Future and True Love

Future and True Love
6. Keanehan Di Bungalow



Di sebuah ruangan bernuansa merah darah sedang diadakan rapat besar keluarga.


"Tapi Raja Ortofus, apa ini akan berhasil?" tanya lelaki berwajah hitam serta berambut panjang sepinggang. Dia bukan seorang lelaki berjiwa perempuan, bukan pula transgender. Tapi dia seorang lelaki yang hanya mengikuti peraturan dari Sang Raja alam pijakannya.


"Aku yakin, ini akan berhasil. Terus pantau keberadaan dia, jangan sampai kehilangan jejak." Ortofus melihat semua peserta rapat.


"Baik Raja!" jawab serempak peserta rapat sambil menggelengkan kepalanya dua kali. Aneh memang, jika sebuah gelengan menandakan bukan atau tidak. Beda dengan alam ini, gelengan adalah tanda sebuah persetujuan.


"Rapat selesai, segera tinggalkan ruang rapat ini sekarang juga." perintah Ortofus tegas tanpa melihat mereka satu persatu.


Beberapa keturunan Raja yang ikut rapat sudah keluar bergantian. Di dalam ruangan tinggalah Ortofus seorang diri.


"Misi ini harus berhasil." tatapan Raja itu nyalang menyiratkan kebencian yang mendalam. Dadanya bergemuruh menahan amarah.


"Siapa pun yang menghalangiku, akan aku hancurkan dia!"


Brak!


Ortofus menggebrak meja rapat di hadapannya. Kedua tangannya terkepal kuat-kuat. Tak ingin bertambah emosi dan akan menghancurkan apa pun dalam radius lima ratus meter, Ortopus memilih balik ke dalam kamarnya.


Ortofus mendekat ke buffet. Tangannya mengusap lembut sebuah teko mirip seperti kristal berukuran sedang.


"Kenapa kamu tidak juga mau kembali?" Ortofus memeluk teko itu ke dekapannya. Air matanya jatuh menetes tepat ke teko yang dia peluk.


"Aku berjanji akan membuatmu kembali." nada suara Ortofus berubah menjadi dingin. Tatapan mata yang tadi sendu berubah menjadi penuh emosi.


Ortofus mengembalikan teko itu ke tempatnya semula kemudian berjalan menuju tempat dia beristirahat.


~**~


Setelah menempuh beberapa menit dari pelabuhan menuju ke sebuah kampung di Bunaken. Akhirnya keenam remaja ini sampai juga di bungalow milik keluarga Angkasa.


Terlihat jelas bungalow itu berdiri kokoh dengan kedua tiang penyangga di bagian depan. Warnanya pun masih terlihat baru, bahkan bau dari catnya masih tercium menyengat. Bungalow itu terlihat sangat natural dengan warna hijau muda. Terasa sangat menyatu dengan alam sekitar. Melihatnya saja mampu menenangkan jiwa dan memanjakan mata.


"Ini nggak salah, Fy?" Viara berdecak kagum melihat interior bungalow itu sangat klasik namun terkesan mewah.


Memang tidak bisa dipungkiri, keturunan Angkasa semuanya pengusaha kaya raya dan memiliki separuh aset berharga di dunia. Terbayang bagaimana kaya rayanya keluarga Angkasa bukan?


"Nona Gifyka," sapa seorang pelayan yang memakai pakaian rumahan tapi terlihat rapi. Bukan sebuah daster atau stelan baju tidur biasa.


Wanita sekitar berumur tiga puluh tahunan itu tidak sendirian, ada seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan di samping sang penjaga bungalow. Gifyka heran sendiri, kenapa anak itu terlihat sangat takut. Bahkan menatapnya saja dia tidak mau.


"Ya, saya Gifyka dan ini semua sahabat saya." sahut Gifyka sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah sang pengurus bungalow.


"Panggil saja saya Rahma, dan ini putri saya bernama Meysha." Rahma mencoba menarik Meysha supaya mau mendekat dan berkenalan dengan Gifyka serta teman-temannya.


"Gak mau! Dia aneh!" Meysha memilih berlari menjauh dari Rahma dan yang lainnya setelah berteriak.


Gifyka dan yang lainnya terperangah akan ucapan gadis kecil sekitar berusia empat tahun itu. Siapa yang dia maksud aneh?


Pertanyaan-pertanyaan terus terngiang-ngiang dalam otak Gifyka. Apa yang dia maksud adalah Gifyka atau salah satu dari sahabatnya?


