
Sepasang kekasih baru nampak di area pemakaman keluarga milik keluarga Angkasa. Tadi banyak orang yang datang melayat sekaligus menyaksikan empat jenazah dari teman Gifyka dan Mario dikebumikan. Yudha yang meminta agar keempat sahabat dari putrinya ikut dimakamkan di area pemakaman keluarga miliknya. Kini hanya tinggal tersisa Gifyka dan Mario di sana.
Gifyka terus memandang nisan keempat sahabatnya satu persatu secara bergantian, dari Azriela, Afriel, Viara dan Alvino. Rasa bersalah kian menyerbu relung hatinya. Banyak sekali kata andaikan di dalam pikirannya. Tangisnya tak dapat dia hentikan. Bahkan Mario pun sudah berusaha menenangkan Gifyka.
"Maafin gue, kalau gue nggak ngotot bikin rencana itu. Kalian nggak akan kayak gini. Gue pasti masih bisa bercanda sama kalian." Gifyka menangis, tangannya mengusap nisan bernama Viara. Sedang tangan kirinya memegang nisan bernama Azriela.
"Sahabat macam apa gue ini? Bisanya cuma bikin kalian susah. Kalau bukan karena gue, kalian pasti masih hidup."
Mario hanya diam melihat apa yang dilakukan Gifyka. Lelaki itu memilih membiarkan saja. Dadanya sendiri pun terasa sesak menerima kenyataan ini. Kehilangan keempat sahabatnya dalam waktu bersamaan, lebih parahnya lagi di depan mata kepalanya sendiri.
"Kalau gue punya nyawa banyak, udah pasti gue sumbangin ke kalian satu-satu." Gumam Mario pelan supaya Gifyka tidak mendengar dan tidak merasa semakin bersalah.
"Maafin gue hiks... hiks..." kesedihan di hati Gifyka tak bisa dibendung. Kehilangan sahabat sama halnya kehilangan sebuah permata. Apalagi mereka adalah sahabat dari kecil.
Mario berjongkok, meraih kepala Gifyka supaya bersandar di dadanya. Mereka bisa saling merasakan sesak yang ada. Tapi Mario sadar, tidak seharusnya mereka larut dalam kesedihan terus menerus. Mereka harus melanjutkan perjalanan hidup mereka.
"Fy, gue juga sedih. Tapi gue coba ikhlasin semuanya. Gue yakin mereka udah tenang di alam sana. Tugas lo sekarang cuma berhenti menyalahkan diri lo sendiri. Ini semua takdir, kita tidak bisa merubah takdir tapi kita bisa merubah nasib." bagaimana mungkin Mario harus terlihat tegar di depan Gifyka meski pun dirinya sendiri juga hancur berkeping-keping.
Mario mengingat masa-masa indahnya bersama kedua sahabat laki-lakinya. Mereka balapan bersama, taruhan, main futsal, basket, ngejahilin satu sama lain. Mario akan merindukan semua hal yang pernah mereka lalui bersama.
"Kita pulang sekarang. Biarkan mereka istirahat dengan tenang." usai mengecup puncak kepala Gifyka, Mario menuntun kekasihnya keluar dari pemakaman keluarga Angkasa.
~Semua ini hanya masalah waktu, jarak dan raga. Tidak dengan kenyataan dan status. Meski kita sudah tidak berada di waktu yang sama dan jarak telah memisahkan raga. Tapi sampai kapan pun waktu tak mampu merubah kenyataan juga status bahwa kita adalah sahabat. Sampai jumpa! Aku tak akan mengucapkan selamat jalan. Karena suatu saat kita akan kembali bertemu di lain tempat juga pada waktu yang tepat.~
Gifyka mencoba menghentikan tangisannya. Kakinya melangkah mengikuti arah kaki Mario yang akan membawa mereka ke parkiran. Sesekali Gifyka menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa keempat sahabatnya baik-baik saja berada di dalam sana.
