
"Arghh...!" Sivia masih memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak. Gadis itu menangis sambil terus meremas pakaian yang melekat pada tubuhnya.
"Via! Viara! Lo kenapa?" Gifyka dan Mario panik melihat Viara terus mengerang kesakitan. Tangan Gifyka terus menepuk pipi Viara supaya sahabatnya itu sadar. Tapi Viara malah semakin menutup matanya.
"Viara bangun!" Gifyka sudah histeris karena sekarang tubuh Viara lemas tak berdaya. Cepat-cepat Gifyka membaringkan tubuh Viara ke atas semak-semak belukar.
Mario mengecek nadi Viara dari bagian pergelangan tangannya. Bukannya berbicara, Mario malah menangis dan memukul-mukul tanah yang terlapisi rerumputan.
"Mario! Via kenapa?" Gifyka menuntut penjelasan dari Mario. Tangisnya ikut pecah karena Viara hanya diam tak berkutik. Sedangkan Mario terus memukul-mukul tanah.
"Via udah nyusul Alvino, Fy." sahut Mario di sela-sela isakkannya.
Gifyka terdiam, masih mencoba mencerna apa maksud dari perkataan Mario barusan. Via udah nyusul Alvino, Fy.
"Apa maksud lo, Yo? Apa maksud tentang Via udah nyusul Alvino?" tatapan Gifyka terlihat sendu. Air matanya yang sempat terhenti kini malah semakin deras.
"Viara udah mati, Fy. Mati, dia udah nggak ada. Dia udah nyusul Alvino." Mario meremas rerumputan di sekelilingnya. Meluapkan emosi yang mengumpul di ubun-ubun.
"Lo bohong kan, Yo? Baru aja tadi Via masih nangis dipelukan gue. Mana mungkin sekarang dia udah mati." Gifyka terisak. Matanya beralih menatap tubuh Viara yang tergeletak tak berdaya di atas semak-semak. Matanya terpejam, tidak terdengar embusan napas dan rasanya sangat tenang.
"Via pasti cuma pingsan." Gifyka berusaha membangunkan Viara. Mengguncang-guncang tubuhnya pelan sambil memanggil-manggil nama Viara.
"Via bangun, gue mohon bangun Via."
"Via udah mati, Gifyka!" bentak Mario gemas kepada Gifyka.
Gifyka terdiam, kini dirinya hanya bisa duduk sambil memeluk kedua lututnya. Tubuhnya bergetar hebat mengetahui semua ini terjadi pada Viara. Dalam satu malam mereka kehilangan empat sahabatnya sekaligus dalam jarak yang berdekatan.
"Lo kan punya kekuatan Fy, bisa dong lo hidupin mereka lagi."
"Gue emang punya kekuatan Yo, tapi gue bukan Tuhan. Pakai dong akal sehat lo." Gifyka geram pada Mario, bagaimana bisa lelaki itu berpikir secara tidak logis seperti sekarang.
"Dicoba Fy, kalau belum dicoba mana tahu."
Gifyka geram sendiri kepada Mario. Kenapa lelaki itu tidak juga mengerti. Meski pun Gifyka memiliki kekuatan, tapi tetap saja itu bukan kehendaknya.
"Gue nggak akan bisa bikin manusia hidup lagi. Lo gila Yo, gue bukan Tuhan ****!" Gifyka kesal sendiri, bagaimana bisa Mario berpikir cetek seperti sekarang.
"Argh...! Gue nggak mau mati konyol! Gue mau keluar dari sini!" Mario bagai orang frustasi, menjambak rambutnya sendiri.
**Jedarr!
Jdar!
Jduaarr**!
Tubuh Mario dan Gifyka membeku saat mendengar suara petir beserta kilatan cahaya merah yang menyambar pohon-pohon di sekitarnya. Mereka tahu itu siapa, pasti Londru dan Irina yang datang.
Gifyka panik sendiri, bagaimana dirinya berlari sedangkan di depannya ada dua jasad sahabatnya yang tidak mungkin dia tinggalkan.
