Future and True Love

Future and True Love
36. Masih Ada



Gifyka masih mendengarkan penjelasan dari dosennya di depan. Memasuki semester tiga, ada pelajaran yang membuat Gifyka tertarik. Yaitu tentang mimpi. Dosennya meminta semua mahasiswa dan mahasiswinya untuk menulis apa mimpi mereka di dalam buku dan meminta teman sekelas mereka untuk mereview mimpi temannya tersebut. Hal ini sangat membuat Gifyka senang.


Dosen tadi melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sepertinya jam pertemuan mereka memang sudah habis.


"Tugas kalian masih sama, tulis apa saja mimpi kalian setiap malam ke dalam buku." ujar sang dosen mengingatkan.


Dosen kelas Gifyka di depan itu memang sedikit berbeda, beliau banyak bicara dan sering mengingatkan jika ada sebuah tugas. Meski tugas itu setiap hari sama saja.


***


Meski masih kesal pada Mario, gadis cantik berdagu tirus itu tetap pergi bersama tunangannya mencari tempat sepi untuk mencoba kekuatannya. Gifyka benar-benar hanya ingin mencoba saja, tanpa ada niatan ingin menggunakannya lagi. Lagi pula untuk saat ini, Gifyka tidak butuh kekuatan itu. Tapi entah untuk beberapa waktu ke depan, tidak akan ada yang tahu bukan.


Mario bersedia menemani Gifyka, kali ini dia bertujuan mengajak Gifyka ke lapangan futsal milik keluarganya. Lelaki itu sengaja membooking tempat futsalnya sendiri untuk beberapa jam ke depan. Jadi papanya juga tidak akan rugi meski lapangan itu digunakan oleh putranya dalam beberapa jam. Ya, meski pun Mario tahu jika papanya tidak akan marah jika lapangan futsal itu dia pakai sendiri.


"Yakin aman kalau kita di sana?" Gifyka memandang Mario yang fokus menyetir.


"Aman Fy, enggak usah takut ketahuan." lagi-lagi Mario meyakinkan tunangannya jika di sana akan aman dan tidak akan ada yang melihat.


Gifyka mengangguk-anggukkan kepalanya, dia percaya pada Mario. Lagi pula dirinya juga tidak ada referensi tempat untuk menguji kekuatannya lagi. Jadi dari pada ribet, lebih baik menurut saja.


Tidak jauh dari kampus, sekarang kedua insan yang berstatus kekasih itu sudah sampai di studio futsal milik keluarga Mario. Keduanya langsung turun dan berjalan beriringan menuju meja pemesanan.


"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Mario memastikan.


"Sudah Mas, sudah beres semua." jawab sang manager studio futsal tersebut.


Mario menganggukkan kepalanya, tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih karena sang manager sudah bersedia menyediakan tempat untuknya.


"Ayo." Mario mengajak Gifyka ke area lapangan langsung.


Tanpa diikuti oleh siapa pun, kedua manusia itu sudah berada di tengah-tengah lapangan futsal. Di sana ada beberap jenis benda yang diminta Mario pada pihak manager studio. Dan benar saja, semua yang Mario pesan disediakan di sana.


"Kamu bisa langsung coba, Fy. Aku bakal lihat dari sini." Mario menepuk bahu Gifyka pelan lalu Mario memilih duduk di sisi lapangan.


Mario menunggu kekasihnya mencoba kekuatannya lagi. Gifyka terlihat masih mengambil ancang-ancang dan entah ingin mencoba dari mana.


Gifyka fokus pada beberapa barang yang disediakan di sekitar lapangan futsal. Bukan barang aneh, hanya ada pot bunga, beberapa kaleng minuman yang masih utuh, bola sepak tentunya dan barang-barang lazim lainnya.


Sambil menarik napas dalam-dalam, Gifyka mencoba memfokuskan pikiran dan pandangannya pada salah satu barang yang ada.


"Pecah!" seru Gifyka tiba-tiba.


Tidak bisa dipungkiri, mendengar apa yang dikatakan Gifyka barusan membuat Mario kaget. Lelaki itu sampai berjingkat saking kagetnya saat mendengar dan melihat pot bunga dari tanah liat pecah seketika.


Gifyka tidak percaya, ternyata kekuatannya masih ada dan tidak sirna sedikit pun. Dia kembali memfokuskan dirinya pada bola sepak.


Mario masih diam saja, tapi tak selang lama dia melihat bola sepak melayang ke udara usai mendengar Gifyka mengucapkan kata melayang. Kemampuan tunangannya itu memang masih ada ternyata.


