Future and True Love

Future and True Love
31. Kutukan!



Di sudut kamar utama milik Ortofus, terdapat kilauan cahaya yang sangat terang. Benda berbentuk teko itu bergerak-gerak sendiri tanpa ada senggolan atau getaran dari benda lain.


Di lain tempat, Nafita masih berusaha melepaskan Gifyka dari jeratan Ortofus. Sedangkan Mario dan Yoga mencari cara menemukan di mana Gifyka berada.


"Syut... Kemarilah." bisik kurcaci kuning kepada Mario dan Yoga.


"Di sana Tuan Putri Gifyka berada." sambung kurcaci ungu.


Mario dan Yoga mendekat ke arah lima kurcaci itu berada. Mereka sama-sama mengintip bahwa di sana benar terlihat ada Gifyka bersama Nafita dan seorang lelaki tua berambut panjang dengan pakaian kerajaan dan ada mahkota di atas kepalanya.


"Apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan menyusul Tante Nafita ke sana?" Mario menatap kelima kurcaci itu sekilas. Meminta persetujuan dari mereka.


"Ya, kita harus ke sana dan membantu Putri Nafita." sahut kurcaci merah.


Mereka berjalan mengendap-endap supaya Ortofus tidak melihat keberadaan mereka. Mario meletakkan jari telunjuknya ke depan hidung peseknya ketika melihat Gifyka akan meneriakinya. Tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika melihat seorang wanita paruh baya dengan penampilan begitu menarik bagai Ratu kerajaan. Meski bisa ditebak bahwa usianya sudah tidak lagi muda tapi aura kecantikan dan keanggunannya masih terpancar jelas. Membuat mereka sedikit terpana.


"Nafita, putriku..." ujar wanita paruh baya itu sambil terus berjalan mendekati sang putri tercinta.


Ortofus kaget bukan main ketika melihat istrinya kembali menjadi sosok yang dia rindukan. Bukan lagi menjadi sebuah teko kristal yang menjadi pajangan di kamarnya.


"Bunda Ratu..." Nafita memeluk ibunya penuh kerinduan. Belasan tahun tidak melihat dan merasakan belaian seorang ibu membuat Nafita  begitu merindukannya.


"Kamu kembali putriku, aku merindukanmu sayang." tak henti-hentinya Calleys-Ratu mengucap syukur dan menciumi inci demi inci wajah putrinya.


Mereka berdua terus berpelukan bagai teletubbies reuni. Ortofus masih memerhatikan istri tercintanya. Melihat paras ayu dari sang istri adalah kerinduan terbesarnya selama ini. Dirinya sangat ingin memeluk Calleys dan mengucap syukur.


Tak beda jauh dengan Mario, Yoga dan kelima kurcaci yang juga melihat adegan mengharukan itu. Mereka pun ikut terhanyut dalam suasana haru.


"Yak... Jorok sekali dirimu!" kurcaci kuning memekik ketika Yoga menjadikan pakaian kurcaci itu sebagai lap ingusnya yang dari tadi naik turun bagai perosotan.


Tiba-tiba di sela-sela keributan salah satu kurcaci dengan Yoga, tiba-tiba terdengar suara yang membuat mereka sampai terkaget-kaget.


"Berhenti!"


Semua orang menatap ke satu titik, ke arah perempuan yang baru saja terbebas dari kutukan dari dirinya sendiri selama ini.


Ortofus menatap tak percaya karena Calleys tiba-tiba membentaknya saat Ortofus hendak mendekat dan ingin memeluknya.


Gifyka dan Nafita pun hanya menonton tanpa ingin ikut campur. Tanpa disadari, Nafita mendekat ke arah Gifyka dan melepaskan ikatan tali di tubuh Gifyka.


"Bebaskan cucuku! Atau kalau tidak, biar aku saja yang bunuh diri karena keegoisanmu." ancam Calleys tanpa rasa takut.


Ortofus gelagapan mendengar syarat dari sang istri tercinta. Dirinya tidak mungkin jika melepaskan Gifyka begitu saja. Dirinya tidak memiliki seseorang dari darah keturunannya untuk melanjutkan menjadi Raja. Tapi kalau dirinya tidak melepaskan Gifyka, maka taruhannya Calleys yang akan nekat. Perempuan yang selama ini dia tunggu-tunggu bisa kembali menjadi permaisuri lagi.


"Tapi Calleys, kamu tahu kalau aku merencanakan ini semua sudah dari lama. Mana mungkin aku membebaskan cucu kita begitu saja." Ortofus berusaha sangat pelan sekali ketika berbicara dengan Calleys.


"Kalau begitu, musnahkan aku!"


Nafita diam tak berkutik ketika Calleys-Ibunya menyerang Ortofus secara mendadak. Yang dia lihat Ortofus hanya berusaha menghindar tanpa mau membalas serangan demi serangan dari Calleys.


"Hentikan Calleys!" sentak Ortofus sembari memegangi kedua tangan Calleys yang terus berusaha menyerang.


"Bebaskan Gifyka!" bentak Calleys balik dengan penuh amarah.


"Gifyka adalah kutukan! Tidak akan ada orang yang mau berteman dengannya kecuali hati mereka benar-benar tulus. Semua orang yang melihatnya akan merasa takut dan menghindar karena mendapatkan marabahaya." jelas Ortofus.


