
...♡...
...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....
...♡...
...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....
...♡...
...PADA SAATNYA KITA AKAN MERASAKAN APA YANG DIRASAKAN ORANG YANG TELAH HABIS KONTRAK KEHIDUPANNYA....
...《♡HATE WILLINGNESS♡》...
" Anak ganteng. Anak soleh. Pasti bisa bawa orang tua masuk surga. Dan, pastinya surga yang paling tinggi. Semangat Ikmal. " Semangat kan ku untuk Ikmal.
Ikmal tersenyum cerah.
Sungguh tak terbayang dosa ku kepada kedua orang tua ku. Umi, abi maafin aku. Sudah nyakitin umi sama abi. Maaf kan diri ini yang telah durhaka kepada kalian. Dan, maafkan bila aku pergi terlebih dahulu. Aku sayang banget sama umi dan abi. I LOVE YOU UMI AND ABI. I'M SORRY.
《~》
Aku menghampiri Bu Ustadzah dengan membawa Ikmal. Aku menyalimi tangan Bu Ustadzah. Ku menoleh, melihat ibunya Ikmal.
Huft~
Alhamdulillah. Ibu sudah sembuh. Ibu sudah sehat sekarang. Ibu tidak akan menderita lagi. Insya allah.
" Ibunya Ikmal sehabis ini mau di bawa kemana ya Bu Ustadzah? " Tanya ku.
Bu Ustadzah tersenyum pada ku.
" Akan di bawa ke rumah saya. Beliau akan di mandi kan dan lainnya di tempat saya, nak." Jawab Bu Ustadzah.
Aku senang mendengarnya.
" Kapan beliau di bawa pergi dari RS, bu? " Tanya ku lagi.
" Sebentar ini, nak. Kami tengah menunggu surat-surat dari rumah sakit. Sehabis itu beliau akan di bawa kerumah saya. Dan, insya allah di sholat kan di masjid. " Jawab Bu Ustadzah.
Aku mengangguk mengerti.
" Saya mewakili Ikmal sekeluarga mengucapkan terima kasih untuk keluarga ibu. Karena berkenan memberikan tempat untuk ibunya Ikmal dimandikan dan kegiatan lainnya. " Syukur ku.
" Tidak nak. Semua orang harus saling membantu. Apalagi sesama muslim. Beliau juga saudara seiman saya. Saya juga seharusnya membantu beliau. " Jelas kan Bu Ustadzah.
Aku mengangguk.
" Insya allah bila di ijinkan suami saya akan membantu ibu. " Ucapan ku.
" Iya nak. " Balas Bu Ustadzah.
...-♡-...
Ibu Ikmal sedang di siap-siapkan untuk di sholati. Aku membantu ibu-ibu lainnya untuk memandikan dan mengkafankan Ibu Ikmal. Ini adalah kali pertama ku memandikan dan mengkafankan seseorang.
Tak tahu kapan aku akan merasakan di mandikan dan di kafan kan. Tak pernah sekali pun terbesit dalam fikiran ku akan apa yang terjadi saat aku meninggal. Ya allah, bisa saja aku sekarang memandikan dan mengkafankan seseorang. Tapi, bisa saja setelah ini aku akan merasakan rasanya orang tersebut.
Memang semua umat islam akan kembali ke dalam tanah. Meski rumah kami berlapis emas maupun berlian. Tak akan ada yang dapat di bawa setelah kehidupan di ambil dari kami. Hanya amal dan anak soleh-solehah yang dapat di bawa. Wallahu'alam bissawab.
" Mbak. Suami mbak sudah datang. Mas nya ada di luar. Biar saya saja yang melanjutkan tugas, mbak. " Ucap tetangga ku.
Aku mengangguk.
" Terima kasih, mbak. Tolong ya mbak. " Ucap ku.
Tetangga ku itu mengangguk.
Aku menghampiri Fadli. Ku salimi tangan Fadli, yang tengah menggendong Ikmal. Ikmal kelihatannya habis menangis dan tertidur dalam gendongan Fadli.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam ku.
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. " Balas Fadli.
" Ikmal tidur? " Tanya ku.
Fadli mengangguk.
Ku usap kepala Ikmal, lembut.
" Di bawa masuk aja mbak. Kasian. Pasti Ikmal butuh istirahat sebentar. " Ucap seseorang.
Aku menoleh menghadap orang itu. Putrinya pak ustadz, yang bernama Kanza.
Aku mengangguk.
" Biar taruh di kamar saya saja mbak, mas. " Ucap Kanza.
Aku mengangguk.
Kelihatannya Kanza cocok buat gantiin posisi ku. Dia cantik, muslimah, kalem, baik. Pokoknya lebih dari aku. Pasti Kanza dapat menjadi istri yang baik untuk Fadli.
" Kamu gendong Ikmal masuk ya, Fad. Aku gak kuat kalau gendong Ikmal. Dan, gak mungkin juga meminta Kanza untuk menggendong Ikmal. " Pinta ku.
Fadli mengangguk.
" Ini kamar kosong. Bisa buat Ikmal istirahat sebentar. Atau masnya mau istirahat sebentar. Kan habis seharian kerja. " Beri tahu Kanza.
