
Azriela masih saja menangis merasa kesakitan. Tangannya tidak rupa tangan. Tapi lebih cocok dibilang daging penuh akan sayatan. Darah sudah mengering, seluruh tubuhnya terasa sakit dan perih. Bukan hanya tangannya yang penuh akan luka sayatan, tapi di bagian pahanya pun sama. Kedua mata Azriela menatap bengis ke arah orang yang sudah melakukan ini semua. Sangat tidak menyangka bahwa dialah pelakunya.
"Dari pada lo sakitin gue secara perlahan kayak gini, mending lo bunuh gue dengan sekali tusuk. Atau enggak lo bisa pecahin kepala gue pake palu lo itu." Azriela menatap ngeri ke arah palu sebesar palu yang suka dipakai tukang batu untuk memecahkan batu-batu besar. Bayangan apabila kepalanya benar-benar dipecahkan menggunakan palu itu, kian mengerikan dan membuat perasaan takut semakin mencuat ke dasar hatinya.
"Hahaha... Aku lebih suka menyiksamu dan membunuhmu perlahan-lahan ketimbang sekali terjang." orang itu membalikkan badannya sambil memainkan cambuk yang sedari tadi dia pakai untuk mencambuk tubuh Azriela.
Tawa sumbang itu terdengar sangat menakutkan di telinga Azriela. Keberaniannya sudah menguap dari beberapa kemarin malam ketika dirinya ditarik oleh orang tak dikenal ketika buang air kecil bersama Gifyka.
"Lepaskan! Dasar sayko lo! Psikopat ban**a*!" Azriela meludahi wajah orang di depannya. Hal itu mengundang kemarahan orang yang diludahi Azriela, merasa terhina.
"Dasar anak kota!"
Ckat!
"Aw...!" ringis Azriela ketika cambuk di tangan seorang perempuan di depannya mengenai bagian perutnya.
"Rasakan ini!" seolah semakin menggila, Azriela semakin menangis ketika menerima cambukan demi cambukan yang teramat panas serta perih di sekujur tubuhnya.
"Stop Rahma! Hentikan!" teriak Azriela tak kuasa menahan rasa sakit yang melanda kian dahsyat.
Wanita yang menculik dan menyiksa Azriela adalah Rahma. Pengurus bungalow milik keluarga Gifyka. Azriela sangat tidak menyangka bahwa wanita itu adalah seorang psikopat.
"Mau... Ap... Apa... Kau dengan ben... Ben... Benda ituh?" Azriela menggeliat-geliatkan tubuhnya, berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya. Tapi nihil, ikatan tali itu sangat kuat. Napas Azriela tercepat ketika melihat Rahma memainkan tang dan tersenyum sinis melihat mangsa.
"Aku akan bersenang-senang denganmu." Rahma memainkan tang ke wajah Azriela.
Tubuh Azriela semakin bergetar hebat, ini pertanda buruk. Pasti Rahma akan melakukan hal aneh kepadanya. Tangan Rahma sudah bermain dengan tangan Azriela. Air mata sudah mengalir dengan sendirinya dari kedua kelopak mata Azriela.
"Apa yang mau lo lakuin?"
"Hahaha... Kamu takut gadis cantik?"
"Aw..." ringisan Azriela kembali membuat Rahma tertawa ketika Rahma menjambak rambutnya.
"Aku akan bermain-main sebentar denganmu, tenang saja. Ini tidak terlalu sakit."
"Aw...!" tangisan Shilla pecah ketika merasakan kuku di jari jempol kirinya dicabut paksa menggunakan tang oleh Rahma.
Air mata Azriela sama derasnya dengan darah yang keluar dari jempol bagian kiri. Sangat menyakitkan! Azriela terus merintih kesakitan merasakan jempolnya sudah tidak berkuku.
"Hahaha... Ini menyenangkan."
"Sialan lo b**g**t!" teriak Azriela sekencang mungkin.
Rahma malah tertawa kencang untuk meluapkan rasa bahagianya. Kini dirinya sudah kembali mendekat ke tangan Azriela. Gadis itu semakin ketakutan dan mengepalkan kesembilan jarinya supaya Rahma tidak kembali mecabut kuku jarinya. Cukup di bagian jempol kirinya saja. Itu sudah lebih dari menyakitkan.
Lama-lama gue bisa mati beneran kalau nggak ada yang nyelametin gue di sini. Azriela teringat akan semua sahabatnya. Berharap penuh kepada mereka akan menemukannya secepat mungkin.
"Buka tangan kamu gadis kota!" Rahma berusaha membuka tangan Azriela yang terkepal kuat.
"Enggak!" Azriela masih mengeratkan tangannya. Mana mungkin dirinya mau membuka genggaman tangannya jika dia tahu bahwa Rahma akan kembali mencabut kuku di jarinya.
"Aw.... Berengsek!" pekik Azriela lagi ketika satu kukunya kembali dicabut oleh Rahma. Darah kembali mengalir, Rahma tersenyum melihat banyak sekali darah yang menetes dari jari Azriela.
Gadis cantik itu menangis merasakan sakit. Dua kuku jarinya sudah dicabut oleh Rahma, tidak menutup kemungkinan bahwa kedelapan kuku jarinya akan dicabut pula. Air matanya sama derasnya dengan darah di jarinya. Bibir dan hatinya terus mengumpat sumpah serapah atas tindakan Rahma.
"Hahaha... Bagaimana rasanya? Nikmat bukan?" Rahma mengusap pipi mulus Azriela menggunakan tang yang dipakai untuk mencabut kuku jari Azriela.
"B**gs**, b**i, *n**ng lo setan!" sumpah serapah dan berbagai macam kata-kata kasar keluar secara otomatis dari bibir mungil Azriela.
