Future and True Love

Future and True Love
7. Kejadian Saat Renang



Lihatlah cahaya lilin yang tak pernah lelah menyinari berulang kali meski dirinya selalu dilupakan setelah cahaya lampu kembali menyala. Lilin tak pernah marah meski manusia terus-terusan datang dan pergi kepadanya. Ikhlas! Ya belajarlah ikhlas dari sebatang lilin.


~**~


Sepulangnya dari pulau Bunaken, ketiga gadis serta ketiga lelaki ini memutuskan untuk berenang di sekitarang pulau yang dangkal dekat bungalow. Rasanya sangat menyegarkan sekali.


Byur!


"Ah... Segarnya." Mario menyembulkan kepalanya setelah selesai meloncat dari sebuah batu di pinggiran pulau.


"Eh... Udah jam tujuh lewat nih. Udahan yuk." Azriela terlebih dahulu mengakhiri acara berenangnya. Dirinya sangat sebentar benerang karena takut kulitnya gatal-gatal. Meskipun sudah terjamin air di pulau ini bersih, tapi tetap saja was-was.


"Yuk ah, makin dingin aja nih." ajak Gifyka kepada semua sahabatnya.


Keempat remaja itu ikut menyudahi acara berenang. Mereka berniat mandi di kamar mandi mereka masing-masing kemudian lanjut makan malam.


"Aa... Tolong!"


Byur!


Afriel terpeleset dan akhirnya kembali menyebur ke dalam air.


"Iel!" teriak semuanya mendekat ke Afriel yang kesusahan untuk menepi.


"Pegang tangan gue, Iel." Mario dan Alvino memberikan tangannya ke Afriel. Keduanya sama-sama menarik tubuh Afriel.


"Argh... Berat banget sih." teriak Mario kesusahan menarik tubuh Afriel.


"Iya nih, berat banget asli." sambung Alvino masih berusaha membantu Mario menolong Afriel.


"Tolongin gue Yo, Vin." mohon Afriel memelas.


"Satu, dua, tiga!" dengan sekali tarik, akhirnya Afriel berhasil diselamatkan.


"Hah... Hah... Hah... Berat banget sumpah." Mario dan Alvino sampai terduduk sehabis membantu Afriel ke darat.


"Thank ya, kalian berdua udah bantuin gue." Afriel pun ikut terduduk di antara Mario dan Alvino.


"Lo gak kenapa-napa kan, Iel?" Azriela terlihat khawatir akan kondisi Afriel.


"Iya, lo gak ada yang luka kan?" Viara dan Gifyka mendekat ke arah ketiganya yang kelelahan.


"Gue gak kenapa-napa Zril, gue juga gak ada yang luka Via."


"Kalian berdua masih kuat jalan ke bungalow kan?" tanya Gifyka beralih menatap Mario dan Alvino secara bergantian.


"Kuat kok, cuma perlu istirahat bentar doang buat normalin napas." jawab Mario mengatur napasnya.


"Lo kok bisa kepeleset sih, Iel? Perasaan gak ada yang licin deh." heran Alvino.


"Gue gak tau, tiba-tiba kaki gue kayak ada yang narik dari bawah."


"Maksud lo setan, hantu, jin atau iblis gitu?"


"Ya gue gak tau apaan, tapi yang pasti gue ngerasa kayak ada yang narik gue."


"Udah ah, gue merinding." Azriela mengusap-usap lengannya sendiri. Sedikit angker juga apabila dipikir menggunakan nalar manusia.


"Masuk yuk, nanti malah pada sakit lagi di luar lama-lama." ajak Gifyka berdiri terlebih dahulu.


"Gue bantu, Vin." Viara membantu Alvino berdiri dan berjalan menuju bungalow.


"Lo masih lemes, Iel?"


"Ya, sedikit." Afriel mengangguk atas pertanyaan Azriela.


"Sini gue bantuin." sama seperti Viara yang membantu Alvino berjalan menuju bungalow. Azriela pun membantu Afriel menuju bungalow.


"Yuk Fy, masuk. Lo mau di sini terus?" suara Mario membuyarkan lamunan Gifyka.


"Eh iya, lo duluan aja." Gifyka tersenyum kaku kepada Mario.


"Ya udah gue duluan, jangan ngelamun." Mario menepuk bahu Gifyka dua kali secara pelan.


"Ok." Gifyka hanya menganggukkan kepalanya sekilas.


"Fy! Ayo masuk!" teriak Viara dari depan bungalow.


