HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 9



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...DOSA TETAPLAH DOSA. ZINA TETAPLAH ZINA. SALAH TETAP SALAH. TAK ADA ALASAN SEDIKIT PUN UNTUK MEMBENARKANNYA....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


⚠️PART INI MENGANDUNG KEKERASAN DAN KATA-KATA KASAR. DI HARAP BUAT ORANG YANG TIDAK DAPAT MEMBEDAKAN SALAH DAN BENAR MENGSKIP PART INI⚠️


" Erlangga!!! Keluar lo!!! Pengecut banget lo, jadi orang!!! Erlangga!!!! Keluar!!! " Teriak Hilmi.


" Aduh non. Tolong jangan teriak-teriak di sini. Malu kalau di lihat tetangga lain. Enon gak boleh teriak-disini, non. " Sentak satpam.


Hilmi tak menghiraukan pak satpam itu. Dia masih kembali teriak-teriak.


" Aduh!! Ada apa sih ini!? " Kesal seorang wanita paruh baya yang keluar dari rumah itu.


Hilmi pun menghentikan aksinya tadi.


" Apakah tante ini adalah ibunya Erlangga? " Tanya Hilmi memastikan.


《~》


(AITHOR PON OFF)


(HANA HILIMI POV ON)


" Iya. Ada keperluan apa kalian ke sini? Sampai bikin heboh rumah saya. " Tanya ibunya Erlangga.


" Anak anda telah melakukan ti- " Jawab ku, yang terpotong.


" Stop it!! " Sentak seseorang.


Ku toleh kan kepala ku kepada orang yang berani-beraninya menghentikan ucapan ku.


Erlangga.


" please don't bring parents in this trouble. parents have no business in this. ( Tolong jangan bawa orang tua dalam masalah ini. orang tua tidak punya urusan dalam hal ini. ) " Pinta nya.


Kurang ajar sekali dia. Bukan kah dari awal masalah ini akan menyangkut orang tua. Bahkan orang tuaku tersangkut dalam hal ini.


" Oke. But, meet me now. ( Tapi, temui aku sekarang juga. ) " Setuju ku.


" Wait.(Tunggu) " Terima Erlangga.


Aku dan Fadli tetap menunggunya di luar pagar.


Erlangga meminta ibunya untuk masuk. Lalu ia keluar menemui ku dan Fadli. Aku tahu Fadli dari tadi menahan amarahnya. Apalagi saat Erlangga menunjukan sosok dirinya dihadapan ku dan Fadli, semakin bertambah lagi emosi ku dan Fadli.


Fadli melangkah cepat menghampiri Erlangga, meninggalkan aku sendiri. Lalu-


Bugh


Bugh


Bugh


Beberapa bogem mentah dari Fadli di berikan kepada Erlangga. Aku hanya diam saja, menyaksikan Fadli yang memberikan bogem mentah untuk Erlangga. Pak satpam yang kaget pun mencoba melerai Fadli dan Erlangga yang mulai membalas bogem mentah Fadli.


" Den!! Ya allah. Hentikan, den!! " Histeris pak satpam.


" Non. Bantu saya menghentikan ini, non! Tolong non. Muka aden angga sudah tidak dapat di kenali lagi, non. Tolong bantu saya non! " Pinta pak satpam.


" Biarkan saja pak. Dia pantas mendapatkan lebih dari itu. Lagian bapak tadi tidak mau membantu saya. Jadi, boleh kan aku membalas dendam. " Kecam ku.


Pak satpam terus menerus meminta tolong pada ku, untuk menghentikan Fadli dan Erlangga. Karena di sini sangat sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan lainnya. Namun, ku hiraukan.


Saat aku melihat Erlangga sudah terkapar tak berdaya, aku pun mulai mencoba menghentikan Fadli.


" Hentikan Fad! " Perintah ku.


Ku gapai lengan Fadli.


" Sudah cukup. " Larang ku.


Ku usap lembut lengannya.


Fadli menghentikan aksinya tadi. Ku lihat di sudut bibir Fadli mengeluarkan darah.


Pak satpam mulai membantu Erlangga untuk bangkit.


" Terima kasih, non. " Ucap pak satpam.


Aku mengangguk.


Saat pak satpam ingin membawa masuk Erlangga, cepat-cepat diri ku menghentikannya.


" Pak biarkan saya, pak. Nanti saya sendiri yang masuk kedalam. Saya bisa sendiri kok pak, Shh.. " Pinta Erlangga dengan terus menerus meringis.


" Ikut gue. " Perintah ku.


Aku masih mengusap lengan Fadli. Karena Fadli masih sangat-sangat emosi. Aku menuntun Fadli menuju mobil. Membiarkan Erlangga mengikuti ku, dengan terseok-seok.