Tubuh gadis itu bergetar menahan tangis dan merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Luka yang diberikan Rahma belum ada yang kering tapi sekarang ditambah lagi yang baru.
"Ini belum seperapa, bagaimana kalau aku potong daging kamu sedikit demi sedikit lalu aku rebus di sana. Hahaha.... Itu akan lebih mengasyikkan sekali."
Prang!
Kaki Azriela menendang kaleng di dekat kakinya mengenai panci besar yang dimasak di atas tungku dan dalamnya ada air mendidih.
Tubuh Azriela semakin bergetar hebat mendengarnya. Rasanya lebih baik dibunuh sekaligus dari pada disiksa sedikit demi sedikit seperti sekarang. Ini menyakitkan dan mengerikan.
"Tolong lepaskan gue, Rahma. Apa yang lo mau? Lo mau duit? Bakal gue kasih berapa pun jumlahnya, asal lo bebasin gue. Atau kalau lo nggak mau bebasin gue, lo bisa bunuh gue dengan sekali tusuk tepat di jantung gue. Please, jangan seperti ini. Ini menyakitkan." isak tangis Azriela semakin menjadi.
Tak sanggup membayangkan apabila Azriela harus merasakan sakitnya ketika anggota tubuhnya dipotong sedikit demi sedikit lalu menyaksikan secara langsung anggota tubuhnya direbus di air mendidih. Ini mengerikan! Sangat mengerikan!
"Argh...!" teriak salah satu di antara mereka ketika merasakan ulu hatinya seolah tertusuk.
~**~
"Mario awas!" seru Gifyka ketika melihat Irina memberikan bola angin.
Untung saja Mario sigap, bola angin itu akhirnya tidak mengenai Mario atau Gifyka. Tapi terlempar jauh ke arah lain dan mungkin mengenai pohon atau apa entah itu bukan urusan Gifyka atau Mario.
"Ikut aku ke Laxymuse sekarang juga Gifyka!" Irina sudah sangat marah. Londru, partner-nya dalam misi ini sudah pergi menyusul Artena. Tinggal Irina seorang diri, itu pun kalau Ortofus tidak mengutus salah satu orang kepercayaan Laxymuse lagi.
"Nggak akan! Sampai kapan pun gue nggak akan pernah mau ikut sama lo ke Laxymuse, khayangan, langit ketujuh atau apalah itu gue nggak mau! Lo nggak budek kan mahkluk astral!"
Mario mendekat ke arah Gifyka dan menggenggam jemari Gifyka. Mario ingin mereka berlari kembali mencari di mana pelabuhan. Tinggal sekali menyebrang maka mereka akan sampai di pulau Bunaken.
"Gimana kalau kita lari lagi, Yo? Kita pake kekuatan tanpa tembus serangan." usul Gifyka yang mendapat anggukan dari Mario.
"Oke, satu, dua, tiga, lari!" seru Gifyka menarik tangan Mario guna menjauh dari Irina.
"Anti serangan!" bola angin yang Irina hempaskan tidak berfungsi. Semuanya ambyar ketika menyentuh dinding perlindungan anti serangan milik Gifyka.
Irina semakin kelimpungan, yang dia hadapi orang yang memiliki kekuatan. Bukan orang biasa yang bisa dibodohi atau mudah ditangkap.
Gifyka dan Mario terus berlari menjauh dari Irina yang juga mengejarnya. Mahkluk astral itu terlihat kesal karena sekarang Gifyka dan Mario melayang dengan dilindungi anti serangan.
"Harus bisa aku membuat Gifyka membuang kalung veromon yang dia pakai, kalau tidak aku akan susah mendapatkannya dan membawanya ke hadapan Raja Ortofus." tekat Irina sambil terus berlari mengejar mereka.
Gifyka dan Mario tidak lagi menghiraukan Irina. Mereka terus mengembangkan larinya, tapi sekarang sudah berganti menjadi lari biasa saja.
"Hua..." teriak Gifyka kaget karena kakinya menendang mayat seorang wanita. Mata Gifyka seolah tak bisa berkedip melihat semua peristiwa ini.
"Kalian akhirnya datang juga." suara seorang wanita mengagetkan kedua pasangan itu.
"Astaga Zril! Lo di sini?" Gifyka mendekat ke arah Azriela yang masih menangis. Semua ini seolah mimpi, tapi ini bener nyata.
"Fy, hiks... Sakit, Fy..." tangis Azriela pecah melihat Gifyka dan Mario ada di depannya.
"Bi Rahma kenapa, Zril?" bingung Gifyka karena ada Rahma yang tergeletak tak bernyawa di depan kedua matanya sekaligus.
Mario berusaha melepaskan tali di tangan Azriela. Lelaki jangkung itu heran, tempat apaan sih ini. Seperti tempat psikopat yang sedang memangsa buruannya.
"Ini tempat Rahma nyiksa orang-orang." tangis Azriela terdengar begitu pilu.
"Rahma? Nyiksa orang-orang?"
"Iya Fy, dia seorang psikopat. Selama ini gue disiksa sama dia." cerita Azriela di sela-sela isak tangisnya.
Gifyka melihat kondisi Rahma. Wanita itu mati dalam kondisi mengenaskan. Tepat di bagian perutnya bolong, seperti terkena entah apa. Baru sadar, bahwa bola angin yang Irina hempaskan tadi telah mengenai perut Rahma sehingga wanita itu mati secara sia-sia.
"Ya udah, sekarang lo udah bebas dan udah aman sama kita." Mario berhasil melepaskan ikatan di tangan Azriela.
"Kita lari Fy, sebelum Irina semakin dekat."
"Oke." Gifyka mendekat ke mereka. Dan memberi aba-aba supaya lari bersamanya.
~**~
To Be Continue...