Gifyka kaget bukan kepalang. Ternyata ini alasan kenapa semua orang yang melihat atau dekat dengannya sangat takut, kecuali teman-temannya yang sudah mati dan hanya tersisa Mario. Nafita tak kalah kagetnya. Yang dia tahu selama ini hanyalah Gifyka itu titipan benih masa depan dari Ortofus.


"Kenapa Ayah tega? Kenapa Ayah sangat egois?" Nafita sangat-sangatlah emosi.


Mario dan yang lainnya berjalan mendekati Ortofus dengan segenap rasa takut yang mereka miliki.


"Kalau begitu, apa penangkal dari kutukan itu?" tanya Mario sedikit takut-takut.


"Katakan! Atau kalau tidak aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga!" Calleys masih tak berhenti mengancam Ortofus.


"Jangan tinggalkan aku, Calleys. Aku mohon." kedua tangan Ortofus menangkup menjadi satu di depan dada.


"Kalau begitu, katakan apa syarat supaya Gifyka terbebas dari kutukan itu?"


"Tapi jika kutukan itu hilang, kerajaan ini akan runtuh, Calleys. Mengertilah."


"Jangan membuat habis kesabaranku!"


"Ba... Baiklah... Akan aku katakan syaratnya."


"Cepat katakan!"


"Syaratnya adalah, harus ada seorang lelaki yang mencintai Gifyka secara tulus dan lelaki itu harus mengungkapkan perasaannya di bawah cahaya bulan. Tidak sembarang laki-laki yang mampu mencintai Gifyka disebabkan oleh kutukan itu."


Tanpa basa-basi, Mario mengajak lari gadis itu ke bawah cahaya bulan. Semua yang ada di dalam kerajaan ikut berlari mengejar ke mana arah perginya Mario membawa Gifyka. Mereka heran, kenapa Mario melakukan hal demikian.


~**~


Di sinilah mereka, ada Ortofus, Ratu Calleys, Nafita, kelima kurcaci, Yoga dan terutama Gifyka serta Mario. Mereka berkumpul di bawah terangnya cahaya bulan. Jika dari bumi, bulan nampak hanya sedikit bersinar, tapi jika di sini maka bulan terlihat sangat terang sekali. Mereka semua merasa bingung, apa yang akan dilakukan oleh Mario sekarang. Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam benak mereka.


Dengan kepercayaan diri penuh juga keberanian tingkat dewa Neptunus, Mario berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sekian lama lelaki itu memendam perasaannya kepada Gifyka. Dan giliran mendapat kesempatan harus mengungkapkan perasaan, malah saat-saat genting seperti sekarang ini.


Gifyka hanya diam saat Mario menggenggam jemarinya. Jantungnya pun berdebar berulang kali kian cepat, kurang lebih sama seperti apa yang dirasakan Mario.


"Fy, terserah lo mau percaya atau enggak sama gue. Tapi ini jujur dari lubuk hati gue yang paling dalam. Udah lama gue mendem rasa sayang sama lo, Fy. Gue cinta sama lo." ujar Mario penuh penekanan dan sangat jelas.


Bukan hanya Gifyka yang shock, tapi juga semua yang ada di khayangan kaget.


Benarkah Mario, lelaki yang mencintai Gifyka secara tulus?


"Apa lo gak salah ngomong, Yo? Gue sahabat lo dari kecil. Mungkin itu cuma rasa sayang sebagai sahabat doang kali." Gifyka tidak mau bersenang hati dulu. Siapa tahu, Mario melakukan semua itu karena hanya ingin membebaskannya saja.


"Enggak, Fy. Ini beneran gue cinta sama lo sebagai laki-laki dan perempuan. Bukan sebagai sahabat. Gue harap lo juga punya perasaan yang sama ke gue." kedua tangan Mario tak beranjak dari jari-jemari milik Gifyka.


"Tapi Yo, kita kan sahabat."


"Nggak ada tapi-tapian untuk sebuah rasa cinta. Lo juga cinta kan sama gue, Fy?"


"Gue juga cinta sama lo, tap... Ahk..."


Kerajaan khayangan terguncang kian hebat. Semua yang tersisa berhamburan ingin menyelamatkan diri. Nyatanya yang tersisa hanyalah mereka yang tadi menyaksikan acara pengungkapan rasa kepada Gifyka.


"Kerajaan ini akan hancur!" teriak Ortofus sambil menahan sesak di dadanya.


Mereka terus-terusan terguncang ke kanan dan ke kiri. Bagai terkena bencana alam yang sangat dahsyat.


"Kita turun ke bumi sekarang juga!" Calleys mengepakkan selendang terbangnya. Begitu pula dengan Nafita, wanita paruh baya itu pun mengepakkan selendangnya.


"Jangan tinggalkan aku, Calleys." teriak Ortofus.


"Terkuburlah bersama ambisi dan kesombonganmu Pangeran." ujar Calleys, kemudian menggamit Mario di sebelah kanan dan menarik Yoga di sebelah kirinya. Gifyka dan kelima kurcaci itu ikut bersama dengan Nafita.


Begitu pun para kurcaci ikut pergi dengan kekuatan dan caranya masing-masing.


~**~


To Be Continue...