Kali ini Gifyka mencoba menggeser-geser kaleng soda ke kanan dan ke kiri beberapa kali dengan ucapannya. Masih sama saja, kaleng soda itu mengikuti apa yang diucapkan Gifyka.


Mario melihat dua kaleng soda bergeser mendekatinya dan berhenti tepat di depannya. Tak lama, Mario melihat Gifyka menyudahi acara coba kekuatannya dan sekarang sedang berjalan ke arah Mario.


"Ternyata masih berfungsi." ujar Gifyka sambil duduk di sebelah Mario.


Tangan mungil Gifyka terulur mengambil satu minuman kaleng bersoda dan membukanya. Mario pun mengikuti apa yang Gifyka lakukan.


"Terus kamu mau bagaimana sama kekuatan itu?" Mario meletakkan kaleng sodanya ke sisi sebelah kanan.


"Mungkin aku akan menerimanya dan menganggapnya sebagai anugerah." Gifyka hanya mengedikkan bahunya saja.


Mario mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia juga tidak akan meminta Gifyka menghilangkannya. Lagi pula, bagaimana caranya menghilangkan kekuatan. Itu sudah anugrah untuk Gifyka.


"Aku coba sekali lagi ya." Gifyka berusaha mencoba lagi.


"Terbang." ujar Gifyka.


Gifyka jadi heran, kenapa dirinya tidak terbang seperti apa yang dikatakannya barusan. Gifyka masih tetap duduk di sebelah Mario.


"Kok enggak terbang ya, Yo?" Gifyka jadi heran sendiri.


"Aku malah enggak paham, Fy." Mario juga jadi heran.


"Apa ada yang salah?" Gifyka mencoba mencari-cari di mana letak kesalahannya.


"Kamu kurang konsentrasi mungkin." ujar Mario.


Gifyka menjentikkan jarinya, dia kembali mencoba kekuatannya. Kali ini Gifyka benar-benar berkonsentrasi penuh seperti tadi dia membuat benda-benda itu pecah dan mengikuti semua kata-katanya.


"Terbang!" ujar Gifyka.


Mario melihat tubuh Gifyka perlahan-lahan terbang dalam posisi duduk bersila. Kekasihnya itu benar-benar melayang ke udara. Hal itu membuat Mario kembali takjub pada kekuatan yang dimiliki tunangannya.


"Turun!" ujar Gifyka.


Dan lagi-lagi, ucapan Gifyka bagai sebuah sihir. Gadis itu kembali turun dan duduk dengan selamat. Gifyka mengerti sekarang, perbedaan dulu dan sekarang pada kekuatannya.


Jika dulu, kekuatannya bisa dipakai kapan saja tanpa berkonsentrasi. Sedangkan sekarang tidak bisa sembarangan dan hanya bisa jika dilakukan apabila dirinya berkonsentrasi penuh.


"Masih berfungsi dengan baik kok, Fy." Mario menatap kagum pada kekasihnya.


"Aku paham sekarang, Yo." Gifyka nampak bisa lebih tenang.


"Jaga baik-baik ya, jangan sampai dipakai untuk hal-hal yang tidak baik." ujar Mario sok bijak.


"Iya, paling aku pakai buat menghukum kamu kalau kamu berani main cewek di belakang aku nanti." desis Gifyka menatap Mario dengan seulas senyum sinis.


"Aku mana bisa berpaling dari kamu, Fy? Sudah mentok aku di kamu." Mario mendesah, dia bahkan tidak terpikirkan untuk mencari atau bahkan mendekati wanita lain.


Gifyka tersenyum, dia merasa ucapan Mario benar-benar manis. Mereka kembali terdiam dan saling menikmati minuman soda masing-masing.


"Aku lapar."


Mario dan Gifyka menoleh satu sama lain hingga membuat mereka berpandangan. Keduanya sama-sama terkekeh mendengar apa yang mereka katakan sama dalam waktu yang sama pula. Apa memang mereka sehati begini, hingga mengucapkan kata lapar saja barengan.


"Ya sudah, ayo kita cari makan." Mario berdiri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya pada Gifyka.


Jelas saja Gifyka menerimanya dan ikut berdiri. Mereka akan mencari makan di kafe dekat studio futsal lalu Mario akan mengantar Gifyka pulang. Perut mereka memang benar-benar sudah keroncongan.


Tidak ada lagi pembahasan tentang masalah tadi pagi saat di mobil. Mereka berdua seolah lupa apa yang sudah mereka perdebatkan. Mario tipe orang yang memilih melupakan masalah kecil, sedangkan Gifyka tipe orang yang tidak ingin memperpanjang masalah. Jadi bukankah mereka begitu serasi untuk menjadi sepasang kekasih.


***


Next...