
"Kejar aku, Fy!" seru seorang lelaki bertubuh tinggi, kurus dan berkulit hitam manis.
Seorang gadis berdagu tirus itu seketika berlari mengejar Mario. Dia tidak mau ketinggalan jauh dari suaminya. Sedari tadi, Mario yang terus menang darinya.
Mereka berdua bisa bebas berlari-larian ke sana sini tanpa hambatan dan tanpa halangan. Kebetulan hari ini sedang tidak ramai pengunjung. Padahal sekarang hari minggu, maka dari itu Gifyka dan Mario bisa bermain ke pantai.
"Awas saja kalau aku bisa menangkapmu, Mario!" teriak Gifyka tanpa berhenti berlari.
"Kejar terus, Fy. Kalau bisa jangan kasih ampun Mario!" teriak Azriela menyemangati.
Gifyka sedang berada di sebuah pantai bersama dengan keempat temannya juga dengan Mario. Hari sudah siang, jadi enak-enak saja mereka bermain air. Alvino memiliki ide berlibur ke sini, dia bilang untuk merayakan hari jadi persahabatan mereka sekaligus untuk merayakan pernikahan Mario dan Gifyka.
"Apa mereka akan hidup damai?" Afriel melihat Gifyka yang terus saja berlari mengejar Mario.
"Pasti akan banyak keributan di rumah mereka nanti, melihat bagaimana brutalnya Gifyka selama ini pada Mario." desah Azriela.
"Tapi aku yakin, meski mereka saling menghujat pun. Cinta di antara keduanya tetap ada dan saling melengkapi." Viara kembali menyedot es kelapa mudanya.
Berada di pantai tanpa menikmati segarnya es kelapa muda dari cangkangnya langsung, rasanya sangat afdhol dan lengkap. Serasa buang air kecil tapi tidak tuntas.
Keempat remaja yang baru pulang dari liburan ke Amerika itu memilih menikmati pantai tanpa menghiraukan Mario dan Gifyka yang masih india-indiaan ala kadarnya. Memang, hanya berempat yang pergi liburan ke Amerika. Semua itu karena Gifyka dan Mario tidak mau ikut dengan alasan jika mereka berdua lebih baik mempersiapkan pernikahan mereka ketimbang ikut liburan.
Viara sempat marah karena nyatanya Gifyka dan Mario menikah sebelum tanggal yang ditentukan. Mereka tidak bisa melihat dan menyaksikan janji suci diucapkan oleh keduanya. Apalagi mereka dengar jika janji suci Mario dan Gifyka diucapkan di dalam ruang rawat Mario saat lelaki itu sakit.
Seminggu lagi acara pernikahan mereka digelar di hotel yang sudah disewa. Maka dari itu, keempat remaja ini pulang kemarin untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya.
Viara sudah tidak marah pada mereka, karena ide Alvino kali ini tidak ada salahnya untuk berlibur ke pantai seminggu sebelum acara resepsi.
"Siapa yang akan lebih dulu menyusul Gifyka dan Mario?" pertanyaan Afriel kali ini mampu membuat ketiga remaja di sebelahnya menengok.
"Enggak mungkin kalau gue sama Afriel, kita berdua baru pacaran waktu kita liburan ke Bunaken beberapa waktu lalu." Azriela menatap kedua temannya yang memandanginya tak santai.
"Iya, mungkin kalian dulu." Afriel membela kekasihnya.
***
Gifyka lelah mengejar Mario, lelaki itu juga sudah terduduk di bawah pohon yang begitu rindang. Tubuh Gifyka ambruk di sebelah Mario, gadis itu menyandarkan punggungnya di batang pohon belakangnya. Nafas keduanya sama-sama engap-engapan tiada henti. Bahkan Mario merasa dadanya sedikit panas akibat terlalu jauh berlari.
"Mario, aku merasa deg-degan untuk acara seminggu lagi." Gifyka mencoba menyampaikan kegelisahannya.
Mario memandang Gifyka dari samping. Dia menarik kepala istrinya agar bersandar ke bahunya. Gifyka merasa seperti tersengat listrik ketika bibir Mario menyapa keningnya. Padahal ini bukan yang pertama, tapi tetap saja mampu membuat Gifyka tak karu-karuan.