"Fy, lakukan sesuatu dengan kata-kata ajaib lo. Please, kita harus selamatkan jasad Viara dan Alvino." Mario tak kalah paniknya.
"Gue harus apa, Yo? Gue bingung." siapa yang tidak panik di saat genting seperti ini harus menyelamatkan dua mayat sekaligus.
"Bikin kita menghilang atau apa gitu, apa aja yang penting tidak ditemukan."
**Jedarr!
Brak**!
Satu pohon tumbang karena terkena petir barusan. Itu artinya Londru dan Irina sudah semakin dekat dengan mereka. Gifyka masih saja diam memikirkan apa yang akan dia perbuat untuk menyelamatkan diri.
"Fyka! Ayo cepat berpikir!" bentak Mario kesal karena Gifyka hanya diam tanpa melakukan tindakan.
"Tak terlihat." ucap Gifyka kepada dirinya, Mario, Viara dan Alvino.
"Kita beneran tak terlihat, Fy?" Mario celingak-celinguk sendiri mencari keberadaan Londru dan Irina.
"Gue nggak tahu, tapi semoga aja beneran tak terlihat."
"Oke, sekarang kita bawa jasad Alvino dan Viara ke tempat yang bisa dengan mudah kita hapal. Jadi kita tinggalkan mereka berdua di tempat itu, terus kalau nanti kita sampai di kota kita bawa sama team sar saat pencarian Azriela dan Afriel."
"Gue setuju, karena nggak mungkin juga kita bawa-bawa mereka. Kita harus cepat sampai ke kota." Gifyka hanya menganggukkan kepalanya.
**Jdar!
Jdarr**!
Dua kilatan cahaya mendarat tepat di sisi kiri Gifyka berjarak sekitar tiga ratus meter dari tubuh Gifyka. Mario dan Gifyka sudah panik sendiri karena melihat Londru dan Irina tak jauh dari mereka.
"Kita bawa ke mana, Yo?" Gifyka terlihat kelelahan menyeret jasad Viara. Sudah pasti Mario menyeret jasad Alvino.
**Jdar!
Brak**!
Satu pohon tumbang karena Londru menyengatnya dengan petir buatannya. Gifyka dan Mario semakin panik. Pasalnya pohon yang tumbang tadi tepat berada di sebelah kanan Mario.
"Fy, mereka nggak lihat kita kan?" keringat dingin terus mengucur di tubuh mereka. Wajah keduanya menegang takut apabila Londru dan Irina melihat.
"Gue rasa enggak, Yo. Kita harus cepat cari tempat yang aman buat jasad Viara dan Alvino." Gifyka semakin menarik jasad Viara dan berusaha berlari menggunakan badan kecilnya.
Mario tak mau tinggal diam, dirinya ikut berlari mengejar Gifyka. Meski berat, tapi Mario berusaha kuat menyeret jasad Alvino.
"Ke mana mereka perginya!" suara Irina terdengar di gendang telinga Gifyka dan Mario.
"Kita berpencar, aku yakin mereka belum jauh dari sini." usul Londru membuat Irina mengangguk setuju.
Londru dan Irina akhirnya berpencar. Londru memilih ke kanan sedangkan Irina memilih ke kiri. Mario dan Gifyka mereka yang melihat memutuskan untuk berjalan di tengah-tengah.
"Itu artinya mereka nggak lihat kita, Yo. Kita harus tetap berlari." Gifyka semakin mempercepat langkahnya meski terasa berat. Tapi hanya ini jalan satu-satunya.
Terus dan terus berlari kedua insan anak manusia itu. Mencari tempat yang pas untuk bisa menaruh jasad kedua sahabatnya. Azriela dan Afriel belum juga ditemukan tapi masalah baru sudah kembali datang menyapa. Apa yang akan mereka katakan kepada kedua orang tua keempat remaja yang pergi bersama mereka ini.
