A-aku.. " Gagap Pandu.
Baru kali ini aku lihat Pandu segugup itu.
" To the poin aja. Aku gak punya banyak waktu. " Perintah ku.
" Eh, Anu. A-aku mau khitbah Cahya. Tapi, sebelumnya aku mau ta'aruf dulu dengan Cahya. " Ucap Pandu, cepat.
" Ha? " Cengo ku dan fadli.
Kaget? Pasti. Terkejut? Pasti. Gak nyangka? Gak nyangka pake banget. Rasanya jantung ku mau loncat dari tempatnya.
" Terus ngapain ngomong ke aku? Bukannya ke papanya atau ke walinya kek." Bingung ku.
" Atau kamu mau nanya caranya ta'aruf? Kalau gitu jangan tanya ke aku. Aku gak pernah ta'arufan sama satu orang pun. Jadi aku gak tahu harus ngapain aja. " Lanjut ku.
Aku memang tidak pernah ta'arufan. Tapi, kalau nikah pernah. Hehehe.
" Aku sudah datang ke rumah papa Cahya. Tapi, Cahya masih belum tahu kalau aku khitbah dia. Aku juga udah cari tahu di sosmed caranya ta'aruf. Katanya kalau pengen ta'arufan, bila ingin bertemu harus mengajak salah satu mahram. Tidak boleh berdua aja. " Jawab Pandu.
" Sedangkan papanya Cahya adalah orang sibuk. Tidak bisa menemani kami saat ingin bertemu untuk saling mengenal. Aku pikir kamu orang yang tepat. Kamu temannya Cahya. Dan, kamu orangnya cukup tegas dan perhatian ke Cahya. Jadi aku meminta kamu menjadi perantara antara aku dan Cahya. " Lanjut Pandu.
" Emang kamu yakin mau menjadikan Cahya pasangan hidup kamu? Kamu tahu beberapa tentang Cahya kan? Cahya itu sedikit lambat untuk berfikir. Kamu mau sama Cahya yang kaya gitu? " Tanya ku, menguji Pandu.
" Aku yakin. Aku fikir Cahya orang yang cukup baik. Meski harus sabar-sabar menghadapi keterlambatan Cahya berfikir. Dia orang yang manis. Can- " Jawab Pandu, yang mulai mau menghalu.
" Gak usah ngehaluin Cahya. Dia masih belum mahram kamu. " Peringat ku, tiba-tiba.
Pandu terkekeh.
" Sorry(maaf). " Ucap Pandu, kemudian.
" Kamu yakin mau nikah muda? Kalian berdua masih kuliah. Umur kalian masih sangat muda untuk menikah. Tak semudah itu sebuah pernikahan. Apakah kamu yakin? Dan, kamu tidak takut di keluarin dari kampus karena menikah? " Uji ku.
Pandu menunduk sejenak.
" Memang benar. Aku mengkhawatirkan semua itu. Tapi, perasaan ini semakin lama semakin menjerat. Perasaan ini tak terkendali. Perasaan ini dapat membuat ku terjerat akan dosa. Dan lagi, aku takut di tinggalkan Cahya. Aku takut, bila aku terlambat. " Jawab Pandu, pelan.
Kenapa semua pria selalu ketakutan bila ditinggal sang kekasih? Ya, memang perempuan juga. Tapi, bukan hal itu yang paling ditakutkan perempuan. Menurut perempuan masih ada hal lainnya yang sama tingkatnya untuk di takuti terhadap kekasih.
" Aku pun selama ini mencoba mencari jalan tengahnya. Pastinya itu ialah hal yang terbaik untuk ku dan Cahya. Dan, kuputuskan untuk menikahi Cahya saja. Yang pastinya adalah hal yang paling dianjurkan di dalam agama. Aku yakin semua ibadah akan mendatangkan sesuatu hal baik. Salah satunya adalah pernikahan. Setelahnya aku akan menyerahkan semuanya pada Allah SWT. " Lanjut Pandu.