"Maafkan putri saya, Non. Dia memang suka takut sama orang baru." terlihat jelas wajah Rahma penuh penyesalan akan kelakuan putrinya tadi.


Meysha sudah membuat Rahma malu di depan putri tunggal sang pemilik bungalow yang dia urus selama ini. Bahkan Ibu-Rahma bisa menghidupi Rahma juga dari hasil kerja keras menjaga bungalow milik Tuan Angkasa.


"Tidak apa-apa, maklum masih kecil. Saya dulu juga seperti itu." Gifyka berusaha tersenyum kepada Rahma.


Hatinya semakin tenang saat Azriela mengusap pelan bahunya berulang kali.


"Sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya ya Non, saya malu kepada Non Ify." Rahma menunduk tak kuasa menatap Gifyka. Jujur saja, dalam hati Rahma pun menyimpan rasa takut kepada Gifyka. Hanya saja, Rahma tidak berani mengungkapkannya.


"Sudah Bu, tidak apa-apa." Mario angkat bicara mewakili Gifyka serta yang lainnya.


"Iya Bu, namanya juga anak kecil. Kami memaklumi kok." sambung Alvino berubah menjadi bijak.


"Terima kasih ya." Rahma tersenyum untuk menghilangkan kegugupannya sendiri.


"Apa makan siang sudah siap?" Gifyka mencoba mengalihkan pembicaraan supaya Rahma tidak terlalu memikirkan hal ini lagi.


"Mari masuk Non, makan siang sudah disiapkan di taman belakang." ajak Rahma berusaha biasa saja.


"Wah... Gue udah lapar banget." Azriela mengusap-usap perut datarnya membayangkan betapa lezatnya memakan cakalang fufu di tempat asalnya. Pasti sangat melumer di lidah.


"Yuk ah serbu..." Viara berjalan mendahului sahabat-sahabatnya menuju taman belakang seperti apa yang sudah diberitahukan oleh Rahma tadi.


"Anak itu kalau udah masalah makanan aja nggak bisa direm." Alvino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Viara.


Kelima remaja itu berjalan mengekori Viara dari belakang. Cacing-cacing dalam perut mereka benar-benar sudah ingin dikasih asupan makanan penuh gizi.


"Pacar lo tuh, Vin." Afriel menyenggol lengan Alvino.


"Awas ntar gendut, Vin." mulut kompor Mario akhirnya keluar.


"Cinta bukan masalah fisik Yo, tapi masalah hati. Meskipun fisik Via berubah jadi buruk rupa sekali pun, gue bakal tetap cinta. Karena gue cinta ke Via bukan karena wajah, tapi dari hati gue." ujar Alvino membuat Mario, Gifyka, Afriel dan Azriela terbengong-bengong tak menyangka bahwa Alvino bisa merangkai kata sedemikian panjang dan sangat romantis apabila di dengar oleh orang yang bersangkutan.


"Kalian pada kenapa sih? Pada suka ya sama gue?" Alvino sendiri risih akan tatapan dari keempat sahabatnya.


"Gue masih doyan cewek kali, Vin." decak Afriel yang sudah lebih dulu sadar dari shock dadakannya.


"Gue juga masih doyan cowok kali, Vin." sahut Gifyka berdecak kesal.


"Lah, gue kan cowok. Boleh dong kalau lo doyan sama gue. Tapi sorry, gue udah ada yang punya." sahut Alvino dengan tampang sok jual mahal.


"Ya maksudnya bukan cowok kayak lo. Lagian najis doyan cowok bentuk kayak lo gini." Gifyka bergidik ngeri sendiri mendengar penuturan Alvino.


"Ya kali aja gitu lo suka sama gue, secara kan gue ganteng nih, keren, kece, putih, tajir, pinter juga, ja..."


"Kalau pinter bakalan bisa ngalahin, Ify." ledek Afriel membuat Alvino berdecak kesal.


"Udah ah, yuk masuk. Tuh Via udah duluan." ajak Gifyka memandu para sahabatnya.


Kelimanya berjalan memasuki bungalow berwarna hijau muda di depannya.


"Wahh... Ini bener-bener kayak di dalam kerajaan." Mario mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak henti-henti mulutnya berdecak kagum atas desaign yang dibuat.


"Ini beneran bungalow, Fy? Bukan khayangan? Berasa di awan." Azriela tak kalah kagumnya saat melihat bagian plafon. Plafon bungalow memang bermotif awan, sehingga siapa pun yang berada di dalamnya berasa di atas awan.