~**~
"Kita taruh di sini aja Fy, sesampainya di kota kita akan kembali ke sini buat jemput mereka." Mario sudah menggeletakkan jasad Alvino di sisi tembok. Gifyka mengikuti Mario, meletakkan jasad Viara di sisi jasad Alvino.
Gifyka ambruk, lelah sudah menyeret jasad sahabatnya sendiri. Air matanya kembali mengalir, perasaan bersalah terus membayangi hatinya.
"Syut... Ini bukan salah lo, Fy." Mario merengkuh tubuh mungil Gifyka ke dalam pelukannya. Menenangkan Gifyka yang pastinya shock karena kematian Alvino dan Viara yang mendadak.
"Hiks... Andai... Hiks... Kitah... Nggak..." napas Gifyka sudah tersengal-sengal tak mampu untuk berkata-kata.
"Tenangin diri lo, ini bukan salah kita. Udah, jangan nangis lagi. Kita harus segera pergi dari sini." Mario terus berusaha menenangkan Gifyka. Mereka kini tinggal berdua. Satu sahabatnya hilang entah ke mana, satu lagi masuk jurang, satu mati karena hipotermia, dan satu lagi mati karena serangan jantung mendadak.
"Kita akan selamat kan, Yo?" Gifyka masih menangis dalam pelukan Mario.
"Syut... Kita harus positif thinking, kita pasti selamat Fy. Pasti!" Mario masih mengusap-usap punggung Gifyka lembut.
Pelukan mereka masih berlangsung. Sama-sama saling menguatkan. Mario sendiri bingung, harus bagaimana keluar dari masalah ini. Mereka masih terjebak di hutan. Ditambah di sini tidak ada penduduk. Kurangnya pencahayaan ketika malam hari. Semua menjadi kendala yang menyulitkan mereka untuk cepat pergi.
"Kita jalan lagi, kita harus segera pergi." Mario melepaskan tubuh Gifyka dari pelukannya.
"Lo mau apa?" Gifyka bingung saat Mario berusaha melepaskan jaket yang melekat di tubuh Viara.
"Lo harus tambah jaketnya biar nggak kedinginan. Gue nggak mau terjadi sesuatu sama lo." Mario berhasil melepaskan jaket yang dipakai Viara. Memakaikannya ke tubuh mungil Gifyka.
"Tapi Yo, gimana sama mereka?"
Mario mencari apa pun yang ada di sana. Matanya menangkap ada pohon pisang yang tumbuh di dalam bangunan itu. Diambilnya beberapa daun pisang kemudian dipakainya untuk menutupi jasad Alvino dan Viara.
"Mereka aman, kita pergi dari sini." Mario menggenggam jemari Gifyka seolah-olah takut sahabatnya itu terpencar jauh darinya.
"Apa kita aman, Yo?" kepala Gifyka sudah celingak-celinguk mencari keberadaan Londru dan Irina. Mereka sangat berharap bahwa Londru dan Irina sudah jauh dari jangkauan mereka.
Seolah tak kenal lelah, Mario dan Gifyka terus berlari menjauh dari bangunan tua yang mereka jadikan tempat menyembunyikan jasad Alvino dan Viara. Mereka sudah melupakan bahwa tubuh mereka bau tujuh rupa. Persetan dengan semuanya, yang terpenting sekarang hanyalah menyelamatkan diri.
**Brak!
Brak!
Brak**!
Langkah kaki Gifyka dan Mario terhenti saat mendengar ada beberapa pohon tumbang di sana-sini. Bahkan sampai sekarang masih ada beberapa yang tumbang. Mereka tahu, itu ulah Londru dan Irina yang pastinya mengamuk karena tak kunjung menemukannya.
"Hahaha...! Mau lari ke mana kalian?!" tawa Irina terdengar sangat menakutkan bagai nenek sihir.
Nyali Gifyka semakin menciut melihat bahwa sekarang dirinya dengan Mario sudah terkepung oleh pepohonan yang tumbang. Di sekelilingnya semua pohon. Bahkan untuk berlari menerjang pun sulit.