Aku dudukan diri ku di samping kemudi. Fadli yang duduk di tempat kemudi. Dan, Erlangga di tengah dengan terus-menerus meringis.


" Kita ke apotik sekarang juga. " Instruksi ku, dingin.


Fadli pun menurutinya.


...-♡-...


Saat di depan apotik aku berucap, " Tunggu di sini. Jangan berantem lagi. "


Lalu keluar dari mobil dan memasuki apotik. Untuk membeli beberapa obat untuk mereka berdua. Setelahnya kembali ke dalam mobil.


Aku membeli dua bungkus obat-obat untuk membersihkan luka. Aku tak tahu itu obat apa. Karena tadi aku hanya meminta saran mb. apotiknya. Tapi, aku tahu bagaimana cara memakainya.


" Obatin sendiri. "


Ku serahkan salah satu bungkusan kepada Erlangga.


Ku tatap Fadli.


" Sini in muka, kamu. " Instruksi ku, kepada Fadli.


Fadli mengikuti arahan ku. Aku mulai membuka beberapa obat itu. Dan, mulai membersihkan lebam Fadli. Aku melakukannya dengan sangat hati-hati.


Di mobil hanya terdengar suara ringisan dari dua orang yang tengah di obati dan mengobati lukanya. Aku sedikit meringis setiap kali Fadli meringis.


Setelah aku selesai mengobati luka Fadli, aku menoleh kan kepala ku menghadap Erlangga. Aku menunggu Erlangga yang masih mengobati dirinya sendiri. Aku tak mungkin membantunya. Karena aku dan Erlangga bukan muhrim. Lagian Erlangga juga bisa mengobati lukanya sendiri, meski tertatih-tatih. Kalau Erlangga tidak bisa juga masih ada Fadli.


" Sudah? " Tanya ku, setelah Erlangga mulai merapikan obat-obat itu.


Erlangga mengangguk.


" Sudah siap buat di interogasi? " Tanya ku, lagi.


Erlangga hanya diam saja.


" Kenapa lo tega banget? Gua salah apa sama lo? Gua tau lo dan Fadli mempunyai masalah, yang gua gak tahu itu apa. Tapi, gua bahkan gak pernah berurusan dengan lo maupun sepupu lo itu. " Buka ku.


Erlangga hanya diam saja.


" Kenapa lo diem? Coba lo fikir. Kalau keadaan berbanding terbalik. Adek lo di jebak sama gue. Lo terima? " Kesal ku.


Lahaula wala kuwata illa billah.


Lahaula wala kuwata illa billah.


Lahaula wala kuwata illa billah.


Ku rapal kan dzikir, agar tak tersulut emosi.


" Sorry. " Ucap Erlangga.


Sudah. Sudah cukup, aku tidak bisa menahan lagi.


Aku bangkit dari tempat ku, ingin memberi pukulan ke Erlangga. Namun, tubuhku di tahan Fadli.


" Brengsek lo!!! Lo gak mikir sebagai mana hancurnya gua!! Gua sudah benar-benar hancur karena lo!!! Dunia gua lo rampas!!! Gua gak punya apa-apa lagi!!! Brengsek banget lo!!! " Ungkap ku.


Air mata ku mulai luruh.


Aku tetap mencoba menggapai Erlangga. Namun, lagi-lagi Fadli menahan ku. Fadli membawa tubuh ku dalam pelukan nya. Aku menangis sesenggukan di dalam dekapan Fadli.


" Sorry. But, I have a reason. ( Maaf. Tapi, aku punya alasan ) " Ucap Erlangga.


" Apa?!! Semua alasan lo tetap saja salah!!! Lo sudah buat anak orang hancur berkeping-keping, bahkan tak tersisa sedikit pun!!! Gua aja gak terlibat sama sekali dengan lo!!! Tapi, lo bikin gua terlibat sama lo!!! " Tak terima ku.


Fadli mengusap punggung ku.


" Lo sama Putri jahat banget. Semoga aja lo dapat sesuatu yang sebanding seperti yang gua rasain. " Rutuk ku.


" Even your death is not worth my suffering! ( Bahkan kematianmu tidak sebanding dengan penderitaan ku! ) " Ucap ku.


Bagaimana bisa orang sejahat mereka? Apa mereka tak punya rasa bersalah sedikit pun. Ya allah. Kenapa takdir tak adil padaku, ya allah? Jahat banget dunia ini sama aku. Dosa apa yang telah ku perbuat, sampai aku merasakan rasa sakit ini.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^BENER, SIH. MEMANG TIDAK ADA SATU PUN ALASAN YANG DAPAT MEMBENARKANNYA^^^


^^^SEMOGA KITA SENANTIASA DALAM PERLINDUNGAN ALLAH SWT. AAMIIN. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^