" Tidak perlu. " Dingin Fadli.
Kanza mengangguk mengerti.
" Saya tinggal ya, mbak, mas. " Pamit Kanza.
Aku mengangguk.
" Terima kasih, Kan. " Ucap ku.
Kanza mengangguk.
Lalu Kanza pergi. Aku membuka pintu kamar itu. Aku dan Fadli masuk ke dalam kamar itu. Fadli meletakkan Ikmal di atas kasur.
Setelahnya aku dan Fadli keluar. Kami menghampiri anak-anak.
" Kasian Ikmal ya mbak. Aku dan mas Reza hancur banget saat di tinggal mama dan papa. Semoga Ikmal bisa kuat menghadapi ini ya mbak. " Ungkap Lina.
Aku mengusap kepala Lina.
" Aamiin. " Amin kan ku.
" Fad. " Seru ku.
Fadli menoleh menatap ku.
" Hmm? " Tanya dia.
" Kanza cantik, ya. Solehah juga. Dan, pastinya lebih suci dari pada aku. " Ucap ku.
Entah kenapa aku berfikir untuk menjodohkan Fadli dan Kanza.
" Kan yang ngambil suami kamu sendiri. Semua wanita itu sama-sama cantik. Malah menurut ku kamu lebih cantik dari Kanza. Kamu juga tidak kalah solehah nya dari Kanza. Jadi jangan merendah seperti itu. Di mata aku kamu wanita sempurna. " Tak terima Fadli.
Aku tak dapat membantah ucapan Fadli.
Ini berat untuk ku. Aku tak menginginkan di duakan. Tapi, aku gak bakal lama lagi bersama Fadli. Fadli butuh keturunan untuk dia. Mau tak mau aku harus mau. Meski aku menolak itu.
Huft~
Ini sakit, ya allah. Aku tak menginginkan ini. Tapi, bagaimana lagi? Aku tak dapat melakukan hal lain. Kuat kan hati hamba, ya allah. Semoga hamba dapat menerima takdir mu, ya allah.
" Mbak! Ikmal nangis di dalam. Dia terus-menerus manggil nama ibunya dan mbak. " Ucap Kanza, tiba-tiba.
Ha? Ikmal.
" Ya udah. Terima kasih ya, Kan. " Ucap ku.
Kanza mengangguk.
Aku meninggal kan mereka. Aku menghampiri Ikmal dengan khawatir. Ku peluk Ikmal yang menangis.
" Ikmal, sayang. Sabar ya dek. Jangan nangis ya, dek. " Tenang kan ku.
" Mbak. Ibu belum di kubur kan mbak. Ibu belum di sholat kan, kan mbak? Aku mau sholati ibu. Aku mau mengantar ibu. Aku gak mau diem di sini aja. " Pinta Ikmal.
" Iya-iya dek. Tapi, kamu tenang dulu dek. Jangan kaya gini Ikmal. Ibu kamu akan sedih melihat kamu menangis. " Balas ku.
" Ikmal gak nangis mbak. Air mata Ikmal yang keluar sendiri. Ikmal pengen ketemu ibu. Hiks. " Racau Ikmal.
Ikmal mencoba menghapus air matanya yang terus keluar. Namun, semua itu nihil. Aku menangis melihat Ikmal seperti ini. Ikmal masih saja histeris di dalam pelukan ku. Ku biarkan Ikmal menangis beberapa saat.
" Ya udah. Sekarang Ikmal tenang dulu. Ibu Ikmal mau di bawa ke masjid. Ikmal gak boleh kaya gini kalau mau sholati ibu. " Pinta ku.
" Iya mbak. " Jawab Ikmal.
Ikmal mulai menghentikan tangisannya. Aku langsung menghapus air mata ku. Ku bawa Ikmal keluar menemui Fadli, yang pastinya melewati ibu-ibu yang mengkafani ibunya Ikmal.
" Ibu!! " Seru Ikmal.
" Jangan menangis Ikmal. Sabar Ikmal. Ridhoi semua takdir allah. " Mohon ku.
" Tolong jagain Ikmal, Fad. Dia pengen menyolati ibunya. " Pesan ku.
Fadli mengangguk.
" Han, aku mau bantuin lainnya. " Pinta Fadli.
Aku mengangguk.
Para laki-laki masuk ke dalam. Mereka membawa jasadnya ibu Ikmal menuju masjid. Semua orang menuju masjid. Ku titipkan Ikmal pada Fadli ketika telah sampai di masjid. Lalu para lelaki menyolati ibunya Ikmal. Para perempuan menunggu di luar.
Ya allah, semoga beliau tenang di sisi mu. Berikan yang terbaik untuk beliau. Aamiin.
...-♡BERSAMBUNG♡-...
^^^YANG KUAT BUAT ANAK-ANAK YANG DI TINGGAL KEDUA ORANG TUANYA UNTUK SELAMANYA. AKU NGEFANS BANGET SAMA KALIAN. KALIAN KUAT BANGET MESKI ORANG YANG KALIAN SAYANGI PERGI. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^
^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^
^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^
^^^☆♡☆^^^