HATE WILLINGNESS

HATE WILLINGNESS
EPISODE 12



...♡...


...ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH....


...♡...


...JAWAB GUYS, KARENA MEMBALAS SALAM ITU WAJIB....


...♡...


...JANGAN PERNAH KECEWAKAN ORANG YANG KITA SAYANG. DAN, HARGAI LAH WAKTU BERSAMA ORANG YANG KITA SAYANG. KARENA KITA TAK TAHU KAPAN PERPISAHAN AKAN MENGHAMPIRI KITA DAN ORANG YANG KITA SAYANG....


...《♡HATE WILLINGNESS♡》...


Aku hanya dapat termenung. Menatap kosong kaca mobil yang ada di samping ku. Air mata ku luruh, tanpa di minta.


Aku mencoba menetralkan sesak yang kurasakan.


" Aku pengen ke rumah orang tua ku. Nanti aku beri tahu arah kerumah orang tua ku. " Pinta ku.


《~》


" Ini sudah malam, Han. " Ucap Fadli.


Sekarang sudah tengah malam. Karena tadi sehabis aku dan Fadli istirahat, aku langsung menemui Erlangga. Mungkin, sekarang jam 11 malam.


" Tidak apa. Ini sebagai jaga-jaga. Bila nanti terjadi keributan, orang lain tak akan mengetahuinya. " Jelas ku.


Fadli pun mulai mengikuti permintaan ku. Fadli membawa ku rumah orang tua ku itu, yang sebelumnya ku tunjukan arahnya.


" Berhenti di sini saja. Gak usah kesana. Aku hanya ingin memastikan orang tua ku baik-baik saja. " Cegah ku.


Fadli pun menghentikannya. Aku dapat melihat dua motor yang terpakir rapi di dalam rumah yang di pagar itu, rumah orang tua ku. Tandanya kedua orang tua ku berada di rumah.


" Temui saja. Besok kita harus keluar kota. Kita gak tahu kapan akan kembali ke sini. Dan, sekalian ambil berkas-berkas yang mungkin di butuhkan kita nanti. " Bujuk Fadli.


Air mata ku luruh, kembali.


Memang, Fadli telah membahas masalah pergi keluar kota, kuliah, dan kehidupan kedepannya, tadi. Aku dan Fadli akan pergi keluar kota. Karena Fadli mempunyai rumah di sana, rumah yang ia beli dengan uang tabungannya. Aku dan Fadli juga telah mendaftar kuliah di sana, pada saat kami masih sekolah SMA. Rumah yang dibeli dan tempat kuliah ku satu kota. Buat masalah uang kebutuhan pada saat kuliah, sementara Fadli yang membayarnya menggunakan sisa uang tabungannya.


Sebenarnya kalau seandainya Fadli tidak membayar uang kuliah ku, pasti sisa uang Fadli cukup banyak. Namun, karena adanya diri ku, uang tabungan Fadli mulai menipis. Fadli juga tak menginginkan uang kedua orang tuanya. Tapi, kedua orang tua Fadli tetap memaksanya. Akhirnya ia putuskan untuk menabung nya untuk kebutuhan yang mendesak.


Sementara nanti uang kebutuhan Fadli di ambil dari uang tabungan Fadli yang dulu. Yang ia dapatkan dari menyisihkan uang yang di beri kedua orang tuanya, uang dari hobinya, terkadang dari uang lomba yang ia juarai, dan, uang yang di berikan sanak keluarganya.


Aku dan Fadli akan bekerja di kota yang akan kita tinggali. Buat jaga-jaga untuk kebutuhan dadakan lainnya


Fadli memintaku untuk merahasiakan semua ini. Karena tidak ada yang tahu selain aku, Fadli dan Allah. Aku pun hanya dapat menyetujui permintaannya itu. Karena aku tak bisa berbuat apa-apa. Lagian itu uangnya Fadli. Aku tak mengeluarkan uang sepeser pun di sini.


Aku menghapus air mata ku. Lalu mengangguk.


Aku keluar dari dalam mobil. Dan menghampiri rumah kecil yang sangat sederhana itu, yang di ikuti Fadli. Ku ketuk pagar rumah itu. Beberapa saat kemudian sang penghuni rumah keluar.


" Assalamu'alikum Warohmatullahi Wabarokatuh, Umi. " Salam ku.


" Assalamu'alikum Warohmatullahi Wabarokatuh. " Salam Fadli, bersamaan dengan salam ku.


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Ngapain kalian kesini? Apa kalian tidak punya rasa malu, menunjukan muka disini? " Dingin Umi.


DEG.


