Future and True Love

Future and True Love
37. Mimpi Aneh



Gifyka memasuki rumah orang tuanya dengan gontai. Entah kenapa tiba-tiba rasanya lelah dan ingin beristirahat.


"Eh sudah pulang, Fy? Bagaimana kuliahnya?" Calleys menyapa cucunya yang berjalan menuju dapur.


Gifyka melihat Calleys sekilas, dia berjalan ke arah ibu dari Nafita itu dan menyalami tangan sang nenek. Tak lupa, Gifyka juga mengecup sebelah pipi neneknya.


"Lancar kok Nek, kuliahnya." jawab Gifyka seadanya.


"Kamu mau makan? Biar Nenek panggilkan maid untuk menyiapkan meja makan buat kamu." Calleys mengusap rambut panjang Gifyka berulang kali.


Gifyka kembali tersenyum pada Calleys, kepalanya menggeleng berulang kali. Perutnya pun sudah terasa kenyang karena tadi dirinya makan di kafe terlebih dahulu bersama Mario.


"Aku sudah makan sama Mario." sahutnya.


"Ya sudah, kamu istirahat sana." Calleys menepuk bahu Gifyka beberapa kali dan meninggalkan gadis itu sendirian di sana.


Gifyka mengangguk, dia kembali berjalan menuju dapur untuk minum. Tenggorokannya meronta ingin diberi kesegaran.


"Non Ify butuh sesuatu?" tanya salah satu maid.


Beberapa maid langsung berjajar dan hormat pada Gifyka. Mereka menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormatnya pada putri sang majikan.


"Tidak usah, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian." tolak serta titah Gifyka.


"Kalau begitu, kami permisi Non." pamit kelima maid yang tadi ada di dapur.


Gifyka mengangguk, dia membiarkan saja para maid tadi pergi. Memang setelah kejadian itu, Gifyka menjadi sedikit lebih mandiri. Dia tidak lagi meminta maid datang membawakan minum untuknya saat Gifyka baru pulang dari kampus.


Tidak mau berpikir panjang, Gifyka langsung menuju lemari pendingin dan membukanya. Kedua mata Gifyka mencari minuman yang ingin dia minum. Banyak sekali minuman kemasan di sana. Sampai pada akhirnya pilihan Gifyka jatuh pada botol teh kemasan rasa jasmine.


Gadis itu mengambil dua botol lalu menutup pintu lemari pendingin lagi. Gifyka meminum satu botol dan habis setengah lalu membawa satu botol lagi serta sisanya ke kamar. Niatnya sekarang hanyalah istirahat dan tidur.


Kamar megah milik Gifyka terasa sepi setelah kedua teman perempuannya meninggal. Dulu, mereka berdua sangat sering main ke rumah Gifyka dan berkumpul di kamar ini.


Gifyka merebahkan tubuhnya ke ranjang. Kedua matanya menatap langit-langit, seolah sedang menerawang apa yang dia rasakan. Wajar saja jika rasa rindu di hati Gifyka untuk mereka berdua hadir.


"Apa kabar kalian?" tanya Gifyka entah pada siapa.


Di sini yang jelas Gifyka merindukan mereka. Ingin rasanya bersendau gurau lagi bersama mereka membicarakan idola-idola, make up, lagu-lagu dan hal apa pun yang hanya bisa dibicarakan bersama sesama wanita. Sekarang hanya Mario yang Gifyka miliki untuk berbagi cerita. Meski ada orang tua. Tapi ada kalanya seorang anak akan merasa canggung untuk bercerita dan berbagi kepada orang tua dan lebih nyaman jika berbagi dengan teman.


Lama memandang langit-langit membuat rasa kantuk melanda Gifyka. Berulang kali dirinya pun menguap. Tanpa pikir panjang, Gifyka memutuskan untuk tidur dan menyelami dunia mimpi.


***


Dug! Dug! Dug!


"Hap!" Mario melemparkan bola basketnya ke ring.


Lelaki itu sedang bermain basket sendirian di lapangan basket pribadinya yang ada di rumah. Entah sudah berapa lama Mario bermain sendirian.


Rintik hujan mulai berjatuhan, tapi Mario tak ada niatan untuk menyudahi acara bermain basketnya. Lelaki itu seolah sudah masa bodoh dengan hujan yang menyapa.


Berulang kali Mario mendribel bola basketnya dan melempar ke ring. Tapi kali ini sudah berulang kali Mario tidak bisa memasukkan bola ke dalam ring. Lemparannya selalu saja meleset dan tidak tepat pada sasaran.


"Argh...!" Mario meremas rambutnya sendiri.


Lelaki berkulit hitam manis bertubuh jangkung itu terduduk bersandar pada tiang ring basket sambil memeluk bola berwarna oranye miliknya.


Mario nampak sedikit frustasi, dia juga merasa merindukan kedua temannya. Jelas saja, biasanya mereka akan bermain basket bersama tapi setelah kematian Alvino dan Afriel tidak ada lagi yang menemaninya bermain basket.


"Lo harus kuat, Yo." Mario berusaha menyemangati dirinya sendiri.


"Ini sudah jalan terbaik, mereka sudah tenang di sana." Mario menarik napas di tengah-tengah derasnya air hujan yang berjatuhan ke tubuhnya.


Kepala Mario mengangguk berulang kali, lelaki itu mencoba menetralkan rasa sesak yang ada. Pandangannya terarah ke jari manisnya yang tersemat cincin pertunangannya dengan Gifyka.


