Future and True Love

Future and True Love
42. Siap Merried



Siang hari dan panas memang identik dengan es. Tidak beda jauh dengan lelaki berwajah tampan pemilik kulit hitam manis yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu. Tinggal menghitung hari maka Mario akan resmi menjadi suami dari Gifyka.


Saat ini Mario sedang menikmati es campur di kantin kampus bersama beberapa teman sekelasnya. Mereka terus bercanda dan tertawa, entah apa yang mereka tertawakan.


Sudah dari lima belas menit yang lalu Mario ada di kantin. Dirinya masih menunggu Gifyka selesai kuliah dan kebetulan teman-temannya pun ada yang enggan pulang karena panasnya hari. Mereka bilang jika naik motor di bawah terik matahari sepanas ini, bisa-bisa darah mereka mendidih di tengah-tengah jalan. Itu akan sangat tidak lucu jika benar-benar terjadi.


"Eh Yo, lo beneran mau merried?" salah seorang teman sekelas Mario bertanya.


Di sana ada lima orang sekaligus Mario, jadi teman Mario ada empat. Sedari tadi mereka bicara ngalor-ngidul tak tentu arah dan baru sekaranglah mereka bertanya tentang keseriusan Mario yang akan melepas masa lajangnya di usia muda.


Muda, karena Mario sendiri masih berusia delapan belas tahun. Begitu pun Gifyka, karena mereka seumuran. Tapi bukankah menikah itu tidak tergantung usia. Asalkan keduanya sudah siap, maka menikah pun tidak masalah. Yang jelas tetap saja harus bertanggung jawab, jangan hanya mau enaknya saja.


"Lihat dong, di jari manisnya sudah dari kemarin-kemarin ada cincin pertunangan." ujar Ray yang duduk di sebelah Mario.


Ray memegang tangan Mario, dia sengaja memperlihatkan cincin di jari manis Mario pada ketiga teman lainnya. Melihat hal ini, Mario hanya bisa terkekeh.


"Lo beneran siap menikah muda?" Virgo pun ikut kepo.


"Hem... Gue siap menikah muda dan gue juga siap kalau nanti bakal jadi ayah muda." kepala Mario mengangguk-angguk berulang kali.


Mereka semua tertawa mendengar penuturan Mario. Bukan tawa meledek, tapi mereka tidak menyangka jika Mario memang benar-benar ingin segera menikah dan memiliki keturunan.


"Langsung diajak tempur saja nih entar habis nikah." goda Reggie.


Lagi dan lagi, Mario terkekeh mendengar candaan dan godaan teman-teman sekelasnya. Sebenarnya Mario tidak terlalu dekat dengan mereka, tapi hanya mereka yang dekat dengan Mario. Alias kata lain, Mario nyaman berteman dengan keempat lelaki yang sekarang duduk bersamanya. Mereka ada Reggie, Ray, Reza dan Virgo yang semuanya seumuran dengan Mario.


"Sudah menikah mah bebas mau kapan saja." Mario menyambar es campurnya usai berkata demikian.


Gelak tawa terdengar dari keempat remaja yang juga menikmati es campur pesanan mereka dari sepuluh menit lalu saat pertama sampai di kantin.


"Tapi gue lebih baik seperti Mario. Kalau suka ya langsung saja ajak nikah, mau diapa-apain ya bebas enggak akan ada yang melarang." Reza bersuara.


"Betul! Gue sependapat sama lo, Za. Itu yang ada dalam pikiran gue selama ini. Selain bebas, gue juga bisa menjaga dia kapan pun dan dia akan tetap dalam pengawasan gue." Mario mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap Reza.


Drt... Drt... Drt...


Mario menoleh ke arah ponselnya, di sana tertera nama Gifyka yang mengirimkan pesan chat untuknya. Langsung saja tanpa menunggu lama, Mario membuka pesan dari tunangannya.


Yo, aku tunggu di parkiran. Kamu di mana? Kalau lewat kantin, tolong belikan minuman. Aku haus. -Gifyka.


Mario tersenyum melihat chat dari Gifyka. Dia meminum es campurnya sampai habis dan kembali fokus pada ponselnya.


Aku ke sana sekarang, Fy. 😘 -Mario.


Mario memasukkan ponselnya ke dalam saku dan membenahi tasnya.


"Eh, gue cabut dulu ya. Cewek gue sudah menunggu di parkiran." pamit Mario pada semuanya.