"Iya bentar!" balas Gifyka mengencangkan suaranya supaya terdengar oleh Viara dan yang lainnya.


Gifyka mulai berjalan menuju bungalow. Semua sahabat-sahabatnya sudah masuk ke dalam bungalow. Tinggal dirinya saja yang masih tersisa di luar.


Jedar!


"Astaga, apaan tuh?" kaget Gifyka saat ada sebuah petir menyambar air di sisi Gifyka berdiri.


"Cahaya apaan ya?" heran Gifyka tidak mengerti.


Barusan ada kilatan cahaya yang ada di dekat Gifyka. Bahkan suaranya saja sangat kencang terdengar di gendang telinga.


"Udahlah, gak usah dipikirin." Gifyka memilih berjalan menuju bungalow menyusul kelima sahabatnya.


~**~


Mario sedang merapikan rambutnya di depan kaca menggunakan gel rambut yang biasa dia gunakan. Rambutnya yang acak-acakan habis mandi membuatnya terlihat semakin tampan dan memesona.


"Gue masih kepikiran yang tadi deh. Kaki gue itu bener-bener ada yang narik dari bawah. Gue gak bohong." ujar Afriel berusaha meyakinkan kedua sahabat laki-lakinya.


"Kalian tahu sendiri pas mau bantuin gue kan? Gue berat banget. Kaki gue ditarik dari dalam air, ya intinya kalian rebutan tubuh gue. Tubuh gue sakit banget kalian tarik-tarik." Afriel merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Menunggu respon dari kedua sahabatnya.


"Gue sih percaya sama lo, Iel secara kan tadi emang lo berat banget. Bener gak, Vin?" Mario ikut duduk di atas ranjang menyusul Afriel yang masih memikirkan kejadian tadi. Sedangkan Alvino sibuk memainkan permainan dalam ponsel.


"Gue sih netral, mungkin iya ada. Tapi beneran sih tadi lo berat banget," Alvino merubah posisinya menjadi duduk kemudian mematikan ponselnya dan bergabung bersama kedua sahabatnya yang sedang serius.


"Ingat gak pas Iel mau jatuh dari tebing beberapa tahun lalu pas kita ke puncak?" Alvino berusaha mengembalikan ingatan kedua sahabatnya.


"Pasti gue ingatlah, mau mati gue di sana." sahut Afriel cepat.


"Ingat Vin, ingat. Kita berdua nolongin Iel dengan sekali tarik langsung bisa kan ya?" sahut Mario sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nah, maka dari itu gue netral."


"Maksud lo gimana sih?"


"Waktu itu di udara kan, mungkin bisa jadi yang tadi berat karena di air." simpul Alvino mengedikkan bahunya.


"Tapi gue yakin seratus persen ada yang narik kaki gue dari bawah, Vin."


"Ya udah berarti iya."


"Iya gimana maksud lo? Jangan bikin bingung napa." Mario ikut gemas sendiri akan ucapan Alvino.


"Ya berarti ada hantu. Lagian kan yang ngerasain Iel, bukan gue atau Mario. Kalau kata Iel ditarik ya berarti iya ditarik."


"Kayak kejadian Via tadi siang sih, kan aneh tuh. Masa dia tersesat di lorong sempit gitu." Afriel kembali mengingat kejadian tadi siang saat Viara menangis dan bilang bahwa dirinya tersesat.


"Gue juga sebenarnya merasa aneh sih, tapi ya udahlah. Semuanya sudah ada yang mengatur."


"Positif thinking aja deh." Mario ikut mengedikkan bahunya seperti yang dilakukan Alvino.


"Udah, gak usah terlalu dipikirin. Kita ke sini kan mau liburan, bukan buru setan." lelaki berwajah chinese itu menepuk bahu Afriel tiga kali sambil tersenyum menenangkan. Ya, senyuman dari seorang sahabat kepada sahabatnya.


"Iya Iel, berdoa saja semoga kita semua diberi keselamatan."


"Turun yuk, gue udah lapar banget nih. Pengen makan yang enak-enak."


"Sama aja kayak cewek lo Vin, masalah makanan aja gak bisa diganggu gugat." Mario hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maka dari itu, gue sama Viara ditakdirkan bersama. Soalnya kita punya hobi yang sama. Yaitu makan segala sesuatu yang enak-enak."


"Gak nyambung lo asli."


"Udah ah, ke bawah yuk." Mario menarik tangan Afriel serta Alvino keluar kamar menuju meja makan di dalam bungalow.


~**~


To Be Continue...