"Gue masih punya Gifyka dan harus kuat untuk dia." ada seulas senyum di wajah Mario usai berkata demikian.


Tak ingin berkepanjangan berada di bawah guyuran air hujan. Mario langsung berdiri sambil membawa bola basketnya dan berjalan menuju rumah.


Sesampainya di kamar, Mario langsung mandi dan mengganti pakaian. Dia tidak akan bertindak bodoh untuk menangis dan meratapi nasib. Bagaimana pun, Mario selalu mengatakan pada dirinya sendiri jika dirinya harus kuat agar Gifyka tetap kuat.


Tak lama, lima belas menit cukup bagi Mario membersihkan keringat di bawah guyuran shower. Lantai kamarnya yang basah juga sudah dibersihkan oleh asisten rumah tangga. Dirinya sekarang memilih berbaring dan ingin mengistirahatkan tubuhnya.


Mario memiringkan tubuhnya ke kanan. Tak sengaja dia melihat pigura fotonya bersama para sahabatnya. Ada enam orang dalam pigura itu, jelas saja itu adalah Mario, Alvino, Afriel, Gifyka, Azriela dan Viara.


Tangan Mario mengambil pigura itu, mengusap bagian wajah mereka satu persatu.


"Kalian akan tetap menjadi teman baik gue sampai kapan pun." Mario tersenyum, dia mengembalikan pigura itu ke atas nakas lagi.


Anggap saja Mario adalah laki-laki lebai, tapi memang kenyataannya dirinya merindukan keempat teman baiknya yang meninggal di Pulau Bunaken saat mereka berlibur ke sana usai pengumuman kelulusan sekolah.


***


"*Hallo... Kenalin, aku Aziz." seorang gadis kecil berpipi chubby mengulurkan tangannya pada anak kecil lainnya yang juga perempuan.


"Aku Alyssa, kamu mau sekolah di sini juga?" sambut anak kecil lainnya yang menerima uluran tangan gadis kecil bernama Aziz*.


Aziz menganggukkan kepalanya, pipi bakpaonya membuat Alyssa suka melihatnya. Bagi Alyssa, itu menjadi daya tarik tersendiri untuk Aziz.


"*Aziz! Kamu di sini ternyata?"


Alyssa melihat ada seorang wanita muda yang terlihat gelisah dan nampak lega karena sudah menemukan Aziz. Alyssa pikir, mungkin wanita itu adalah ibu dari Aziz*.


"*Mama, aku hanya main sebentar sama Alyssa." Aziz menunjuk Alyssa yang tersenyum pada wanita itu.


"Alyssa, ayo pulang*."


Datang lagi seorang wanita muda yang kali ini menghampiri Alyssa. Ibu dari Alyssa itu menatap ibu dari Aziz dan anak kecil berpipi chubby.


"*Sepertinya putri kami barusan bermain bersama." ujar ibu dari Aziz.


"Iya, mungkin nanti mereka bisa menjadi teman baik." sahut ibu dari Alyssa*.


"Kalau begitu kami pulang dulu, Bu. Sayang, Tante duluan ya." ibu-ibu muda yang memiliki rambut pirang hasil buatan itu mencolek dagu Alyssa sekali untuk berpamitan.


"*Alyssa, aku pulang dulu." pamit Aziz sambil melambaikan tangannya.


Alyssa hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya membalas Aziz. Setelah Aziz dan ibunya tidak terlihat, Alyssa menatap ibunya dan merajuk meminta pulang*.


"Ayo kita pulang." wanita muda yang memiliki badan kurus dan kulit putih itu mengendong Alyssa menuju mobil mereka yang ada di parkiran.


"Hah!" Gifyka terbangun dari tidurnya.


Gadis itu mengambil botol minuman tehnya cepat dan meminumnya hingga habis. Dirinya masih menetralkan deru napasnya yang tersengal-sengal. Keringat mengucur di pelipisnya dan seluruh badannya basah oleh keringat. Jujur saja, Gifyka tidak mengerti apa arti dari mimpinya barusan.


"Pertemuan gue sama Viara enggak kayak gitu." kepala Gifyka mencoba mengingat-ingat rupa gadis kecil dalam mimpinya yang tadi mengajaknya kenalan.


Gifyka begitu yakin jika perempuan kecil tadi adalah wajah milik Viara. Tapi Gifyka tidak mengerti kenapa Viara memakai nama Aziz. Dan kenapa nama dalam mimpinya juga berubah menjadi Alyssa.


"Kenapa nama Viara berubah jadi Aziz?" Gifyka masih saja bertanya-tanya apa arti mimpinya barusan.


"Fy! Ayo makan malam!"


Gifyka memandang pintu kamarnya, suara Nafita membuyarkan lamunannya tentang siapa Aziz. Kepalanya ganti melihat jam beker di atas nakas, ternyata sudah jam tujuh malam.


"Fy! Kamu tidur?" seru Nafita lagi.


"Aku baru bangun, Ma. Mama makan dulu saja, aku mau mandi dulu! Nanti aku makan sendiri saja." jawab Gifyka tanpa membukakan pintu.


"Ya sudah kalau begitu, jangan lupa makan!" ujar Nafita.


Gifyka hanya mengangguk meski dia tahu jika Nafita tidak akan melihat anggukan kepalanya. Tanpa mau berlama-lama, Gifyka langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


***


Next...