
Mario melihat jemari Gifyka yang sedari tadi dia genggam, saat ini mereka sedang ada di dalam lift di sebuah mall besar yang ada di pusat kota. Sesuai janji Mario semalam jika dirinya akan menemani Gifyka ke toko buku.
Gifyka sendiri sedari tadi hanya diam, dia belum mengatakan ingin mencari buku apa pada Mario. Lagi pula Mario juga tidak bertanya.
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka di lantai enam. Gifyka dan Mario langsung keluar bersama pengunjung lain juga keluar satu persatu.
Pandangan Gifyka mengedar, dia seperti mencari sesuatu. Mario sedikit heran, padahal Gifyka sudah hapal di mana tempat toko buku yang ada di mall ini.
"Kamu mencari apa, Fy?" akhirnya Mario memutuskan untuk bertanya.
"Enggak, aku hanya merasa jika mall sedikit ramai hari ini." desah Gifyka.
Mario ikut mengedarkan pandangannya, benar juga yang dikatakan kekasihnya itu jika suasana mall memang lebih ramai. Padahal sekarang bukan hari sabtu atau pun minggu.
"Ya sudah, mau langsung ke toko buku atau mau ke mana dulu?"
"Aku mau ke toilet sebentar." ujar Gifyka sambil menatap wajah Mario.
Kepala Mario mengangguk, dia akhirnya memutuskan untuk membeli minuman saja selagi menunggu Gifyka dan akan ketemu di tempat ini setelah mereka selesai.
Kedua manusia itu langsung berjalan menuju tempat masing-masing. Mario memilih ke KFC dan memesan dua minuman. Gifyka ke toilet untuk membersihkan wajah.
Sesampainya di toilet, Gifyka langsung membasuh wajahnya menggunkan air dari keran yang langsung berhadapan dengan cermin besar. Rasa segar langsung menyapa wajahnya, setelah tadi berada di dalam mobil yang menurut Gifyka panas. Padahal AC mobil dihidupkan oleh Mario.
"Segarnya." gumam Gifyka sambil mengelap wajahnya menggunakan tisue yang sengaja dia bawa.
Selesai mengelap wajah, Gifyka mulai memoles wajahnya menggunakan make-up seadanya yang sering dia pakai. Gifyka tidak mau membuat Mario menunggu terlalu lama.
Polesan lipbalm adalah hal terakhir yang Gifyka pakai. Setelah merasa, dandanannya rapi dan tidak ada yang berkurang. Akhirnya Gifyka merapikan make-up dan bersiap untuk menemui Mario.
"Astaga!" pekik Gifyka ketika membalikkan badan ternyata ada orang berdiri tepat di belakangnya.
Padahal seingat Gifyka, saat dirinya tadi memastikan penampilannya di cermin sebelum membalikkan badan di cermin tidak ada siapa-siapa. Tapi kenapa saat membalikkan badan, tiba-tiba ada seorang perempuan berdiri di belakang tubuhnya dengan jarak yang begitu dekat.
"Maaf, permisi." Gifyka menggeser langkah kakinya dan mulai berjalan meninggalkan orang itu.
"Jangan berusaha ikut campur dengan urusanku." ujar perempuan tadi entah pada siapa.
Gifyka menghentikan langkah kakinya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh perempuan tadi. Apa mungkin dirinya yang diajak bicara oleh perempuan itu, mengingat di dalam toilet hanya ada mereka berdua.
"Maaf, anda bicara dengan saya?" tanya Gifyka memberanikan diri.
Perempuan itu membalikan badan, berjalan mendekati Gifyka dan berdiri menatap Gifyka sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tercetak smirk evil di wajah cantik perempuan yang tidak Gifyka kenali.
"Aku peringatkan, jangan ikut campur dengan urusanku." hanya itu yang dikatakan oleh perempuan berbaju kotak-kotak tadi.
Gifyka terdiam di tempat, dia tidak paham dan tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mengganggu urusan perempuan tadi. Perasaan Gifyka, dia tidak pernah ikut campur dengan urusan orang lain.
Drt... Drt... Drt...
Gifyka terkesiap saat mendapat pesan dari Mario. Dia sampai lupa jika Mario pasti sudah menunggunya. Benar, tujuannya ke sini itu karena dia ingin membeli buku.
***
Mario membantu Gifyka membawa buku-buku yang Gifyka cari. Sudah ada enam buku yang Gifyka ambil dan semua tentang lucid dream.
"Kamu ada tugas tentang lucid dream?" tanya Mario saat dia selesai membaca semua judul buku itu.
"Di kelas memang ada pelajarannya, selain itu juga aku ingin mempelajarinya di luar materi." Gifyka kembali mengambil dua buku dan memberikan pada Mario.