" Terus bagaimana dengan kampus? Apakah boleh muridnya menikah pada saat masih menjadi murid sini? " Tanya Fadli, yang mulai ikut nimbrung.
Aku juga penasaran akan hal itu.
" Aku telah menanyakan ke pihak kampus. Apakah boleh seorang murid kampus ini menikah. Dan, mereka menjawab boleh. Katanya karena tak semua murid kampus ini seumuran dengan kita. Ada yang cukup dewasa. Pihak kampus juga tak mungkin dapat melarang seseorang itu untuk menikah. Itu juga salah satu hal yang membuat ku maju untuk mengambil langkah ini. " Jawab Pandu.
"Jujur saja, pada saat aku ingin bertanya ada perasaan ragu dan cemas akan jawaban pihak kampus. Aku takut ada peraturan seperti di sekolah kita dulu. Tapi, aku berusaha meyakinkan diri ku. Dan, tak sia-sia perjuangan ku itu. Aku mendapat jawaban yang memuaskan dari pihak kampus. " Ungkap Pandu.
Beberapa saat aku menatap Fadli dan Fadli pun menatap ku. Setelahnya kami memalingkan pandangan kami.
Kenapa aku tidak kefikiran akan itu? Aku terlalu takut akan terjadi keburukan karena pernikahan ini. Padahal sebuah pernikahan adalah ibadah. Tak sepantasnya untuk di sembunyikan seperti ini. Agar tak menimbulkan fitnah.
" Gimana kalau Cahya hamil? Emang kamu punya tabungan buat anak kamu nanti? Terus, bagaimana kalau kandungan Cahya sangat rentan. Kita kan tahu, mengandung di usia muda cukup berbahaya. " Uji Fadli.
" A-aku.. Aku serahin semuanya ke allah. Tapi, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk aku dan Cahya. " Jawab Pandu.
" Gimana mau jadi perantara aku dan Cahya? " Pastikan Pandu.
" Aku fikir dulu deh. Untuk jadi perantara kamu dan Cahya. Tapi, bila aku mau. Aku minta Fadli juga ikut. " Jawab ku.
" Ya udah. Kutunggu jawaban mu selepas ngampus besok. " Intruksi Pandu.
Aku mengangguk.
Beberapa saat hanya suasana hening diantara kami bertiga.
" Apakah aku dapat memberitahukan ini ke Septi? Bagaimana pun, aku, Cahya, dan Septi bersahabat. Kita pasti ingin memastikan yang terbaik untuk yang lainnya. " Tanya ku.
" Boleh aja. Tapi, pastinya bila Cahya mengijinkan. " Ijinkan Pandu.
" Betewe, kalian ada hubungan apa? Kok bisa terlihat sedekat ini. " Penasaran Pandu.
" Bisa gak. Kalau minta tolong ya minta tolong aja. Gak usah kepo alasan penolong nya. Apalagi kepoin hidup penolong nya. Jadi, gak usah kepo. " Sinis ku.
" Oke-oke. Aku ngalah deh. " Pasrah Pandu.
" Aku harap kamu fikirin lebih lanjut lagi. Tak semudah itu sebuah pernikahan. Apalagi kedua pihak yang belum siap. Karena semua pernikahan bukan lah akhir dari perjuangan. Sebuah pernikahan adalah perjuangan baru yang berbeda dari perjuangan semasa masih lajang. Perjuangan pernikahan lebih menguras diri kita. Jangan pernah buat pernikahan sebagai coba-coba atau pun main-main. " Nasehat Fadli.
Bahasa Fadli kayak sudah benar-benar tahu makna sebuah pernikahan. Hehehe. Padahal baru menjadi suami beberapa bulan yang lalu. Tapi, bisa bicara seperti itu.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^WADUH, TERNYATA PANDU DIAM-DIAM SUKA SAMA CAHYA. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^