Perih rasanya, mendengar orang yang kita sayangi berubah menjadi dingin seperti ini. Dan mengatakan perkataan pedas.


" Ada apa umi? Kok ribut-ribut. " Penasaran Abi.


" Ngapain di sini?! Mending kalian pergi, sekarang!! " Sentak Abi.


Aku mulai menangis, sesenggukan.


" Abi, umi. Maafin Hilmi, abi umi. Hiks. Hilmi salah. Tolong maafin Hilmi, abi umi. Hiks. Hilmi, sangat menyesal dengan kejadian itu. umi, abi. Hiks. " Sesal ku.


" Kalau kamu masih sayang sama orang tua kamu, pergi dari sini. Jangan temui kami lagi. " Dingin abi.


Aku hanya menangis histeris.


Fadli mendekap ku, dan membawa ku untuk beranjak dari tempat ku.


" Tunggu. " Cegah Abi.


Aku menghentikan histeris ku. Aku langsung membalikan tubuh ku, menghadap umi dan abi yang masih berada dalam pagar. Aku menatapnya penuh harap.


Abi memasuki rumah. Lalu keluar kembali, sambil membawa tas. Bukan tas pakaian. Tapi, tas yang biasanya aku dan umi pakai untuk menaruh berkas-berkas.


" Bawa ini. Dan, pergi dari sini. " Ucap abi.


Pupus sudah harapan ku, untuk kembali seperti dahulu. Abi hanya membawakan ku berkas-berkas, agar aku tak kembali lagi menemui abi dan umi. Membuat diri ku tak mempunyai alibi untuk menemui umi dan abi.


Dengan tangan yang bergetar hebat, ku ambil tas tersebut. Air mata ku tak henti-hentinya turun. Ku gigit bibir dalam ku, agar tak mengeluarkan isakan.


" Terima kasih, abi, umi. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Akhiri ku.


" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. " Salam Fadli.


Dengan tubuh yang terus-menerus bergetar, ku balikan tubuhku. Lalu melangkah pergi menjauhi rumah itu. Aku memasuki mobil, bersamaan dengan Fadli. Fadli langsung menancap gas.


Ku tatap kaca mobil, yang memperlihatkan kedua orang tuaku yang masih belum memasuki rumah. Ku sentuh kaca itu. Beberapa saat kemudian aku tak dapat melihat mereka, karena mobil ini telah bergerak meninggalkan gang rumah orang tua ku itu.


Takut, sakit, perih. Aku takut tidak bisa menemui kedua orang tua ku, lagi. Aku takut saat aku kembali ke kota ini kedua orang tua ku telah berpulang. Aku takut terlambat pulang. Semua rasa takut tengah melanda ku, menghapus rasa lainnya.


Ku dekap erat tas yang diberikan, abi.


Hanya pakaian dan tas ransel beserta isinya yang ku bawa dari rumah itu. Dan, sekarang bertambah dengan tas berkas-berkas ini.


Aku pasti akan menjaga barang-barang ini. Karena inilah yang kubawa dari kota ini. Dan, beberapa kenangan indah dan buruk.


Aku akan kembali setelah aku berhasil. Aku akan kuliah sungguh-sungguh. Agar cepat-cepat menemui kedua orang tua ku di kota ini, sebelum semuanya benar-benar terlambat. Dan, membuat mereka bangga. Meski aku juga telah membuat mereka hancur.


Setelah semua itu berhasil. Aku akan mencium kaki dan tangan kedua orang tuaku. Aku ingin berbakti. Aku ingin mendapat surga dari kedua orang tua ku itu. Dan, maaf dari kedua orang tua ku.


Aku benar-benar menyesal datang ke pesta itu, sehingga membuat kedua orang tuaku kecewa seperti sekarang. Dan, aku benar-benar menyesal telah menyiya-nyiyakan waktu bersama kedua orang tuaku. Aku menyesal tak menuruti semua permintaan abi dan umi yang sepele itu.


Abi, umi. Doakan Hilmi, abi, umi. Dan, restuilah langkah Hlimi, ini. Semoga semuanya akan segera membaik. Aku dapat dekat lagi dengan kedua orang tua ku itu.


Bismillah, ya allah.


Sertai hamba ya allah. Tuntun hamba selalu, ya allah.


...-♡BERSAMBUNG♡-...


^^^WOKE, GUYS. MOHON MAAF BUAT TYPO YANG BERTEBARAN. KARENA AUTHOR BELUM REVISI CERITA INI. AUTHOR PAMIT UNDUR DIRI YA, GUYS.^^^


^^^ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.^^^


^^^SALAM SAYANG DARI AUTHOR.^^^


^^^☆♡☆^^^