"Gue juga baru lihat, sumpah ini keren banget. Gue nggak nyangka kalau bungalow milik Mama sebagus ini." Gifyka sendiri ikut memperhatikan sekeliling.


"Kalau gue tahu nih bungalow sebagus ini, gue udah ngerengek ke Mama sama Papa setiap liburan sekolah bakal ngajak ke sini."


"ALVIN! GIFYKA! TOLONG!" perhatian kelima orang itu langsung teralihkan oleh suara teriakan Viara. Terdengar sangat ketakutan dan lumayan jauh.


"VIA, LO DI MANA?!" teriak Alvino balik mencoba mencari kekasihnya.


"Itu Via," Afriel berlari ke Viara yang terlihat tersesat di sebuah lorong bungalow. Gifyka, Alvino, Mario dan Azriela ikut berlari menuju Viara yang kebingungan.


"Via, lo kenapa?" Alvino mendekati tubuh Viara yang bergetar ketakutan.


"Via, lo nggak kenapa-napa kan?" Gifyka ikut panik. Kedua tangannya sibuk memeriksa anggota tubuh Viara, takut terjadi apa-apa.


"Lo kenapa? Kok lo kayak orang kebingungan gitu sih." Mario pun ikutan panik melihat sahabatnya seperti ini.


"Iya Vi, lo cerita sama kita. Lo kenapa?" Azriela juga ikut mendekat ke arah Viara yang masih memeluk erat tubuh Alvino.


"Ada kita di sini Vi, lo nggak usah takut." Gifyka mengusap-usap bahu Viara.


"Syutt... Ada kami di sini, lo jangan takut ya." Alvino masih berusaha menenangkan Viara.


"Kita duduk dulu yuk." ajak Afriel memandu kelima sahabatnya. Akhirnya mereka memilih duduk di sebuah sofa yang ada di tengah-tengah ruangan.


"Nih minum dulu."


"Thank, Fy." Viara menerima botol air mineral dari Gifyka yang diambil dari dalam tas ranselnya.


Viara benar-benar seperti orang rakus, air mineral yang masih utuh dalam satu botol berukuran sedang itu habis dalam sekali minum.


"Udah tenang?"


Viara mengangguk mendapat pertanyaan dari Azriela.


"Lo bisa cerita?" Gifyka masih mengusap-usap bahu Viara.


"Gue tadi kan jalan sendirian, pas gue masuk lihat lorong kecil itu. Gue lihat ada lukisan di ujung, gue deketin. Pas gue balik badan mau balik ke kalian, tiba-tiba gelap dan gue kayak yang tersesat nggak tau jalan pulang." cerita Viara sambil menahan tangis.


"Syut... Lo udah aman, Vi. Kita semua bakalan saling jaga." Gifyka memeluk tubuh Viara yang bergetar.


"Maafin gue ya udah ngerepotin kalian."


"Udah, nggak usah nangis. Bukannya tadi lo semangat buat makan ya. Kita ke taman belakang yuk buat makan. Kasihan juga Zril udah kelaperan banget."


"Yuk, kita makan." Mario ikut membujuk Viara.


"Ayo, ntar lo kurus lagi kalau mogok makan." Alvino menarik tangan Viara.


"Harusnya lo seneng dong kalau gue kurusan." Viara menatap Alvino tak mengerti.


"Gue nggak seneng, ntar cantik lo ilang." gombal Alvino membuat keempat jomblo itu berdecak kesal. Bisa-bisanya kedua insan ini bermesraan di hadapan mereka.


"Alvin, lo bisa aja." berhasil, Viara seperti melupakan kejadian barusan. Kedua pipinya sudah bersemu merah menahan malu karena gombalan dari Alvino.


~**~


"Mau tambah, Yo?" Gifyka menawarkan Mario untuk menambah makanannya.


"Nggak ah, udah kenyang gue." Mario mengusap-usap perutnya pertanda kenyang.


"Gila, ini enak banget. Selama ini gue cuma bisa bayangin kapan gue bisa makan cakalang fufu di tempat asalnya. Dan akhirnya sekarang kesampaian." Afriel tak kalah kenyangnya dengan Mario.


Keenam orang ini seperti orang kesetanan saat melihat cakalang fufu, dabu-dabu, sambal roa, woku balanga, ayam rica-rica, ayam isi buluh, ayam tuturaga, dan berbagai macam olahan khas lainnya di ibukota Sulawesi Utara ini. Terutama ayam, daging ayam memang bisa diolah mejadi berbagai macam makanan.