~**~
Semua anggota keluarga sudah siap di meja makan. Mereka menunggu waktu lima menit lagi untuk memulai breakfast. Masih sama, semua menggunakan aturan seperti biasa. Hanya sedikit yang berubah, hanya saja semua harus tepat pada waktunya. Tidak ada yang boleh terlewat atau kurang.
Calleys, ibunda Nafita yang notabennya adalah seorang Ratu khayangan pun mengikuti aturan yang sudah ada. Meski pun wanita paruh baya itu sedikit kesulitan membiasakan lidahnya untuk makan makanan manusia bumi. Tapi lama-kelamaan Calleys pun sedikit menikmati. Dan anehnya, makanan yang pertama disukai oleh Calleys adalah petai.
"Maaf Tuan, ada Den Mario di depan." ketua maid memberi tahu penghuni rumah yang tinggal dua menit lagi akan melaksanakan ritual sarapan.
"Suruh dia masuk."
Ketua maid tadi langsung memberi salam kemudian pergi untuk memberi izin tamu dari Gifyka masuk ke dalam rumah mengikuti rutinitas yang sudah bisa ditebak oleh Mario sendiri.
"Morning semua." sapa Mario seperti biasa, selalu ramah.
"Morning too." jawab mereka serempak.
"Ayo ikut sarapan sekalian, Yo." ajak Nafita mempersilakan calon menantunya.
"Terima kasih Tante."
Mario langsung mengambil posisi di dekat Calleys, lelaki itu sekarang sangat akrab dengan nenek dari kekasihnya.
"Kalau bayarannya kurang tinggal bilang saja. Nanti biar Om transfer langsung ke rekeningnya." ujar Yudha membuat seisi meja makan mendongak serta menatap ke arah lelaki paruh baya itu.
Yudha malah jadi salah tingkah sendiri dilihat oleh banyak pasang mata. Sendoknya terhenti di awang-awang, kedua matanya menatap satu-persatu penghuni meja makan.
"Mario itu ikhlas bantuin aku ke psikiater, Pa. Bukan minta bayaran." Gifyka memutar bola matanya merasa malas.
"Hahaha...." Yudha malah tertawa keras membuat semua orang kembali kebingungan.
"Pa..." tegur Nafita merasa kesal karena Yudha terus saja tertawa. Sedikit perubahan di keluarga mereka, boleh berbicara saat jam makan.
"Maksud Papa itu, bayaran untuk psikiaternya. Bukan buat Mario, kalau buat Mario mah gak usah dibayar juga dia udah anaknya holang kayah."
Semuanya membuang muka ke sembarang arah. Yudha membuat mereka salting di pagi hari secara bersamaan.
~**~
"Masih berapa keping yang mengganggu mimpimu, Fy?" Mrs. Qaila menatap pasien cantiknya yang berbaring di sebuah kursi khusus pasien. Jika sudah berbaring, biasanya pemeriksaan akan segera berlangsung.
"Lumayan banyak, tapi tidak sebanyak hari-hari sebelumnya."
"Semalam kamu bermimpi apa?" Mrs. Qaila, seorang psikolog muda yang sudah membantu Gifyka mengatasi mimpi buruk yang selalu datang di setiap malam usai kejadian mengerikan dua bulan lalu di Pulau Bunaken. Sekali petikan jari, Gifyka sudah terpejam.
"Saya bermimpi kalau saya dan Mario sedang membawa mayat Viara dan Alvino ke sebuah bangunan kosong tidak terpakai supaya tidak ketahuan oleh Londru. Kemudian saya membantu Azriela terlepas dari psikopat perempuan yang ternyata adalah penjaga bungalaw. Kemudian saya berlari menembus angin bersama Mario dan Azriela menghindar dari kejaran Londru..." Mrs. Qaila dapat melihat wajah Gifyka menahan sakit yang melanda. Kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa hampir pecah.
"Lalu?" tanya Mrs. Qaila membuat Gifyka kembali bercerita.