"Kenapa Gifyka? Panik? Kamu tidak akan bisa lepas dari kami! Sebentar lagi kamu akan kami bawa ke khayangan untuk bertemu dengan Raja Ortofus." Londru melayang dan mendekat ke arah mereka.
Gifyka panik saat Londru semakin mendekat. Tangannya tak berhenti meremas jemari Mario yang juga terlihat takut.
"Gue nggak mau ikut kalian ke khayangan atau ke mana pun itu gue nggak sudi!" Gifyka histeris mendengar Londru akan membawanya ke khayangan dan bertemu dengan Ortofus. Bagaimana Gifyka mau, kenal saja tidak dia dengan yang namanya Ortofus.
"Kamu harus ikut!" Irina tiba-tiba ada di samping Gifyka, membuat gadis ini semakin kaget dan takut.
"Langkahi dulu mayatku sebelum kalian berani bawa Gifyka ke khayangan!" Mario ikut memberanikan diri melawan mereka meski dengan kata-kata.
"Halah! Anak ingusan sepertimu tahu apa. Musnah saja kamu!" Londru mengayunkan tongkatnya ke arah Mario.
"Stop!" kekuatan yang diluncurkan Londru mental oleh ucapan Gifyka. Gadis ini sangat tidak mau Mario kenapa-napa. Rasa cintanya kepada Mario membuatnya semakin marah kepada Londru dan Irina. Rasa beraninya untuk melawan mereka tiba-tiba datang.
"Ikut dengan kami!"
"Aargh...!" tubuh Irina mental saat menyentuh bahu Gifyka.
Londru, Mario dan Gifyka sendiri bingung kenapa bisa Irina mental hanya dengan menyentuh bahu Gifyka.
"Ini pasti karena kalung milik Nafita. Sial!" umpat Irina kesal sambil terus berusaha bangun.
"Kalung punya Mama?" Gifyka meraba kalung yang menggantung di lehernya. Kalung pemberian Nafita saat usianya genap tujuh belas tahun kemarin.
Kenapa mereka tahu tentang Mama? Tentang kalung ini? Apa ini ada hubungannya sama Mama? Apa benar mereka mengincarku karena Mama?
Pertanyaan demi pertanyaan mengalun di hati Gifyka. Bingung kenapa semuanya seperti bersangkutan dengan Nafita.
"Buang kalung itu, Gifyka!" titah Londru garang.
"Nggak! Nggak akan gue buang kalung ini!"
Mario semakin bingung, tidak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini. Yang memiliki kekuatan hanyalah Gifyka dan yang diincar adalah Gifyka. Andai Mario memiliki kekuatan super, pasti dirinya sudah membantu Gifyka lari dari keadaan ini.
"Kita harus melayang, Yo." bisik Gifyka kepada Mario yang juga panik.
"Gimana caranya?"
"Pegang tangan gue erat-erat. Saat gue bilang melayang, kita lari bareng." Gifyka sedikit ragu dengan idenya ini. Tapi jika tidak dicoba siapa yang tahu.
"Oke, gue akan ikutin lo."
"Lepas kalungnya atau kita akan lakukan hal yang lebih dari ini, Gifyka!" ancam Londru sudah kesal. Dirinya tidak mau diamuk oleh Ortofus karena tidak bisa menangkap Gifyka.
"Melayang!" Gifyka dan Mario tidak mempedulikan ancaman Londru. Dirinya malah melayang dengan Mario sekarang. Dan posisi mereka saling memunggungi. Hanya dengan beberapa langkah lari, akhirnya Mario dan Gifyka bisa melayang di udara.
Mario menghadap ke depan dan Gifyka menghadap ke arah Londru serta Irina yang berusaha mengejar. Tangan keduanya tetap terjalin meski saling memunggungi.
"Percepat." ucap Gifyka lagi supaya Londru dan Irina tertinggal jauh dari mereka.
**Brak!
Brak**!
Londru dan Irina terus mengejar Gifyka dan Mario. Mereka tak mau kalah, terus berlari dan melayang.
~**~
To Be Continue...