Makan ditemani pemandangan pulau Bunaken dari kejauhan itu terasa sangat mengesankan. Ada energi mistik tersendiri, terasa lebih menyatu dengan alam. Apalagi makan di taman seperti ini. Sungguh momen langka untuk mereka. Wajar saja mereka merasa hal baru, keseharian mereka hanya makan di meja makan rumah mewah atau tidak di kantin sekolah dan kafe-kafe bernuansa megah. Rasanya lebih nikmat bisa makan di tempat outdoor.


"Perut gue berasa mau pecah." Azriela menyandarkan bahunya ke sandaran kursi. Bagaimana tidak seperti mau pecah, gadis pemilik rambut sepanjang bahu itu sampai nambah empat kali saking merasa enaknya. Ditambah Azriela tak sarapan tadi pagi, jadi membuatnya semakin kalap saja.


"Sama gue juga Zril, sampai sakit perut gue."


"Mendingan istirahat di kamar yuk, dipakai gerak juga sakit nih." usul Gifyka mendapat anggukan dari semuanya.


"Tapi bentar deh, masih pewe di sini." Mario menelungkupnya kedua tangannya di atas meja, menjadikan tumpuan untuk kepalanya.


"Kita bener-bener gila guys." Gifyka menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. Berulang kali Gifyka melakukan itu supaya lebih tenang.


Keenam remaja yang baru saja mekar bagaikan kelopak bunga ini terlihat kesetanan saat melihat sesuatu yang menurut mereka baru. Ya seperti ini jadinya.


~**~


Hembusan angin menyapu wajah seorang gadis berambut panjang nan hitam. Rambutnya menari-nari menambah kecantikan paras sang bidadari dunia. Saatnya memanjakan kedua mata dengan pemandangan indah dengan hamparan pulau serta ikan bermacam-macam warna, terumbu karang dan biota laut lainnya.


"Cantik." ujar lelaki berwajah hitam manis tiba-tiba.


Gadis berdagu tirus itu langsung menengokkan kepalanya ke arah kanan. Senyumnya merekah mendapati lelaki yang dia cintai secara diam-diam.


"Makasih." sahutnya sambil terkekeh ringan.


"Kenapa bilang makasih?" Mario menolehkan kepalanya mengarah Gifyka.


"Lo bilang gue cantik kan." Gifyka menaikkan sebelah alisnya ke atas meminta kepastian.


"Pulaunya yang cantik."


Gifyka melengos mendengar jawaban Mario. Dia pikir memang benar dirinya yang dibilang cantik. Ternyata tidak! Mario menujukkan itu untuk pulau yang sekarang mereka nikmati keindahan alamnya.


"Sana lo ah, ganggu gue lagi nikmatin pulau yang cantik aja." nada suara Gifyka berubah menyinis sambil menatap Mario kesal.


"Jadi ngusir orang ganteng nih?"


"Apaan sih." Gifyka menjauhkan tangan Mario yang menowel dagunya.


"Gabung yuk sama yang lain." Mario menarik tangan Gifyka tanpa seizin sang empunya.


"Dikira gue boneka kali ya, main tarik-tarik aja." gerutu Gifyka sambil berjalan mengikuti langkah kaki Mario menuju Azriela, Afriel, Alvino dan Viara yang sedang asik main pasir pantai.


"Tapi seneng kan?" tak pernah berubah, hobi Mario tetap menggoda Gifyka sampai kedua pipi gadis cantik ini bersemu merah.


"Pacaran aja lo." celetuk Afriel sambil terus membuat istana bersama Azriela.


"Sirik aja lo." balas Mario ikut duduk bergabung bersama mereka.


"Sampai sunset kan?" Viara memastikan bahwa mereka akan pulang setelah menyaksikan matahari terbenam.


"Hem," Gifyka menganggukkan kepalanya berulang kali.


"Besok kita bakalan nyusurin lima pulau!" girang Mario antusias.


Mereka semua sudah tidak sabar menanti hari esok. Rencana yang sudah mereka rancang dari awal, bahkan sampai membuat denah peta segala.


"Nggak sabar gue mau pamerin foto-foto gue ke temen-temen." kedua mata Viara berbinar-binar membayangkan betapa bagusnya kelima pulau di dalam satu pulau Bunaken yang sekarang sedang mereka kunjungi.


~**~


Masa Remaja, tidak akan pernah terulang kembali untuk kedua kali. Nikmati saat-saat kamu sedang merasa sakit hati dan berbunga-bunga di hati.




To Be Continue...