"Kami bertiga terus berlari menghindari serangan Londru. Dia terus berusaha membunuh kami menggunakan serangan bola angin. Tapi tiba-tiba bola angin itu mengenai... Akh... Bola angin itu akh... Aw... Akhirnya mengenai tubuh Azriela dan aakhhh.... Dan Azriela meninggall... Hah... Hah... Azriela meninggal Miss. Dia meninggal gara-gara saya. Miss, Azriela meninggal karena saya hiks..." Gifyka terbangun dan histeris saat sampai di cerita yang dia mimpikan semalam. Tubuhnya penuh dengan keringat, detak jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat. Badannya terasa panas.
"Syut... Tenang Fy, tenang." dengan sekali pelukan, Gifyka langsung tenang dalam dekapan Mrs. Qaila. Setelah dirasa benar-benar tenang, Mrs. Qaila memberikan sebotol air mineral kepada pasiennya.
Mrs. Qaila keluar ruangan, memanggil Mario yang menunggu di depan ruangan. Ada sedikit senyuman di raut wajah Mrs. Qaila.
"Bagaimana terapinya, Miss?" Mario menatap was-was kepada Mrs. Qaila. Lelaki itu yang setia menemani Gifyka terapi dari awal sampai sekarang.
"Saya sedikit senang, karena kondisi Gifyka ada kemajuan. Yang dia ceritakan sudah berbeda dengan apa yang dia ceritakan tiga hari lalu. Itu menandakan bahwa ingatan Gifyka yang kemarin-kemarin dia ceritakan itu sudah bisa diterima oleh sistem kerja otak. Tinggal sedikit lagi yang mengganggu pikiran Gifyka."
"Lalu apakah Gifyka benar-benar melupakan kejadian itu atau bagaimana, Miss?"
"Melupakan itu tidak, tapi lebih ke menerima sebuah kenyataan. Jadi Gifyka tetap mengingat apa yang sudah terjadi, tapi bagian yang masih masuk ke dalam mimpi Gifyka itulah yang belum bisa Gifyka terima. Sedangkan bagian yang dulu pernah masuk ke dalam mimpi dan sekarang tidak masuk lagi itu adalah bagian yang sudah bisa Gifyka terima. Nanti lama kelamaan pun Gifyka akan menerima semua kenyataan yang ada." Mrs. Qaila menatap manis ke arah Gifyka yang masih duduk di kursi pemeriksaan sambil meminum air mineral yang tadi dia berikan.
"Jadi apa ada kemungkinan trauma itu akan kembali hadir saat sudah beberapa tahun berlalu?"
"Untuk penderita PTSD itu tidak bisa sembuh total, mereka hanya bisa dibantu bagaimana caranya menerima bahwa mereka memang pernah mengalami kejadian berikut. Trauma itu bisa saja kembali hadir setelah beberapa tahun berlalu, tapi saya tidak bisa mengatakan kapan trauma itu akan datang. Karena itu tergantung dari psikis Gifyka sendiri." cara bicara Mrs. Qaila memang benar-benar membuat siapa pun suka. Dari nadanya, pembawaannya juga mimik wajahnya membuat Mario dan Gifyka tenang.
"Lalu apa yang harus kami lakukan untuk menghindari trauma itu kembali hadir, Miss?" kali ini Gifyka ikut angkat bicara.
"Dalam waktu dekat, jauhkan Gifyka dari hal-hal yang berkaitan dengan kejadian yang membuat dia trauma. Seperti halnya hutan dan laut, tapi jangan langsung menghindari seratus persen. Hanya mengurangi saja karena kalau seratus persen kalian menghindar dari hutan dan laut, ditakutkan trauma yang Gifyka derita malah semakin menjadi." Mrs. Qaila menghela napasnya pelan, kaki jenjangnya berdiri dan mendekat ke arah Gifyka yang setia duduk di atas kursi pemeriksaan.
"Jangan menyerah, semua pasti bisa dilalui." sambung Mrs. Qaila lagi membuat sepasang kekasih itu sedikit bisa tersenyum.
~**~
To Be Continue...