
Nafita melihat putrinya sibuk di dapur bersama tiga orang maid. Mereka berempat ribut membuat bekal sedari subuh. Entah apa yang membuat Gifyka tergerak untuk melangkah ke dapur. Padahal anak gadisnya itu sedari kecil sampai sekarang tidak tahu bagaimana caranya memasak. Jangankan memasak, merebus air saja Gifyka tidak mengerti bagaimana caranya. Menyalakan kompor saja dia typo. Tapi kenapa hari ini dia bersikeras ingin membuat bekal untuk Mario.
"Biar saya saja yang melanjutkan, Non." tawar salah satu maid yang membantu Gifyka menata nasi goreng ke dalam kotak nasi.
Dari subuh, Gifyka mencoba membuat nasi goreng. Tapi berulang kali dirinya gagal. Pertama, Gifyka menuangkan banyak sekali minyak goreng ke dalam penggorengan. Bahkan bisa dibilang minyak itu bisa dipakai untuk menggoreng sepuluh paha ayam dalam sekaligus.
Kedua, Gifyka tidak bisa memecahkan telur. Yang ada telur itu malah teremas olehnya dan masuk beserta kulit ke dalam minyak panas.
Ketiga, Gifyka membumbui nasi goreng itu dengan kapulaga, cengkih, kunyit dan jahe lalu diberi garam. Semua itu karena Gifyka tidak tahu yang mana kunyit, jahe dan lain-lainnya selain bawang merah, bawang putih dan cabai saja yang dia tahu.
Keempat, setelah Gifyka memperbolehkan maid membuat bumbu untuk nasi goreng. Ternyata Gifyka salah memasukkan gula pasir dan bukan garam. Jadilah nasi goreng itu terasa manis. Padahal di keller tertulis jika itu toples salt bukan sugar. Ternyata setelah ditelusuri, kemarin maid baru salah memasukkan gula ke wadah garam karena dia tidak mengerti bahasa inggris.
Kelima, setelah maid kembali membuatkan bumbu untuk nasi goreng. Ternyata Gifyka memasukkan garam terlalu banyak dan rasanya sangat asin sehingga tidak bisa dimakan sama sekali.
Ini yang terakhir, percobaan Gifyka yang keenamlah baru bisa dimakan. Itu menurut Gifyka sendiri, karena tadi maid memperhatikan berapa banyak garam yang dimasukkan Gifyka ke dalam nasi goreng. Tapi tetap saja, Gifyka belum mencicipi nasi goreng buatannya itu.
"Aku mau menghiasnya sendiri." Gifyka bersikeras jika dirinya ingin menghias nasi goreng itu sendiri.
"Cucu Nenek sedang apa?" Calleys datang ke dapur menghampiri Gifyka yang nampak serius dengan nasi gorengnya.
Gifyka menatap Calleys sebentar, dia tersenyum pada neneknya.
"Aku lagi membuat bekal makan siang untuk Mario, Nek." Gifyka terlihat sangat antusias untuk belajar memasak demi Mario.
Calleys tersenyum, dia senang melihat Gifyka juga senang. Cinta memang bisa merubah segalanya, dari yang Gifyka tidak tahu cara memasak nasi goreng maka sekarang dia bisa sedikit-sedikit tahu bagaimana caranya memasak nasi goreng. Masakan yang disukai banyak masyarakat Indonesia dan bahkan banyak pedagang yang menjualnya.
"Semangat sekali kamu ingin belajar memasak, Fy." tangan renta itu mengusap rambut cucunya yang digelung ke atas.
Gifyka balas menatap Calleys, dia sedang berusaha memotong-motong timun untuk hiasan.
"Untuk Mario pasti aku usahakan, Nek. Aku ingin memberikan sedikit hadiah untuk dia karena kemarin dia sudah mengajakku ke tempat yang benar-benar indah." sahut Gifyka.
Calleys mengerti, ternyata begini kehidupan di bumi jika manusia sedang kasmaran. Berbeda dengan kehidupan khayangan yang selalu saja dijodoh-jodohkan dengan pilihan Raja.
Beruntung waktu itu Nafita, Mario dan para kurcaci berhasil menyelamatkan Gifyka. Calleys tidak tahu bagaimana jadinya jika Gifyka tidak berhasil diselamatkan. Pasti cucunya itu hidup menderita di khayangan.
"Ya sudah, lanjutkan saja. Nenek mau ke taman dulu."
Gifyka mengangguk, dia kembali bertanya pada maid tentang apa lagi yang harus dia potong untuk pelengkap nasi goreng tersebut.
Gifyka mengerti, dia lanjut memotong tomat sebisanya. Meski masih berantakan. Gifyka langsung saja menghias nasi goreng hasil buatannya. Terakhir Gifyka memberikan sentuhan saus sebagai bentuk senyuman.
"Kalau begini bagaimana?" tanya Gifyka pada ketiga maid yang membantunya.
"Sudah bagus, Non." jawab mereka serempak.
"Tolong kalian bereskan ya, aku mau ke kamar." Gifyka langsung saja pergi dari dapur untuk bersiap-siap.
Ketiga maid tadi tersenyum sepertinya Gifyka. Mereka salut pada putri majikannya yang mau berusaha demi tunangannya. Setidaknya Gifyka bukan hanya bertopang tangan saja, dia pun ada usaha untuk bisa memasak.
***
Gifyka begitu tertarik pada pelajaran kali ini, karena dosennya itu membahas tentang lucid dream. Lebih tepatnya sang dosen menceritakan pengalaman pribadinya yang suka lucid ketika tidur.
"Ada yang mau ditanyakan?" dosen tadi melihat semua mahasiswanya.
Gifyka mengangkat tangannya, dia penasaran dengan yang dinamakan lucid dream itu seperti apa.