Seperti apa yang dipesan oleh Gifyka, Mario membeli dua botol air mineral untuk kekasihnya. Kaki panjangnya kini berjalan menuju tempat di mana dia memarkirkan mobil.


Dari kejauhan, Mario bisa melihat Gifnya bersandar pada mobilnya sambil memeluk beberapa buku setebal lima jari. Kepala gadis itu pun menunduk melihat ujung sepatunya yang dia gerak-gerakkan menggunakan jari kaki.


Ide jahil terlintas dalam benak Mario karena dalam jarak sedekat ini pun Gifyka masih belum menyadari kedatangannya. Padahal di sana pun lumayan sepi, tidak banyak orang berlalu lalang selain mereka yang ingin pulang.


"Ah..." Gifyka kaget ketika dia merasa lehernya dingin tiba-tiba.


Gadis itu seketika menjauh dan mendongak menatap Mario yang terkekeh usai melihat Gifyka kaget saat Mario dengan sengaja menempelkan botol air mineral dingin tadi ke leher Gifyka.


"Ish... Nyebelin banget sih kamu, nganggetin aku saja." dengus Gifyka, tapi tangannya menerima uluran botol air mineral dari Mario.


"Hehehe... Lagian kamu melamun saja, aku kan jadi takut kalau kamu tiba-tiba kesambet hantu penunggu pohon depan." cengir Mario yang sekarang mengambil alih semua buku-buku tebal dari pelukan Gifyka.


"Kamu kalau bicara hati-hati, jangan asal bicara." Gifyka sedikit memperingati.


Mario hanya bisa nyengir kuda, dia langsung menekan tombol lock dari remot kontrol dan meletakkan semua buku Gifyka ke jok tengah.


Gifyka pun langsung masuk ke dalam mobil, hawa di luar benar-benar panas dan dirinya butuh pendingin. Tak beda jauh dengan Gifyka, Mario langsung masuk mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Seketika tubuh mereka terasa dingin dari AC yang tercium wangi dari aroma pengharum ruangan.


"Kita mau langsung pulang?" tanya Gifyka saat Mario mulai menjalankan mobil dan bersiap meninggalkan area kampus.


Mario sibuk melihat jalanan menuju pos satpam dan gerbang. Tapi bukan berarti dia tidak mendengarkan apa yang Gifyka katakan.


"Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat, tapi kamu harus janji enggak boleh sedih." sahut Mario ketika lelaki itu sudah berhasil masuk dan membelah jalanan kota.


"Ke mana memangnya? Terus kenapa aku harus menangis kalau kamu ajak aku ke sana?" Gifyka masih terlihat bodoh dengan pertanyaannya.


Gadis itu tidak bisa menebak ke mana Mario akan membawanya. Tapi ada satu tempat tebakan Gifyka, yaitu makam keempat teman mereka. Tapi apa mungkin Mario mengajaknya ke sana. Sedangkan cuaca hari ini benar-benar panas dan membuat Gifyka malas berada di bawah terik matahari terlalu lama. Apalagi Gifyka sudah akan menikah, dirinya tidak mau memiliki kulit belang di hari pernikahannya nanti. Bisa ditertawakan orang satu kabupaten dia kalau sampai kulitnya belang.


"Sudah diam saja, nanti kalau sudah sampai tempatnya juga kamu tahu." Mario mengusap puncak kepala Gifyka berulang kali.


Meski penasaran, tapi Gifyka hanya diam. Dia tidak mau bertanya lagi atau mengganggu konsentrasi Mario dalam menyetir. Bagaimana pun juga, Gifyka masih ingin selamat dan belum ingin pergi meninggalkan kedua orang tuanya serta Calleys.


"Aku bosan." gumam Gifyka.


Mario menghidupkan radio, lagu dari Ed Sheeran berjudul Perfect terdengar mengalun. Musiknya memang cocok dipakai untuk penghantar tidur.


"Kamu tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai bakal aku bangunkan." titah Mario manis.


Untuk hal ini, Gyfyka setuju pada usul Mario. Lebih baik dirinya tidur, karena memang dia merasa begitu lelah. Ditambah semalam mereka mimpi aneh buatnya. Gifyka kembali memimpikan gadis bersama Aziz dan Alyssa. Gifyka sama sekali tidak mengerti kenapa mereka bisa hadir dalam mimpi Gifyka lagi.


***


Next...