Senyuman di wajah Gifyka merekah, dia kembali berbunga-bunga ketika mengingat jika dirinya sudah resmi menjadi istri dari Mario selama satu minggu. Suaminya itu baru saja keluar dari rumah sakit empat hari yang lalu karena sakit pencernaan.
"Malam ini, kita menginap di rumah pohon. Bagaimana?"
Hati Gifyka menjadi semakin tak karuan mendengar ajakan Mario. Jantungnya berdetak bagai beduk di saat hari raya tiba.
"Tentu saja aku mau, lagi pula kan kamu janji akan mengajakku honeymoon di sana setelah menikah. Tapi kita belum honeymoon sampai sekarang." rajuk Gifyka mulai bernada manja.
Mario terkekeh, dia kembali mengecup kening Gifyka. Tapi kali ini kecupan itu bisa dikatakan lama. Gifyka harap, semoga kebahagiaan ini selamanya tidak akan pernah terenggut oleh apa pun.
***
Mario dan Gifyka menaiki tangga rumah pohon mereka setelah keempat teman mereka berpamitan untuk pulang. Hari sudah senja, dan masih sama seperti tadi siang. Di sana tidak ada orang satu pun atau suara apa pun. Hanya suara ombak tiada henti sedari tadi.
"Ah... Mario, hahaha..." Gifyka terkekeh saat Mario tiba-tiba menarik tubuh mungilnya hingga terjatuh di atas ranjang sempit yang seharusnya hanya muat ditiduri satu orang.
Mario menindih tubuh mungil Gifyka, pandangan mata mereka bertemu pada satu titik. Embusan napas keduanya saling berbalas. Darah mereka seolah menghangat bagai direbus di atas bara api. Sunyi, hanya terdengar suara denting jarum arloji yang dipakai oleh Mario di tangan kirinya.
Perasaan malu mencuat pada Gifyka dipandang sedemikian dekat dan intens seperti ini oleh Mario. Tapi meski malu, Gifyka tidak ingin berpaling dari tatapan itu. Rasanya memabukkan dan membuat seluruh tubuhnya berdesir hebat.
Tangan kanan Mario terangkat, mendarat di pipi mulus istri mungilnya. Rona merah di wajah Gifyka pun tidak bisa lagi dia tutupi sekarang. Nafas Gifyka semakin memburu mendapat sentuhan lembut dari tangan kekar milik Mario.
Susah payah Gifyka menelan ludahnya sendiri saat tangan Mario mengusap wajahnya dan turun ke leher. Rasa geli di lehernya pun Gifyka tahan agar tidak mengecewakan sang suami. Jari Mario belum berhenti sampai di sana. Usapan lembut itu terus saja turun mengarah ke dada Gifyka. Rasanya sudah benar-benar tak karuan, Gifyka seolah gila mendapatkan sentuhan lembut dari lelaki yang dia cintai.
Bibir Gifyka mengering seketika, saat jari Mario terus turun mengarah ke inti pada dadanya. Tapi sedetik kemudian, jari-jari itu berhenti di dada bagian kiri istrinya.
"Aku selamanya ada di sini." ujar Mario lembut sambil menunjuk dada kiri Gifyka yang artinya bahwa selamanya Mario ada di dalam jantung Gifyka.
Nafas yang tertahan oleh Gifyka sedari beberapa menit lalu akhirnya bisa dia embuskan lagi. Mario hanya ingin mengatakan hal itu ternyata. Gifyka tersenyum bahagia mendengarnya.
Senyuman itu seolah menular, melihat istrinya tersenyum. Hal itu membuat Mario ikut tersenyum. Gifyka sudah lebih relaks dari pada tadi. Gadis itu sudah bisa mengontrol kesibukannya.
"Aku tahu itu." balas Gifyka sambil nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi nan putih bersih.
Tapi tanpa disangka-sangka. Mario menempelkan bibirnya pada bibir Gifyka hingga membuat Gifyka sedikit syok mendapat terjangan dadakan seperti ini.
***
Next...