Mario sudah terlihat keberatan membawa delapan buku yang tebalnya berbeda-beda. Gifyka hanya terkekeh melihat ekspresi Mario yang keberatan membawa semua buku yang ingin dia beli.
Mereka berdua kembali berkeliling. Bukan! Lebih tepatnya Gifyka yang berkeliling mencari buku yang sekiranya bisa dia beli lagi. Sedangkan Mario hanya mengikuti ke mana perginya Gifyka.
"Ada lagi?" tanya Mario sudah benar-benar keberatan harus membawa buku-buku itu lebih lama lagi.
Gifyka juga merasa sepertinya tidak ada lagi yang akan dia beli. Untung saja di kasir tidak antre, jadi Gifyka bisa langsung bayar.
Tidak harus menunggu lama, sekarang Gifyka dan Mario sudah berjalan menuju eskalator. Tujuan mereka sekarang mampir ke kafe atau tempat makan yang bisa menggugah selera mereka.
Ketika Gifyka menaiki eskalator menuju bawah, tidak sengaja ada seorang anak kecil yang menabraknya dari belakang dan baju kesayangan Gifyka sampai terkena es krim.
"Adik, hati-hati jalannya. Nabrak Kakaknya itu." ujar sang ibu memperingati putranya.
"Maaf Mbak, putra saya tidak sengaja." ujarnya pada Gifyka.
Gifyka menatap anak kecil itu yang terlihat menyesal dan hampir menangis menatapnya karena tidak sengaja menabrak. Kakinya melangkah ke atas sekitar dua tangga agar bisa bersama sang ibu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gifyka manis pada anak kecil itu.
Kepala anak kecil itu menggeleng berulang kali hingga membuat Gifyka tersenyum.
"Maaf, aku tidak sengaja." ujar bocah kecil tadi.
"Tidak apa-apa, cepat makan es krimnya." ujar Gifyka sambil mengusap pipi gembul bocah yang kira-kira berusia tujuh tahun.
Gifyka berdiri menatap ibu sang anak. Dia sudah tidak mempedulikan pakain kesayangannya yang kotor oleh es krim. Gifyka hanya membersihkannya menggunakan tisue yang selalu dia bawa.
"Sekali lagi maaf ya Mbak." ujar ibu sang anak.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Fy, bentar lagi turun." Mario memberi tahu.
Gifyka kembali fokus, dirinya siap-siap turun bersama Mario.
"Mama...!" teriak anak kecil tadi.
"Tolong...!"
Gifyka seketika melihat ke belakang, betapa kagetnya dia ketika melihat hoodie yang dipakai anak kecil tadi terjebak di eskalator. Sedikit lagi tubuh anak kecil itu bisa digiling oleh eskalator jika tidak segera ditolong.
Banyak petugas yang berusaha menolong dan pihak mall sudah meminta eskalator dihentikan. Ricuh seketika, semua mendekat dan berusaha menolong.
Gifyka tidak menyangka jika anak kecil itu akan terjebak di sana. Dia tentu panik, mana mungkin dia tega melihat ibu dari anak kecil itu menangis menyaksikan putranya sendiri digiling eskalator.
"Stop." ujar Gifyka lirih sambil berkonsentrasi menatap eskalator yang dia naiki lagi.
Eskalator benar-benar berhenti usai Gifyka mengucapkan kata-kata tadi. Mario menoleh ke arah Gifyka, dia tahu jika itu perbuatan Gifyka.
Para petugas langsung menolong sang anak kecil yang sudah menangis dan ketakutan. Bisa Gifyka lihat jika ibu dari sang anak yang tadi meminta maaf padanya memeluk putranya dengan sayang sambil menangis.
Banyak orang membantu ibu muda itu untuk berdiri dan turun dari eskalator yang masih berhenti. Tangisan itu terdengar begitu pilu.
Gifyka tidak menyangka jika kekuatannya bisa dipakai untuk menolong orang. Entah menolong atau menyalahi takdir.
Dari kejauhan, Gifyka melihat perempuan yang tadi bicara dengannya ketika di toilet. Terlihat aura kemarahan dari perempuan itu. Gifyka jadi tersadar, apa mungkin yang dimaksud perempuan tadi itu tentang ini. Tapi jika benar, siapa perempuan itu sebenarnya?
"Aku mau pulang." ujar Gifyka sambil menarik lengan Mario untuk menjauh dari area kejadian dan menuju parkiran.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Mario saat dia menyadari ada yang berbeda dari Gifyka.
"Iya, aku baik-baik saja kok." Gifyka menatap Mario sebentar sambil menganggukkan kepalanya.
Gifyka hanya ingin pulang dan istirahat, dia syok dengan kejadian di hari ini dan kehadiran perempuan yang tidak dia ketahui siapa dan dari mana.
***
Next...