"Ya, apa yang mau kamu tanyakan?" dosen tadi kembali duduk di bangkunya sambil melihat Gifyka.
"Bagaimana caranya kita bisa melakukan lucid, Pak?" Gifyka menggigit bibir bawahnya.
Pertanyaan yang Gifyka lontarkan sepertinya mewakili banyak pertanyaan dari beberapa mahasiswa yang ada di dalam kelas ini juga.
"Sebelum saya menjawab, ada pertanyaan lain?" dosen tadi kembali mengedarkan pandangannya.
Satu orang mahasiswi ada yang mengangkat tangannya juga. Sang dosen langsung mempersilakan mahasiswinya untuk mengutarakan pertanyaannya.
"Apa seseorang yang sering melakukan lucid dream itu berbahaya?" tanya orang itu yang sepertinya sudah paham benar apa itu lucid dream.
***
Gifyka mencari-cari di mana Mario, tunangannya itu bilang jika dia sedang berada di kantin bersama beberapa temannya.
"Nah, itu dia." senyum Gifyka merekah.
Dari kejauhan, Gifyka bisa melihat Mario yang memakai kemeja kotak-kotak sedang bercanda ria dengan teman sekelasnya. Tanpa ragu dan tanpa malu, Gifyka langsung berjalan ke arah kekasihnya berada.
"Mario..." panggil Gifyka yang sudah berdiri di belakang Mario.
Beberapa teman Mario bersorak melihat Mario disamper oleh tunangannya. Mereka ada yang cie-cie dan menggoda.
"Eh Fy, kamu mau makan di sini juga?" Mario berdiri, dia menyambut hangat tunangannya.
Kepala Gifyka menggeleng beberapa kali mendengar pertanyaan Mario sambil tersenyum.
"Aku bawa bekal untuk kamu, bisa kita makan di taman saja?" tanya Gifyka karena dia pun merasa tak enak jika mengganggu waktu Mario yang sedang bersama teman-temannya.
"Bisa dong." Mario menganggukkan kepalanya.
Gifyka tersenyum pada semua teman Mario sebagai bentuk menghargai. Bagaimana pun teman Mario juga nanti akan menjadi temannya. Itu pikir Gifyka.
"Gue cabut dulu ya." pamit Mario.
Tentu semua teman-teman Mario mengiyakan, mana mungkin mereka melarang. Mereka juga senang jika Mario senang.
***
Mario melihat nasi goreng yang dibawa oleh Gifyka. Tatanannya sangat tidak enak dilihat, kocar-kacir ke mana-mana. Hal itu membuat Gifyka tidak enak hati. Pasti bekal itu bisa berantakan karena di mobil terkena goyangan dan dia tidak hati-hati saat membawanya.
"Hancur deh, maaf ya. Mending enggak usah dimakan."
Mario melarang Gifyka yang ingin mengambil kotak itu dari tangannya. Hal itu membuat Gifyka tidak mengerti.
"Jangan dibuang, sayang kalau enggak dimakan. Kamu bilang kan tadi kamu belajar masak ini buat aku dari subuh. Jadi aku akan tetap memakannya meski bentuknya seperti ini."
Mario mengambil sendok, dia tidak mempedulikan tampilan dari nasi goreng tersebut. Yang Mario pentingkan adalah perasaan Gifyka saat berusaha membuat nasi goreng itu untuknya.
"Tapi, Yo." Gifyka meringis saat Mario memisahkan tomat, timun dan daun selada yang tercampur jadi satu dengan nasi gorengnya.
"Aku tahu kalau selama ini kamu itu tidak pernah ke dapur apalagi memasak. Dan sekarang itu pertama kalinya kamu memasak. Apalagi kamu belajar memasak untuk aku, jadi mana mungkin aku tega melihat masakan ini dibuang begitu saja."
Hati Gifyka berbunga mendengarnya, jawaban Mario sungguh membuat Gifyka kesulitan bernapas. Ada banyak sekali kupu-kupu dalam perutnya sekarang ini.
"Aku makan ya." Mario mulai memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.
Gifyka harap-harap cemas, dia takut jika nasi goreng buatannya tidak enak atau keasinan. Tapi melihat Mario tidak memberikan ekspresi yang negatif membuat Gifyka sedikit berharap jika rasanya enak.
"Enggak enak ya, Yo?"
"Ini beneran kamu yang masak, Fy?" Mario malah bertanya.
"Kenapa? Kalau enggak enak jangan lanjut dimakan." Gifyka semakin saja was-was.
"Ini enak banget, aku suka. Aku akan menghabiskannya." Mario kembali menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Yang benar? Kamu enggak lagi bohong kan?" Gifyka masih saja penasaran.
"Beneran sayang, nih cobain kalau enggak percaya." Mario ganti menyuapi Gifyka.
Sesuap nasi goreng sudah masuk ke dalam mulut Gifyka. Gadis itu mengakui jika nasi goreng itu memang terasa lezat. Dirinya sampai tidak percaya jika itu benar-benar nasi goreng buatannya.
"Iya enak, mau lagi dong." pinta Gifyka.
Mario menjauhkan kotak nasi goreng itu dari jangkauan Gifyka dan memasukkan ke dalam mulutnya banyak-banyak.
"Enggak boleh, kan kamu masak ini buat aku." larang Mario dengan mulut penuh nasi.
Gifyka mendengus mendengar jawaban Mario. Padahal Gifyka juga ingin lagi memakan nasi goreng buatannya sendiri karena enak. Tapi Gifyka senang melihat Mario begitu menyukai nasi goreng itu sehingga tidak rela bagi-bagi.
Perasaan senang itu tidak harus dari sesuatu yang mahal. Menghargai pemberian pasangan itu sudah bisa membuat mereka bahagia.
***
Next...